Magic War

Magic War
Ch 75 – Rapat Para Dewa Agung [New]



Di sebuah lorong yang sangat gelap, yang bahkan lebih gelap dari VantaBlack. Terdengar suara langkah kaki lembut.


Tidak terlihat seperti apa wujud orang itu, dia hanya terus berjalan tanpa dapat melihat setitik pun cahaya, cuma kegelapan yang dapat dia lihat. “Merepotkan...”


Beberapa menit kemudian barulah dia dapat melihat cahaya, bukan hanya setitik. Tapi langsung ada banyak cahaya yang tertangkap oleh mata nya.


Di saat yang sama, dia dapat melihat sebuah besi raksasa yang berbentuk seperti lingkaran, mengambang di depan nya.


Permukaan besi itu datar, jadi di atas besi bulat itu bisa terdapat sebuah meja bundar besar yang di kelilingi oleh 12 kursi. Semua nya terlihat memiliki motif unik.


Seorang Pria berbadan ideal, memiliki dua sayap, wajah nya tampan dan juga mata berwarna hijau indah, seindah zambrut. Dia adalah sosok yang tadi berjalan di lorong gelap.


Dia pun terbang menuju salah kursi yang ada di sana, walaupun sudah di sediakan tangga untuk naik, tapi dia tidak mau memakai nya.


Pada salah satu kursi yang bertuliskan angin, Pria itu duduk. Tanpa memperdulikan beberapa orang yang sudah lebih dulu berada di sana, dia menaruh kedua kaki nya di atas meja.


“Ling, bisakah kau bersikap sedikit lebih sopan?” Suara lembut dari seseorang Wanita terdengar. Dia duduk di kursi yang bertuliskan kehidupan.



Pria dengan dua sayap itu pun menjawab. “Jangan mengaturku, Ibu ku saja tidak pernah memarahi ku.”


“Ha ha! Dasar anak mama!” Yang lain ikut dalam percakapan, dia adalah seorang Pria yang duduk di kursi api.



WUSH!


“Sekali lagi kau berbicara, api mu akan ku padamkan, Reus!” Ling mengangkat sebelah tangan nya, diikuti dengan hembusan angin kencang.


Angin yang Ling ciptakan sangat kuat, sampai merusak beberapa hiasan yang ada di ruangan ini. Dan membuat ruangan ini bergetar hebat.


Seorang Pria yang dari tadi hanya diam sambil memejamkan mata nya, kini membuka kelopak mata nya dan berbicara. “Kalian, ingatlah, amarah hanya akan menyesatkan diri kalian sendiri. Tetaplah tenang seperti air sungai.”


Perkataan Pria itu sukses membuat Ling berhenti, dia mendengus dingin sambil menatap Pria yang tadi menasehati nya. “Kau pengecualian...”


Pria itu bernama Alkamar, dia duduk di kursi kebijaksanaan, dan merupakan yang paling kuat di antara seluruh orang yang ada di sini.



Suasana pun menjadi hening, dan tetap hening sampai orang kesebelas datang. Orang kesebelas itu adalah seorang Wanita, dia pun duduk di kursi air.


Sama seperti Ling, dia bertindak sesuka hati nya. “CK! Falta lama sekali! Padahal dia yang meminta kita untuk berkumpul!” Wanita itu terlihat marah.


“Biasa orang tua, mungkin punggung nya encok-”


“Haha! Jaga mulut mu bocah!” Seorang Pria yang baru saja keluar dari lorong gelap itu, menatap tajam ke arah Reus.


Pria itu memiliki wajah yang sangat mirip dengan Kaira. Tidak ingin memperpanjang lagi, dia langsung melompat menuju kursi kematian.


Setelah duduk, Falta pun memulai pembicaraan, dia menjadi lebih serius. “Sebelum nya, ku ucapkan terima kasih karena kalian mau menghadiri pertemuan ini.”


“Tidak usah terlalu di perpanjang, segera di mulai saja.” Ling menyeletuk.


Falta menghela nafas. “Seperti yang kukatakan. Kaira, dia masih hidup dan sekarang ini tengah berada di dalam tubuh seorang Manusia.”


Kesebelas orang lain terdiam, nama Kaira adalah nama yang paling mereka benci, sang kebijaksanaan bahkan masih menyimpan kebencian pada Kaira.


