
Mata Kaira, Tyhas dan Raven hampir tidak percaya dengan apa yang mereka lihat. Di kejauhan terlihat, sebuah Kota yang sudah hancur lebur.
Hampir semua bangunan di Kota tersebut hancur berkeping-keping, di ikuti oleh api yang menyala di mana-mana.
Api-api itu menyebabkan asap hitam mengepul di banyak tempat, hingga mengakibatkan langit di tutupi oleh awan hitam.
Tidak hanya itu, ribuan mayat juga nampak bergeletakan hampir di seluruh sudut Kota. Menambah kengerian yang mereka bertiga lihat.
Ini memang bukan pertama kalinya mereka bertiga melihat pemandangan yang begitu mengerikan seperti ini, bahkan mereka pernah melihat yang lebih parah.
Namun tetap saja mereka masih belum terbiasa, sampai-sampai nafas mereka bertiga sesak saat memperhatikan seisi Kota yang hancur itu.
TAP! TAP! TAP!
“Oh... Ada tamu ternyata, apa yang kalian lakukan di tangga? Cepat masuk, jika tidak ingin mati.” Terdengar suara seorang Pria.
Kaira, Tyhas dan Raven sontak menengok ke arah belakang. Seolah pemandangan Kota yang hancur itu belum cukup mengejutkan mereka.
Kini mereka bertiga dibuat terkejut bukan main ketika melihat sebuah Istana yang besar nya melebihi Istana Archimedes Kingdom, berada tepat di belakang mereka.
“Kenapa kalian hanya diam saja? Apa kalian masih bingung dengan apa yang terjadi? Jika iya, cepat masuk. Aku duluan.” Pria itupun membalikan badan nya.
“Tungg-”
“Sudah kubilang cepat masuk!” Pria itu terlihat sedikit kesal.
Kerena tidak mendapatkan jawaban, mau tidak mau mereka bertiga hanya bisa menurut. Mereka bertiga pun memasuki Istana tersebut.
KREEEEIIT...!! BRANG!!!
Saat pintu masuk yang besar itu dibuka, terlihat ruangan yang amat sangat luas dan tentu nya di hiasi oleh berbagai macam hiasan mewah. Salah satu nya adalah tiga lukisan yang merupakan seorang Raja, Ratu dan Putri.
Namun terlepas dari semua itu ada satu hal yang aneh, yaitu tidak ada satupun orang di dalam Istana besar ini, kecuali si Pria.
“Hei, kemana orang-orang yang ada di sini?” Karena penasaran, Kaira pun bertanya.
“Aa, benar juga, kemana mereka semua? Apakah sudah kabur?” tanya Raven.
Pria menghela nafas pendek, lantas menjawab. “Tidak ada, semua nya sudah mati. Setidak nya itulah yang aku ketahui.”
Mendengar kalimat terakhir yang Pria itu ucapkan, membuat Tyhas sedikit curiga. “Apa maksud mu dengan setidak nya?”
“Ikuti aku dulu, baru nanti aku jelaskan.” Tanpa bicara lebih jauh lagi, Pria langsung berjalan menuju sebuah pintu yang seperti nya mengarah pada ruangan lain.
Kaira, Tyhas dan Raven hanya mengikuti Pria itu dari belakang tanpa bertanya sedikit pun, bahkan mereka bertiga tidak berbicara.
Setelah berjalan sebentar, mereka berempat akhirnya sampai di depan pintu tersebut. Pria itu pun membuka nya.
Dan ternyata ruangan yang mereka tuju adalah ruang makan, sama seperti Aula Utama, ruang makan terlihat sangat cantik dan luas.
“Silahkan duduk dan nikmati makanan nya, aku akan segera kembali.” Setelah berkata demikian, Pria itu langsung pergi.
“Oi sialan! Kau sedang memper-”
“Sudahlah Tyhas, kita turuti saja.” Dengan segera, Kaira menghentikan Tyhas yang seperti nya sedang sangat ingin menghajar Pria itu.
Tyhas tentu merasa kesal, dia pun menatap Kaira dengan tatapan tajam. “Apa kau tidak mencurigai nya sama sekali?”
“Tentu, apa kau kira aku adalah bocah naif setahun yang lalu?” Kaira menghela nafas. “Kita biarkan saja dulu, jika dia melakukan tindakan yang membahayakan baru kita bertindak. Bukan kah begitu, Ra... ven... Dia kemana?”
“Di sana.” Tyhas yang sudah sedikit tenang, menunjuk ke arah meja makan.
