Magic War

Magic War
Ch 32 – Moonlight Archer



Bersamaan dengan Kaira selesai membatin, Lucas dan Rin menghentikan pertarungan mereka secara tiba-tiba, sedangkan Daryl melangkah menaiki Arena.


Raja Elc yang sudah menebak apa yang akan terjadi selanjutnya, segera berteriak. “Kalian semua!! segera pergi!!!”


Namun semua nya sudah terlambat, 60% dari para Penonton tiba-tiba berdiri, kemudian menyerang orang-orang yang berada di samping mereka.


SRASH!


Kaira, Raven, si Pria, Aranri, Anna dan Neku langsung melompat dari Podium Penonton, ekspresi keterkejutan terlihat jelas di wajah mereka.


Raja Elc berdecak kesal, ketika melihat banyak orang mati tanpa mengetahui apapun, sedangkan yang berhasil selamat, tengah melakukan perlawanan yang sulit.


Pandangan Raja Elc langsung beralih ke arah Arena, di sana Rin, Lucas dan Daryl sudah berubah wujud menjadi wujud mereka yang sebenarnya.


Tanpa menunggu lebih lama lagi, Raja Elc langsung menghampiri mereka bertiga dengan cara melompat dari tempat nya berdiri.


“Kalian berdua, urus Raja Elc. Aku sedang ada urusan yang lainnya.” Vii memerintah Rin dan Lucas yang sudah berubah menjadi Issei.


Mereka berdua hanya mengangguk. Setelah mendapatkan jawaban, Vii langsung melesat mengejar seseorang.


<----<>---->


Beberapa Menit Yang Lalu.


“Apa-apaan ini?!” Aranri mengerutkan dahi nya, melihat ribuan orang sedang saling bertarung.


“Ini bukan saat untuk terkejut, kalian harus segera mencari tempat aman!” Pria itu mengarahkan.


“Kalian pergi duluan saja, kau harus ke ruang medis untuk menyelamatkan Tyhas!” kata Kaira dengan nada kawathir.


“Aku ikut!” Raven memasang wajah serius.


Kaira dan Raven langsung berlari sekencang mungkin menuju ruang medis, tanpa memperdulikan orang-orang yang ada di belakang mereka.


Begitu pula dengan Pria itu, dia menyuruh Pemuda-pemudi yang ada di dekat nya sekarang ini, untuk mencari segera tempat aman.


Mereka semua tentu menolak, karena melihat ke delapan puluh Peserta yang lainya juga ikut dalam pertempuran. Apalagi banyak nya korban membuat mereka semakin terdorong untuk ikut membantu.


Walaupun mereka semua tidak paham dengan apa yang sebenarnya terjadi, tapi tetap saja, mereka merasa bertanggung jawab.


Pria itu hanya bisa menghela nafas. “Baiklah, terserah kalian saja!”


Para Pemuda-pemudi itu mengangguk pelan, kemudian berpencar ke segala arah untuk membantu yang lainya.


Bertepatan dengan berpencar nya Pemuda-pemudi tersebut, Raja Elc mendarat di atas Arena dan seorang Pria berambut pirang, berlari ke suatu arah.


Pria itu tidak menyadari keberadaan orang yang sedang berlari ke suatu arah tersebut, sebab itu dia langsung pergi untuk membantu yang lainya.


Di sisi lain, Kaira dan Raven sudah dekat dengan pintu masuk lorong menuju ruang medis, namun langkah mereka berdua harus terhenti.


Karena ada seorang Pria berambut pirang yang sedang berdiri di situ, menghadang langkah mereka berdua. Pria itu tidak lain tidak bukan adalah Vii.


“Kalian berdua pasti ingin menyelamatkan anak nya Moonlight Archer kan?” Vii bertanya sambil tersenyum menyeringai.


“Maksud mu Tyhas?” tanya Raven.


“Ya begitulah, aku sendiri tidak tau nama nya siapa.”


“Memang nya apa mau mu?! Tyhas tidak ada urusan nya dengan mu, jadi cepatlah menyingkir!” Kaira terlihat sangat marah.


“Kau ini bocah tau apa? Dan juga jangan sampai bertindak gegabah, atau kau akan langsung mati dalam satu serangan... Nanti mainan ku bisa hilang.” Vii kemudian terkekeh.


Ekspresi wajah Kaira dan Raven menjadi buruk, sebab mereka berdua paham betul dengan kekuatan yang Vii miliki.


Mereka berdua sadar, tidak ada kesempatan sedikit pun bagi mereka untuk menang jika melawan Vii, namun tidak ada pilihan lain, demi menyelamatkan Tyhas.


‘Raven, kita akan menerobos secara paksa.’ Kaira melakukan telepati.


‘Baiklah.’


