Magic War

Magic War
Ch 86 – ... Dan... Untuk Mu



District Agriculture yang biasa nya selalu ramai, tapi kini menjadi sangat sepi dan sunyi. Hampir tak ada orang yang keluar rumah.


Kalau pun ada, mereka hanya akan keluar selama beberapa menit saja, sebab takut bisa menjadi mangsa selanjutnya dari Agricultural District Killer.


Sedangkan sisa nya merupakan Pasukan Pengintai. Tapi mereka bersembunyi, alias tidak menunjukkan wujud, melainkan hanya suara saja.


Hari yang masih pagi, di tambah kesunyian ini, membuat bulu kuduk empat Pemuda itu berdiri. Perasaan tidak nyaman, membalut diri mereka.


“Viole... Apa kita akan baik-baik saja?” tanya Raven dengan suara pelan.


“Jika ingin baik-baik saja, maka diam lah. Insting ku mengatakan, tidak baik terlalu banyak bicara untuk saat ini.” Viole membalas dengan suara yang tidak kalah pelan.


“Baiklah.” Raven pun fokus menatap ke depan. Dia berjalan dengan perlahan di samping teman-teman nya.


Pada jalanan utama District Agriculture, mereka berempat berjalan pelan, tidak terburu-buru demi menjaga ketenangan.


Meskipun begitu, suara langkah kaki mereka masih terdengar jelas. Suara benturan antara sepatu dan batu itu, menarik perhatian para warga.


Ada beberapa orang yang mengintip dari jendela ketika mendengar suara langkah kaki mereka berempat. Mereka semua menatap Viole, Tyhas, Raven dan Yoshi dengan tatapan aneh.


Mereka seakan-akan mengatakan. “Hey, kalian para bocah! Segera pergi dari sini! Atau kalian akan mati konyol!”


Yoshi, Tyhas dan Viole mengabaikan tatapan orang-orang itu, tapi berbeda dengan Raven. Dia merasa terganggu karena pandangan mereka.


“Yoooshi. Rumah teman mu, apa masih jauh?” Raven menarik ujung jubah Yoshi.


Membuat Yoshi menengok ke belakang. “Sudah dekat.” Lalu dia kembali menatap depan. “Di perempatan itu, kita belok kiri, kemudian berjalan sekitar seratus meter lagi.”


Setelah mendapatkan jawaban, Raven langsung kembali berjalan di samping Viole. Yoshi sendiri tidak memperdulikan alasan Raven bertanya.


Beberapa menit kemudian, akhirnya mereka semua sampai di depan tempat tinggal Niren. Sama seperti rumah warga yang lain nya, rumah Niren terlihat begitu sepi.


TOK! TOK! TOK!


“Niren!” Yoshi mengetuk pintu, juga memanggil nama Niren... Tapi, tidak ada balasan. Dia pun mencoba nya lagi, namun tetap sama saja.


“Yoshi...” Tyhas menepuk pundak Yoshi. Dia mendekatkan wajah dengan wajah Yoshi. “Apa ini aneh?”


BRAK!


Tanpa pikir panjang, Yoshi langsung mendobrak pintu rumah Niren. Lalu segera berlari menuju lantai dua, dari wajah nya saja, sudah bisa di tebak kalau dia, panik.


Bereaksi dengan cepat, Viole, Tyhas dan Raven cepat-cepat ikut masuk, kemudian mengecek ruangan yang lain nya.


Namun tidak hasil apapun, tak ada seorang pun di rumah ini. Kosong, yang ada hanyalah barang-barang dan juga tumbuhan milik Niren.


Bersama kaki yang sedikit lemas, Yoshi berjalan menuruni tangga. Wajah nya menjadi pucat pasi. “Kita harus mencari nya.”


“Yoshi!”


“Tenang lah!” seru Viole.


“Shi!” Yoshi mengabaikan seruan Viole. Dia keluar begitu saja dari rumah Niren, kemudian melesat tanpa memiliki arah tujuan.


Viole, Raven dan Tyhas, hanya diam, tidak mengejar nya. Mereka memiliki alasan masing-masing.


Yoshi terus melompat di atas atap bangunan, sambil terus mengedarkan pandangan. Berharap bisa menemukan Niren.


<----<>---->


“CK! Dia terlalu mudah panik!” Tyhas berdecak kesal.


Viole menghela nafas, lalu duduk di kursi tamu. “Tyhas... Menurutmu... Apa yang akan terjadi di beberapa jam selanjut nya?”


Tyhas masih kesal, tapi dia tetap menjawab, meski tanpa menatap mata Viole. “Entahlah, aku hanya berharap gadis itu segera ketemu.”


“Hmm...” Viole pun menengok ke arah kanan, di sana Raven terlihat sedang memperhatikan barang-barang milik Niren, barang-barang itu tergeletak begitu saja di bawah tangga menuju lantai dua. “Kalau menurut mu?”


“... Mungkin, kasus ini akan segera terungkap.” Raven masih terus memperhatikan barang-barang itu.


Tyhas membalikkan badan, dia sedikit penasaran. “Kenapa bisa begitu?” Rasa kesal nya sudah agak mereda.


Raven menaruh sebuah tali, di ikuti dengan diri nya menelan ludah berat. “Pisau ini... Untuk apa? Bukankah tidak ada guna nya?”


GERUK!


