
Berkah Dewa adalah sebuah kekuatan besar yang Dewa atau Dewi bisa berikan pada mahluk hidup terpilih di seluruh Dunia.
Berkah Dewa dapat berupa apapun, entah itu Senjata, kemampuan spesial, bentuk tubuh unik dan masih banyak lagi.
Kekuatan Dewa ini sudah di atur oleh “Sang Penguasa” jadi beliau lah yang akan memberikan Berkah Dewa pada seorang mahluk hidup.
Kekuatan ini tidak akan di berikan pada seseorang begitu saja, pasti ada alasan di balik penyerahkan Berkah Dewa, dan yang tau hanyalah “Sang Penguasa.”
Tidak ada syarat khusus untuk menerima Berkah Dewa, kau hanya perlu keberuntungan untuk mendapatkan nya.
Dan jika bisa mendapatkan nya, kau bisa dibilang adalah salah satu mahluk hidup ter'beruntung yang ada di seluruh alam semesta ini.
Mika Aslat, adalah contoh mahluk hidup yang menerima Berkah Dewa. Dia memiliki kondisi tubuh yang banyak sekali muncul di cerita dongeng.
Gasai Dakai, banyak orang yang mempercayai keberadaan nya namun hanya sebatas cerita dongeng belaka. Tapi sekarang, ada sepuluh orang Pemuda yang menyaksikan Gasai Dakai itu sendiri.
Dengan mata kepala sendiri, mereka melihat sosok yang memiliki kondisi tubuh yang dapat membuat seseorang menjadi hampir abadi.
<----<>---->
“Aku suka reaksi kalian.” Mika tersenyum menyeringai, sambil memperhatikan satu-persatu para Pemuda itu.
Terlihat jelas ekspresi wajah mereka semua sangat buruk, mereka telah terlalu banyak menggunakan tenaga dan terlalu banyak menerima serangan.
Masih dalam kondisi sadar saja sudah menjadi prestasi bagi mereka, terlebih bagi Viole yang terlalu memaksakan diri nya untuk menggunakan kekuatan milik Hanabi.
Banyak dari mereka yang mengalami patah tulang hanya karena beberapa pukulan yang Mika berikan, itu wajar karena 20% kekuatan fisik, Mika gunakan untuk melakukan nya.
Tyhas mengangkat sebelah tangan nya. “Heavenly Luck...” Sebuah Jurus dia arahkan pada Viole, demi sedikit memastikan keamanan nya.
Sebab sekarang ini, Viole lah yang posisi nya paling dekat dengan Mika, jadi dia yang paling berisiko akan di serang.
Apa yang Tyhas lakukan di sadari oleh Mika, jadi dia langsung mendekati Viole. Yang lain nya hanya bisa melihat dari kejauhan, tanpa bisa melakukan apapun.
Langsung saja Mika menindih tubuh Viole, dia pun mendekatkan wajah nya dengan wajah Viole, lagi-lagi kedua pasang mata itu bertemu. Pandangan Mika terlihat polos.
Sudah tidak ada lagi Curse Seal maupun kekuatan Hanabi di tubuh Viole, otomatis sekarang warna mata nya kembali menjadi biru, sama persis dengan yang Mika miliki.
“Kau tidak takut padaku?” Mika memiringkan kepala nya.
Sedangkan Viole membuang muka. “Aku sudah mengalami situasi hidup dan mati berkali-kali, jadi biasa saja rasa nya.”
Mulut nya membentuk huruf O, sebelum dia menjauhkan wajah nya dengan wajah Viole. Kemudian Mika menempelkan jari telunjuk nya tepat pada leher Viole.
“Kau berbohong, memang kau bereaksi biasa saja, tapi jauh di dalam hati mu kau itu sangat tidak ingin mati.”
Viole memejamkan mata nya. “Mana ada orang yang mau mati muda? Dari pada kau memikirkan isi hati ku, lebih baik kau pikirkan diri mu sendiri.”
Setelah berkata demikian, Viole pun merilekskan tubuh nya, mata nya kembali terbuka. Dia sudah tidak sanggup lagi untuk melawan, jadi setidak nya dia ingin bersantai sebelum mati.
‘Heavenly Luck, seperti nya tidak berguna di situasi yang seperti ini. Haha,’ batin Viole.
Mika yang tadi ingin menusuk leher Viole menggunakan jari telunjuk nya, kini menarik kembali jari nya itu. “Diri ku sendiri?”
Viole menghela nafas berat. “Tadi kau mirip sekali dengan psikopat gila, tapi sekarang kau malah seperti gadis yang polos... Setidak nya itu.”
“Apa yang salah dengan itu?” Mika menatap Viole dengan penasaran. Wajar saja dia tidak sadar akan sifat aneh nya, karena dia memang sudah gila.
Viole tidak menjawab, dia hanya balas menatap Mika dengan sorot mata yang biasa dia perlihatkan saat sedang berada di situasi serius. Mata nya kelam, seakan-akan tidak memiliki cahaya sedikitpun.
