
BRUK...
Niren yang sudah tidak bernyawa, terjatuh. Dari seluruh tubuh nya, yang paling parah berada di bagian wajah, mulut nya di banjiri oleh darah, mata melotot dan ada sedikit air mata di sana.
Semua ini, seharus nya tidak terjadi pada diri nya.
“Ssstt... Ugh...” Yoshi yang baru saja membunuh orang, tumbang secara perlahan. Kedua lutut nya menghantam tanah, serta tubuh nya menekuk ke ke depan. Dia terbatuk-batuk, di ikuti dengan cairan bening dari mata nya yang semakin deras mengalir.
Yoshi sekarang terlihat begitu buruk, dia seakan bersujud sambil menangis di depan mayat seseorang yang dia bunuh.
“Aku akan ke sana.” Tanpa menunggu jawaban dari dua teman nya, Raven langsung melompat dari atas bangunan tempat nya berdiri.
TAP!
Setelah mendarat, Raven menghembuskan nafas panjang. Dia menengok ke belakang sejenak, untuk melihat Tyhas dan Viole yang hanya diam menatap nya dari atas sana.
“Kalian akan melihat sesuatu.” Raven ber' gumam.
Dia pun berjalan mendekati Yoshi, setiap langkah yang Raven ambil, terdengar begitu keras. Karena tempat ini sangat sepi, juga ada sisa Magi di kaki nya.
Dalam waktu singkat, Raven akhirnya tiba di dekat Yoshi. Tatapan mata nya yang begitu dingin, menilik tubuh Yoshi. ‘Orang ini... Bodoh...’
Tidak lama kemudian, Raven beralih memandang mayat Niren.
Dia bereaksi biasa saja, seperti sudah terbiasa dengan kejadian yang seperti ini, padahal sebenarnya, dia tidak pernah terbiasa sama sekali.
BUAKH!!
Di tengah kesedihan nya, Yoshi tiba-tiba di tendang oleh Raven. Tendangan itu cukup kuat, sampai membuat Yoshi terpental sejauh satu meter.
“Uhuk! Uhuk! Uhuk!” Lagi-lagi Yoshi terbatuk, perut nya terasa seperti di kocok gara-gara tendangan Raven barusan.
“Hey, kenapa kau membunuh nya? Orang bodoh?” Nada bicara Raven, terdengar sangat berbeda dari biasa nya.
“Heh! Ternyata dia bisa begitu juga.” Tyhas tertawa kecil.
Viole menghela nafas. “Apa lagi ini...?”
<----<>---->
“... Beritau aku, jika aku bisa membuang segala nya, apakah hidup tanpa senyuman akan menjadi lebih baik?” tanya Yoshi dengan suara yang begitu pelan.
Di saat yang sama, tubuh Yoshi meringkuk secara perlahan. Suara isakan pelan, masih saja terdengar, meski tidak seperti sebelum nya.
“Kau tidak menjawab pertanyaan ku!” Raven mengangkat kaki nya...
DUAKH!!
... Lalu kembali menendang Yoshi, sekarang di bagian punggung. Tapi, Yoshi tidak terpental seperti tadi, dia masih di posisi nya.
Yoshi merapatkan gigi, lalu menyatukan kelopak mata nya. “Aku... Tidak punya pilihan lain... Tubuhku-”
“Apa maksud mu tidak punya pilihan lain?” Sekali lagi, suara Raven yang sangat dingin, sedingin es, melewati telinga Yoshi.
Membuat Pemuda itu, semakin terpuruk. “Aku... Takut, sangat takut...”
Mendengar itu, Raven jadi kembali mengangkat kaki nya. Sekarang, kaki itu berada tepat di atas tubuh Yoshi, namun tidak lama kemudian, kembali ke tanah.
Seketika, sorot mata Raven berubah, yang tadi nya sangat dingin, kini menjadi seperti seorang pendiam yang menyimpan kemarahan. “Ulangi, katakan... Sekali lagi...”
Hening...
Masih tetap hening. Di kejauhan, Tyhas dan Viole terlihat begitu kebingungan dengan sifat Raven yang tiba-tiba berubah, jadi mereka hanya diam memperhatikan apa yang akan terjadi.
Dan...
“AKU PECUNDANG!! PUA-?!”
DAKH!! BAKH!!!
Dengan sangat kuat, Raven menendang wajah Yoshi, lalu menginjak nya, sampai hidung Yoshi mimisan. “Harus nya kau merubah nya!”
“Hiks... Kau itu pemenang... Kau tidak akan pernah tau rasa nya terlahir sebagai pecundang...” Tanpa menyingkirkan kaki Raven, Yoshi menjawab.
“Memang nya kau tau apa soal diri ku, HUH?!”
TAKH!!
<----<>---->
Tubuh tanpa kelapa, terbaring kaku di lantai, lantai itu, di banjiri oleh darah...
Seorang bocah menyaksikan semua itu, tepat di depan mata nya. Dia hanya bisa diam...
Perlahan, bocah itu menengok ke kiri, dua buah kepala menggantung di sana. Ekspresi masing-masing kepala tersebut, sama buruk nya, bahkan sampai tak berbentuk.