Viole berdiri, kemudian berjalan mendekati Raven, demi memastikan apa yang dia katakan. “Apa maksud mu? Pisau?”


“Tunjukan pada ku!” Tyhas langsung mendekat, sekarang, malah diri nya yang menjadi panik.



Di saat yang sama, Viole juga begitu. Sebuah pisau, yang terbuat dari baja dingin. Baja dingin memang bukan logam spesial, tapi tetap saja kuat.


Di District Agriculture hampir tidak ada satupun orang yang menguasai Jurus, Teknik atau Sihir. Ada pun, mereka cuma orang lemah.


Tujuan Murid-murid mendaftar ke Kelas Agriculture hanyalah untuk mempelajari cara bercocok tanam dengan baik dan efisien.


Tidak ada yang bertujuan untuk belajar Sihir dan sejenis nya. Lalu keamanan sudah di pastikan oleh para Penjaga.


Orang yang berniat buruk? Mana ada, di District Agriculture, kasus kejahatan bisa di hitung dengan jari satu tangan. Termasuk kasus saat ini.


Orang-orang yang hidup di District ini hampir keseluruhan nya merupakan individu yang cinta akan kedamaian, mereka sangat membenci kerusuhan.


Dari semua fakta itu, semua nya sudah terjamin, apa yang perlu di kawathir 'kan sampai harus membawa pisau ini?


Jadi, sekarang kita kembali ke pertanyaan pertama. Pisau kuat yang bahkan bisa membunuh orang itu, untuk apa? Memotong Pohon? Buah? Rasa nya sangat tidak mungkin.


DEG!


Seketika mereka bertiga terdiam, mereka mematung tak bergerak bersama pemikiran masing-masing. Dan tidak ada yang berpikiran positif.


“Sekarang... Kita cari gadis itu?” tanya Raven.


“Cari Yoshi terlebih dahulu, lalu diskusikan ini dengan nya.”


“Kalau begitu ayo!” Tyhas langsung melangkah, kaki nya dengan cepat melayang menuju tempat Yoshi pergi.


<----<>---->


Dari tadi, Yoshi terus-menerus melesat berkeliling District Agriculture, bahkan dia sampai menelusuri gang-gang sempit demi mencari Niren.


Tapi masih belum ketemu juga. Hal itu membuat kepanikan Yoshi semakin menjadi, nafas nya lagi tidak teratur, dan dia sulit untuk fokus.


Meski demikian, Yoshi tetap tidak menyerah, dia terus mencari Niren, sampai terdengar suara...


SRAS!!


... Yang membuat diri nya berhenti, tepat di depan sebuah bangunan yang terbengkalai.


‘Tunggu, daerah ini... Bukan nya tidak ada siapapun di sini? Bahkan Pasukan Pengintai hanya mengecek nya sebentar... Lalu, kenapa aku di sini? Kenapa?‘


Yoshi yang hilang fokus, sekarang merasa sangat kebingungan. Bahkan hanya untuk melakukan apa kedepan nya, dia kebingungan.


Sampai tercetus lah pemikiran untuk mengecek suara itu. Dengan ragu, Yoshi pun melangkah menuju asal suara tersebut, yang berada tepat di gang samping bangunan terbengkalai ini.


Setiap langkah terasa begitu manakutkan bagi nya, bukan takut seperti itu yang dia rasakan. Tapi takut, jika pemikiran nya benar terjadi.


Satu langkah dia lakukan, pasti akan ada bekas air hujan yang menetes dari bangunan terbengkalai ini, membuat bunyi nyaring tercipta.


CEPRIK!


Langkah demi langkah pun terlewati, sampai langkah terakhir, Yoshi lakukan.


“Huh?” Dahi nya mengerut, wajah nya juga memburuk. Bukan nya maju, Yoshi malah bergerak mundur, namun dengan gontai.


Mata nya melotot, tidak percaya dengan apa yang sedang dia saksikan saat ini, bahkan sangking tidak percaya nya, dia sampai tidak tau harus berkata apa.


“Hah... Hah... Hah...”


Beberapa mayat tergeletak begitu saja, luka sayatan nampak menghiasi tubuh mereka, tapi ada juga luka gigitan di sana.


Selain itu, ada yang lebih mengejutkan lagi. Tepat, di tengah-tengah para mayat itu, berdiri seorang perempuan, dia cantik, tapi tidak untuk saat ini.


Tangan kanan nya memegang sebuah pisau yang hitam legam, namun tertutupi oleh merah nya darah seseorang. Jadi hanya terlihat gagang nya saja yang hitam.


Menyadari keberadaan Yoshi, perempuan itu pun menoleh, dia memperlihatkan tampang nya yang begitu jelita, tapi ada sesuatu yang membuat kecantikan nya menghilang...


Dia tersenyum...


Daerah sekitar mulut nya entah kenapa berwarna merah, benar-benar merah, dan saat dia tersenyum, dapat di lihat kalau warna merah itu, sampai ke gigi nya.


Tidak hanya itu, ada juga kepingan-kepingan kecil daging yang entah daging apa, menempel di sela-sela gigi nya.


Senyuman yang begitu mengerikan, dia tunjukan pada Yoshi. Tidak lama kemudian, dia berkata. “Ah... Kau sudah sampai rupa nya... Mura.”


Will Continue In Chapter 87 >>>