Magic War

Magic War
Ch 73 – Tired



“Ayolah! Beri tau aku! Jangan membuat ku penasaran!” Mika masih terus memaksa Viole untuk menjawab.


Sedangkan Viole sendiri, hanya diam saja. ‘Wanita ini benar-benar tidak waras! Menjawab pun tidak akan memberiku keuntungan sama sekali.’


“Anu... Nyonya... Saya tidak tau apa yang anda inginkan dari bocah ini, tapi urusan dengan Bos jauh lebih penting.” Pria itu bingung dengan apa yang sedang Mika lakukan.


Bagaimana tidak? Wanita berjuluk Undead itu sangatlah kuat, namun dia malah melakukan hal konyol dengan menindih Viole untuk mendapatkan informasi.


“Diamlah Sebas! Aku sedang mencari jati diri ku!” Mika berkata tanpa menoleh ke belakang.


“Eh?”


“Huh?!” Viole ikut terkejut, sama seperti Pria tua bernama Sebas itu. Yang lain juga sama terkejut nya, terlihat dari ekspresi mereka.


Wajah Mika tiba-tiba memerah, semerah tomat yang sudah masak. “Ayolah! Cepat jawab! Ini sangat penting bagiku!”


‘Yah, siapa yang peduli, dan kenapa wajah nya memerah?’


Sementara itu, Sebas tengah diam sambil merenungkan sesuatu. Tadi dia di perintahkan oleh Bos Black Arc untuk mencari Mika dan Lero.


Dan jika dia tidak membawa mereka berdua hari ini juga, sudah dapat di pastikan bahwa Sebas akan di eksekusi.


Oleh karena itu Sebas jadi berpikir keras. Lero sudah dalam perjalanan kembali, sekarang tinggal Mika, tapi Wanita itu malah tidak mau pergi.


Biasa nya Mika akan menurut begitu saja kalau ada embel-embel perintah Bos, tapi sekarang dia tidak mau menurut.


Jadi kalaupun Sebas mengatakan akan ada Veteran Neckro yang datang berkunjung, sudah pasti sia-sia saja.


‘Bagaimana ini?! Memaksa Nyonya Mika untuk segera kembali, bisa-bisa aku di bunuh. Tapi jika aku tidak membawa nya pulang aku juga akan mati! Aaaaah-! Tunggu.’


Tiba-tiba saja, Sebas terpikirkan suatu cara. Dia tidak tau ini akan berhasil atau tidak, ya karena tidak memiliki pilahan lain, dia pun langsung mencoba nya.


Di tengah-tengah Mika yang sedang memaksa Viole, Sebas mengucapkan. “Nyonya... Eeee... Tuan Lero... Dia sudah kembali ke Markas lebih dulu...”


SASH!!


Seketika udara di sekitar situ menjadi berat, membuat mereka yang berada pada radius 200m mengalami sesak nafas, termasuk Sebas.


Aura yang sangat kuat memancar dari tubuh Mika, ekspresi wajah nya yang tadi polos, kini menjadi sangat berbeda. Sekarang dia sedang marah.


Mika kemudian berdiri, tatapan mata nya terlihat sangat tajam seakan-akan bisa memotong apapun. Dia menghadap Sebas. “Kau tadi bilang apa?“


Sebas menelan ludah berat. “Tuan Lero... sudah lebih dulu kembali ke Markas.”


“Lalu, kenapa dia tidak mengajak ku?” tanya Mika dingin.


Lagi-lagi, Sebas menelan ludah nya sendiri. “Karena Tuan Lero... Menyuruh saya untuk memanggil anda, sedangkan dia pergi lebih dulu.”


Mika menyipitkan mata nya, dia terlihat tidak percaya dengan yang Sebas katakan. Oleh karena itu, dia menggunakan jari telunjuk nya menunjuk kepala Sebas, setelah itu melesat pergi.


Sebas sendiri juga langsung ikut pergi, dia tidak memiliki alasan untuk tetap diam saja di sini. Apa lagi Mika terlihat sedang marah.


<----<>---->


“Uhuk! Uhuk!” Viole terbatuk setelah Mika menghilang, sekarang nafas nya sudah terasa lega.


Yang lain nya juga begitu, mereka semua menghela nafas lega karena masalah yang sangat tidak mengenakan ini telah berakhir. Tapi tidak untuk para warga, mereka masih tetap saja ketakutan. Wajar saja mereka bersikap demikian.


Menyadari hal itu, beberapa anggota White Eagle langsung bergerak untuk menenangkan pada warga, meskipun untuk berjalan saja mereka harus bersusah payah.


Sebenarnya mereka masih ingin beristirahat lebih lama lagi, tapi tetap saja, mereka tidak bisa meninggalkan tanggung jawab.


“Sst... Hah... Tadi itu apa-apaan?” Viole bergumam pelan, sebelum berdiri


lalu melangkah mendekati Yoshi dan Rou yang sedang bersandar di bawah sebuah pohon.


Di sana terlihat ada Tyhas juga, Pemuda itu sedang dalam keadaan pingsan, dia terbaring tidak jauh dari tempat Yoshi dan Rou berada.


