
Butuh waktu yang cukup lama dan sangat melelahkan untuk Kaira, Tyhas dan Raven menginjakkan kaki mereka ke tangga lima puluh.
Seperti tangga ke tiga puluh, jiwa mereka akan di pindahkan ke Dimensi Lain, namun kali ini mereka tidak akan melawan apapun.
Melainkan beristirahat di sana. Di sebuah padang rumput yang luas dengan suasana yang sangat menenangkan, mereka bertiga di berikan waktu istirahat selama satu jam.
Waktu itu sudah cukup untuk mereka bertiga memulihkan tenaga dan menjernihkan pikiran. Tekanan yang kuat membuat mereka juga mengalami tekanan mental, tidak hanya fisik.
Kaira, Tyhas dan Raven duduk bersila mengumpulkan Magi yang ada di Dimensi Lain tersebut, sambil menikmati angin sepoi-sepoi yang membuat suasana semakin menenangkan.
Sementara itu sekitar dua hari yang lalu di sebuah tempat misterius, Vii sedang menghadap ke seseorang yang merupakan Pemimpin dari Neckro.
“Hormat hamba pada Yang Mulia.”
Pria yang Vii sebut sebagai Yang Mulia itu tersenyum tipis. “Tidak terasa sudah dua puluh tahun dirimu memimpin Cabang Organisasi dan dari waktu yang sangat singkat itu, kau telah berkembang sampai sejauh ini.”
“Sebuah kehormatan yang tiada tara, hamba bisa menerima pujian dari, anda.”
“Vii kau pasti tau kan, kalau aku memanggil mu ke sini bukan untuk masalah yang sepele.” Pria itu tiba-tiba berubah menjadi serius.
“Tentu, Yang Mulia,” jawab Vii.
“Bagus... Aku memiliki tugas untuk mu, pergilah ke Festival Adamantine Peak untuk mengambil salah satu dari Magic Fire.”
Vii sangat terkejut saat mendengar tugas nya. “Yang Mulia tugas ini...” Wajah nya menjadi sedikit pucat, karena mau bagaimana pun, tugas seperti ini harus nya di ambil oleh para Veteran.
“Aku tau, kau pasti merasa pesimis, tapi apa kau akan menyia-nyiakan kepercayaan ku pada mu?”
“Jelas tidak akan pernah Yang Mulia!” tegas Vii. Masih dengan wajah pucat nya.
“Aku suka jawaban itu... Vii, kau harus berhati-hati kerena di sana ada dua Iblis Kuno yang bisa membunuhmu kapan saja.”
Vii mengerutkan dahi nya, kemudian bertanya. “Iblis Kuno? Hamba tidak pernah mendengar hal tersebut, Yang Mulia.”
“Jelas kau tidak pernah mendengar sebutan itu, kerena mereka berdua adalah bagian dari Legenda yang sudah di lupakan sejarah, dua orang itu adalah pendosa.”
Nafas Vii sempat tertahan, dirinya sangat syok saat mendengar kata pendosa. “Maksud anda, Yang Mulia...” Wajah nya jadi semakin pucat.
“Ya, dua orang yang ku maksud adalah anggota dari Seven Deadly Sins yang di katakan sudah mati ribuan tahun yang lalu.”
Seven Deadly Sins adalah tujuh Iblis Kuno yang menyebabkan kekacauan besar di masa lalu. Nama mereka di takuti dan disegani, namun sekarang mereka sudah di lupakan.
Nama Seven Deadly Sins membuat Vii menelan ludah berat. “Kalau begitu, tindakan apa yang sepatut nya hamba lakukan untuk menghadapi mereka, Yang Mulia?”
“Saat kau merasakan Magi yang sangat
'Gelap' segera kabur apapun yang terjadi.”
“Lalu, Magic Fire nya, Yang Mulia?”
Pria itu mengeleng-gelengkan kepalanya. “Magic Fire hanyalah bonus dari tugasmu yang sebenarnya.”
“Kalau begitu, tugas hamba yang sebenarnya apa, Yang Mulia?”
“Kau akan segera tau, lakukan saja apa yang aku katakan tadi.”
Vii diam sejenak, sebelum memberikan hormat pada Pria itu, kemudian meninggalkan ruangan misterius tersebut.
Dia benar-benar penasaran bagaimana cara nya Seven Deadly Sins yang sudah mati ribuan tahun yang lalu, sekarang malah bangkit.
Walaupun hanya dua orang, kekuatan mereka berdua pastilah bukan main-main, kekuatan yang di katakan bisa menghancurkan alam semesta.
