
Ketika mentari pagi menampakan diri, Azar langsung membangunkan para anak buah nya yang tertidur beserta Viole, Tyhas dan Raven.
Azar pun mengumpulkan mereka di tengah-tengah perkemahan, di sana dia mengatakan bahwa para warga akan di bawa menuju pengungsian.
Tapi mereka tentu tidak bisa membawa para warga begitu saja, dengan kata lain, mereka memerlukan kendaraan berupa Kereta Kuda.
Karena itu, Azar ingin beberapa orang ikut bersama nya untuk membeli Kereta Kuda di Kota terdekat, sedangkan yang lainya berjaga di perkemahan ini.
Setelah berunding selama beberapa menit, akhirnya di putuskan bahwa Raven dan dua anggota White Eagle akan ikut bersama Azar.
“Baiklah, jaga perkemahan ini baik-baik! Karena ‘mereka’ aktif saat pagi hari. Walaupun dugaan ini masih samar-samar.” Azar menegaskan.
“Dimengerti!” Viole, Tyhas dan sisa anggota White Eagle melakukan gerakan Curre. Mereka baru bersikap seperti biasa ketika Azar beserta rombongan nya telah menjauh.
Mereka semua langsung bergerak cepat menuju posisi masing-masing untuk berjaga dari kelompok yang di curigai sebagai penyerang Kota ini.
Sementara itu, para warga yang berhasil selamat sedang menikmati makanan yang sebelum nya telah Azar berikan pada mereka.
“Hambar...” Gadis yang kemarin Kaira selamatkan, bergumam pelan. Tidak hanya gadis itu, yang lain juga merasakan hal yang sama.
Setiap gigitan dari makanan yang asli nya sangat lezat itu, terasa hambar di lidah mereka. Itu karena mereka semua masih trauma dengan insiden kemarin.
Dan itu normal bagi orang lemah seperti mereka. Takut, kawathir dan gelisah, semua itu sangatlah normal. Apabila yang terjadi malah sebalik nya, orang lemah itu patut untuk di curigai. Atau bisa saja dia sudah gila.
<----<>---->
“Hm... Masih ada yang hidup ternyata.” Seorang Wanita di kejauhan lebih tepat nya di sebuah gunung, terlihat sedang memperhatikan perkemahan yang Viole jaga.
“Lero, bagaimana menurut mu? Kita habisi mereka semua?” tanya Wanita itu pada seorang Lelaki di samping nya.
Pria itu nampak sedang merebahkan tubuh nya di padang rumput, dengan kondisi mata yang tertutup. “Untuk apa? Bukankah kita melakukan ini semua hanya untuk bersenang-senang, Mika?”
Wanita bernama Mika itu menggerakan kedua kaki nya kebelakang dan ke depan, dia sedang berpikir. “Tapi, aku merasa sedikit jengkel jika masih ada yang hidup,” ucap nya dengan suara yang melengking.
“Terserah! Kau lakukan sendiri saja, aku masih mau tidur.” Lero mendengus kesal, kemudian memiringkan tubuh nya, memunggungi Mika.
“Aaa...! Kalau begitu aku pergi dulu, Lero! Jangan sampai di gigit Harimau!” Mika pun melesat, menuju perkemahan.
“Berisik!”
Saat sudah cukup jauh, Mika tertawa kecil mendengar respon kekasih nya itu. “Dia mudah sekali kesal, semoga anak nya nanti tidak seperti ayah nya.”
WUSH!!
“Ek! Kenapa tiba-tiba aku merasakan hawa keberadaan yang kuat? Padahal Azar sudah menjauh.” Mata Tyhas bergerak, memperhatikan sekitar.
Dia sempat terpaku ke satu arah selama kurang lebih dua detik, sebelum menyadari ada sesuatu yang salah. Mata nya melebar. “Semua nya! Dari arah Timur!”
“Hm?! Ap-”
DUAR!! RRRR...!!
“Hihihi! Saat nya melanjutkan pembantaian kemarin!” Mika tertawa kegirangan saat baru saja mendarat, dia mirip sekali dengan psikopat gila.
Seketika itu juga, para warga menjadi panik kembali, tubuh mereka berkeringat dingin dan wajah ketakutan terukir jelas di wajah mereka semua.
Mereka semua kompak menutup tenda masing-masing, sebelum meringkuk ketakutan.
“Aku tidak mau mati! Aku tidak mau mati!”
“Ayah... Ibu...”
“Ini... Seperti nya merupakan akhir hidup ku...”
Mereka semua terus-terusan bergumam di dalam tenda masing-masing, ada yang masih berharap hidup, ada juga yang sudah putus asa.
