
“Ayah, Ibu... Aku... Akan segera menemui... Kalian...” Suara nya terdengar sangat pelan, dan dia sedang dalam ambang kematian.
Pemuda itu memasang senyuman di wajah nya, tanpa memperdulikan kematian yang telah menggenggam erat diri nya. “Tidak... perlu memperdulikan... Ku...”
<----<>---->
“Ehuuk...!” Viole yang masih tidur, tiba-tiba terbangun karena mimpi barusan. Di saat yang sama kepala nya terasa begitu sakit.
Menggunakan jari-jari tangan, Viole memijit kepala nya sendiri untuk mengurangi rasa sakit. “Apa itu tadi?”
‘Masa depan, mimpi mu tadi adalah masa depan. Jangan pernah mencoba untuk mengubah nya, kau tidak akan bisa.’
Viole masih memijit kepala. ‘Huh? Apa? Aku tidak mengerti.’
‘Bukankah sudah ku singgung kemarin? Kau itu bukan Manusia, dan kemampuan mu sebagai mahluk yang bukan Manusia adalah melihat masa depan.’
Jari-jari Viole yang tadi memijit, kini beralih menggaruk kepala nya sendiri. ‘Arrghh...! Aku tidak peduli! Yang ku lihat hanyalah siluet seseorang, jadi sangat tidak mungkin aku bisa mengubah nya.’
‘Hmm... Lagi-lagi kau tidak terkejut dengan hal luar biasa yang diri mu alami.’ Kaira mengelus dagu.
Viole mendadak turun dari ranjang. ‘Ya ya ya, sekarang katakan, kenapa baru saat ini aku bisa melihat masa depan.’
‘Kalau di lihat melalui pengalaman ku dulu. Mungkin karena faktor kekuatan, tapi aku sendiri tidak yakin.’ Kaira mengangkat kedua bahu nya.
‘Begitu ya? Kalau begitu, terima kasih untuk informasi nya.’ Setelah itu, Viole memasukan sebuah pil ke dalam mulut nya.
CLETAK!
Suara Pil yang pecah terdengar ketika Viole mengunyah nya. Kemudian dia berjalan menuju tangga ke lantai satu.
Dengan raut wajah nya yang sedikit kusut, Viole berjalan menuruni anak tangga.
‘Kau mau melakukan apa?’ tanya Kaira.
‘Bersiap-siap untuk latihan.’
TOK! TOK! TOK!
Ketika kaki Viole menyentuh lantai, tiba-tiba terdengar suara ketukan di pintu. Dengan segera dia berjalan menuju pintu masuk.
Dan saat di buka, ternyata yang mengetuk pintu adalah seorang Kurir, dia membawa tanda pengenal milik Viole sebagai Murid resmi White Eagle.
Tidak hanya itu, Kurir tersebut juga membawa sepucuk surat dari Sam. “Oh ya, tolong tanda tangan di sini, ini pena nya.”
Viole pun menggapai pena itu, kemudian menandatangani sebuah kertas yang si Kurir tunjukan pada diri nya.
“Terima kasih, saya permisi.”
“Yaa...”
<----<>---->
“Eeeh... Ku kira ini akan berbentuk seperti kartu, tapi ternyata malah sebuah medali.” Viole menatap tanda pengenal nya.
Tanda pengenal itu berbentuk medali, yang cukup besar untuk menuliskan nama serta identitas Viole sebagai Murid White Eagle.
PLUK!
Setelah puas memandangi tanda pengenal nya, dia menaruh tanda pengenal itu di atas meja. Kemudian beralih membaca surat yang Sam berikan.
Inti nya, isi surat itu mengatakan bahwa latihan nya akan di tunda untuk sementara. Sampai Agricultural District Killer di temukan.
“Agricultural District Killer? Apakah mungkin ada pembunuh yang berkeliaran di White Eagle? Aneh sekali.”
‘Apa kau tidak tertarik untuk melihat ini?’ Kaira menyeletuk.
Viole menaruh surat itu di atas meja. ‘Untuk apa aku harus tertarik? Kasus ini pasti sudah di ambil alih oleh Pasukan Pengintai, jadi aku tidak mau ikut campur. Sudah bagus mereka pergi, jika aku mencampuri urusan mereka, bisa saja mereka kembali.’
‘Kita lihat saja...’
Viole menghela nafas. ‘Terserah!’ Setelah itu, dia pun mengeluarkan beberapa makanan dari Dimension Ring, lalu sarapan dalam diam.
Makanan tidak akan membusuk saat berada di dalam Dimension Ring, jadi makanan yang sudah Viole simpan sejak lama itu, masih aman.
Selepas sarapan, Viole langsung pergi menuju kamar mandi, untuk membersihkan diri. Dan keluar dengan wajah yang lebih segar.
“Hmm... Dari pada menganggur seharian, lebih baik aku mencari Raven dan Tyhas.” Setelah berkata demikian, Viole segera menuju ke rumah Tyhas.
