Magic War

Magic War
Ch 95 – Jenius Yang Jatuh



Di lantai satu bagian ke lima Menara Armand, lebih tepat nya pada sebuah arena seluas 100 m. Viole dan Khun sedang saling berhadapan.


Saat ini, orang-orang yang tadi berada di platform, sudah berpindah ke mari untuk melihat pertandingan antara Viole dan Khun.


Pertarungan di luar Menara tadi bisa di bilang belum serius, tapi saat sudah di dalam Menara, mereka bisa bertarung sesuka hati.


Ada juga efek positif yang Menara berikan, jadi mereka berdua dapat lebih leluasa lagi.


SING!


Dua buah shuriken yang besar, Khun keluarkan, tanda bahwa diri nya akan langsung bertarung dengan serius.



Sedangkan Viole, tidak memiliki Senjata apapun. Oleh karena itu, dia hanya memanfaatkan Sword Misery yang di perkuat dengan Magi.


‘Mari lihat, berapa lama aku bisa bertahan tanpa Curse Seal.’


SHOUS!!


Karena tau akan kalah hanya dengan menggunakan Sword Misery, Viole langsung bergerak maju, demi mengambil keuntungan.


Sama seperti sebelum nya, Khun cuma diam dalam posisi bertahan. “Kau ingin memainkan kecepatan ya? Menarik...”


TUANG!!


Dengan kekuatan penuh, Viole mengarahkan Sword Misery itu ke arah lawan nya. Khun sendiri dapat menahan serangan itu tanpa kesulitan berarti.


Karena mengayunkan Pedang nya terlalu kuat, Viole sampai membuat Sword Misery itu hancur menjadi partikel.


“Cuma ini?” Khun tersenyum menyeringai.


Viole menggerakan jari nya pada saat yang sama, mulut nya komat-kamit. “Lihat di belakang mu...”


SWIIIS!! WOUNG!


Secara bersamaan, Viole menggunakan Sihir Neddel of Life juga Sword Misery di belakang punggung Khun. Lalu bergerak menjauh.


Ketika menengok ke belakang, mata Khun mendadak melebar, melihat belasan benda tajam melayang di belakang nya.


CTAR! PRANK!! SRAT!!


Namun dengan sigap, Khun berhasil menahan serangan Viole menggunakan Shuriken nya, meski tidak semua. Luka goresan terlihat berada di pipi nya.


Tidak lama kemudian, Khun bergerak sejauh mungkin dari Viole. Demi menghindari serangan lanjutan. Pada saat ini Khun juga menyadari, bahwa Viole bukanlah lawan yang mudah.


Melihat Khun yang menjauh, Viole hanya bisa diam. Menyerang menggunakan strategi yang sama bukan pilihan bagus.


‘Dari dulu dia selalu berada di atas ku, kali tidak akan aku biarkan!‘


Menyadari Viole tidak akan maju duluan lagi, Khun segera bersiap untuk menyerang. Dia melebarkan jarak antara dua Shuriken nya, pada sisi kanan dan kiri.


Kemudian mengirim Magi pada Soul Weapon Level 4 itu...


OUWHUS!!


Lalu melemparkan nya, hingga bergerak dengan kecepatan tinggi.


“Apa?!”


“Hebaat...!”


“Murid Tingkat 2 ini seperti nya jenius.”


Tidak hanya diam, Khun langsung berlari mengikuti arah gerak dari dua Shuriken nya. Pemuda itu juga menggunakan Elemen Petir agar bisa bergerak dengan lebih cepat.


“Auratiaco.” Setelah itu, Viole mengepalkan tangan kiri nya, sedangkan tangan kanan nya dia angkat. “Ice - Elemental Magic - Jade Emperor Ring!”


KRANG!!


Saat satu Shuriken milik Khun sudah cukup dekat dengan diri nya. Viole langsung melemparkan Jade Emperor Ring demi membuat nya terjatuh.


Lalu melompat untuk menghindari Shuriken yang satu nya.


Tapi saat sedang di udara, tiba-tiba muncul Khun di hadapan nya, bersama kaki yang di balut oleh petir. “Dasar Bangsawan rendahan!” Khun mengatakan nya sebelum menyerang.


BUGH!! BAKH!


Lalu dia memukul wajah Khun. Kemudian mengarahkan tinju pada perut musuh nya untuk membuat Pemuda itu jatuh.


