
“Waktu itu, saat aku jatuh ke dalam jurang yang tidak terlihat dasarnya, aku beruntung bisa jatuh di aliran sungai dan Raven lah yang telah menyelamatkan ku pada waktu itu.”
Penjelasan Tyhas itu membuat Kaira memijit-mijit keningnya, jujur dia sulit percaya dengan kenyataan tersebut. Namun begitulah adanya. “Aku turut senang kau masih baik-baik saja, Tyhas.”
“Yang lain?”
Tyhas bertanya demikian karena dia jatuh ketika seluruh anggota Guild masih sibuk menghadapi Lord Mystical Beast yang menyerang mereka dengan tiba-tiba.
Pertanyaan itu membuat Kaira tersenyum pahit. “Mereka sudah beristirahat dengan tenang di tepi Danau Ordan...”
Tyhas sudah menduga jawaban itu, jadi dirinya tidak terlalu menunjukkan reaksi. Sedangkan Raven hanya diam dalam canggung sejak tadi.
Meja mereka bertiga hening selama beberapa menit, sampai datanglah seorang pelayan membawakan pesanan Kaira. Pelayanan itupun pergi setelah menerima beberapa keping Perak dari Kaira.
“Kalian berdua, makanlah, aku tidak keberatan untuk berbagi.” Kaira menawarkan.
Tanpa pikir panjang Raven langsung mengambil salah satu mangkuk sayuran pesanan Kaira. “Terima kasih! Kebetulan aku belum makan dari pagi... Selamat makan!”
“Ehem! Aku tidak perlu.”
Sambil makan, mereka bertiga pun kembali melanjutkan pembicaraan. Mereka bertiga membicarakan banyak hal, hingga sampailah mereka ke pembicaraan tentang White Eagle.
“Kalian juga akan ke White Eagle?” tanya Kaira.
“Juga? Berarti kau pun...” Tyhas tidak melanjutkan perkataannya.
“Yaa... Begitulah, tapi aku sudah menundanya selama setahun penuh.”
Selama ini Kaira tidak memiliki niat sedikit pun untuk pergi ke White Eagle, walaupun di sana dia bisa dilatih dan mendapatkan Sumber Daya secara gratis.
Tapi di sana bukanlah Akademi Sihir pada umumnya, di sana seorang Murid akan di paksa untuk bertahan hidup di lingkungan yang kejam.
Tidak hanya itu, di White Eagle pasti banyak para Bangsawan, yang semakin menambah alasan Kaira tidak mau ke White Eagle.
Karena itulah Kaira selama setahun ini hanya mondar-mandir dari satu Kota ke Kota yang lainnya, tanpa ada keinginan untuk ke White Eagle.
Tyhas tidak terlalu memperdulikan alasan dibalik tindakan Kaira yang menunda untuk pergi White Eagle. “Mau pergi bersama kami?” tanya Tyhas.
“Ayolah... Katakan mau.” Raven menggoyang-goyangkan tubuh Kaira.
Kaira diam merenungkan tawaran dari Tyhas. Sebenarnya tidak ada salahnya dia pergi kesana, toh dirinya masih memiliki tugas untuk memberikan surat titipan Balft.
Namun alasan surat itu tidak cukup bagi Kaira untuk ke White Eagle. “Hei ayolah rambut putih jangan diam saja!”
Raven terus menggoyang-goyangkan tubuh Kaira, karena sudah tidak tahan, akhirnya Kaira menjawab mau.
“Yee! Si mata biru berkata mau!!”
Teriakan Raven terdengar ke seluruh lantai satu. Membuat orang-orang menengok ke arah meja mereka bertiga berada. Kaira tersenyum canggung, sedangkan Tyhas menepuk jidatnya sendiri.
Suasana sempat canggung sejenak, tapi dalam sekejap kembali seperti semula.
CTAK!
“Enk!”
Tyhas menyentil kening Raven setelah semua orang kembali fokus kepada urusan mereka masing-masing. “Bisa kecilkan suara mu sedikit?”
“Maaf...” Raven mengelus keningnya yang memerah.
