Magic War

Magic War
Ch 55 – Gargantua



Empat hari telah berlalu sejak Kaira, Tyhas dan Raven melakukan transaksi jual beli dengan seorang Paladin yang bernama Clerick.


Selama beberapa hari terakhir, yang mereka bertiga lakukan hanyalah melanjutkan perjalanan dan cuma berhenti selama kurang lebih empat jam untuk tidur beserta makan.


Sejauh ini semua nya baik-baik saja, tidak ada sedikit pun halangan yang menghadang mereka bertiga untuk melanjutkan perjalanan.


Cuaca selalu cerah setiap hari nya, jadi mereka bertiga bisa terbang dengan lancar. Meskipun cuaca selalu cerah, tapi tetap ada saja angin kencang yang terkadang menerpa mereka bertiga.


Hal itu jelas sangat tidak mengenakan, karena akan memaksa mereka bertiga untuk terbang lebih rendah.


Selain perkara angin kencang itu, ada satu hal yang sangat menggangu Kaira belakangan ini, yaitu Hanabi yang terus terdiam.


Sudah beberapa kali Kaira menanyakan kenapa Hanabi hanya diam saja, namun yang Naga kecil itu katakan hanya. “Aku sedang tidak ingin banyak bicara.”


Tentu jawaban tersebut sangat aneh jika keluar dari mulut Hanabi, karena sejauh yang Kaira tau, Hanabi sangat suka sekali berbicara dengan dirinya.


Dan Hanabi yang tiba-tiba saja menjadi pendiam, benar-benar membuat Kaira kawathir.


Kaira hanya bisa berharap Hanabi baik-baik saja, sebab sejauh ini dia masih belum menemukan apa yang membuat Hanabi bisa seperti itu.


<----<>---->


“Hutan ini keren juga.” Raven berkata sambil bersiul.


Saat ini mereka bertiga tengah terbang tepat di atas sebuah hutan yang memiliki pemandangan indah.


Banyak pohon-pohon besar yang tinggi nya lebih dari 6m menghiasi seluruh hutan ini. Di kejauhan terlihat sebuah pohon yang paling besar dan nampak nya merupakan yang terbesar di hutan ini.


Sejauh yang terlihat tidak ada hal yang spesial dari hutan ini, selain pemandangan nya yang sangat indah.


“GROAAA!!!”


Saat Kaira, Tyhas dan Raven sedang asyik terbang, tiba-tiba terdengar suara teriakan yang sangat keras, hingga membuat banyak burung yang tadi nya hinggap di pohon, kini beterbangan.


Kaira segera menengok ke arah suara itu. “Seperti nya itu Dao Mystical Beast tingkat tinggi...”


“Dao Mystical Beast tingkat tinggi memiliki kekuatan yang setara bahkan ada yang melebihi Lord Mystical Beast tingkat rendah, apa yang dia lakukan di sana?”


“Yang terpenting sekarang, kita ke sana atau tidak?” tanya Raven.


Pembicaraan sempat hening sejenak, sampai mendadak Tyhas terbang ke arah suara itu berasal. “Kita kesana! Siapa tau ada sesuatu yang berharga!”


Kaira dan Raven segera menyusul Tyhas. “Kau benar, Dao Mystical Beast biasa nya memiliki sesuatu yang unik, di banding Lord Mystical Beast,” ucap Kaira.


“Memang nya sesuatu yang unik akan lebih berharga dari pada yang kuat?” Raven memiringkan kepala nya.


“Tergantung.” Kaira dan Tyhas menjawab bersamaan.


WUSH!! WUSH!! WUSH!!


Tidak berbicara lebih jauh lagi, mereka bertiga langsung menambah kecepatan agar bisa sampai sekarang sampai.


Mereka menambah kecepatan karena beberapa kali terdengar suara dentuman yang sangat keras dan suara teriakan beberapa orang.


“Oh, ternyata Gargantua.” Saat sudah semakin dekat dengan lokasi suara itu, Kaira akhirnya bisa melihat apa yang sebenarnya terjadi.


Di sana terlihat beberapa orang yang sedang melawan satu Dao Mystical Beast yang berwujud seperti pohon hidup, Gargantua. Namun mereka terlihat kalah telak.



SWISH! CTAB!! SRAT! SRUAK!!


Tanpa pikir panjang, mereka bertiga langsung melemparkan Sword Misery yang dari tadi mereka gunakan untuk terbang, ke Gargantua.


“ROAAA!!!”


Bukan nya melukai Gargantua, Sword Misery yang mereka bertiga lemparkan malah semakin membuat Mystical Beast itu marah.


TAB!


“Kita gunakan formasi seperti biasa nya.”


“Ya!”


