Magic War

Magic War
Ch 26 – Bertemu



“Kaira! Sebelah sini!!” Raven berteriak sambil melambaikan tangan ke arah Kaira.


Kaira yang belum mengetahui sumber dari suara tersebut, hanya celingukan ke segala arah, namun masih tidak ketemu juga.


TUK!


“Oi, di sini...”


Sampai sebuah lemparan kerikil mengenai kepala nya. Keadaan Stadium yang sedang sangat penuh membuat Kaira hampir tidak menyadari teriakan Raven.


Sambil tersenyum canggung, Kaira pun melangkah menuju bangku kosong di samping Raven, kemudian duduk. “Bagaimana pertandingan nya?”


“Hu hu... Kau melewatkan sesuatu yang keren.”


“Apa itu?”


“Cara bertarung Tyhas!”


Kaira mengedipkan matanya dua kali, ekspresi wajah nya datar. “Oh begitu, ku kira apa.”


“Huh?! Kau tidak terkejut sama sekali?!”


DUK!


Kaira memukul kepala Raven. “Otak mu itu hanya sebesar biji gandum apa? Apa kau lupa kalau aku dan Tyhas sudah saling mengenal sebelumnya?”


Sambil mengelus-elus kepala nya, Raven menjawab. “Cih, kau ini pandai sekali membuat kesan kalau aku ini bodoh.”


“Kan memang begitu-!”


“Permisi... Boleh aku duduk di samping Kaira?” tanya seorang gadis.


<----<>---->


“Apa-apaan ini?! Kau sudah punya pacar, Kaira?!”


“Mau ku pukul lagi kepala mu?” ancam Kaira sambil mendekatkan kepalan tangan nya ke wajah Raven.


Raven tersenyum licik. “Kekerasan itu tidak baik lo...”


DAK!


“AAA...!!”


Kaira menghela nafas panjang, lantas dia mengalihkan pandangan nya ke gadis tadi, yang saat ini sedang senyum-senyum sendiri di bangku samping Kaira.


“Lian, kenapa kau mencari ku di tempat yang sangat luas dan banyak orang nya ini?”


Apa yang Kaira katakan tidak lah berlebihan, memang Stadium ini sangatlah besar nan luas, juga Penonton nya sangat banyak di tambah dengan para Peserta yang gagal.


“Hihihi... Bukan apa-apa. Lihat, pertandingan berikutnya akan segera di mulai.” Lian menunjuk ke arah Arena.


Mulut Kaira terbuka, namun dia tidak mengatakan apa-apa. Pandangan nya pun beralih ke arah Arena di mana Daryl sedang berbicara.


“Baiklah para Penonton yang sangat antusias! Mari kita mulai pertandingan kedua!!”


“WAAAA...!!!”


Teriakan keras dari para Penonton kembali menggema di seluruh Stadium. Mengembalikan suasana meriah yang terjadi tadi.


“Peserta yang akan bertanding kali ini adalah... Nero Blaze dan Divan Dou Zhi! Orang dengan nama terkait, silahkan naik ke Arena!!”


WUSH!


Seorang Pemuda berambut biru muncul tepat setelah Daryl menyelesaikan kata-katanya. Dia adalah Divan Dou Zhi.



Di susul oleh seorang gadis yang datang dari langit, dia terbang menggunakan sepasang sayap di punggung nya, lalu turun secara perlahan ke Arena.


Dia memasang senyuman lebar di wajah nya, membuat tampang nya seakan-akan adalah seorang Malaikat.


‘Oh, ada Fallen Wings ternyata.’ Raja Elc membatin.



“Perkenalkan aku adalah Demi - Human Fallen Wings, Nero Blaze.”


“Ahaha... Seperti nya ini akan susah, untuk melawan seorang Fallen Wings.”


Senyuman Nero semakin melebar. “Aku tersanjung dengan pujian mu.”


Tanpa memperdulikan pembicaraan mereka berdua, Daryl melompat keluar Arena. “Sekarang, Sesi Ketiga Pertandingan Kedua, dimulai!!”


“Beast Magic - Blade Feather!”


Beberapa helai bulu dari sayap Nero, bergerak dengan sangat cepat ke arah Divan. Pergerakan dari bulu itu cepat, namun masih bisa Divan ikuti.


“Earth - Elemental Magic - Earth Wall!”


Nero tersenyum tipis, melihat serangan nya di hentikan dengan mudah nya. “Ku sarankan kau segera menghindar...”


KRAK!!


Dinding Tanah buatan Divan, hancur berkeping-keping ketika Nero menggerakan bulu-bulu nya lagi. Belum sempat Divan bereaksi, sudah ada saja goresan yang cukup dalam di lengan kanan nya.


“Sudah ku duga ini akan sulit...”


Divan langsung berlari mengitari Arena untuk mencari celah mendekati Nero, karena dia tahu mendekati lawannya secara sembarangan akan berakibat buruk. Namun bulu-bulu tajam itu selalu saja mendesak nya.


