
Tatapan Mika mengarah ke jubah yang di pakai para anggota White Eagle itu. “Hmm... Seperti yang di rumor kan, anggota White Eagle ternyata memang sangat pintar sekali berasumsi.”
Di saat yang sama, dia sedang mengibaskan tangan nya. Sedetik kemudian, luka bakar yang Mika alami langsung sembuh, meskipun tidak sempurna. Alias masih tersisa sedikit luka.
“Dari pada banyak bicara, lebih baik langsung serius saja.” Salah satu Pemuda dari White Eagle, melangkah maju.
Tatapan nya tajam, mengarah tepat ke mata indah Mika. Wanita itu hanya tersenyum kecil, karena mungkin saja, Pemuda ini bisa memuaskan hasrat nya, jadi dia terdiam menunggu kejutan datang menghampiri nya.
“Yoshi, jangan gegabah, dia bukanlah orang sembarangan.” Teman nya memperingatkan.
Pemuda bernama Yoshi itu malah semakin bersemangat. Sebelum nya dia hanya melakukan pemanasan saja. “Tidak masalah, ini akan aku anggap latihan!”
Yoshi tersenyum menyeringai, kemudian dia memasang kuda-kuda. “Lightning - Elemental Magic - Fulgur Orbis!”
BZZZT...!! ZZZT...!!
Seketika bola listrik yang cukup besar tercipta tepat di hadapan Yoshi. Di saat yang sama, tubuh nya mulai di lapisi oleh Petir.
Melihat itu, para anggota White Eagle yang lainya segera mempersiapkan diri, begitu pula dengan Tyhas, dia tengah mencoba untuk menggunakan tembakan baru.
“Aku datang, nenek lampir!”
WUSH!
Yoshi pun maju bersama dengan bola Petir yang dia ciptakan. Dalam satu tarikan nafas, dia sudah berada tepat di hadapan Mika.
BRUAZ!! ZZZZT...!!!
Langsung saja Yoshi melemparkan bola Petir ke arah Mika. Mika hanya diam, tidak melakukan apapun, hingga bola Petir itu menabrak dada nya lalu meledak.
Petir biru muda menyebar kemana-mana karena ledakan bola itu, akibat nya beberapa tenda di sekitar jadi terbakar. Untung di sana tidak ada siapapun.
Namun dampak yang bola Petir itu berikan pada Mika, hanyalah sengatan biasa dan tidak berarti sama sekali bagi nya.
“Apa hanya ini?” Mika membersihkan tubuh nya dari sisa Petir milik Yoshi, dia menatap Pemuda itu dengan tatapan remeh.
“Tentu tidak!” Dengan tubuh nya yang masih di selimuti oleh Petir, Yoshi melontarkan beberapa pukulan kuat, pada Mika.
Tapi dapat dengan mudah Mika tepis dan hindari. Merasa tidak cukup, Yoshi pun menambah Sihir Petir nya, hingga mata nya yang hijau, berubah menjadi biru menyala.
Kemudian dia bergerak ke belakang Mika, tentu dengan sangat cepat. “It's show time!”
WUSH!
Tepat setelah Yoshi berucap, para anggota White Eagle yang hanya diam saja di kejauhan, tiba-tiba muncul di hadapan Mika.
SWASH!!
Delapan buah Pedang langsung mereka semua ayunkan pada Mika, diikuti dengan pukulan kuat milik Yoshi.
Dalam waktu seperkian mili detik mata Mika bergerak memperhatikan sekeliling, sebelum dia berniat melakukan gerakan memutar dengan telapak tangan yang mengepal.
SWISH! CLEB!!
Namun belum sempat Mika melancarkan serangan nya, sebuah anak panah lebih dulu mengenai lengan kanan nya.
ZRAS!!! BUAKH!!
Meskipun begitu, seharus nya Mika masih bisa menyerang, tapi kali ini tangan terasa seperti mati rasa. Membuat nya terlambat menahan serangan lawan dan akhirnya terkena serangan depan belakang.
Tapi, luka yang Mika terima hanya beberapa sayatan yang tidak dalam sana sekali dan sedikit luka bakar di punggung.
Jadi dia masih bisa menggunakan lengan kiri nya untuk balas menyerang, kemudian kabur dari kepungan sepuluh Pemuda itu.
Dengan santai nya, Mika mencabut anak panah milik Tyhas, seketika itu tangan nya sudah tidak lumpuh lagi. “Em em em. Jadi ini kekuatan kalian? Menarik.”
Mika pun mematahkan anak panah itu, alhasil anak panah tersebut berubah menjadi cahaya. “Sampai-sampai aku jadi ingin bertarung dengan serius.” Senyum menyeramkan, perlahan menghiasi wajah nya.
