
Di Hari Yang Sama.
“Sam! Apa-apaan ini?! Kau memerintahkan Pasukan Pengintai untuk tidak memata-matai mereka bertiga lagi?!”
Azar baru saja masuk kedalam ruangan Sam, tapi dia malah langsung marah-marah. Dia juga menaruh sebuah kertas di atas meja.
Kertas itu berisi laporan dari Pasukan Pengintai yang di tugaskan untuk mengawasi Viole, Raven dan Tyhas.
Seperti biasa nya, Sam masih saja tenang. “Azar, mereka bertiga bukanlah ancaman. Memang terkesan mencurigakan saat mereka meminta bantuan pada mu untuk di bawa ke White Eagle. Namun, mereka bukanlah penyusup seperti seratus tahun yang lalu.”
BRAK!
Azar menggebrak meja kerja Sam. “Kenapa kau bisa sesantai itu?! Dan dari mana kau tau?!”
“Dari sumber nya langsung... Azar... Heeh... Bocah bernama Viole itu, adalah cucu nya Guru.”
“Huh...” Azar mundur beberapa langkah. “Sam... Jangan tertipu-!”
“Dia tidak menipu ku!”
“Kau bodoh apa?! Bisa saja Balft di tangkap, surat itu tidak bisa kau jadikan patokan!”
Seketika Sam terdiam, dan masih terus terdiam sampai beberapa menit kemudian. “Azar... Apa yang harus ku lakukan untuk membuktikan bahwa mereka bertiga bukan penyusup?”
“Terserah!” Azar pun berbalik, lalu melangkah menuju pintu. “Lebih baik berdiskusi dengan para Tetua dari dengan diri mu!”
BRANK!!
Setelah keluar, Azar segera membanting pintu. Membuat bunyi yang sangat nyaring, memenuhi ruangan Sam.
“Hah... Aku tau, kau tidak ingin kejadian seratus tahun yang lalu terulang lagi. Tapi, tidak begini cara nya, Azar...”
<----<>---->
“Elie! Jawab aku! Elie!!”
Di tengah lautan api, seorang Pria terlihat sedang berlari, sambil terus meneriakkan nama Elie. Entahlah, siapa itu Elie.
Lokasi Pria tersebut saat ini berada di sebuah pemukiman yang nampak seperti Desa. Namun telah di porak-poranda kan.
Dia terus berlari, nama Elie tidak sedetik pun dia lepaskan. Sebenarnya bukan hanya api yang menghiasi tempat ini, tapi juga mayat dari para warga.
Mayat mereka tergeletak di tanah, di lumuri oleh darah dan mati secara mengenaskan, di tambah dengan gelap nya malam, menyebabkan mereka sulit untuk dikenali.
Kemungkinan untuk orang bernama Elie itu berada di antara para mayat sangatlah besar Tapi Pria itu tetap percaya kalau Elie tidak ada di antara mayat-mayat tersebut, sampai pada akhirnya...
“Elie!”
“Ayah!! Tolong-!”
Dia mendapat kan balasan, tanpa membuang sedetik pun waktu, dia langsung melesat menuju asal dari suara itu.
Wajah nya yang pucat, serta keringat dingin yang membasahi nya. Membuat Pria terlihat mirip sekali dengan mayat hidup.
Setiap helaan nafas nya terasa begitu berat, ketakutan akan kondisi Elie membuat hati Pria itu sangat tidak tenang, bahkan sudah sejak awal.
Dan Ke' kawathir'an nya itu akhirnya terbukti beberapa detik kemudian. Dua orang yang mengenakan penutup wajah, berdiri di belakang seorang gadis kecil.
Gadis kecil itu tidak bisa di katakan baik-baik saja, bahkan tidak bisa sama sekali. Pisau yang sangat tajam, telah merobek leher nya.
Melihat sosok Pria itu di kejauhan, dua orang tersebut seketika menjadi panik.
“Sial! Kita ketahuan! Kabur!”
“Tapi kita baru mendapatkan 2-”
“Kabur saja!”
Setelah melakukan perdebatan singkat, mereka berdua pun pergi. Pergi begitu saja, meninggalkan Elie tergeletak di tanah.
“Elie... Putri ku... Ini bohong kan...?”
Dengan tubuh yang lemas tiba-tiba, Pria itu melangkah mendekati Elie, putri semata wayang nya. Alis Pria itu terangkat, dan mata nya melotot.
Lutut nya lemas menghantam tanah, ketika dia melihat sosok Elie yang tidak bernyawa lagi.
Tangan pun bergerak menggapai gadis itu, tubuh yang masih hangat dapat Pria itu rasakan ketika dia memegang Elie. Di saat yang sama, cairan merah kental membasahi telapak tangan nya.
Tanpa memperdulikan cairan merah tersebut, Pria itu langsung memeluk Elie. Memeluk nya dengan sangat erat, seakan-akan tidak mau melepaskan nya.
[Tubuh Elie yang sudah lemas hanya diam saja, tak ada satu kata pun yang dia ucapkan, bahkan hembusan nafas saja tidak terdengar.]
Butiran-butiran kristal cair mulai menetes membasahi wajah Elie. Ya, Pria itu menangis, mengusir sedikit-demi sedikit darah yang menempel pada putri nya.
