
WHOUS!
Dari luar pintu samping rumah Viole, angin berhembus, hingga menerpa Neku yang berada di belakang. Membuat jubah yang dia kenakan tersibak.
“Apa itu... Benar?” Alis Viole menekuk, mata nya sedikit melotot dan tubuh nya gemetaran.
Neku sendiri menjawab bukan dengan perkataan, melainkan sebuah anggukan kecil yang hampir tidak terlihat karena sangking pelan nya.
Sekarang dia sudah tidak menutupi wajah nya lagi menggunakan telapak tangan, jadi Viole dapat melihat kalau di mata Neku ada kesungguhan.
Entah kenapa, nafas Viole tiba-tiba menjadik agak sesak. Dia mencoba melonggarkan pakaian nya di bagian kerah agar bisa lebih leluasa untuk bernafas.
Namun sia-sia.
Dada nya masih saja terasa sesak dan diri nya kesulitan untuk bernafas.
Dia pun membalikan badan. “Hah... Hah... Hah...” Perlahan, Viole berjalan mendekati Neku, dia ingin memastikan bahwa ucapan gadis itu adalah kebenaran.
Melihat itu, Neku hanya diam di tempat dengan mata yang masih terpejam, sambil berharap diri nya tidak mendapatkan sekenario yang buruk.
PLEK!
Kedua tangan Viole, memegang bahu Neku. Sorot mata nya yang masih sama dengan sebelumnya, memandangi wajah Neku yang super merah.
Nafas Viole masih saja sesak. “Neku... Katakan sekali lagi, katakan!”
‘Bocah!’
PUKH!
Karena terlalu malu, Neku tiba-tiba menenggelamkan wajah nya ke dada Viole, dengan kedua tangan nya juga berada di tempat yang sama.
“Hmm... Suka, aku menyukai mu.” Suara Neku agak kurang jelas, tapi makna nya tersampaikan dengan sangat jelas.
Dada yang terasa begitu sesak, kini tambah lebih sesak lagi. Viole tidak tau ini perasaan apa, bahkan seperti nya perasaan ini telah mengendalikan diri nya.
‘Hoi, bocah!’ Sudah 2 kali Kaira memanggil, namun Viole tidak menggubris sama sekali.
Dengan sedikit ragu-ragu, Viole menggerakan tangan nya untuk merangkul tubuh Neku, pada saat yang sama, Kaira terus-terusan meneriaki Viole.
‘Bocah! Sadarlah! Kendalikan diri mu!’ Kaira meneriaki Viole tanpa alasan yang jelas.
Viole tetap tidak menanggapi sama sekali, seakan-akan suara Kaira tidak pernah terdengar oleh diri nya.
Setelah beberapa detik, akhirnya kedua tangan Viole berhasil menyentuh punggung Neku. Di saat yang bersamaan, kedua remaja itu merasakan perasaan yang begitu nyaman.
Rasanya sangat nyaman, sampai mereka berdua merasa akan terbang.
Tapi tidak untuk Kaira, dia malah merasa marah dan kesal. ‘Maaf mencuri kata-kata mu, tapi. Kau yang memaksa!’
DEG! DEG!
“Kakh!”
Mendadak jantung Viole terasa begitu sakit, terasa seperti akan meledak. Karena tidak kuat menahan rasa sakit itu, jadi dia pingsan begitu saja.
Neku yang berada di dekat Viole, langsung merasakan berat, saat tubuh Viole melemas karena pingsan.
Dengan sigap Neku membaringkan tubuh Viole di lantai, dia panik. Nama Viole yang sebelum nya sempat beberapa kali terlontar dari mulut nya, namun tidak ada jawaban.
Karena itu, dia cepat-cepat membawa Viole ke lantai dua, tempat kamar nya berada. Dengan cara memapah Pemuda itu. “Kenapa ini? Kenapa kamu pingsan?” Neku jelas kebingungan dengan apa yang terjadi pada Viole.
Sesampai nya di kamar Viole, secara perlahan Neku membaringkan nya. Setelah itu dia langsung berlari ke lantai bawah untuk mencari apapun yang bisa menjaga kondisi Viole.
WOSH! BRUK!
Tapi, saat kaki nya baru saja melangkah di anak tangga pertama, tiba-tiba diri nya terhempas ke belakang oleh sesuatu. Dan berakhir pada posisi duduk.
Belum sembuh dari kebingungan atas kondisi Viole, sekarang Neku harus di hadapkan dengan sesuatu yang entah apa itu.
Tapi kebingungan Neku, tidak bertahan lama...
WUNG!
Tepat di depan diri nya, muncul sesosok Pria yang di bagian mata nya gelap gulita. Seolah dia tidak memiliki mata. Tidak hanya itu, tubuh nya juga bercahaya, yang berupa aura super mengerikan.
Tapi, walau mata nya tidak terlihat. Neku masih bisa menebak bahwa Pria itu sedang sangat marah, dia marah besar.
“Si-siapa kau?” Jujur, ada rasa takut di dalam diri Neku ketika melihat sosok tersebut.
“Apa kau bersungguh-sungguh dengan pernyataan mu tadi?” Suara yang begitu menusuk dari Pria itu, membuat Neku merinding.
“I-i-i-itu... A-anu...” Neku terlalu takut, sampai bingung harus menjawab apa.
Menyadari hal itu, si Pria pun menghilangkan aura yang menyelimuti tubuh nya. Demi mengurangi rasa takut Neku.
