Magic War

Magic War
Ch 58 – Sedikit Jawaban Dan Hantu



Keluarga Redoist adalah Keluarga Bangsawan kecil yang sudah hancur sekitar 17 tahun yang lalu.


Keluarga Redoist bisa hancur karena tindakan dari Neckro. Neckro menghancurkan Keluarga Redoist bukan tanpa alasan.


Mereka melakukan hal tersebut karena murka atas tindakan lancang Manami dan karena hal itu juga Ayah Tyhas juga harus mati.


Tyhas sendiri sudah lama mendengar nya. Dia yang berada sangat jauh dari lokasi Keluarga Utama, tidak ikut terlibat masalah itu.


“Tunggu, di surat ini tertulis bahwa ingatan mu di segel, sekarang kenapa kau bisa mengingat kejadian beberapa hari yang lalu? Isi surat ini juga sama saja! Mencurigakan!” Tyhas pun merobek-robek kertas itu.


Kaira yang baru menyadari nya, segera membalikkan badan. “Benar juga, ingatan mu sedang tersegel saat ini. Itulah kenapa kau menamai diri mu sendiri L, tapi mengapa kau bisa mengingat kejadian itu?”


Berbeda dengan merek berdua, Raven memilih fokus memperhatikan Laure saja, sebab diri nya tau bahwa permainan otak bukan lah keahlian nya.


L masih tetap tenang. “Aku terbangun empat hari yang lalu di Istana ini dan kemunculan Laure beserta aturan baru untuk masuk Dimensi ini terjadi lima hari yang lalu.


Ingatan ku memang tersegel, tapi bukan berarti tidak bisa kembali. Jadi aku bisa mengingat kejadian itu karena sebagian ingatan ku sudah kembali.”


Tyhas dan Kaira mengerutkan dahi setelah mendapatkan penjelasan dari L. “Baiklah baiklah, aku akan percaya. Sekarang bagaimana cara nya untuk keluar dari sini?”


Berbeda dengan Tyhas, Kaira masih diam sambil memikirkan tentang semua kejadian ini mulai dari awal. Dia sedang berusah untuk mencari kejanggalan.


Pertanyaan Tyhas membuat L kembali menunjuk Laure. “Kita harus membunuh Monster itu, dengan begitu gerbang untuk menuju Dunia luar akan terbuka.”


Mendengar nya, Tyhas langsung membalikkan badan. “Kalau begitu sekarang ayo kalahkan di-”


“Lakukan saja jika ingin mati!” Setelah menggertak secara tiba-tiba, L pun berjalan mendekati mereka bertiga.


Tyhas menengok ke belakang. “Apa kau meremehkan kami?”


“Justru kau yang terlalu meremehkan nya. Meskipun dia hanya siluet kadal raksasa yang mondar-mandir sambil menyemburkan api, tapi kekuatan nya tidak main-main.”


“Cih! Aku tidak butuh pendapat mu-”


“Tunggu Tyhas! Ada sesuatu yang salah di sini.” Kaira menatap L dengan tajam, ekspresi wajah nya menjadi serius.


Raven terlihat bingung dengan apa yang sedang terjadi, tapi dia hanya diam saja, tidak memiliki niat untuk ikut campur.


“Pertama, dimana Raja, Ratu dan juga Putri? Sedikit aneh rasanya jika mereka mati sedangkan orang tidak dikenal seperti mu masih hidup. Apa mereka mati karena Laure?”


“Kemungkinan besar iya, ingatan ku tentang itu masih belum kembali,” jawab L tanpa menunjukkan perubahan ekspresi.


‘Hmm... Apa yang ingin Kaira lakukan?’ batin Tyhas.


“Kedua, Laure itu mahluk yang muncul begitu saja kan? Lalu bagaimana kau bisa mengetahui bahwa dia itu kuat? Menghancurkan Kerajaan tanpa satupun orang kuat adalah hal yang sangat mudah.” Mata Kaira melirik mayat-mayat yang ada di seluruh Kota.


Tempat nya saat ini yang tinggi, memudahkan Kaira untuk melihat hampir seluruh mayat yang ada di Kota dan dia tidak menemukan satupun orang kuat di antara mayat-mayat itu.


