
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Arena yang tadinya hancur karena Sihir dari Divan, sekarang sudah kembali normal berkat perbaikan dari beberapa orang Kerajaan.
Namun pertandingan nya masih belum di mulai, karena Racun yang Divan gunakan tadi bisa saja masih tersisa dan jika benar begitu, maka akan menggangu pertandingan.
Di sisi lain, Tyhas yang sedari tadi mencari-cari keberadaan Kaira, akhirnya menemukan nya. Tapi bangku yang ada di sekitar situ sudah penuh.
“Kalau begitu aku akan duduk di-”
“Tidak perlu! Kebetulan aku sedang ada urusan, jadi pakai saja bangku ini. Sampai jumpa!” Lian melambaikan tangan nya, kemudian meninggalkan mereka bertiga.
“Dia siapa?” tanya Tyhas pada Kaira dan Raven, lantas dia duduk.
“Pacar nya Kaira-”
“Mau mencoba rasanya menjadi patung es?” ancam Kaira dengan nada dingin.
“Bukankah itu sedikit kejam? Apa kau tidak kasihan pada Pemuda polos dan baik hati ini-?”
KREAAK!!
Kaira benar-benar membekukan Raven dan hal itu menarik perhatian beberapa orang, namun mereka tidak ada yang memperdulikan nya. Lantas Kaira melirik Tyhas. “Kau dari mana saja?”
“Ruang medis.”
“Eh?”
“Aku di ruang medis yang berbeda dengan mu, jadi kita tidak bertemu.” Tyhas menanggapi seakan-akan mengetahui isi kepala Kaira.
Tubuh Tyhas tidak di perban sedikit pun, karena itulah Kaira menanyakan dari mana saja Tyhas.
‘Kaira, kau tadi bertemu dengan Raja Elc di ruang medis kan?’ Tyhas melakukan telepati.
‘Ya... Dan kau menguping di bagian mana?’
‘Saat Raja Elc akan keluar dari ruang medis itu, tapi berhenti karena kau menanyakan sesuatu.’
Beberapa Puluh Menit Yang Lalu.
“Kalau begitu, siapa orang tua ku?!”
“Berani nya kau menghentikan langkah dari Raja!”
Melihat tindakan Pengawal itu, Raja Elc langsung memberikan tanda agar Pengawal nya tidak bertindak lebih jauh. “Aku tidak bisa mengatakannya, aku sudah berjanji pada mereka berdua.”
Kaira nampak marah ketika mendengar jawaban itu, tapi dia sadar jika dirinya tetap memaksa Raja Elc untuk memberi tahu kan siapa orang tua nya, maka hukuman yang berat pasti akan menimpa nya.
Jadi Kaira hanya bisa terdiam sambil mendengus kesal. Raja Elc menggeleng-gelengkan kepalanya pelan, sebelum kembali melangkah keluar dari ruang medis itu.
Saat Raja Elc membuka pintu, tepat di samping pintu ada seorang Pemuda berambut abu-abu sedang membungkuk kepada nya.
Sebenarnya masih ada beberapa orang lagi, namun yang paling mencolok adalah Pemuda berambut abu-abu tersebut.
Ketika jarak Raja Elc dengan Pemuda itu sudah cukup jauh, tiba-tiba Pemuda itu menghilang dan di saat yang bersamaan Kaira keluar dari ruang medis.
Kembali Ke Masa Sekarang.
‘Kenapa kau menanyakan hal ini?’
‘Apa benar orang tua mu meninggalkan mu sejak bayi?’ Pertanyaan Kaira di balas pertanyaan oleh Tyhas.
‘Tidak perlu kau tanyakan lagi, jawaban nya sudah kau sebutkan sendiri.’
<----<>---->
“Baiklah, karena Arena sudah kembali normal, mari kita mulai pertandingan ketiga!!”
Lagi dan lagi suara teriakan dari para penonton terdengar hingga ke seluruh penjuru Stadium.
“Kali ini Peserta yang akan maju adalah... Rin Sakuragi dan Izura Anna!”
“Yah... Sepertinya kita harus saling bermusuhan, Rin.”
“Sayang sekali, padahal kita berada di Guild yang sama, yaitu Blue Rose.”
“Sudahlah, ayo cepat!”
Mereka berdua pun melesat ke Arena, dalam beberapa detik saja mereka berdua sudah saling berhadapan.