Kaira dan Raven pun memasang kuda-kuda siap menyerang. Four Crystals juga Kaira keluarkan dari Dimension Ring nya.


Vii tersenyum menyeringai melihat Kaira dan Raven yang tidak kabur. Dia pun mengangkat telunjuk nya sampai sejajar dengan wajah nya. “Cukup dengan ini, aku sudah bisa mengalahkan kalian.”


Raven melesat maju, sedangkan Kaira menyerang dari belakang menggunakan Jurus Sword Misery, yang sudah tercipta puluhan.


Kaira dan Raven berharap, dengan serangan yang mereka berdua lakukan saat ini, bisa menyibukkan Vii sejenak, namun yang terjadi berikutnya bukanlah hal itu.


TAK!! CTAK!!!


“Itu... Terlalu... Cepat...!”


BRUAK!!!


Seperti yang Vii katakan sebelum nya, dia hanya perlu menggunakan telunjuk nya saja untuk mengalahkan Kaira dan Raven.


Perkataan tersebut terbukti saat Vii bergerak dengan sangat cepat, menyerang Kaira dan Raven hingga mereka berdua terpental, menabrak Podium Penonton.


Akibat serangan tersebut, beberapa tulang rusuk Kaira patah, membuat nya memuntahkan darah segar yang begitu banyak. Raven juga mengalami hal serupa.


Rasa sakit yang luar biasa Kaira rasakan, dia sangat ingin sekali berteriak, namun darah di kerongkongan nya menahan suara nya.


“Yah... Kalian berdua malah mati?” Vii menatap Kaira dan Raven yang saat ini sedang diam tak bergerak menempel di Podium Penonton, dengan tatapan kecewa.


“Padahal aku sudah berharap pada kalian berdua... Tapi masih ada Raja Elc sih.” Vii menengok ke arah Arena.


Walaupun bertingkah demikian, Vii tetap tidak lupa dengan tujuan utama nya, yaitu mencapai kebenaran Seven Deadly Sins.


Sambil memandangi sekeliling Stadium yang saat ini sudah menjadi medan pertempuran berdarah, Vii memikirkan tentang Seven Deadly Sins.


Awalnya Vii sempat mengira bahwa Kaira adalah Seven Deadly Sins, bahkan dia sampai memata-matai Kaira demi membuktikan nya.


Tapi pada akhirnya Vii tidak menemukan cukup bukti untuk menganggap bahwa Kaira adalah Seven Deadly Sins.


‘Dimana mereka berdua sekarang?’


Kalau perkataan Pemimpin Neckro benar, seharusnya dua orang Seven Deadly Sins itu ada di sini. Tapi kenapa Vii belum menemukan mereka dari beberapa hari yang lalu? Itulah yang setidak nya Vii pikirkan.


Pria berambut pirang itu menghela nafas, berusaha untuk tidak memikirkan nya lagi. Dia pun berjalan masuk ke dalam lorong setelah beberapa saat.


Namun langkah nya harus terhenti karena sebuah tangan yang berlumuran darah, mencengkram kaki nya. “Tak-an ku biar-kan... Kau per-gi...”


<----<>---->


Di saat yang sama, di gerbang Kota Archi, ada dua orang Pria sedang membantai seluruh penjaga gerbang. Mereka berdua melakukan nya dengan sangat membabi buta.


Darah dan berbagai anggota tubuh Manusia terlempar kemana-mana. Mengotori seluruh gerbang masuk Kota.


Beberapa menit kemudian, seluruh penjaga sudah habis mereka berdua bantai. Tidak ada satupun penjaga yang tersisa, semuanya mati mengenaskan.


“Haah... Penyerangan yang tidak jelas ini membuat ku kesal saja.” Salah satu dari dua Pria itu berdecak kesal.


Sekarang dia sedang menyandarkan tubuhnya di dinding pembatas Kota, sambil melipat kedua tangannya di depan dada, wajah juga nya terlihat tidak senang.



“Kau ini terlalu aneh, Lucas. Bukankah bertarung itu menyenangkan?” tanya teman nya.


*Note: Dia Lucas yang asli, kalau Lucas Leonhard itu, cuma Issei yang menyamar. Untuk penyesalan nya, di tunggu aja.


“Ya ya, terserah padamu... Oh ya Heldrik, setelah ini kita harus kemana?”


“Kalau tidak salah, kita di tugaskan untuk menyandra para Warga yang masih berada di Kota!” Heldrik nampak bersemangat.



“Kalau begitu, ayo cepat kita selesai-”


“Maaf mengganggu, tapi kalian tidak akan bisa melakukan niatan kalian.”


Suara lembut tersebut, langsung membaut Heldrik dan Lucas, menengok ke arah yang sama. Dia mana seorang gadis sedang berdiri sambil menatap mereka berdua dengan tatapan serius.


Will Continue In Chapter 33 >>>