Kaira dan Tyhas segera mengepung Gargantua dari dua arah setelah mereka berdua mendarat. Sementara Raven hanya diam di tempat.


Langsung saja Kaira menggunakan Benang Baja nya untuk menahan pergerakan Gargantua, Dao Mystical Beast itu jelas memberontak, namun tidak lama.


PSYUS...! CTAB!! TAKH!!


Karena Tyhas dengan sigap memanah kedua lutut Gargantua menggunakan Busur milik Ibu nya, yaitu Moonlight Bow.


Alhasil kedua kaki Gargantua menjadi lumpuh dan sekarang dia sedang berada pada posisi berlutut.


“GROAAAAA!!!”


Tapi tetap saja dia masih terus memberontak dengan menggunakan kedua tangan nya. “Kau ini banyak tingkah sekali.” Dengan segera Tyhas memanah kedua siku Gargantua.


Setelah itu Gargantua sudah lumpuh sepenuh nya. “Sekarang giliran ku.” Raven pun memasang kuda-kuda. “Wind - Elemental Magic - Rissing Tornado!”


WUUUSSH...!!


Sebuah angin topan yang cukup besar tercipta tepat membungkus tubuh Gargantua, angin tersebut sangat kencang sampai melukai tubuh nya.


Dengan segera Kaira menarik kembali Benang Baja nya, kemudian menjauh dari situ. Berbeda dengan Tyhas yang malah terus menyerang, mengarahkan anak panah ke angin topan itu.


Hal tersebut Tyhas lakukan agar Rissing Tornado milik Raven bisa melukai Gargantua dengan lebih parah lagi.


Dan benar saja, setelah Rissing Tornado tersebut menghilang, terlihat tubuh Gargantua telah terluka parah.


“Moonlight Bow - Penetrating Soul!”


PCYUS...!! CRAK!!! CTAR!!!


Serangan terakhir itu sukses mengenai kepala Gargantua, hingga membuat Dao Mystical Beast tersebut tidak memiliki kepala lagi.


WUUS...! BRUK!!


Gargantua yang sudah tidak bernyawa, berakhir ambruk tepat di samping Kaira.


“Hah... Cukup melelahkan juga.” Tyhas mengelap peluh di dahi nya.


“Hm, hm... Sepertinya tidak ada yang unik dari tubuh Gargantua.” Kaira terlihat mondar-mandir mengelilingi tubuh Gargantua yang sudah mati.


Sedangkan Raven, langsung menghampiri orang-orang yang tadi nya bertarung melawan Gargantua. “Apa kalian tidak baik-baik saja?”


Sebenarnya Kaira, Tyhas dan Raven sudah menyadari keberadaan orang-orang tersebut sejak tadi, namun mereka harus fokus ke pertarungan. Jadi tidak sempat melihat kondisi mereka.


Sedangkan orang-orang itu malah diam saja di kejauhan, mereka semua terlalu takut untuk menampakan diri maupun lari.


“Terima kasih, Tuan. Terima kasih! Kami berhutang nyawa pada kalian!”


Mereka semua tiba-tiba bersujud kepada Raven sebagai tanda terima kasih, hal tersebut menarik perhatian Kaira dan Tyhas.


Kaira dan Tyhas menghela nafas, sebelum melangkah mendekati orang-orang itu. “Tidak perlu sampai berhutang nyawa, tunjukan saja tempat kalian tinggal,” kata Kaira.


Mendengar perkataan itu, membuat Tyhas menaikan sebelah alisnya. “Kau mau apa?”


“Kau akan tau sendiri nanti, Tyhas.”


Seketika bulu kuduk beberapa orang itu merinding, alasan nya sudah jelas bahwa mereka takut Kaira akan merampas harta mereka, sebagai bayaran atas pertolongan yang mereka terima.


“A-anu... Apa yang ingin anda lakukan pada Desa kami?” Salah satu orang berusaha untuk bertanya, walaupun dengan sedikit takut.


“Aku hanya ingin memberi kalian semua sedikit pelajaran, tidak lebih tidak kurang,” jawab Kaira dengan sangat santai.


“Pelajaran? Pelajaran apa itu?” Raven langsung bertanya, dia terlihat sangat penasaran. Sedangkan Tyhas hanya diam saja.


“Lihat saja nanti, jika kau ingin berpartisipasi siapkanlah beberapa Sumber Daya... Hei! Jangan diam saja, cepat tunjukan Desa kalian, waktu kami terbatas.”


“Ba-baik!” Orang-orang itu segera berdiri, kemudian memimpin Kiara, Tyhas dan Raven menuju Desa tempat mereka semua tinggal.


Will Continue In Chapter 56 >>>