Magic War

Magic War
Ch 81 – Meneruskan Keinginan Guru



“Apa yang kau perlukan?” Seorang Penjaga bertanya.


Viole tersenyum sebelum menjawab pertanyaan itu. “Mengantarkan sepucuk surat untuk Dux Magna.”



Dua orang Penjaga gerbang itu sempat saling bertatapan, lalu mengizinkan Viole untuk masuk ke dalam kediaman Rayorn Sam sang Dux Magna.


Dia kemudian berbalik badan. “Kalian semua! Awasi bocah ini sampai ke ruangan Dux Magna!” Penjaga itu memerintahkan seluruh Junior nya.


Para Penjaga yang dari tadi berada di gerbang bagian dalam, langsung membuat barisan ketika di perintah, kemudian menyuruh Viole untuk berdiri di bagian tengah.


Viole hanya menurut, kemudian masuk ke dalam kediaman milik Sam. Tempat ini tentu tidak kecil, jadi butuh waktu beberapa menit untuk Viole sampai di depan pintu ruangan Sam.


Para Penjaga yang mengawal Viole, dengan sigap membungkuk ke arah pintu masuk. Viole menatap mereka semua sejenak, lalu mengetuk pintu yang terbuat dari emas itu.


TENG... TENG... TENG...


“Masuk.”


Suara itu, membuat Viole menelan ludah berat, dia juga mengatur nafas nya supaya tidak kaku saat berbicara dengan Sam nanti. Karena dia harus bersikap sebaik mungkin.


Kemudian Viole membuka pintu masuk itu, sebuah ruangan yang sangat sederhana menyambut mata nya. ‘Tidak seperti tampilan luar.’


BREK...


Lantas Viole menutup pintu itu secara perlahan.


“Oh, kau. Ada perlu apa kemari?” Sam yang sedang duduk di meja kerja nya, segera berhenti bekerja ketika melihat keberadaan Viole.


Viole memaksa untuk tersenyum. “Anu... Saya ingin mengantarkan surat dari Tuan Balft, untuk anda.”


“Hm...”


Terlihat ada sedikit reaksi yang Sam tunjukan. Setelah itu dia diam, menatap Viole dengan tatapan menyelidik.


Tatapan yang Sam lontarkan pada nya, sontak membuat Viole merinding, dia sampai berkeringat dingin. ‘Apa dia mencurigai ku?’


Situasi canggung ini berlangsung selama beberapa menit kemudian, sampai Sam membuka kembali pembicaraan. “Kalau begitu, ikuti aku...”


“Eh? Kemana?” Viole menjadi sedikit lega, namun di saat yang sama dia juga kawathir. Bisa saja diri nya di bawa ke tempat berbahaya.


Seakan-akan bisa membaca pikiran Viole, Sam pun berkata. “Kau tidak akan kenapa-kenapa. Aku hanya berusaha untuk membuat ini menjadi rahasia.”


“Apa lagi itu-?”


NGUUUNG!!


<----<>---->


BRAK!


“Tahak-! Uhuk! Uhuk!” Di sebuah tempat misterius, Viole terbatuk-batuk dengan kondisi duduk.


“Ah, maaf. Seperti nya aku terlalu berlebihan,” ucap Sam, kemudian dia duduk di depan Viole.


Tempat mereka berdua berada saat ini adalah ruangan yang telah Sam siapkan sejak lama, khusus untuk situasi yang seperti ini.


Ruangan ini sangat gelap, hanya ada pencahayaan redup dari dinding, langit-langit dan lantai yang berupa giok biru.


Mata Viole menatap tajam wajah Sam. “Hah... Hah... Kenapa kita harus pergi ke sini?” Dia juga sudah tidak terbatuk-batuk lagi.


“Ini.” Tanpa basa-basi lagi, Viole langsung menyerahkan sebuah kertas pada Sam. Kertas itu merupakan surat pemberian Balft.


Sam mengambil nya dari tangan Viole, kemudian membaca isi surat dengan keras, supaya Viole juga bisa mengetahui apa yang sudah Balft tulis.


Karena Sam yakin, bahwa Viole pasti belum pernah sekalipun membaca surat ini. Dan itu adalah kebenaran.