Tapi Viole harus jatuh duluan, karena secara mengejutkan, Khun menarik kaki nya, kemudian membanting diri nya ke lantai.


TUAK!


Setelah mendarat di lantai, Viole cepat-cepat menggulingkan badan nya ke samping. Untuk menghindari kaki Khun yang tidak lama kemudian mendarat di sana.


Dia berdiri, lalu membuat Sword Misery. Viole tidak menggunakan Benang Baja, karena Soul Weapon itu sangat tidak efektif untuk pertarungan satu lawan satu.


Tanpa pikir panjang, Viole melesat menghampiri Khun.


CTAB!


Khun menggerakan tangan, satu Shuriken yang tadi tergeletak di lantai, langsung terbang ke arah telapak tangan nya yang terbuka.


TRANG!!!


Setelah itu mengarahkan Shuriken milik nya demi menahan tebasan Viole.


Viole sendiri segera membuat Sword Misery baru pada tangan kanan nya, kemudian mengayunkan Pedang itu secepat-cepat nya.


BEKH! DUGH!!


Tidak ingin mendapatkan luka, Khun menahan gerakan tangan kanan Viole, di lanjutkan dengan lutut nya menghantam dada Viole.


DUAKH!!!


Tendangan kuat segera Viole lakukan demi membuat Khun mundur. Kemudian kembali menerjang menggunakan dua Sword Misery.


Tapi tidak semudah itu, Khun dengan sigap menarik satu Shuriken nya lagi. Menggunakan Elemen Petir, dia melapisi Shuriken itu.


TUANG!! TRANG!! TANG! BUANG!!!


Adu serangan pun terjadi. Jelas Khun bisa lebih unggul dari Viole sebab diri nya menggunakan Soul Weapon, sedang kan Viole hanya sebuah Jurus.


Beberapa luka, Viole terima. Karena sadar tidak di untung kan pada situasi ini, dia menghentakkan kaki pada lantai, memunculkan dinding es, kemudian mundur.


PRANG!!


Khun menghancurkan dinding itu, mengakibatkan nafas nya terengah-engah. “Hidup mu masih saja menyedihkan, harus nya kau melakukan perubahan.”


Mendengar perkataan Khun, Viole malah tertawa. “Kenapa? Kau bersimpati pada ku? Sungguh lawakan yang buruk. Hah haha!”


Khun berdecak kesal. “Aku sudah mengenal mu sejak kecil, mau ber' ekspresi atau berkata seperti apapun. Kau tetap tidak akan bisa membohongi ku.”


Karena nya, Viole menundukkan kepala, menatap kedua telapak tangan nya yang memerah akibat pertarungan barusan. “Kau... Mengerti diri ku? Yang selalu bersama dengan ku sejak lahir saja sulit untuk memahami ku.”


Tangan nya pun mengepal keras. “Mana mungkin kau bisa-”


“Aku bisa memahami mu, sangat bisa.”


“Cih! Omongan mu membuat ku muak!” Magi, dengan cepat menjalar di tangan kiri Viole.


Khun menggerakan salah satu Shuriken nya ke arah belakang, bersiap untuk menyerang. “Kau kira cuma diri mu? Aku juga merasa kesal, brengsek!”


Perlahan tapi pasti, Magi yang mengalir di tangan kiri Viole, berubah menjadi Elemen Es. Lalu membentuk sebuah Pedang yang tidak terlalu bagus. “Kalau begitu, kita akhiri saja.”


Dengan begitu beutal, Viole menyerang Khun. Khun juga tidak mau kalah, dia ikut menyerang menggunakan serangan terbaik nya.


<----<>---->


Melihat apa yang Viole lakukan, membuat mata Tyhas dan Raven melebar. “Oi, Raven. Yang kulihat ini nyata kan? Ini belum apa-apa lo.”


Raven tidak tau harus berkata apa, jadi dia hanya menjawab. “Ya, ini kenyataan.” Mata nya masih terpaku pada pertukaran serangan antara Khun dan Viole.


Tyhas menepuk jidat nya sendiri. “Apa-apaan dia ini, latihan saja belum. Tapi sudah bisa mengontrol Magi sampai ke tahap itu? Setidak nya jika mau berkembang, tunggu lah kami!”


“Seperti nya benar apa yang Dux Magna cerita kan, bahwa Viole ini, jenius...”


Will Continue In Chapter 96