“Kaira... Seharus nya dia sudah mati bersama lima teman nya. Kalau yang kau bilang masih hidup adalah Vian, itu sudah pasti. Tapi Kaira, dia itu telah lama mati. Kau gila?” Wanita yang duduk di kursi tanah, berkomentar. Seakan-akan mengejek Falta.


“Nenek bau tanah, tanpa kau beri tau pun aku sudah tau. Tapi sekarang cucu brengsek ku itu masih hidup!” ucap Falta sambil menunjukan Aura nya, tanda bahwa dia serius.


Seketika ruangan ini di penuhi oleh aura kematian yang sangat kental, karena terganggu, Goddess of Life pun ikut mengeluarkan Aura nya.


Dalam waktu singkat, seisi ruangan menjadi sangat kacau. Udara bergetar, hingga menciptakan retakan antar Dimensi.


SLETAS!


Merasa akan terjadi kericuhan, Alkamar pun menenangkan mereka berdua, serta Dewa lain yang sedang bersiap untuk ikut dalam kegaduhan.


Hanya dengan satu jentikan dari jari nya, kesebelas Great God itu segera kembali ke posisi masing-masing dan menarik kekuatan yang telah mereka keluarkan.


Retakan Dimensi itu segera Goddess of Life perbaiki, karena jika tidak di perbaiki. Ruangan yang sedang mereka gunakan ini bisa saja hancur.


“Jangan berkelahi, kita bisa mendiskusikan ini dengan tenang... Sekarang, anggap saja informasi yang Falta berikan adalah benar, silahkan berpendapat.”


“Kita bunuh saja Manusia itu, karena dia berpotensi membahayakan seluruh Dunia. Maka kita tidak akan melanggar aturan.” Reus berpendapat.


Mendengar pendapat itu, membuat Ling mengutarakan pendapat nya. “Tidak bisa, dia memang berpotensi, tapi belum melakukan tindakan apapun. Jadi kita masih terikat dengan peraturan yang ada.”


Seperti yang Ling katakan, mereka para Dewa dan Dewi hanya bisa membunuh orang jika memang orang tersebut telah melakukan sesuatu yang fatal.


Jika hanya berpotensi saja, tetap orang tersebut tidak bisa mereka bunuh. Sebab, belum tentu orang itu akan melakukan apa yang telah di prediksikan.


“Kalau begitu, kumpulkan saja informasi tentang kenapa Kaira dan kelima teman nya bisa hidup lagi.” Goddess of Life - Noelle mengusulkan pendapat nya.


Mendengar perkataan Noelle, membuat Falta mengingat sesuatu. “Oh ya! Kalau tidak salah, waktu itu aku mendengar Kaira mengatakan tentang suatu Jurus. Entah lah Jurus apa yang dia gunakan.”


BRAK!


Tepat setelah Falta menyelesaikan penjelasan nya, God Of Knowledge berdiri sambil menggebrak meja, hingga meja yang ada di sisi nya, hancur. “Tidak ada satu pun Jurus yang bisa menghidupkan seseorang.”


Goddess of Water - Salna langsung berpendapat terkait Jurus penghidupan itu. “Memang, tapi setauku ada sebuah Jurus yang memungkinkan pengguna nya untuk mewariskan apa yang dia miliki.”


Mata Ling sedikit bergerak karena pendapat Salna. Dewa dan Dewi lain nya, menunjukkan reaksi yang berbeda.


“Jadi maksud mu, Kaira memang sudah mati, tapi dia berubah menjadi roh dan saat ini sedang mewariskan kekuatan nya pada Manusia yang Falta sebutkan?” tanya Ling


“Bisa di bilang begitu. Dan aku mendengar nya dari mulut Kaira itu sendiri.” Salna pun menjelaskan bahwa Kaira pernah berkata seperti ini saat di siksa oleh Ling [Dewata Tertinggi] dulu.


“Kalau pun aku harus mati di sini, setidak nya masih ada satu kesempatan lagi bagi ku, untuk mewariskan kekuatan ku ini pada seseorang.” Itulah yang Kaira ucapkan pada Salna.


Will Continue In Chapter 76 >>>


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


nih, aku kasih tau sesuatu. Ling itu adalah orang yang bunuh Kaira di Nightmare Ring dulu dan juga dia adalah Dewata Tertinggi, sekaligus God of Wind.


oh ya, gelar kebijaksanaan tidak hanya di pegang oleh Alkamar, tapi juga Dewi biasa yang bernama Sufis Luiz. buat kalian yang lupa siapa Sufis Luiz, bisa cek di pembuka Arc 2.


udh sih cuma itu, dadah