
WUNG! WING! WOUNG! WENG!
Setelah beradu serangan dengan Khun dan menerima cukup banyak luka, Viole segera menciptakan puluhan Sword Misery, tepat di atas kepala nya.
Kemudian bergerak menjauh, menuju tengah arena. Khun sempat menahan Viole, namun terlambat, jadi sekarang dia harus fokus untuk bertahan.
BHUS!!
Puluhan Pedang itu pun jatuh, jatuh secara bergiliran, membuat nya terlihat seperti sebuah hujan Pedang, yang menghujani seorang Pemuda.
Dengan segera, Khun melempar satu Shuriken milik nya, untuk menghancurkan sebanyak mungkin Sword Misery Viole. Juga agar memperingan tubuh nya.
“Lightning - Elemental Magic - Välk Jalad!”
Setelah mengaktifkan Sihir, Khun langsung berlari mengelilingi arena. Sword Misery Viole yang terus menyerang nya, bisa dia hindari dengan cara yang seperti ini.
Khun memanfaatkan kecepatan dan sisa satu Shuriken milik nya untuk di jadikan perisai, agar bisa menahan serangan Viole. Tapi tetap saja, diri nya masih terkena serangan.
Mata Khun menatap tajam ke arah Viole yang berada di tengah arena, seolah ingin mengatakan. ‘Aku akan membunuh mu.’
Tapi untuk sekarang, Khun harus fokus menghindar. Dengan kecepatan yang secepat ini saja, dia tetap terkena serangan, apa lagi jika konsentrasi nya terpecah.
<----<>---->
Para penonton berdecak kagum dengan pertarungan mereka berdua, penonton-penonton itu, juga terlihat sangat antusias.
Banyak dari mereka yang berteriak memberikan saran pada salah satu dari Viole atau Khun, tapi tidak sedikit juga yang menyorakan hal tak berbobot.
Tentu, apa yang para penonton lakukan menyebabkan Khun sulit untuk berkonsentrasi. Akibat nya, luka dari Sword Misery, makin bertambah.
PRANG!!
Khun, tiba-tiba membuang satu-satu nya Shuriken yang masih diri nya pegang, kemudian bergerak menggunakan kecepatan penuh.
Apa yang Khun lakukan, menyebabkan banyak reaksi dari para penonton. Ada yang merasa Khun cerdas, ada juga yang menganggap Khun terlalu bodoh.
Mereka menganggap Khun bodoh, karena telah membuang Senjata sekaligus Perisai bagi diri nya. Tapi ya... Mereka sudah salah menilai.
Dengan di singkirkan nya Shuriken berat tersebut, Khun jadi bisa bergerak dengan lebih leluasa. Itulah alasan mengapa dia berbuat nekad seperti ini.
Tapi tetap saja, meski sudah bisa bergerak dengan lebih cepat. Khun masih tidak dapat mendekati Viole, karena mendekat terlalu berisiko.
Viole mengelilingi tempat nya berdiri menggunakan Elemen Es, Khun kawathir jika dia mendekat, es itu akan menahan diri nya.
Jadi sampai sekarang, Khun masih terus saja menghindar. Walaupun hanya akan membuang tenaga dan memperparah luka nya.
Di sisi lain, kondisi Viole tidak lebih baik dari Khun. Karena di pertukaran serangan yang sebelum nya, Viole menerima luka yang tidak sedikit.
Di tambah dengan diri nya yang mengendalikan puluhan sampai ratusan Sword Misery, semakin memperburuk keadaan fisik Viole.
Jadi sekarang, Viole tidak berbeda dengan Khun.
Sama-sama, mencoba untuk bertahan.
<----<>---->
Tyhas menghela nafas panjang. “Pertarungan ini sebenarnya untuk apa sih? Seperti nya mereka berdua sangat ingin sekali untuk menang.”
“Tyhas, kau kan sudah kenal Viole lebih lama dari ku. Apa kau tau sesuatu soal teman masa kecil nya?” tanya Raven.
Mendengar itu, membuat Tyhas mengangkat kedua bahu nya. “Mana ku tau, mendengar tentang masa lalu nya saja aku belum pernah.”
“Hmm... Sekarang aku jadi tambah bingung.“ Raven menggaruk-garuk kepala nya sendiri.
‘Tapi ada sesuatu yang membuat ku lebih bingung, kenapa Viole tidak menggunakan Curse Seal? Seharusnya dia bisa menang dengan mudah menggunakan kekuatan aneh itu.’ Tyhas melakukan telepati.
Raven melirik Tyhas. ‘Kawan, apa ada yang mengganjal di pikiran mu soal kekuatan Viole?’
‘Tentu saja, kau pasti juga sama dengan diri ku. Sosok yang merupakan cucu dari Raja Iblis ada di dalam tubuh Viole, bahkan kita pernah bertemu Raja Iblis. Semua kejadian itu terasa terlalu kebetulan, atau mungkin memang kebetulan.’