Luka demi luka pun Divan terima dan baju nya mulai compang camping, tapi belum ada juga celah yang pas untuk dirinya mendekati Nero.


“Menurut mu, apa yang harus dia lakukan?”


Pertanyaan tiba-tiba dari Lian cukup mengejutkan Kaira. “Ee- eee... Mungkin membuat Dinding tanah secara terus-menerus untuk menahan serangan dari bulu-bulu Nero sambil mendekati nya.”


“Salah.” Lian menggerakan telunjuk nya ke kanan dan kiri.


“Lalu?” celetuk Raven.


“Lawan yang sudah di atas angin kebanyakan pasti akan bertindak arogan. Dengan memanfaatkan ke arogan nan itu, Divan akan memiliki sebuah kesempatan untuk menang. Mari lihat, apa yang dia pikirkan.”


Kaira mengangkat sebelah alisnya, lantas dia kembali melihat ke arah Arena. Di mana Divan sedang sangat kualahan menghadapi Nero.


Nero tertawa kecil melihat Divan yang sedari tadi hanya melompat kesana-kemari untuk menghindar. “Menyerah saja... Kakak tidak akan menyakiti mu, kok.”


“Suka-suka ku.”


“Earth - Elemental Magic - Giant Horn!”


Dari bawah tanah, sebuah tanduk raksasa yang terbuat dari tanah menjulang tinggi ke permukaan, dan Divan sedikit melakukan gerakan kecil. Serangan itu Divan arahkan tepat ke Nero, namun yang terjadi...


CERAK!! SRAK!! CRAK!


Tanduk itu dengan sangat mudah nya Nero cincang menjadi serpihan-serpihan kecil menggunakan Sihir nya. “Sudah ku bilang, menyerah saja.”


“Earth - Elemental Magic - Gloves.”


Tanah yang sangat keras, secara perlahan menyelimuti lengan Divan, hingga menutupi seluruh lengannya. “Tidak mau.”


Nero mengerutkan kening nya. “Apa yang ingin kau lakukan?”


Divan tersenyum tipis, sebelum menunjuk sayap kiri Nero. “Mengakiri ini.”


Secara refleks, Nero langsung menengok ke arah sayap nya dan ternyata ada goresan di sayap nya itu. Nero menghela nafas. “Memang nya ada apa dengan sayap ku- Uhuk!”


Raut wajah Nero memburuk ketika darah segar mengalir di bibir nya. Dia yang tadi nya terbang pun kini bertekuk lutut di tanah.


“Kau lengah, sampai tidak sadar sudah terkena racun.”


Nero mendengus kesal. “Racun apa nya, luka ini pasti karena Giant Horn mu kan? Tapi Sihir itu bukanlah Poison Magic!”


“Inilah yang aku sebut lengah dan arogan,” ujar Lian.


Kaira tidak merespon, dia masih terus fokus memperhatikan pertandingan, karena penasaran apa yang sebenar nya terjadi.


“Memang, Giant Horn bukanlah Poison Magic, tapi aku melapisi nya dengan menggunakan Racun.” Divan mengeluarkan sebuah botol Racun dari Dimension Ring nya.


“Kau terlalu arogan, sampai tidak sadar kalau aku melemparkan satu botol di ujung Giant Horn saat ujung nya masih berada di dekat tanah.”


“Sialan...” Nero mengumpat keras.


Divan memasukkan kembali botol Racun itu ke Dimension Ring nya, kemudian berjalan mendekati Nero yang tak bisa bergerak. “Harus nya kau bisa belajar dari kesalahan mu.”


“Apa maksud mu...?”


“Saat di Sesi Pertama, aku melihat kau dan dua Rekan mu begitu arogan karena bisa terus berada di posisi pertama.”


Dahi Nero yang sudah mengerut, sekarang tambah mengerut. “Jadi kau bilang bahwa aku telah melakukan sebuah kesalahan sejak awal?”


“Yap, bisa di bilang begitu.” Divan pun menghentikan langkahnya tepat di depan Nero yang sedang bertekuk lutut. “Karena aku tidak suka menyakiti wanita, jadi aku hanya akan... MEMUKUL MU SAMPAI KELUAR ARENA!!”


BUAKH!!! BOOM!! BOOM! DRAK!!!


Pukulan dari tangan Divan yang sudah di lapisi oleh Sihir itu, sukses membuat Nero terpental keluar Arena dan baru berhenti saat menabrak Podium Penonton.


Semua Penonton yang dari tadi diam, kini bersorak atas kemenangan Divan yang benar-benar tak terduga.


Divan melakukan gerakan kecil, hingga tanah keras yang ada di lengan nya pun menghilang. “Uhuk... Uhuk... Uhuk!”


Meskipun menang, bukan berarti luka yang Divan terima sedikit. Cukup banyak luka sayatan di tubuh Pemuda itu yang mengakibatkan pendarahan.


“Pemenang dari pertandingan ini adalah... Divan Dou Zhi!!”


Will Continue In Chapter 27 >>>