Karena masih terlalu pagi, jadi jalanan Kota terlihat sedikit sepi, tidak seperti saat siang hari. “Yah... Sebentar lagi juga akan ramai.”
Viole berjalan santai menuju rumah Tyhas, sebab dia mengira kalau teman nya itu masih tidur. Tapi kenyataan nya, saat dia ke sana, Tyhas sudah tidak ada di rumah.
“Mungkin dia di rumah Raven.” Dengan segera, Viole melesat ke arah rumah Raven. Dan ternyata benar, Tyhas ada di sana.
Dia tengah berdiri di halaman rumah, bersama dengan Raven dan satu orang lagi, yaitu Yoshi. Langsung saja Viole menghampiri mereka.
“Ah! Viole, kebetulan kau datang, padahal tadi kami ingin menghampiri mu,” sapa Raven ketika Viole sampai.
Kepala Viole sedikit miring. “Hm? Untuk apa?”
“Untuk ke District Agriculture, kami berencana mengajak mu ke sana.” Tyhas menjelaskan.
“Ha?” Ekspresi Viole nampak bingung. ‘Hoi, pak tua jelek! Apa kau melihat masa depan ini?’
‘Entahlah.’
Yoshi melirik Viole. “Bagaimana? Kau mau ikut?”
“Ah... Setidak nya, katakan pada ku, kenapa kita harus pergi ke sana? Bukankah di sana ada pembunuh?” tanya nya.
“Justru karena itu.”
Yoshi pun menjelaskan, bahwa tujuan nya ke sana adalah untuk menjemput salah satu teman nya yang berada di sana.
Dia adalah gadis biasa yang bernama Niren. Dia merupakan penduduk lokal yang tinggal di District Agriculture.
Karena ada nya pembunuh di sana, untuk dapat keluar dari District harus melalui pemeriksaan yang sangat ketat, demi menjaga agar pembunuh tidak kabur.
Jadi, keberadaan seseorang yang dapat menguatkan identitas orang yang ingin keluar dari District Agriculture, sangatlah di perlukan.
Sebenarnya, Yoshi saja sudah cukup untuk dapat mengeluarkan Niren. Namun sebagai bentuk jaga-jaga, dia memutuskan untuk mencari bantuan.
“Sedangkan teman-teman ku yang lain, tengah sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Hanya kalian lah yang bisa ku' mintai pertolongan.”
Viole menggerakan tangan nya ke atas, kemudian menyentuh kening. “Jadi, kau ingin menyelamatkan teman mu itu? Lalu kami ikut untuk berjaga-jaga?”
“Ya!” Wajah Yoshi sangat serius.
Seketika itu, Viole jadi teringat dengan nasehat yang pernah Dyroth berikan pada diri nya. [Tolong lah orang yang ingin kau tolong.]
Viole mengerutkan kening. ‘Ini hanyalah mengunjungi suatu tempat, meskipun di sana ada pembunuh, tapi setidak nya ada Pasukan Pengintai yang bisa menjaga kami.
Tapi, pembunuh itu belum di ketahui, bisa saja dia menyerang kami secara tiba-tiba... CK! Bagaimana menurut mu pak tua?’
‘Pergi lah, di sana kau akan mengetahui sesuatu. Seperti yang kau katakan tadi, aku melihat sekilas masa depan di sana.’ Kaira begitu serius dengan perkataan nya.
“Viole! Kau menganggur bukan? Kalau begitu ikut kami saja!” Raven tiba-tiba menempatkan lengan nya ke bahu Viole.
“Bisa kah kau tidak melakukan hal ini?” Viole menatap tajam mata Raven, dari wajah nya sudah terlihat kalau Viole tidak senang.
Raven menanggapi nya dengan tersenyum. “Hihihi... Ayolah, kau pasti mau ikut kan?”
Perlahan-lahan Viole menghembuskan nafas, dia berusaha untuk tidak memukul Raven. “Baiklah, aku ikut... Tapi cepat, singkirkan tangan mu ini!”
Dengan segera, Raven menyingkir kan tangan nya. “Woohu!” Dia terlihat begitu senang dengan Viole yang mau ikut, bahkan sampai melompat.
“Terima kasih,” ujar Yoshi. Tidak seperti tadi, dia terlihat lebih tenang.
Tiba-tiba, Viole mendekatkan mulut nya ke telinga Yoshi. “Tidak perlu berterima kasih. Aku melakukan nya bukan untuk membantu mu, ini demi diri ku sendiri.”
“Itu lebih baik.”
“Baiklah, kita pergi sekarang.” Tyhas yang dari tadi diam, kini buka suara. Pandangan nya saat ini terkunci pada langit. “Ini baru pukul 5... masih terlalu pagi untuk berkeliaran di kawasan pembunuh.”
Will Continue In Chapter 85 >>>
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
ini penting, akan ada beberapa kejadian di dalam District Agriculture...