Yoshi, Tyhas dan anggota White Eagle yang lainya, segera berkumpul di satu tempat. Raut wajah mereka sama-sama memburuk.
<----<>---->
Satu menit yang lalu.
“Uhuk! Ah! Aku harus segera kesana...” Viole berusaha untuk berdiri, dia bisa melakukan nya, namun entah kenapa, kepala nya terasa pusing.
“Kekuatan ini terlalu menyebalkan!” umpat nya. Viole menyentuh dahi, sambil terus berusaha untuk menyetabilkan kondisi nya menggunakan Auratiaco.
Namun tetap saja tidak ada perubahan, mungkin ini adalah efek samping dari Curse Seal. Yang mana tubuh Viole masih belum cukup kuat untuk menggunakan nya secara terus-menerus.
‘Tuan! Aku! Aku bisa membantu!‘
Di saat yang seperti ini, di kepala Viole tiba-tiba terdengar suara Hanabi. Viole pun memejamkan mata. “Astaga! Jangan malah berhalusinasi!”
‘Hmph...! Apa Tuan sudah melupakan ku?!’ Suara Hanabi kembali terngiang di kepala Viole, suara itu terdengar kesal dan terasa sangat nyata.
‘INI AKU...!!’ Hanabi berteriak sekencang-kencang nya, hingga dia berhasil menyadarkan Viole bahwa apa yang dia dengar, adalah kenyataan.
Keterkejutan tergambar jelas di raut wajah Viole saat dia mengetahui kalau suara itu adalah Hanabi. ‘Hanabi? Itu dirimu?! Kenapa sela-’
‘Iya iya! Ini aku, sekarang bukan waktu nya untuk mengobrol! Sekarang Tuan terima saja kekuatan ku!’ Hanabi pun mengalirkan kekuatan nya.
Mendengar itu, membuat Viole merapatkan gigi nya, dia tau ini bukan saat yang tepat untuk mengobrol, tapi tetap saja, dia ingin tau apa yang sebenarnya terjadi pada Hanabi.
Beberapa saat kemudian, Viole mencoba untuk merilekskan tubuh nya dengan cara membuang nafas. Sebelum diri nya menerima kekuatan yang Hanabi berikan.
Seketika itu juga, tubuh Viole di kelilingi oleh air yang seputih susu. Di saat yang sama, dia dapat merasakan ada peningkatan kekuatan pada diri nya. “Ini... Berbeda dengan yang waktu itu.”
<----<>---->
“Tapi ada sesuatu yang lebih menarik dari pada kalian ber-sepuluh.” Kemudian, Mika mengarahkan lengan kanan nya yang sudah hampir sembuh, ke arah perkemahan.
Pandangan ke-sepuluh Pemuda itu, langsung menuju ke arah yang Mika tunjuk dan yang mereka lihat adalah seorang Pemuda.
BAKH!!
Telapak tangan Mika yang terbuka, menangkis sebuah pukulan dari seorang Pemuda yang tiba-tiba saja berada di dekat nya.
Tidak berhenti sampai di situ, si Pemuda langsung menyikut lengan kanan Mika. Alhasil beberapa tulang di tangan Wanita itu, patah.
Tidak menunjukkan reaksi apapun, Mika langsung memukul perut sang Pemuda, hingga dia terhempas ke arah Yoshi dan yang lain nya.
Dengan cekatan, mereka semua pun menangkap tubuh Pemuda itu. Air yang mengelilingi tubuh nya, seketika menyiprat karena terhempas dan berhenti mendadak.
“Viole?! Kau tidak apa-apa?” tanya Tyhas, dia tidak memperdulikan air yang mengelilingi tubuh teman nya itu.
“Aku baik-baik saja, hanya sedikit luka.”
Tapi berbeda dengan para anggota White Eagle, mereka merasa kalau air yang sedang mengelilingi tubuh Viole, bukanlah Jurus tipe Support biasa.
Yoshi dan anggota White Eagle lain nya sadar, ini bukanlah saat yang tepat untuk membahas tentang Jurus milik Viole. Jadi mereka langsung kembali fokus pada Mika.
Dalam jarak yang cukup jauh, terlihat Mika sedang menyembuhkan luka nya dengan cara bergerak. Tapi ada yang berbeda, Jurus tipe Penyembuh milik nya itu, sekarang dapat menyembuhkan luka dengan sempurna.
Sudah tidak ada lagi luka di tubuh Mika. Jadi dia bisa kembali bertarung seperti tadi. Sekarang dia akan menggunakan 20% kekuatan nya atau bisa dibilang serius untuk ukuran para Pemuda itu.
Will Continue In Chapter 71 >>>