
Dua Minggu sudah berlalu sejak hari penyerangan Neckro saat Festival Adamantine Peak terjadi.
Sejak hari itu hingga sekarang, ada banyak masalah telah terselesaikan, salah satu nya adalah menenangkan masa yang panik.
Mereka semua panik karena kawathir target selanjut nya adalah diri mereka, namun berkat Pasukan yang Raja Elc perintahkan, kepanikan dapat di redam.
Daerah Snow White Lotus yang tadi nya sangat sepi karena penduduk nya yang mengurung diri, kini berangsur-angsur mulai seperti normal kembali.
Tentu semua ini tidak akan terjadi jika para Pasukan Archimedes Kingdom tidak melakukan patroli untuk menjaga tempat-tempat tertentu.
Sementara itu, di kamar nya yang berada di dalam Istana, Kaira sedang merapikan pakaian nya. “Ini hari terakhir.” Kaira bergumam.
Tidak perlu waktu lama bagi Kaira untuk merapikan diri nya, setelah selesai Kaira pun meraih sebuah Naran yang berada di meja.
Naran adalah sebuah alat yang seorang Alchemist gunakan untuk membuat Pil. Barang itu Kaira dapatkan dari Raja Elc. Tidak hanya Kaira yang mendapatkan barang dari Raja Elc, tapi juga semua Peserta dari babak ketiga.
“Jelas-jelas Raja Elc tau bahwa aku tidak memiliki Elemen Api, tapi tetap saja dia memberikan Naran ini padaku.”
Kaira menghela nafas, kemudian memasukkan Naran itu ke dalam Dimension Ring, lantas berjalan di lorong Istana. “Lian menghilang secara misterius tepat setelah mengobati Raja Elc.” Lagi-lagi Kaira bergumam.
Lian, dia merupakan gadis yang sangat misterius. Tidak ada yang tau siapa dia dan dari mana asal nya, namun dia telah di konfirmasi sebagai penduduk Kota.
Tapi dia juga memiliki Curse Seal semakin menambah kemisteriusan nya, dan sekarang dia malah menghilang tanpa seorang pun ketahui.
Tidak sedikit orang yang ber 'spekulasi bahwa Lian adalah mata-mata dari Neckro yang sedang menyamar, sama seperti Vii.
Namun kemungkinan nya hampir nol, mengingat semua tindakan yang pernah dia lakukan. Seperti saat dirinya mengobati Raja Elc.
Bisa saja bukan Lian membunuh Raja Elc pada saat itu juga? Tapi tidak menutup kemungkinan bahwa dia sedang bersandiwara.
Belakangan ini Kaira terus memikirkan tentang Lian, karena merasa bahwa gadis itu ada kaitan nya dengan diri nya.
Sebab itulah Kaira sering bergumam sambil memikirkan tentang Lian. Mulai dari kata-kata yang pernah dia ucapkan, kapan saja Kaira pernah menemui nya dan masih banyak lagi. “Aku harus bertemu dengan nya suatu hari nanti.”
<----<>---->
Di Gerbang Kota Archi.
“Kalian, jaga diri kalian baik-baik.” Raja Elc berkata sambil menyerahkan tiga Teleportation Ring. Tyhas, Raven dan Kaira, masing-masing mengambil satu.
“Raja, terima kasih untuk semua nya.” Kaira membungkukkan badan nya, di ikuti dengan Tyhas dan Raven yang melakukan hal sama.
“Tidak perlu sungkan.” Raja Elc pun membalikkan badan nya. “Jangan sampai mati di perjalanan kalian!” Kemudian melesat kembali ke Istana.
Kaira, Tyhas dan Raven hanya diam memperhatikan Raja Elc yang semakin lama semakin menjauh, sampai wujud Pria itu menghilang.
Setelah itu Raven mengeluarkan Peta Benua Altesia, kemudian menempelkan nya di punggung Kaira. “Sekarang, kita kemana?” Raven bertanya sambil memperhatikan seisi Peta.
“Bukankah White Eagle?” Kaira sedikit heran dengan tindakan Raven.
“Bukan itu maksud ku, Tyhas, kau bilang kita harus mengunjungi suatu tempat dulu sebelum White Eagle kan?”
Karena mendengar pertanyaan Raven, Kaira langsung teringat dengan yang Tyhas katakan dua Minggu yang lalu.
“Danau Ordan.”
“Huh?!”
“La la lah?” Raven menggaruk kepala nya.