Tyhas menyikut tulang rusuk Kaira. “Ada yang dari Clan Izura tu.”
Bukan nya menjawab perkataan Tyhas, Kaira malah membicarakan hal lain. “Kalau di lihat dari Aura yang dia pancarkan, sepertinya dia sudah bisa menggunakan Dragon Aura.”
Di dalam Clan Izura, ada yang nama nya Dragon Aura, kemampuan itu hanya di miliki oleh Clan tersebut. Dragon Aura dapat di bangkitkan dengan cara Latihan dan tentu saja, tidak akan mudah.
Beberapa kali Kaira pernah mencoba membangkitkan Dragon Aura dengan dukungan dari Sumber Daya pemberian Balft. Namun hasil nya nihil.
“Tapi bukankah dia terlalu muda untuk membangkitkan Dragon Aura? Kau mungkin salah mengira.” Tyhas terlihat tidak percaya.
“Yang kau katakan memang benar, tapi latar belakang nya bisa mendukung bangkit nya Dragon Aura milik nya, kita lihat dulu.”
Tyhas hanya mengangguk, kemudian kembali menatap ke arah Arena, di mana pertandingan akan segera di mulai.
<----<>---->
Daryl telah mengatakan bahwa pertandingan di mulai, namun mereka berdua masih saling menatap satu sama lain.
“Rin, mari kita buktikan siapa yang terkuat di sini.” Anna memegangi Rapier nya.
“Begitu? Aku cukup percaya diri bahwa akulah yang terkuat.”
“Mari kita mulai saja.”
Langsung saja Anna melesat ke arah Rin, begitu sudah dekat tusukan bertubi-tubi Anna arahkan pada lawan nya itu, namun dapat dengan mudah di hindari.
TRANG!!
Menggunakan Katana nya, Rin menyingkirkan Rapier Anna. Lantas membalas serangan Anna dengan tebasan dari Katana nya.
Tebasan Katana yang Rin ayunkan sangat cepat, sampai membuat Anna sedikit kualahan. Karena tidak bisa terus-terusan menahan dan menghindari serangan Rin, Anna pun menggunakan Sihir.
“Illusion Magic - Crow Feather!”
Di mata Rin, tubuh Anna berubah menjadi puluhan helai bulu. Bulu-bulu tersebut terbang mengitari tubuh Rin untuk membuat nya bingung.
Namun Rin tau cara untuk mengatasi Sihir tersebut dan dia pun mengambil tindakan. “Kataimaichi!”
Ratusan tebasan yang sangat cepat, Rin lancarkan di saat yang hampir bersamaan. Mencincang bulu milik Anna.
Dari ruang hampa, tubuh Anna kembali muncul, tapi dia tidak diam saja. “Fire - Elemental Magic - Fire Ball!”
SHAS! JDUAR!!
Fire Ball dari Anna, Rin tahan dengan mudah nya, menggunakan sebuah tebasan. “Ini baru pemanasan.” Rin tersenyum menyeringai.
“Fire - Elemental Magic-”
Belum sempat Anna selesai merapal Sihir, Rin tiba-tiba sudah berdiri di depan nya. Memaksa Anna untuk mundur beberapa langkah.
“Ugh... Inilah kenapa aku benci dengan Elemen Cahaya.”
Rin hanya tersenyum, sebelum kembali melesat ke arah Anna untuk menyerang nya. Pertukaran serangan antara pengguna Pedang pun terjadi.
Pergerakan mereka berdua sangat lah gesit dan lincah, sampai sulit untuk di ikuti oleh beberapa orang, bahkan banyak yang tidak bisa mengikuti nya.
Raja Elc mengerutkan dahi, karena merasa Rin terlalu kuat untuk anak seusia nya, bagi seorang Jenius terhebat pun, akan sulit mencapai kekuatan yang seperti Rin.
Sedangkan Anna masih Raja Elc maklumi karena dia merupakan Putri dari teman nya dulu. ‘Perasaan ku mengatakan kalau ini adalah pertanda buruk.’
Tapi Raja Elc masih tetap tenang, mencoba untuk mengamati situasi lebih jauh lagi. Tatapan nya tidak pernah beralih sedikit pun dari Arena, yang mana Rin dan Anna sedang bertukar serangan.
Will Continue In Chapter 28 >>>