
“Balft... Jaga diri mu baik-baik. Setelah ini tidak ada lagi yang akan melindungi mu.” Dyroth menepuk pundak Balft.
Saat senja, tepat di sebuah lorong, Balft dan Dyroth sedang saling tukar pandangan. Hari ini, mereka berdua akan berpisah.
Balft menghela nafas. “Aku bukan lagi anak kecil, jadi jangan memperlakukan aku seperti dulu lagi dan terima kasih, karena kau masih mau menemani ku ....”
“Kau ini bicara apa?” Dyroth memukul punggung Balft, kemudian merangkul nya. “Kita ini saudara, lalu kau adalah Adik kesayangan ku.”
Balft sempat diam sejenak, sebelum berkata. “Hahaha...! Kau benar, mungkin aku hanya terlalu takut berpisah dengan mu, sampai mengatakan-”
CTAK!
Dyroth menyentil kening Balft cukup keras. “Tadi kau bilang, kau bukan lagi anak kecil. Tapi sekarang, kau takut berpisah dengan ku?”
“Ugh... Bukan takut yang itu! Dasar bodoh!”
“Haha... Kau takut kan?” Dyroth menggoda Balft.
Balft mendengus kesal. “Sekali lagi kau bilang begitu, kepalan tangan ini akan melayang tepat di wajah mu.”
Dyroth menjulurkan lidah nya. “Coba saja! Kalau kau bisa menangkap ku!” Setelah itu, Dyroth melepaskan rangkulan nya, kemudian melesat menjauh dari Balft.
“Tunggu! Sialan!” Balft, langsung mengejar Dyroth.
<----<>---->
“Oh, ternyata anda dan Tuan Balft sangat akrab.”
Dyroth memejamkan mata nya, lantas menjawab. “Ya begitulah, karena itu juga, aku cukup terkejut ketika mendengar nama Balft disebut sebagai pelaku pembantaian massal Black Knight.”
“Jadi, apa anda kecewa dengan apa yang Tuan Balft lakukan?” tanya Kaira.
“Tentu saja. Tidak hanya kecewa, aku juga marah pada nya, aku tidak habis pikir dia akan mengkhianati saudara nya sendiri.”
Kaira membuka mulut nya, namun tidak ada satupun kata yang keluar. Sebenarnya dia ingin sekali memberi tau kebenaran dibalik Balft yang melakukan pembunuhan massal itu.
Tapi tidak jadi Kaira lakukan, karena... Karena dia tidak mau menciptakan masalah dengan mengungkapkan kebenaran nya, pada Dyroth.
Oleh sebab itu, dia mengganti pembicaraan. “Um... Kalau anda berada di sini, berarti anda telah keluar dari Black Knight?”
Mata suram Dyroth, melirik ke arah Kaira. “Kenapa kau berpikir begitu?”
“Karena sudah sepuluh tahun sejak Tuan Balft melakukan pembantaian. Rasa nya, hampir mustahil untuk anda masih berada di Black Knight.”
“Ya, tebakan mu benar, aku telah keluar dari Black Knight. Itu terjadi ketika Black Knight sudah bukan lagi bagian dari Guylos Kingdom.” Nampak sedikit kesedihan di mata Dyroth, saat dia menceritakan nya.
Kaira memberi anggukan kecil untuk merespon ucapan Dyroth. Kemudian berdiri sambil meregangkan badan nya.
Seluruh tubuh nya terasa sangat sakit, namun sekarang sudah lebih baik. Jika tidak ada siapapun di Istana ini, pasti dia sudah berteriak.
Sesegera mungkin Kaira mengalirkan Magi ke seluruh tubuh nya, untuk meredam rasa sakit itu. Setelah merasa mendingan, Kaira pun mengulurkan tangan. “Butuh bantuan?”
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Dyroth langsung menerima uluran tangan dari Kaira. Kaira yang kondisi tubuh dan mental nya lebih baik dari pada Dyroth, menopang tubuh Pria itu.
Mereka berdua pun berjalan perlahan menuju ke salah satu kamar, di saat yang sama Kaira berteriak. “Tyhas! Raven! Jangan tidur di lantai!”
“Apa itu kau?! Kaira!” Tyhas yang dari tadi memperhatikan Kaira, bertanya untuk memastikan bahwa orang itu benar-benar Kaira.
“Ya! Ini aku!” Setelah berkata demikian, Kaira tidak lagi memperhatikan Tyhas dan Raven, dia memilih fokus untuk membantu Dyroth menuju kamar nya.
Tyhas bernafas lega ketika mendengar jawaban Kaira, kemudian dia menengok ke arah Raven untuk membangunkan nya.
Karena Raven memang benar-benar tidur, Tyhas tidak tau harus berkata apa atas tingkah laku teman nya itu. “Ah! Aku punya ide!”
Tyhas pun menggoyang-goyangkan tubuh Raven, demi membangunkan nya. “Raven, aku menemukan makanan enak yang di bawa oleh gadis cantik,” bisik nya, tepat di samping telinga Raven.
Raven, langsung terbangun dengan keadaan yang sangat segar setelah mendengar perkataan Tyhas. “Mana?! Mana?!”
Senyum kecil muncul di wajah Tyhas, dia memasang ekspresi mengejek sambil membuat pose tubuh seperti orang yang tidak tau apa-apa.
Wajah Raven yang tadi nya ceria, kini berubah menjadi suram. “Jangan bilang...”
“Ya, aku menipu mu.”
BRUK!
Secara spontan, Raven kembali membaringkan tubuh nya. “Sepertinya aku harus menyewa pelawak untuk mendapatkan kualitas komedi yang lebih bagus.”