Sementara itu, Yoshi, Rou, Tyhas dan yang lain nya tengah saling berbicara melalui telepati.
‘Oi, apa kita akan kembali menyerang?’ tanya Tyhas pada semua nya, kecuali Viole.
‘Percuma, kita dalam kondisi prima saja tidak menghasilkan apa-apa, apalagi sekarang.’ Langsung di jawab oleh Yoshi.
‘Jadi, kita hanya akan diam saja?’ Rou ikut campur.
‘Diam mungkin adalah yang terbaik untuk sekarang ini.’ Seseorang menanggapi.
Tyhas menghela nafas. ‘Bagaimana tanggapan kalian?’
Anggota White Eagle yang lain nya pun menjawab bahwa lebih baik diam saja, karena akan percuma kalau mau menyerang lagi.
Mendengar itu, Tyhas mengigit bibir nya sendiri. ‘Kalau begitu, aku juga akan diam. Sampai situasi memaksa!’
<----<>---->
Di saat yang hampir bersamaan, Lero yang sedang tertidur harus terpaksa bangun karena di hampiri oleh seorang Pria Paruh Baya.
Pria Paruh Baya itu kemudian membungkuk. “Tuan Lero, Bos memanggil anda dan istri anda Nyonya Mika untuk melakukan pertemuan.”
Lero langsung menyumbat kedua lubang telinga nya, sambil mendengus kesal dan memunggungi Pria tua itu. “Kapan-kapan saja, aku sedang ingin bersantai,” ucap nya dengan nada malas.
“Tapi, Tuan. Pertemuan kali sangat penting, karena hasil dari pertemuan ini akan berdampak hampir ke seluruh Benua Altesia.”
Mendengar perkataan itu, membuat Lero membuka mata nya. “Maksud mu, pertemuan ini akan membahas soal persiapan kita?”
“Benar, Tuan. Persiapan perang ini harus di rundingkan agar tidak terjadi kesalahan.”
“CK! Apa susah nya memilah pasukan untuk perang dan menjaga markas? Tanpa diri ku pun harus nya bisa!” Lero sedikit kesal.
“Bukan itu masalah nya, Tuan. Kita akan kedatangan tamu dari salah satu Veteran Neckro dan juga murid nya. Jadi keberadaan anda di sana sangat di butuhkan.”
HUG!
Kalimat terakhir itu membuat Lero langsung berdiri, seakan-akan tidak pernah mengantuk sama sekali. “Kalau kau bilang dari tadi, aku tidak akan banyak bicara. Sekarang panggil Mika, aku akan kembali lebih dulu.”
“Tapi, Tu-”
WUSH!!
Tidak memperdulikan perkataan Pria tua itu, Lero segera melesat untuk kembali ke markas Black Arc.
“Hais, semoga saja aku masih hidup setelah ini.” Pria Paruh Baya itu diam sejenak, sebelum melesat ke arah di mana aura Mika berada.
<----<>---->
“Hei ayolah! Jawab pertanyaan ku! Jangan membuat ku penasaran!” Mika menarik kerah baju Viole, sambil terus memaksa nya.
Viole memasang ekspresi wajah datar. “Aku tidak punya kewajiban untuk menjawab...” Tapi tiba-tiba berubah menjadi serius. “Ada sesuatu yang datang!”
TEKH!
Pria tua yang terlihat seperti pelayan itu, muncul tepat di samping Mika, dia pun membungkuk. “Nyonya, maaf mengganggu tapi Bos meminta anda untuk segera kembali.”
Mika melirik Pria tua itu sebentar, lantas kembali fokus ke Viole. “Aku tidak peduli, sekarang ada yang lebih penting.”
PAK!
Di tempat lain, Yoshi terlihat tengah menahan Tyhas yang mencoba untuk berdiri dan kembali menyerang.
“Lepaskan! Aku harus menyelamatkan Ka-”
BRUK!
Tanpa basa-basi Yoshi langsung mengunci pergerakan Tyhas, kemudian menindih nya, sebelum dia sempat menyelesaikan kalimat nya. “Aku faham, tapi fahami dulu situasi nya!”
Tyhas tidak menggubris dia hanya terus berontak, dia memaksakan untuk bergerak sambil menatap tajam ke arah Viole yang sedang di kelilingi oleh dua orang musuh.
“Lepaskan!”
“Bisakah kau berpikir jernih?!”
“Jangan mengajari ku-!”
BAGH!
Merasa harus ikut campur, Rou pun mencoba untuk berjalan mendekati mereka berdua, walaupun dia berjalan dengan pincang.
Sesampai nya di sana, dia langsung memukul tengkuk Tyhas hingga membuat Pemuda itu pingsan. “Hah...”
Yoshi dan Rou bisa bernafas lega setelah Tyhas tidak bergerak lagi. Mereka berdua hanya bisa membuat situasi se'tenang mungkin, agar tidak terjadi kekacauan lagi.
“Selanjut nya, apa yang akan terjadi?”
Will Continue In Chapter 73 >>>