“Hei Pak Tua Bau Obat, jika kau telah menerima surat ini, berarti sekarang ada seorang bocah di dekat mu, aku sendiri tidak tau siapa yang memberikan surat ini, tapi kalau benar ada bocah itu, dia adalah cucu dari Guru mu... Apa?!”


Baru sedikit saja isi surat yang telah Sam baca, dia sudah berhenti. Sekarang pandangan nya beralih dari surat, ke arah Viole.


Sorot mata nya yang tadi kalem, kini berubah menjadi sangat bersemangat. Surat pemberian Balft, langsung dia taruh begitu saja. Setelah itu, Sam tiba-tiba bersujud.


“MAAF KAN KELANCANGAN KU INI! PERLAKUKAN AKU SEMAU MU! DAN HUKUM SAJA AKU SEMAU MU! WAHAI TUAN MUDA!!”


“HUH?!” Viole tentu terkejut dengan sikap Sam yang berubah begitu saja, di tambah dengan diri nya yang tiba-tiba bersujud.


Situasi seperti benar-benar tidak pernah Viole duga. Dia menggaruk-garuk kepala nya sendiri yang tidak gatal, karena bingung harus menjawab apa.


Viole tersenyum canggung. “E- ee... Anu- bisa kah anda kembali duduk? Dux Magna?”


“TENTU!”


Sam pun kembali pada posisi duduk nya. Dia menatap Viole dengan tatapan yang sangat mirip sekali dengan seorang Pemuda yang baru menemukan jati diri nya.


Dia tidak memperdulikan wajah canggung Viole, yang Sam pikirkan saat ini adalah bersikap sebaik mungkin pada Viole.


Sikap Sam ini benar-benar sangat mengejutkan, juga begitu aneh.


“Dux Magna, anda tidak perlu bersikap berlebihan seperti ini. Dan... Apakah Kakek sa-”


“TENTU! Guru adalah salah satu dari dua orang paling saya hormati, karena itu! Bersikap seperti ini adalah kewajiban bagi saya!” Sam menjawab dengan sangat tegas.


“Oh, ahaha, begitu ya...” Jawaban yang Sam berikan tidak membuat Viole senang sama sekali, karena mau bagaimana pun dia adalah Dux Magna! Sosok yang sangat di takuti oleh banyak orang.


Tapi sekarang dia malah tunduk di hadapan seorang Pemuda lemah. Kejadian seperti ini, hampir mustahil terjadi. Dan juga sulit untuk di atasi.


Mereka berdua saling menatap satu sama lain, situasi ini terjadi lebih dari lima menit. Membuat Viole sangat ingin sekali berteriak meminta pertolongan.


Karena sudah tidak tahan, Viole pun menghela nafas, mencoba untuk memulai lagi obrolan. “Dux Magna, anda bisa lanjut membaca surat nya.” Viole berusaha untuk bersikap normal.


“Baik-!”


“Tolong! Jangan bersikap seperti itu. Saya akan menganggap anda bersikap sopan pada saya jika anda bersikap normal.” Viole menyilangkan kedua tangan nya di depan dada.


‘Dan apa-apaan dia bisa percaya semudah itu?!’


“O... Baiklah, akan ku catat itu di kepala ku.” Tepat setelah berkata demikian, Sam pun kembali membaca surat yang Balft tulis.


“Pasti kau akan mengeluarkan reaksi yang berlebihan, tapi itu tidak penting. Yang terpenting adalah, kau harus melatih bocah itu mengenai Ilmu Alchemy. Tidak peduli meskipun dia tidak memiliki Elemen Api!


Dulu, aku yakin Zhen tidak memiliki banyak waktu untuk melatih bocah itu. Jadi sebagai seorang Murid, kau harus meneruskan keinginan Guru mu...”


Sam diam sejenak, dia menatap Viole yang juga sedang menatap diri nya. Setelah itu baru melanjutkan. Rasa nya ini terlalu mendadak bagi Sam, bahkan Viole juga merasa demikian.


“Kau pasti mencurigai nya kan? Aku yakin Azar telah mengirimkan Pasukan Pengintai untuk mengawasi gerak-gerik bocah ini... Sudah lah, jangan mencurigai nya lagi.


Dia bukan orang jahat. Meskipun aku tidak tau seperti apa setatus nama Kaira saat kau membaca surat ini, tapi ku tegaskan, dia bukan lah orang yang akan membahayakan mu dan White Eagle.”


Will Continue In Chapter 82 >>>