Masih dengan tampang tenang nya, L menjawab. “Aku sudah menguji kekuatan Monster itu kemarin lusa.” L pun menunjukkan bukti berupa bekas luka cakaran yang cukup besar, bekas luka itu terlihat masih baru.


Kaira hanya mengangguk untuk merespon penjelasan yang L berikan. Setelah itu dia kembali bertanya.


“Ketiga, kenapa kau bisa sangat kuat? Padahal terlihat dengan jelas bahwa hampir seluruh orang yang ada di Dimensi ini lemah.”


‘Kaira.’


‘Aku melakukan nya untuk menghilangkan kecurigaan mu,’ jawab Kaira yang seakan-akan tau isi kepala Tyhas.


L mengheka nafas. “Aku adalah orang luar, aku adalah orang dari Asgrad. Aku tidak tau mengapa aku bisa masuk ke sini, tapi yang pasti itu karena ketidak sengajaan.”


Kaira mengangguk atas jawaban yang L berikan. “Baiklah, sekarang apa rencana mu? Kau kan yang lebih lama di sini?”


Kaira diam sejenak, dia berpikir untuk beberapa saat, sebelum berkata. “Sesuai apa yang aku tangkap dari perkataan mu, besok kita akan menghabisi Laure...”


SNFP! SNFP!


Tyhas yang dari tadi hanya diam, tiba-tiba mencium bau terbakar. “Kaira, apa kau juga...”





“RAVEN!! Kepala mu! Kepala mu! Kenapa bisa berasap?!” Melihat itu, Kaira langsung mengipasi kepala Raven menggunakan telapak tangan nya.


Dia secara tiba-tiba sudah tidak memperdulikan lagi percakapan nya dengan L.


“Ugh... Kalian... dari tadi... bicara apa?”


i


“AAA!! Raven bertahanlah!!!”


“Itulah kenapa jangan pernah membawa orang bodoh dalam hal yang seperti ini.” Tyhas berdecak kesal. “Cih! Kepala nya bau, lagi!”


<----<>---->


WUSH...!! WUUUSH!!!


Di pagi hari yang terlihat suram ini, ada seekor burung gagak yang kebetulan lewat dan dia hinggap di sebuah ranting pohon dekat jendela.


“Ak! Ak! Ak!”


“Ak! Ak!”


“Ak-!”


TUAKH!!


“Berisik! Gagak sialan...! Brrr... Pagi ini dingin sekali.” Setelah melemparkan sebuah vas bunga pada seekor burung gagak, tiba-tiba Raven menggigil kedinginan.


“Itu karena aku sedang melatih Elemen ku, jadi ruangan terasa dingin.” Kaira sedang duduk bersila tidak jauh dari ranjang tempat Raven tidur.


Seketika wajah kesal Raven berubah menjadi datar. “Bisa tidak pergi ke ruangan lain? Di sini sedang di gunakan untuk tidur.”


Kaira menggeleng. “Kita sudah satu ruangan sejak malam tadi dan jangan terlalu menggunakan banyak ruangan, bisa-bisa kita di hantui arwah Raja dan Ratu.”


Bulu kuduk Raven langsung berdiri karena ucapan itu. “Hei, jangan membuat suasana nya jadi menceka-! Akhiii!!” Belum sempat Raven menyelesaikan perkataan nya, tiba-tiba ada sesuatu yang dingin menyentuh leher nya.


“Jangan lupakan Putri...”


Dengan sangat ragu, Raven menengok ke belakang. “Huaa!!” Raven terjungkal kaget saat melihat apa yang ada di belakang nya ternyata adalah Tyhas. “Hoi! Bagaimana kau bisa muncul di belakang ku?!”


Dengan santai nya Tyhas menunjuk ke arah atap yang berlubang. “Aku lewat sana.”


“Tyhas, ada apa kau berkunjung pagi-pagi begini?” tanya Kaira yang sudah menghentikan latihan nya.


“Kita harus segera menyiapkan jebakan untuk pertarungan nanti malam, karena Laure sangat cepat dan lincah. Tanpa persiapan, akan sulit untuk dapat mengalahkan nya.”


Will Continue In Chapter 59 >>>