“Kau tidak apa-apa?” Yoshi bertanya pada Viole yang sedang menuju ke tempat nya berada.


“Aku baik-baik saja, hanya sedikit... Lelah. Hah...” Viole pun duduk ketika sudah sampai.


Pertanyaan mendadak itu membuat Viole diam sejenak untuk memikirkan sebuah jawaban, lalu berkata. “Sudah ku non-aktif kan, dua Jurus tadi terlalu menguras tenaga.”


Yoshi dan Rou menaikan alis di saat yang sama, seperti nya Viole bukan orang sembarangan karena Jurus seperti itu memiliki harga yang sangat mahal.


Itulah yang mereka pikirkan, padahal sebenarnya dua kekuatan tadi merupakan pemberian orang lain. Alias gratis.


Mereka bertiga sempat terdiam untuk beberapa saat, sampai Viole terpikirkan sesuatu untuk di tanya kan.


“Hei, apa kalian tidak merasa ada yang aneh? Lian, orang yang memiliki kekuatan yang sama dengan Kaira, tapi kenapa dia tidak di curigai?” Viole berusaha mencari topik pembicaraan.


Mata Yoshi melebar. “Kukira kau tidak tau rumor nya sampai sejauh itu. Dari yang ku tau, Wanita yang bernama Lian itu sudah berumur sekitar 97th.”


Memiliki kekuatan besar pada usia sembilan puluh tahunan bukanlah sesuatu yang baru, karena para jenius akan dapat dengan mudah menggapai nya.


Selain itu Lian juga sudah di konfirmasi sebagai penduduk lokal Kota Archi. Yang semakin menambah kesan bahwa dia bukanlah dari kelompok pembuat onar.


Dan lagi, jelas-jelas waktu itu Lian membantu Raja Elc untuk memilihkan keadaan nya. Jadi sudah tidak alasan lagi untuk menuduh nya.


Sedangkan Kaira, dari sisi manapun tetap saja dia adalah bocah. Di tambah tidak ada yang tau siapa bocah berambut putih itu.


Itulah mengapa Kaira sangat di curigai sebagai seorang misterius dari Neckro yang sedang menyamar, untuk mengacau di seluruh Benua Altesia.


Bahkan orang-orang dari Kota Luizis yang telah mendirikan patung Kaira, juga berpikir demikian. Walaupun mereka tidak ingin mempercayai nya.


“Dengan kata lain, Kaira bisa di anggap penjahat karena tidak memiliki identitas, dan kebetulan di Neckro banyak yang memiliki identitas misterius.” Yoshi mengakhiri penjelasan nya.


Viole mengangguk pelan sambil memegangi dagu nya. ‘Jadi begitu, seperti nya hampir tidak ada yang tau siapa yang bernama Kaira. Ya... Kalau banyak yang tau, tidak mungkin Kakek menyuruh ku berpetualang.’


“Kenapa kau menanyakan hal ini?” Rou menyipitkan mata nya, menatap Viole. Terlihat sedikit kecurigaan di mata nya.


Mendapat tatapan itu, Viole tersenyum canggung. “Aku ini orang yang sangat haus sekali akan pengetahuan, itulah kenapa aku bertanya, apa ada masalah?”


Rou menggeleng. “Aku hanya ingin memastikan saja.”


“Sudahlah, kita juga harus ikut menenangkan pada warga. Meskipun- enk! Tubuh kita masih terasa sakit.” Yoshi mencoba untuk berdiri.


<----<>---->


Beberapa Jam Kemudian.


Azar, Raven dan beberapa anggota White Eagle yang baru saja kembali, di buat terkejut dengan keadaan perkemahan yang berantakan.


Mereka semua langsung turun dari Kereta Kuda masing-masing, demi memastikan kondisi para anggota yang berjaga beserta para warga.


Dan ternyata mereka semua baik-baik saja, tapi para anggota penjaga terlihat sangat kelelahan. Hingga mereka tidur di sembarang tempat.


“Bangun...” Azar membangunkan Yoshi. Yoshi yang sedang kelelahan hanya menoleh saja, mata nya sedikit tertutup.


“Apa yang terjadi?”


Menggunakan suara yang terdengar seperti bergumam, Yoshi menjelaskan semua yang dia ketahui kepada Azar.


“Hmm...” Azar tidak terkejut dengan yang Yoshi sampaikan, karena dia telah menduga dari awal bahwa Mika dan Lero lah yang membuat Kota para korban itu hancur.


Azar pun berdiri. “Baiklah, kau istirahat saja dulu, aku dan yang lain nya akan mengumpulkan para warga. Kita akan berangkat hari ini!”


Will Continue In Chapter 74 >>>


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


gua makin hari makin sibuk anjay, kemungkinan besar Minggu depan masih bolong-bolong update nya. sabar saja lah ya.


Ini pemberitahuan dari ku, untuk yang merasa sedikit bingung dengan alur yang aku sajikan. bisa baca ulang lagi dari awal, siapa tau kalian Nemu petunjuk kan?


oh ya, ini visual Sebas:



jangan salah, umur nya udh 100 tahun lebih.