Di sana terlihat Raven sedang makan makanan yang ada di meja dengan sangat lahap. Bahkan bisa dibilang rakus.
Melihat hal itu, Kaira langsung bergegas menuju meja makan. “Raven hati-hati! Makanan nya bisa saja beracun!!”
Bukan nya menanggapi pertanyaan Raven, Kaira malah mengambil paha ayam yang ada di piring Raven, kemudian memakan nya. “Ya... Aku tidak pernah bilang kalau ini beracun,” kata Kaira dengan mulut yang penuh daging ayam.
“Eeh... Bilang saja jika kau ingin bergabung . . . Tunggu!! Itukan paha ayam miliku!!”
“Hehe, aku minta.”
“AAAKH!!! kembali kan!”
Melihat tingkah laku dua rekan nya itu, Tyhas hanya bisa menggelengkan kepala. “Di situasi yang seperti ini, bisa-bisa nya kalian malah bercanda.”
<----<>---->
“Maaf aku pergi terlalu lama dan perkenalkan nama ku L.”
“Itu tidak masalah, yang terpenting sekarang jelaskan semua nya!” ucap Tyhas sambil mengetukan sebuah garbu ke meja.
“Kalau begitu, silahkan baca surat ini.” L pun menyerahkan sebuah kertas kepada Tyhas.
Melihat itu, Kaira dan Raven langsung mendekatkan kursi mereka dengan kursi Tyhas, agar bisa membaca isi surat tersebut.
Di surat itu tertulis. “Jika kamu membaca surat ini berarti kamu selamat dari serangan Laure, aku sangat bersyukur kalau benar begitu.
Kamu pasti tidak mengingat apapun kan? Hihi... Itu karena aku menyegel ingatan mu, tenang saja ingatan mu pasti akan kembali.
Tidak ada yang perlu kamu lakukan, kamu hanya perlu diam di Istana karena Istana sudah aku lapisi dengan pelindung super kuat.
Jadi Laure tidak akan bisa menerobos masuk ke Istana. Semua nya akan baik-baik saja, percaya lah pada ku.
Sudah tidak ada waktu lagi, jaga diri mu baik-baik. Salam dari kekasih mu.”
Setelah surat itu selesai Tyhas baca, seketika suasana menjadi hening. Hanya terdengar suara hembusan angin dari luar.
Beberapa menit kemudian, barulah Kaira membuka pembicaraan. “Laure itu siapa?”
L tidak mengatakan apapun, dia hanya menggerakkan tangan nya untuk menunjuk ke arah jendela.
“Apa? Tidak ada apapun?” Itulah yang Kaira, Tyhas dan Raven pikirkan.
“Sebentar lagi, saat Matahari sudah menghilang sosok Monster yang menghancurkan apapun akan muncul. Dia tidak pandang bulu, semua yang bisa dia hancurkan pasti akan dia hancurkan, dialah Laure.”
GRRRRR...!!!
Tepat setelah L menyelesaikan perkataan nya, tanah tiba-tiba bergetar hebat dan di tengah-tengah Kota, munculah sosok Laure dari bawah tanah.
Kaira, Tyhas dan Raven langsung berlari menuju jendela agar bisa melihat Laure dengan lebih jelas. Namun yang dapat mereka lihat hanyalah siluet seekor kadal.
“Mata ku tidak salah lihat kan?” Raven berusaha mengucek mata.
“Tidak Raven, itu benar-benar bayangan yang berbentuk kadal.”
Berbeda dengan kedua teman nya, Tyhas lebih mempermasalahkan hal lain. “Semua ini tidak menjelaskan kenapa kami bisa masuk ke Dimensi ini!”
Seperti yang Tyhas katakan, sekarang ini mereka semua sedang berada di Dimensi Lain, yang terpisah dengan Asgrad atau Dunia luar.
Mendengar perkataan itu, L pun mengeluarkan sebuah permata dari balik jubah nya. Kemudian dia letakan di meja makan.
“Hanya Keluarga Bangsawan saja yang bisa masuk ke Dimensi ini, kalian yang merupakan Keluarga Bangsawan adalah penjelasan nya. Aturan ini baru berlaku beberapa hari yang lalu.”
Kaira mengerutkan kening nya atas jawaban yang L berikan. Memang diri nya dan Tyhas adalah keturunan Bangsawan, namun Raven seperti nya bukan.
Raven saja tidak memiliki Marga Bangsawan nya, jadi sangat aneh jika memang Raven adalah Bangsawan. Tapi mungkin saja kalau Raven adalah keturunan Bangsawan yang di buang.
Will Continue In Chapter 58 >>>