Pada saat yang sama, mereka semua meneriakkan kata penyusup, banyak orang meneriakkan nya, tapi bocah polos itu tidak mengerti apa-apa.
Anak itu hanya diam... Lagi, memperhatikan para orang dewasa melakukan tugas mereka. Saat diam, hanya satu kalimat yang mengisi kepala bocah itu sekarang. “Apa yang terjadi?”
Setelah semua nya selesai...
Dia pun bertanya, pada orang-orang yang berada di sekitar situ...
Tanpa bocah itu sadari, pertanyaan nya, membawa nya pada satu kenyataan yang begitu pahit. Kenyataan pahit yang akan mengubah hidup dan membangkitkan potensi dalam diri nya.
<----<>---->
“Apa kau juga... Mengerti, diri ku?” Suara Yoshi agak aneh, karena injakan kaki Raven.
Raven memejamkan mata nya. “Kau takut, kau itu selalu takut untuk mengambil keputusan besar. Sesekali kau ingin berani, namun malah mendapatkan hasil yang tidak memuaskan karena rasa takut mu tadi.
Oleh karena itu, kau menyebut diri mu sendiri sebagai pecundang. Yang tidak lebih dari seonggok sampah.” Setelah mengatakan nya, jari Raven sedikit berkedut.
“Kalau kau mengerti...”
BAKH!!!
“Tapi aku tidak seperti diri mu! Kau itu seorang lelaki! Seharus nya kau bisa lebih berani lagi! Ubah dia!! Tapi... Yang kau lakukan malah tindakan seorang pengecut...
... Di Dunia ini, tidak ada yang nama nya pecundang, kecuali orang bodoh... Yang! Melebeli! Diri nya! Sendiri! Sebagai! Pecundang!”
Setiap kata di kalimat terakhir yang Raven ucapkan, di selingi dengan injakan pada wajah Yoshi.
Yoshi yang sudah babak belur, perlahan membuka mata nya. Samar-samar dia bisa melihat wajah Raven. “La-lu... Aku harus... Bagaimana?”
“Ubah lah diri mu sendiri! Dasar brengsek!”
DAKH!!
Untuk terakhir kali nya, Raven menginjak wajah Yoshi. Dan karena injakan terakhir ini, Yoshi pingsan seketika.
<----<>---->
“Apa ini ada hubungan nya dengan Raven yang paranoid dengan penyusup pada waktu itu?” tanya Viole.
“Entahlah, kemungkinan besar begitu.” Tyhas menjawab seadanya. Setelah itu dia menjatuhkan diri nya sendiri dari atas bangunan ini.
Lalu di ikuti oleh Viole. “Apakah sudah saat nya kita saling menceritakan masa lalu?”
“Tanya Raven saja.”
Selepas mendarat, mereka berdua segera berlari mendekati Raven. Raven sendiri terlihat hanya diam saja memandangi Yoshi yang pingsan.
Dan saat Viole serta Tyhas sudah sampai, Raven tiba-tiba berjalan, sambil berkata. “Aku akan mencari Pasukan Pengintai di sekitar sini.”
WUSH!!
Raven melesat pergi, dengan begitu cepat.
Tyhas dan Viole hanya bisa diam melihat Raven menghilang di kejauhan, tanpa sempat mengucapkan sepatah kata pun.
Viole menghela nafas, kemudian beralih menatap ke arah tumpukan mayat di gang samping. “Lebih baik kita bersihkan kekacauan ini.”
Tyhas menengok ke samping. “Biarkan Pasukan Pengintai saja yang melakukan nya.”
“Tiiidak. Ini kesempatan kita untuk mempermalukan mereka, sebagai penjaga White Eagle, seharus nya mereka bisa bekerja dengan lebih cepat. Korban nya pasti akan lebih sedikit.”
Dahi Tyhas mengerut. “Maksud mu, kau ingin membereskan semua tugas mereka, lalu memberi laporan ke atasan kalau mereka hanya terima jadi?”
“Benar. Aku yakin nama kita tidak akan di masukan koran, tapi setidak nya, para atasan mengetahui nya.”
“Hey, hey. Boleh juga, jujur aku juga sedikit jengkel karena kinerja mereka terlalu lamban.” Tyhas tersenyum menyeringai.
Beberapa Menit Kemudian.
Belasan orang bertopeng, datang secara bersamaan ke tempat sebuah tragedi terjadi. Wajah mereka tertutupi topeng, jadi Viole dan Tyhas tidak dapat melihat ekspresi mereka.
Namun, sudah bisa di tebak bahwa mereka merasa malu. Dapat di lihat dari tingkah laku mereka yang masih sok-sokan memeriksa, padahal sudah mendapatkan penjelasan lengkap dari Raven.
Meski begitu, tidak semua nya sama.
Ada satu orang yang berbeda, dia tidak hanya merasa malu, tapi siap menanggung konsekuensi nya. ‘Kami telat, atasan berhak untuk memberi kami hukuman. Hukuman yang berat,’ batin nya.
Will Continue In Chapter 89 >>>
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
hah~ kumat lagi, kumat lagi, kesehatan gua_-