“Tidak-tidak, kita tidak akan pergi ke White Eagle dulu. Ada yang harus di dahulukan, yaitu Adamantine Peak!” Raven menunjuk ke arah poster di dekat pintu masuk.
Adamantine Peak adalah nama gunung di sebelah Barat Kota Archi, juga nama sebuah Festival yang akan di adakan setiap sepuluh tahun di Kota Archi ini.
Adamantine Peak selalu di nantikan oleh banyak orang, itu karena hadiah yang akan di dapatkan bukan main-main. Tidak jarang ada hadiah sebuah Soul Weapon Level 7/8.
Terlepas dari semua itu, Adamantine Peak selalu di tunggu-tunggu oleh banyak orang juga karena pertarungan nya yang sangat menghibur.
Itu semua bisa terjadi sebab akan banyak Pemuda/i dari seluruh Benua Altesia yang pasti mengikuti Festival ini. Itulah alasan mengapa masih banyak orang yang menaiki tangga kemarin malam.
“Bukankah mengikuti Adamantine Peak terlalu berlebihan? Kita hanyalah orang lemah, sedangkan lawan kita adalah orang-orang yang tidak pernah kita ketahui kekuatan nya.”
Raven menepuk-nepuk pundak Kaira. “Hei ayolah kawan, tidak ada ruginya kita ikut-ikut, siapa tau kita beruntung, kan, Tyhas.”
Tyhas membuang muka. “Terserah, aku tidak peduli.”
Senyuman senang pun mulai menghiasi wajah Raven. “Baiklah, kita akan mengikuti Adamantine Peak-!!”
DUAKH!!!
Karena kesal dengan tingkah laku Raven yang kekanakan, Tyhas langsung memukulnya hingga membuat Pemuda itu terpental. “Berisik dasar bodoh.”
“Hoi hoi, sepertinya kau terlalu berlebihan rambut abu-abu,” ujar Kaira.
<----<>---->
Karena seluruh Penginapan di Kota Archi sudah penuh, Kaira terpaksa harus tidur di alam bebas.
Di sebuah pulau mengapung yang kecil, Kaira pun membaringkan tubuhnya. Di sana Kaira tidak langsung tidur, dirinya memutuskan untuk menikmati angin malam terlebih dulu.
“Aah... Entah kenapa tubuh ku rasanya pegal.”
‘Mungkin karena anda terlalu memaksakan diri, Tuan.’
‘Memaksakan diri?’
‘Hum, anda terlalu memaksakan diri untuk menjadi seorang Sraye yang ternama.’
Mendengar nya membuat Kaira menutup mata dan tidak menjawab. Semua yang Hanabi katakan itu adalah kebenaran. Berkat bantuan Dreonic Kaira langsung bisa membuka 80 Spirit Point.
*Note: Gambar di atas adalah urutan Spirit Point yang diperlukan untuk dapat mempelajari Jenis Sihir yang sudah aink jelaskan di... Chapter berapa, entah aku lupa.
Sebenarnya Kaira sangat ingin sekali langsung mempelajari Jenis Sihir di atas Elemental Magic, namun dia tau bahwa terburu-buru adalah hal yang buruk.
Karena itulah Kaira sangat bekerja keras untuk melatih pondasinya, semua itu semata-mata dirinya lakukan untuk menjadi seorang Petualang yang ternama.
Kaira sadar betul bahwa yang dia lakukan hanya akan membahayakan nyawanya. Tapi mau bagaimana lagi, sekarang tidak ada Balft yang membantu nya.
Kaira yang tadinya rebahan, kini sudah berada dalam posisi duduk. Dirinya menatap ke arah bawah, terlihat pemandangan cahaya-cahaya kecil di bawah sana.
Cahaya-cahaya tersebut adalah pemukiman warga. Kaira diam berjam-jam menatap ke bawah, sebelum kembali merebahkan tubuhnya.
Hanabi merasa bersalah karena telah mengatakan Kaira terlalu memaksakan diri, jadi dia hanya diam selama beberapa jam ini.
‘Selamat malam, Hanabi...’
Will Continue In Chapter 21 >>>