“Tapi rasanya sedikit aneh jika dua orang Seven Deadly Sins bangkit dan tidak ada gejolak- Tunggu...”
Vii menghentikan langkahnya di sebuah lorong yang cukup gelap, dia mengetuk-ngetuk keningnya sendiri berusaha untuk mengingat-ingat seluruh kejadian beberapa tahun terakhir.
Vii berpikir sangat keras untuk mengingat-ingat semua yang dirinya ketahui, dia baru berhenti berpikir saat mengingat nama Speaker.
Langkah Vii pun kembali berlanjut, dirinya nampak sangat terburu-buru. “Ini buruk!”
<----<>---->
Masa Sekarang.
Tepat saat Matahari berada di atas kepala, Kaira dan rombongan nya berhasil mencapai puncak Gunung Adamantine dengan posisi ke tiga.
Kaira berdecak kagum ketika melihat puncak dari Gunung Adamantine, tempat tersebut sangatlah luas dan di tumbuhi banyak sekali pohon dan bunga.
“Tuan Tuan sekalian, mari ikuti saya.”
Seorang wanita yang entah dari mana, mendatangi mereka bertiga untuk mengajak mereka menuju lokasi Penginapan.
Karena sudah siang dan masih banyak yang belum sampai puncak, sedangkan untuk melanjutkan Sesi kedua akan butuh banyak waktu. Karena itulah di adakan yang namanya Penginapan untuk peserta yang lolos ke Sesi Kedua.
Mereka bertiga di tuntun sampai ke sebuah Penginapan yang di kelilingi oleh banyak pohon sakura. Penginapan itu cukup sederhana namun indah.
Kaira, Tyhas dan Raven pun memilih kamar mereka masing-masing, tanpa pikir panjang mereka bertiga langsung tidur di kamar yang mereka pilih.
Dan baru bangun saat makan malam tiba, di sebuah bangunan yang luas di samping Penginapan, mereka bertiga makan malam bersama yang lainnya.
Di sana tersedia banyak sekali jenis-jenis makanan yang terlihat sangat lezat, dan dari situlah Kaira dan Tyhas bisa tau bahwa napsu makan Raven itu sangat tidak manusiawi.
Bayangkan saja, seorang Pemuda yang tidak gemuk sama sekali bisa makan sekor Rusa dengan sangat lahap dan setelah itu masih makan yang lainya.
Berbeda dengan Raven. Kaira dan Tyhas hanya makan sedikit saja sebelum meninggal bangunan tersebut. Mereka berdua pun kembali ke kamar masing-masing.
“Kaira, itu apa?” Tyhas menunjuk sebuah bungkusan hitam.
Kamar Kaira dan Tyhas bersebelahan jadi dia berjalan beriringan dengan Kaira saat kembali dan otomatis selalu melihat bungkusan hitam yang Kaira bawa.
“Ini hanya makanan.”
Tyhas memperhatikan bungkusan itu sejenak, lalu berbalik badan. “Ya sudah, aku mau tidur lagi badan ku masih terasa pegal... Selamat malam.”
“Hm... Selamat malam.”
Kaira juga berbalik badan kemudian masuk ke kamarnya, lantas dia membuka bungkusan hitam yang dari tadi diri nya bawa.
Beberapa potong daging Kaira keluarkan dari sana. “Hei, mau makan?”
Pertanyaan itu sontak membuat seorang gadis tersipu malu. “Anu...”
“Mau tidak? Kalau tidak aku yang akan memakan nya.”
“Mau! Mau!”
Kaira tertawa kecil, lantas mengucapkan sebuah mantra. “Evenire...”
PUSP!
Hanabi yang ukuran tubuh nya sudah lebih besar, muncul dari ruang hampa. Tanpa sepatah katapun dia langsung mengambil daging yang ada di tangan Kaira.
Kemudian memakan nya sambil memunggungi Tuan nya itu. Kaira hanya tersenyum melihat tingkah laku Naga putih yang ada di hadapannya.
“Apakah dia... Ah tidak mungkin.”
Seorang Pria dari tadi sedang mengawasi Kaira, dia sedang berdiri di atas sebuah pohon tanpa di ketahui oleh siapa pun.
Pria itu hanya diam memperhatikan Kaira terus-menerus, bahkan sampai Pemuda itu tertidur di ranjangnya, dia baru pergi setelah itu.
“Kau pikir tidak ada yang mengetahui keberadaan mu, huh?” Kaira tersenyum mengejek, saat Pria itu telah menghilang entah kemana.
Will Continue In Chapter 24 >>>