Mereka hanya bisa diam di tempat, menyerahkan nasib diri mereka pada takdir. Takdir yang entah mau berpihak pada mereka atau tidak.
<----<>---->
Tanpa menunggu lama, mereka semua langsung menghujani Mika serangan beruntun. Namun dengan mudah nya, dia menghindari semua serangan itu.
“Apa cuma segini saja kemampuan kalian?” Mika tersenyum menyeringai, sambil terus menghindar.
Sementara anggota White Eagle dan Tyhas menyerang Mika tanpa memberi jeda sedikit pun, Viole nampak terdiam tidak berbicara maupun bergerak.
‘Tanpa Four Crystals, kekuatan ku berkurang drastis. Lebih baik aku menunggu momen untuk menyerang, dari pada menjadi beban,’ batin Viole.
Dia pun mengaktifkan Curse Seal, kemudian melesat untuk mencari posisi. Sebenarnya dia bisa saja menggunakan Benang Baja atau Sword Misery nya, tapi itu akan sulit.
Mika bergerak dengan sangat lincah untuk menghindari serangan para anggota White Eagle yang sudah senior.
Di tambah dengan anak panah Tyhas yang terus melintas, semakin mempersulit Viole untuk menyerang Mika dari jarak. “Seperti nya aku harus belajar membidik!”
BUAGH!!
Setelah sekian lama dia terus-terusan menghindar, akhir nya Mika memberikan serangan balasan pada lawan nya.
Seorang Pemuda mundur beberapa meter karena pukulan Mika. Darah mengalir di tepi bibir nya. “Wanita ini gila...” Dia memegangi dada nya yang terasa nyeri.
Melihat apa yang terjadi pada teman nya, beberapa Pemuda itu langsung bergerak menjauh dari Mika. Tyhas juga segera menghentikan serangan nya yang dari tadi tidak ada satupun yang mengenai sasaran.
“Eeh... Membosankan! Ayolah! Hibur aku lagi, sebelum aku membunuh orang-orang Kota ini.” Mika menunjuk deretan tenda yang berisi para warga.
Para anak buah Azar mengerutkan kening, sedangkan Tyhas mengalihkan pandangan nya untuk mencari Viole. “Dimana dia?”
“Bukanya aku sok pahlawan, tapi aku mau bertanya sesuatu. Kenapa kau ingin sekali membunuh mereka semua?” tanya Pemuda tadi pada Mika.
“Mmmnn... Apa kalian tidak mengerti yang nama nya kesenangan? Itulah yang sedang aku ingin kan saat ini, tapi kalian membosan-”
“Kalau begitu, coba ini.” Dari balik pepohonan, Viole menatap tajam ke arah Mika.
CEKH! SEK!
Beberapa helai benang, tiba-tiba saja melilit pergelangan tangan dan kaki Mika, hingga pada titik menahan gerakan nya.
Benang Baja nya yang sudah di lapisi oleh Rune tipe Kecepatan itu, dapat bergerak cepat menahan gerakan Mika, bahkan sebelum dia sempat bereaksi.
Lantas detik berikutnya, Viole melesat mendekati Mika, mata merah Viole yang terbalut Curse Seal sempat bertemu dengan mata biru indah milik Mika untuk sesaat.
“Blue Dragon Punch!” Viole mengepalkan tangan nya.
BUAKH!! BRAK! BRUK!
“Apa? Masih membosankan.” Mika memandang rendah ke arah Viole, yang baru saja terkena pukulan kuat dari diri nya. Seakan-akan Benang Baja yang sedang melilit nya tidak ada apa-apa nya.
Viole terpental karena pukulan itu, sampai-sampai menubruk salah satu tenda. Beruntung tidak ada siapapun di sana. “Ugh... Dia sekuat Vii, tapi aku tidak sekuat waktu itu- sial!”
PYECUS! BOOM!!
Tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan itu, Tyhas langsung menembakan Moonlight Arrow pada Mika, dan sukses mengenai Wanita itu.
“Apa itu cukup melukai nya?” Salah satu anggota White Eagle, bersiap kembali menyerang dengan menggunakan Pedang nya.
Tapi dia masih menunggu asap yang menyelimuti Mika menghilang agar tidak salah mengambil langkah dan yang dia lakukan benar.
Karena Mika masih berdiri kokoh, hanya tangan kiri nya yang mengalami luka bakar cukup parah. Di saat itu juga, pakain yang menutupi lengan Mika, robek.
Hingga memperlihatkan sebuah tato di bahu kiri Mika, tato itu berbentuk sebuah Busur yang memilikinya dua sayap. Yang mana lambang itu memiliki arti, yaitu:
“Ternyata benar, mereka sedang berada di sini. Black Arc!”
Will Continue In Chapter 70 >>>