Magic War

Magic War
Ch 89 – Amazing Ending



Markas Besar Pasukan Pengintai.


“Bagus! Bagus!! Apa kalian terlalu banyak bersantai sampai misi ini di selesaikan oleh Murid tingkat 1 dan 2?! Di mana kerja keras kalian?!” Kapten dari Pasukan Pengintai, terlihat sangat marah.



Dia bernama Inumael, merupakan seorang anggota Pasukan Pengintai yang memiliki jabatan satu tingkat di bawah Liomega.


Sekarang ini, Inumael tengah memarahi para Anggota baru. Mereka memang lah Anggota baru, melakukan kesalahan adalah sesuatu yang wajar.


Tapi yang kali ini, kesalahan mereka terlalu parah, sangat parah. Jadi, hukuman yang di dapatkan pun, juga akan berat.


“Kalian bentuk Kelompok, masing-masing Kelompok terdiri dari tiga orang. Lalu setiap Kelompok mengambil misi tingkat A Di Guild Association! Sebanyak lima buah! Selesaikan tanpa ke' gagalan!”


“BAIK!” Mereka semua, kompak melakukan gerakan Curre, meski dengan tubuh yang agak gemetaran. Setelah itu, pergi melakukan apa yang barusan Inumael perintahkan.


Sedangkan Inumael sendiri, pergi ke ruangan pribadi nya. Dia pun duduk sambil memijit kepala. “Cih! Kemarin Azar! Sekarang Anggota baru! Membuat kepala ku pusing saja!”


Inumael mendengus kesal, lantas mengambil kertas laporan yang di berikan oleh para Anggota baru tadi. Isi nya sama persis dengan yang Raven katakan, tidak ada sedikit pun pemalsuan.


“Di sana ada lima bocah, satu mati dan... Pingsan karena baru saja di injak-injak... Emm... Terkesan sangat mencurigakan. Ah! Aku tidak peduli, ubah saja sedikit laporan nya!”


Inumael pun menuju ke Markas Divisi Keamanan. “Jika ada lagi kasus yang melibatkan tiga bocah itu, tinggal tuduh mereka. Aku sedang malas berpikir.”


<----<>---->


Besok.


“Hei, lihat. Pembunuh nya sudah di tangkap.”


Hanya berselang sehari, berita tentang tertangkap nya Agricultural District Killer langsung menyebar ke seluruh White Eagle, melalui perantara koran atau dari mulut ke mulut.


Berita yang tersebar tentu tidak melibatkan, Viole, Raven dan Tyhas. Pihak Divisi Keamanan membuat cerita palsu untuk di berikan ke wartawan.


Itu di lakukan tidak hanya untuk menjaga harga diri Pasukan Pengintai, juga demi menghindari masalah yang bisa saja di sebabkan jika melibatkan lima bocah itu.


Meski kasus ini sudah selesai, tapi masih ada yang perlu di tindak lanjuti lagi, yaitu Yoshi yang membunuh Niren.


Ya, Inumael memberikan laporan kalau Yoshi yang telah membunuh Niren, namun sedikit di ubah. Yoshi membunuh Niren, karena dia berusaha untuk mempertahankan diri.


Yoshi memang membunuh penjahat, namun dia tetap saja membunuh di kawasan White Eagle tanpa izin. Karena itu, dia di penjara di penjara bawah tanah.


Penjara bawah tanah berada di Markas utama Divisi Keamanan, yang terletak pada Districk Aness.



*Note: +sedikit penampakan White Eagle.


Districk Aness sendiri bersebelahan dengan Districk Occupancy, tempat Viole tinggal. Jadi dalam waktu kurang dari 30 menit, Viole dapat sampai ke Markas utama Divisi Keamanan.


Viole berangkat ke sini bersama Rou, dengan niatan untuk mengunjungi Yoshi. Mereka kawathir dengan kondisi mental Yoshi, yang baru saja mengalami kemalangan.


Setelah memberikan identitas dan menjelaskan tujuan mereka kemari, akhirnya Viole dan Rou mendapatkan izin untuk mengunjungi Yoshi.


Mereka berdua pun melangkah kan kaki ke dalam Markas Utama ini, ruangan yang begitu megah dapat mereka lihat saat masuk. Ruangan ini di dominasi oleh warna biru juga putih.


Di sisi kiri dan kanan ruangan terlihat ada beberapa Penjaga yang menatap mereka, para Penjaga itu hanya diam mematung.