Aura hitam milik nya, terserap dengan cepat ke dalam tubuh. “Cepat katakan, aku tidak punya banyak waktu.”
“Te-te-te-tentu saja, aku benar-benar serius!”
“Kau yakin?” Nada bicara Pria itu naik, walau tidak banyak.
“Yakin!” Neku asal menjawab saja, tapi dia benar-benar yakin.
Pria itu pun menyingkirkan tangan nya dari dagu Neku. “Bagus. Satu hal lagi, kau harus terus bersama nya, jangan pernah meninggalkan bocah itu dalam kondisi apapun!”
Neku memberikan anggukkan, untuk merespon perintah dari sosok misterius di hadapan nya. Sebab, diri nya takut salah bicara.
“Kalau begitu, aku pergi dulu.” Dia lantas berdiri. “Ingat apa yang tadi aku katakan, jika kau melanggar nya, sampai ke ujung alam semesta pun, aku akan mencari mu.
Lalu menyiksa mu dengan sangat kejam, dalam waktu yang begitu lama, sampai-sampai kau tidak memiliki jiwa lagi, bahkan untuk bernafas.”
Rangkaian kalimat yang begitu kejam, keluar begitu saja dari Pria itu. Membuat Neku menelan ludah berat, sampai berkeringat dingin.
<----<>---->
Di depan seorang Wanita, Viole membuka mata nya. Wanita itu memiliki rambut dan mata yang berwarna sama, dia juga memiliki dua buah sayap. “Kaira! Kenapa kau malah tidur di sini?”
Viole baru saja bangun, tapi diri nya sudah menerima pertanyaan yang begitu membingungkan. “Kaira? Em... Uh... Ini di mana?”
“Ehh... Kau malah lupa, ya sudah tidak apa-apa. Ayo! Kita pergi sekarang, aku sudah tidak sabar!” Wanita itu langsung menarik tangan Viole tanpa permisi.
Viole sendiri hanya diam di tuntun oleh seorang Wanita yang seperti nya dia kenal, menuju ke suatu tempat. Pandangan nya, mengarah ke tangan si Wanita.
Dan tanpa diri nya sadari, tiba-tiba Viole melalui banyak sekali kejadian dengan begitu cepat, sangat cepat malahan, terasa seperti kilasan ingatan.
Kejadian yang baru saja Viole alami itu, langsung menyebabkan pusing di kepala nya. Karena terlalu pusing, Viole sampai berlutut.
Saat itu juga, Viole baru menyadari bahwa diri nya mempunyai sepasang sayap, yang sama dengan milik Wanita yang berada di depan nya saat ini.
“Hei, ini kena---- Hoi... Apa-apaan ini?" Sama seperti sebelum nya, mendadak Viole berpindah ke tempat lain, tapi kali ini, jauh berbeda dari yang sebelum nya.
Sekarang dia di pindahkan ke sebuah medan perang yang sudah berantakan, orang-orang yang tadi berperang, kini terbaring kaku di tanah.
Tapi ada yang aneh, sebagian dari mereka memiliki kulit seputih salju dan sayap yang sama dengan diri nya. Sedangkan yang lain, berkulit gelap juga memiliki tanduk di kepala mereka.
Meski sudah pernah melihat pemandangan yang seperti ini, tapi diri Viole tidak pernah terbiasa sama sekali. Jadi isi perut nya hampir keluar.
“Uhuk! Uhuk! Ini-- kenapa?”
“Hukh!”
Tanpa sengaja, Viole melihat seseorang.
Seseorang itu sangat lah dia kenali, otomatis Viole langsung menghampiri nya. Tanpa memperdulikan luka dan darah di tubuh nya sendiri.
Ketika sudah melihat dari dekat, wajah Viole langsung memburuk. Ternyata benar, kalau orang ini sangat diri nya kenal.
Perlahan Viole mengangkat tubuh orang tersebut, yang sudah tidak bernyawa, untuk di peluk. Air mata menetes tanpa dia sadari. “Hiks! Ternyata... Itu adalah diri mu, ya... Neku...”
“Kenapa... Kenapa, kau harus berakhir di sini? Hati yang begitu suci terpaksa menghilang jika begini... Neku- hiks!”
Pada saat itu juga, hujan yang begitu lebat, mengguyur Medan pertempuran ini. Membasahi darah yang ada, sampai mengalir seperti lautan darah.
Di tengah-tengah lautan darah itu, terlihat seorang Pria tengah memeluk kekasih nya yang sudah mati. Dia menatap langit, bersama air mata yang menyatu dengan air hujan.
Dia berteriak, memaki-maki nama Dewa yang disebut sebagai ‘keadilan’. “Kalian terus saja menunjukan hal baik! Memprioritaskan kebaikan! Dan menunjukkan rasa cinta damai!
Tapi sayang nya tidak peduli terhadap sisi gelap yang ada di Dunia ini! Jika seperti itu kalian dapat menyebut diri kalian sebagai yang teratas?! Dasar sampah berkedok harapan!
Apakah juga pantas nama ‘keadilan’ bagi kalian HUH?! Jawab aku baj*ngan! tunjukan diri kalian yang sangat mulia itu! Perlihatkan pada ku kebijaksanaan kalian tanpa ada nya kata-kata indah! Persembahkan lah pada sosok yang begitu buruk ini-!”
Viole berhenti berteriak, ya dia berhenti. Tapi tidak hanya diri nya yang berhenti, daun yang tertiup angin, air hujan, dan segala nya, ikut terhenti.
... Waktu, telah berhenti.
Will Continue In Chapter 92 >>>