<----<>---->
Tidak terasa pagi telah tiba, di saat Matahari masih belum sepenuh nya menampakkan diri, Dyroth sudah bangun.
Setelah beristirahat selama semalam, sekarang tubuh Dyroth jadi terasa lebih baik. Langsung saja dia menuju dapur.
Sangking ahli nya, dalam waktu kurang dari satu jam saja, seluruh meja makan telah di penuhi oleh banyak hidangan. Dalam sekali lihat, sudah dapat di pastikan bahwa hidangan-hidangan yang ada di atas meja itu, lezat.
Dan aroma nya harum, sampai menyebar hingga hampir ke seluruh sudut Istana. Raven, dia langsung bangun saat mencium aroma wangi dari hidangan tersebut.
Sedangkan Tyhas dan Kaira baru terbangun setelah Raven mulai menyantap makanan yang ada. Mereka berempat pun sarapan bersama.
Sambil sarapan, mereka berempat melakukan obrolan-obrolan ringan dan kadang-kadang bercanda.
Sampai tibalah mereka di sebuah obrolan. “Kaira, kau bertarung menggunakan Senjata apa?” tanya Dyroth, setelah dia meletakan sendok dan garbu nya di atas meja.
Kaira sempat diam sejenak, sebelum menjawab. “Pedang, aku menggunakan sebuah Pedang pendek, apa itu salah?”
“Tidak sama sekali. Kalau begitu, boleh aku meminjam nya?” Dyroth mengulurkan tangan nya.
Tyhas langsung berhenti makan ketika mendengar ucapan Dyroth, dia seperti merasakan sensasi yang tidak mengenakan. Rasa-rasanya suasana tiba-tiba berubah menjadi sangat tidak mengenakan bagi Tyhas.
Sedangkan Raven, seperti biasa nya, dia tidak terlalu memperdulikan hal semacam itu dan tetap fokus pada piring di hadapan nya.
Mendengar permintaan Itu, Kaira segera mengeluarkan Four Crystals dari Dimension Ring nya, kemudian menyerahkan Pedang itu ke pada Dyroth. “Ini.”
“Terima kasih.” Dyroth menggenggam Pedang tersebut menggunakan tangan kanan, kemudian mengayunkan nya dengan ekspresi wajah yang aneh.
Dia seperti orang yang sedang berpikir, tapi di sisi lain seperti sedang mempersiapkan sesuatu. Setelah mengayunkan nya selama beberapa detik, sekarang Dyroth tau kekuatan dari Four Crystals.
“Pedang ini tajam juga, dari mana kau mendapatkan nya?”
Kaira menelan nasi yang ada di mulut nya, lantas menjawab. “Dari Tuan Balft. Aku tidak tau dia mendapatkan nya dari mana.”
“Hm...” Dyroth memandangi Four Crystals. “Kebetulan sekali, ya...”
Seketika alis Tyhas mengerut. “Apa nya yang kebetulan?”
Dyroth tersenyum lebar saat mendapat pertanyaan dari Tyhas, mungkin itu adalah senyuman terlebar nya. “Aku akan mati karena Senjata milik Murid, Adik ku.“
SRASH!!! BRUK...!
•
•
•
“E-eeh...?”
Darah segar menyembur ke segala arah dengan deras nya, membasahi seluruh makanan yang ada di meja dan ketiga orang lain nya.
Ya, darah itu berasal dari Dyroth, Dyroth menggorok leher nya sendiri menggunakan Four Crystals. Dengan kata lain, dia bunuh diri.
Luka sayatan yang cukup dalam, menghiasi leher Dyroth, membuat nya mati begitu saja. Meskipun begitu, dia mati dalam keadaan tersenyum.
Sekarang tubuh nya tersandar di kursi, lemas dan di penuhi oleh darah sendiri, dengan kondisi leher yang hampir saja putus.
Semua nya terjadi begitu mendadak, tidak ada satupun dari mereka bertiga yang menebak Dyroth akan melakukan hal se'tidak masuk akal ini.
Yang pertama kali bereaksi dengan kematian Dyroth adalah Raven. Melihat pemandangan itu, isi perut Raven langsung keluar semua.
Bukan karena diri nya takut melihat leher yang tergorok, melainkan karena dia tidak kuasa melihat sosok Dyroth yang seperti itu.
Lalu Tyhas. Dia hanya mendengus dingin, sebelum berjalan menjauh dari dapur, bersama wajah nya yang memburuk. ‘Brengsek!’
Sedangkan Kaira. Pemuda itu hanya bisa melihat warna putih, nafas nya terasa sesak, udara menjadi sangat dingin dan tubuh nya melemas. Semua ini, terjadi secara spontan.
Kaira pun melonggarkan baju nya, di saat yang bersamaan, gigi nya merapat dan cahaya mata nya berubah, menjadi sangat gelap. “Kenapa... kau... melakukan nya?”
WOOSH!!
Kumpulan bunga Mawar, tiba-tiba muncul tepat di hadapan Kaira, seketika itu juga bunga-bunga tersebut membentuk tubuh Dyroth, walaupun tidak sepenuhnya mirip.
Dyroth tersenyum lebar, kemudian menjawab dengan santai nya. “Karena aku sudah tidak memiliki tujuan hidup lagi.”
Jawaban Dyroth, hampir saja membuat Kaira hilang kendali. Tapi dia berusaha untuk menahan diri nya.
Kaira menghela nafas berat. “Tapi, Tuan Balft masih menunggu mu,” kata Kaira lirih. Dia masih terlalu terkejut dengan apa yang baru saja terjadi.
“Tenang, dia akan baik-baik saja.”
Will Continue In Chapter 66 >>>