Sekitar lima detik kemudian, datanglah beberapa orang. Mereka adalah orang-orang yang bertugas untuk mengevakuasi warga, dan kini tugas mereka sudah selesai.
Mereka semua hanya bisa membuang muka, saat melihat ayah dan anak saling berpelukan, di kelilingi oleh kobaran api.
“Kita terlambat...”
<----<>---->
Masa Sekarang.
“Agricultural District Killer, kita harus segera mencari nya! Dia sudah melampaui batas!” Seorang Wanita bertopeng hitam, memerintah anak buah nya.
“Baik Nona!” Belasan orang melakukan gerakan Curre secara bersamaan, setelah itu melesat menuju District/Area Agriculture.
Agricultural District Killer, adalah pembunuh yang mulai melakukan pembunuhan sekitar seminggu yang lalu.
Awal nya kasus ini di serahkan kepada para Penjaga, namun setelah seminggu tidak juga di temukan siapa pembunuh nya.
Akhirnya kasus di ambil alih oleh Pasukan Pengintai. Karena mereka sangat ahli dalam menangani kasus yang seperti ini.
Ketika seleruh bawahan nya pergi, Wanita bertopeng hitam itu pun membuka topeng nya. Memperlihatkan kulit wajah nya yang begitu putih, sangat cocok dengan mata merah darah nya.
Dia menghela nafas. “Semoga saja para Pasukan baru itu bisa bekerja dengan efisien.”
Setelah itu dia pun berbalik, kemudian melesat menuju suatu tempat.
Sebagai seorang pemimpin Pasukan Pengintai, setiap langkah dari Wanita itu hampir tidak menimbulkan suara sedikit pun.
Sebenarnya dia bisa saja tidak menyebabkan suara sama sekali, tapi melakukan nya hanya untuk menuju suatu tempat sangat lah konyol.
Dalam waktu kurang dari lima menit, akhirnya dia sampai ke tempat tujuan nya. Yaitu sebuah rumah besar yang terlihat begitu indah.
Tapi bukan nya masuk melalui pintu masuk, dia malah melewati jendela yang terbuka. Setelah nya, Wanita itu berjalan menyusuri beberapa koridor yang di penuhi oleh Pelayan.
Para Pelayan itu hanya membungkuk saat si Wanita melintas di samping mereka, seakan-akan sudah terbiasa dengan kedatangan nya.
Setelah beberapa menit, barulah dia sampai di tempat tujuan nya ketika melihat sebuah ruangan yang memiliki pintu emas.
Tangan lentik Wanita itu pun mengetuk pintu.
TENG!
“Masuklah, Liomega.”
Tanpa basa-basi, Wanita itu langsung membuka pintu, kemudian berjalan masuk untuk duduk di sebuah kursi, sambil melipat kaki.
“Bagaimana kondisi nya?” Pria yang tadi menyuruh Liomega masuk, bertanya.
“Aku mengirim para Anggota baru untuk menyelesaikan misi ini, apa kau keberatan, Sam?”
Sam tersenyum, lalu menempatkan kedua telapak tangan nya di belakang kepala. “Tidak. Kau pasti melakukan ini untuk melatih para Anggota baru... Kira-kira, kapan selesainya?”
Liomega menyentuh bibir nya sendiri menggunakan jari telunjuk. “Entahlah, mungkin besok? Aku sendiri tidak tau seberapa jauh kemampuan para Anggota baru itu.”
“Hmm... Mega... Bagaimana dengan kondisi Azar?” Sam pun menurunkan lengan nya, senyuman di wajah nya seketika menghilang.
Begitu pula dengan Liomega. “Dia masih saja berteriak-teriak di depan para Tetua. Kau sendiri tau kan sikap nya Azar itu seperti apa?”
“Yah... Dia sejak kecil selalu saja seperti itu, lebih mementingkan kepentingan orang lain dari pada diri nya sendiri. Tidak salah memang, tapi ada kala nya juga dia harus mementingkan diri nya sendiri.”
Sam, Liomega dan Azar adalah teman sejak kecil, jadi mereka bertiga sudah sangat mengenal satu sama lain, tapi hanya Azar yang sulit di ajak berdiskusi, alias dia egois.
Ke' egoisan nya itu semakin di perburuk dengan sifat nya yang lebih mementingkan kepentingan bersama, dalam kondisi apapun.
Sam dan Liomega sebagai sosok teman telah mencoba segala cara untuk mengubah sikap Azar, namun hasil nya nihil. Jadi mereka cuma diam sekarang.
“Azar pasti masih trauma dengan kepergian Elie, jadi biarkan saja. Aku hanya bisa berharap dia tidak kenapa-kenapa.”
Will Continue In Chapter 84 >>>
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
e yo mada faka! am bek!
akhirnya nya PAS udh selesai! tapi masih ada remed sih, nggak tau juga gua bakal remed atau nggak, yang pasti, nilai ku di beberapa mapel, cukup–tidak–memuaskan.
but, no problem. pokok nya gua bakal up normal lagi. mulai besok mungkin, atau lusa, soal nya mau ngurus dulu masalah remed ini.
okelah, bye-bye, beb!