Danau Ordan adalah tempat yang sangat jauh dari lokasi mereka bertiga saat ini. Perlu perjalanan lebih dari sebulan untuk sampai ke sana.
Seakan memahami kebingungan kedua teman nya, Tyhas pun menunjuk Teleportation Ring yang baru saja dia terima dari Raja Elc. “Kita gunakan ini saja.”
“Tyhas, itu pemborosan...” Raven memasang tampang bodoh sambil menunjuk diri Tyhas.
Teleportation Ring adalah benda yang hanya bisa di gunakan sekali saja, jadi satu Teleportation Ring adalah benda yang sangat berharga.
Berbeda dengan Raven, Kaira menanggapi serius niatan Tyhas. “Apa kau ingin mengunjungi mereka?”
“Aaa... a... a.” Kaira tiba-tiba bergerak, membuat Peta Raven bergeser dari tempat nya. “Aku masukan saja,” gumam Raven.
Raven yang baru saja memasukan Peta nya kembali ke Dimension Ring, bertanya. “Mereka siapa?”
“Kau akan tau nanti. Aku berangkat dulu!”
WUNG!
Tubuh Tyhas bercahaya kebiruan saat Teleportation Ring itu dia aktifkan, secara perlahan dia hancur menjadi partikel kecil, lalu menghilang.
“Ugh... Kukira Teleportation Ring gratis ini akan kita gunakan untuk ke White Eagle.”
“Kau kira ke White Eagle biaya nya murah? Kita juga perlu mengumpulkan uang.”
WUNG!
Setelah berkata demikian, Kaira pun ikut berteleportasi menyusul Tyhas. Sedangkan Raven malah menggaruk kepalanya yang tidak gagal. “Seriusan aku harus membuang barang gratis yang mahal ini?”
WUNG!
<----<>---->
TAK!
“Sstt... Seperti nya aku mabuk teleportasi.” Raven memegangi kepala nya yang pusing akibat berteleportasi.
Tempat Raven mendarat tidak terlalu jauh dari tepi Danau, jadi dia bisa melihat di tepi Danau Ordan ada Kaira dan Tyhas.
“Oi-”
Raven baru yang berniat memanggil, segera berhenti karena menyadari Tyhas dan Kaira sedang berdiri di depan tiga makam. ‘Ah... Ternyata mereka ingin mengunjungi teman mereka.’
Karena tidak mau mengganggu, Raven pun memutuskan untuk duduk diam saja di sana, sambil memperhatikan sekeliling nya.
Di Tepi Danau Ordan.
Dengan lembut, tangan Kaira dan Tyhas membersihkan debu yang menempel pada batu nisan di tiga makam tersebut.
Di sana tertulis tiga nama yang sangat akrab bagi Kaira maupun Tyhas yaitu, Ferbian, Liana dan Lion, mereka adalah teman se 'Guild mereka dulu.
WYUUSH...!
Sedetik berikut nya, setelah tiga batu nisan itu bersih, mendadak muncul kabut yang secara perlahan membentuk tubuh tiga orang.
“Oi oi, apa kalian berdua kerasukan Jin sampai rela membuang Teleportation Ring demi mengunjungi kami?”
“Haha, ternyata lawakan mu masih saja buruk setelah mati, Ferbian.”
Kaira menepuk pundak Tyhas. “Itulah ciri khas nya. Benar bukan?”
“Hihihi... Ketua memang memiliki selera humor yang tinggi.” Liana tersenyum mengejek sambil melirik Ferbian.
“Beenar... Ketua hanyalah orang bodoh yang berselera humor rendah, tapi kenapa tetap dia yang menjadi Ketua?” Satu lagi sindiran bagi Ferbian, datang dari Lion.
Ferbian yang sudah terbiasa dengan semua perkataan itu, hanya merespon biasa saja, bahkan dia tertawa kecil.
Tidak menunggu lama, Ferbian mengalihkan pembicaraan. “Bisa kalian berdua jelaskan apa maksud kalian yang ingin berkomunikasi dengan kami?” Ferbian memilih untuk langsung ke inti nya saja.
Suasana tiba-tiba berubah menjadi serius setelah Ferbian selesai bertanya. Kaira dan Tyhas yang tadi nya menatap mata tiga teman mereka, kini menundukkan kepala.
“Apa kalian tidak marah?”
“Apa tidak ada sedikit pun rasa kecewa di hati kalian?” Tyhas melanjutkan ucapan Kaira.
Will Continue In Chapter 51 >>>
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Buat yang nggak paham, bisa ke Chapter 1