“Ikuti aku.” Penjaga yang tadi memberikan Izin para mereka berdua, memberikan arahan.


Setelah berjalan beberapa langkah, mereka bertiga pun memasuki ruangan lain yang berupa Lorong. Di Lorong ini, banyak orang penting yang berlalu-lalang.


Melangkah lah mereka melewati lorong-lorong yang ada, menuju penjara bawah tanah, yang terletak cukup jauh dari pintu masuk.


Lalu berhenti tapat di depan sebuah pintu besar, yang berada pada ujung lorong.


BRAK!


Pintu tiba-tiba di buka dari dalam, memperlihatkan seorang Pria yang terengah-engah nafas nya. “Hah...! Maaf, tapi... Tahanan nomor 374 Yoshimura! Melakukan bunuh diri!” Suara nya menggema.


“Huh?”


“Apa?”


“Yaaa?”


Beberapa Penjaga yang menjaga pintu masuk menuju penjara bawah tanah, menunjukan reaksi yang berupa kebingungan.


Sedangkan Viole dan Rou, mengerutkan dahi.


Tidak menunggu, mereka berdua langsung berlari masuk ke penjara bawah tanah, menuruni anak tangga yang melingkar.


Para Penjaga sendiri tidak menghentikan Viole dan Rou, mereka hanya mengikuti dua Pemuda itu dari belakang.


<----<>---->


Ketika melihat kondisi Yoshi, Rou menutup mulut nya menggunakan sebelah tangan, dia berjalan mundur sampai membentur dinding, dengan mata yang sedikit melotot.


Sedangkan Viole, cuma diam sambil menunduk. Wajah nya, mendadak menunjukkan kesuraman, juga berkeringat.


Di balik jeruji besi, Yoshi terlihat menggantung diri nya sendiri, dia memanfaatkan sobekan baju demi di gunakan sebagai tali.


Wajah Yoshi yang terluka, mulut kering serta sedikit terbuka, jari-jari Pemuda itu terluka cukup parah dan rambut juga pakaian nya berantakan. Dia sangat menggambarkan kondisi yang buruk.


Melihat itu, para Penjaga segera membuka pintu penjara. Kemudian membawa mayat Yoshi dengan begitu hati-hati.


Sedangkan Viole dan Rou, di suruh untuk pulang oleh para Penjaga. Mereka berdua hanya menurut, sebab merasa tidak bisa ikut campur dalam urusan ini.


<----<>---->


Saat memasuki rumah, tiba-tiba Rou menendang barang-barang yang dia lihat. Dia juga berteriak untuk melampiaskan kemarahan, atau kesedihan nya.


Segala umpatan diri nya keluarkan, sambil terus-terusan merusak barang-barang milik nya sendiri. “Baaj*ngaan!!!”


<----<>---->


Pemakaman.


Pada sore hari, akhirnya Yoshi di makamkan. Yang menghadiri pemakaman nya tidak sedikit, karena Yoshi sendiri memiliki cukup banyak teman.


Di sore hari yang jingga itu, banyak tangisan terdengar. Mereka, juga mengucapkan kata-kata manis beserta penyesalan atas kepergian Yoshi.


Tapi tidak semua, ada beberapa yang hanya berdiri layak nya patung, memperhatikan semua itu dari jauh, maupun dekat.


Pemandangan yang sangat menyentuh sekali.


Tyhas, seperti biasa dengan wajah datar nya, memandangi acara pemakaman ini dari kejauhan. “Setelah mendapatkan pencerahan, kau bukan nya berubah, tapi malah mati... Benar kata Raven, kau itu hanya pecundang yang bodoh.”


Di sisi lain, Viole berada di bagian depan. Tapi dia tidak ikut mengucapkan kata-kata perpisahan. ‘Kau ini....’


‘Bocah, sudah ku bilang bukan? Masa depan itu tidak bisa di ubah.’ Kaira, terdiam berbicara sejak pagi kemarin, tapi saat kembali berbicara, malah seperti memancing keributan.


‘Kau tidak menyebutkan masa depan yang ini.’


Kaira menaikan sebelah alis nya. ‘Kau kira dengan tidak ku sebutkan masa depan ini, berarti aku tidak melihat nya?’


‘Ck! Berisik! Bicara saja dengan diri mu sendiri!’


Will Continue In Chapter 90 >>>