Tubuh Tyhas gemetaran setelah menjelaskan pikiran nya.
Mendadak tubuh Raven jadi ikut gemetar, bahkan ada keringat dingin di punggung nya.
‘Aku rasa, yang bagian Raja Iblis itu memang sebuah kebetulan. Tapi untuk orang yang berada di tubuh Viole, aku yakin seratus persen, ada rencana di balik nya.’
“.... Persetan! Lebih baik kita lihat saja pertarungan ini akan sampai mana!” Tyhas mendengus kesal.
Di antara kerumunan penonton. Tyhas dan Raven segera kembali memperhatikan arena, baru saja di tinggal bicara sebentar, pertarungan sudah berjalan cukup jauh.
Terlihat, di sana Viole sudah hampir kehabisan Magi dan tenaga. Sword Misery yang berada di atas, juga hanya tersisa sedikit.
Di saat yang seperti ini, harus nya Viole dapat langsung memenangkan pertandingan. Namun tidak berselang lama, Sword Misery yang melayang di atas, berubah menjadi partikel.
“Uhuk! Uhuk!” Viole terbatuk-batuk karena sudah mencapai batas.
Melihat kesempatan itu, Khun segera memungut Shuriken nya, kemudian berjalan dengan gontai menghampiri Viole.
Sisa Magi yang Khun miliki juga tersisa sedikit, jadi dia hanya melakukan pemulihan secukupnya menggunakan Magi yang tidak terlalu efektif itu.
TAP...
Setiap Khun mengambil satu langkah, rasa nyeri yang hebat menjalari hingga perut nya. “Siaaal! Kau harus kuat! Kau harus kuat...!”
“Ayo! Terus maju!”
“Hoi! Jangan cuma diam saja! Bergerak! Lawan!”
“Aku yakin, ini akan berakhir seri.” Orang itu menengok ke atas.
Para penonton, mulai menyorakan semangat pada kubu yang mereka dukung.
Tapi apa yang sedang penonton lakukan, tidak menambah sedikit pun semangat dari dua Pemuda itu, namun bukan berarti mereka akan menyerah.
Sebab, masih ada semangat yang membara di dalam diri mereka masing-masing.
“Hah... Hah... Hah...” Viole mencoha mengatur nafas, pandangan mata nya tidak pernah beralih dari Khun yang semakin mendekat.
SSSSSS...
Karena tidak mau hanya diam saja, Viole segera menciptakan Pedang dari es, sama seperti sebelum nya. Namun yang kali ini, kualitas Pedang nya lebih jelek.
KRAK!
Tepat ketika Pedang itu selesai di ciptakan, Magi yang Viole miliki, jadi benar-benar habis, tidak tersisa apa-apa. Akibat nya, seluruh tubuh Viole langsung terasa nyeri.
Tapi dia mengabaikan nya, Viole pun berdiri bersama Pedang es di tangan kiri. Pada saat yang sama, jarak Khun dengan Viole hanya terpaut 20m.
Pada keadaan ini, mata mereka berdua bertemu, di situ juga mereka sama-sama tersenyum, tanpa memperdulikan kondisi masing-masing.
Kemudian, Viole dan Khun bersama memasang kuda-kuda. Mereka memposisikan senjata mereka agar dapat di ayunkan untuk satu serangan terakhir.
Setelah itu...
TAP! TAP! TAP! TAP!
TAB! TAB! TAB! TAB!
Mereka berdua kompak berlari menuju ke arah yang berlawanan.
Sambil mengangkat Senjata mereka untuk melakukan serangan sekuat-kuatnya...
“AAAAARRRRRGGG...!!!”
“AAAAAAAARRRGGG...!!!”
“ARGH-!”
PEKH!!
Tapi, Senjata mereka berdua tidak bertemu.
Semua penonton, seketika tercengang melihat hal itu, kecuali satu orang.
“Kalian berdua, apa ingin saling membunuh?” Dia menengok ke kanan dan ke kiri.
Viole dan Khun yang pandangan nya sudah buram, berusaha untuk melihat sosok di hadapan mereka. Yang merupakan seorang Pria bertopeng.
Ya, Pria itu menahan Senjata Khun maupun Viole agar tidak pernah bertemu.
PRAK! BUK!
“He-eh...” Viole yang sudah tidak kuat, berjalan mundur beberapa langkah, Pedang yang diri nya genggam jatuh begitu saja. Sebelum diri nya juga ikut tumbang.
Sedangkan Khun, dia masih bisa bertahan untuk memperhatikan Pria itu dengan lebih seksama. Sampai dia menyadari indentitas si Pria.
“Si-aal... Apa yang kau lakukan? Kapten Inumael...?” Khun bertanya sebelum ikut tumbang juga.
Will Continue In Chapter 97 >>>