
Dengan menggunakan Hellblaze, dalam kurun waktu kurang dari semenit seluruh bahan yang ada telah berhasil di lelehkan menjadi cairan kental.
Viole sempat membuang nafas sejenak, sebelum mengarahkan seluruh bahan itu ke dalam Naran yang sudah tersedia.
Api Hitam Hellblaze, membawa seluruh cairan kental ke dalam Naran untuk membuat Pil Zresein.
Naran adalah sebuah pot khusus yang di gunakan untuk mencetak Pil. Setelah bahan-bahan di cairkan, proses selanjut nya adalah pencetakan di dalam Naran.
Benda ini memiliki dua corong di sisi kiri dan kanan. Guna nya adalah untuk mengeluarkan hawa panas ketika proses pencetakan terjadi.
Proses ini seharus nya tidak terlalu sulit bagi Alchemist normal, namun berbeda dengan Viole yang baru kali ini mencoba membuat Pil.
Jadi Proses pencetakan terasa jauh lebih sulit bagi nya dari pada Proses pencairan bahan. Karena dia lebih terbiasa menggunakan Sihir.
Mata Instruktur yang hanya diam mengamati, langsung terkunci ke arah Viole, ketika dia sedang mencetak Pil. “Cepat juga.”
Sebenarnya Viole bukan satu-satu nya yang sedang dalam proses pencetakan, ada satu orang lagi. Yaitu seorang Demi - Human, dia bahkan terlihat lebih ahli dari pada Viole.
Tapi yang menarik perhatian Instruktur itu bukanlah keahlian Viole, melainkan gabungan Elemen yang dia gunakan.
Api Hitam menandakan bahwa dia menggabungkan Elemen Api dengan Elemen Kegelapan. Namun kenyataan nya yang Viole gunakan bukanlah dua Elemen itu.
Dia memang melihat ada sebuah tanda hitam aneh di kening Viole, serta mata nya yang berubah menjadi merah gelap.
Tapi dia tidak mencurigai Viole sama sekali, karena memang terjadi perubahan pada bagian tubuh saat menggunakan Sihir adalah hal wajar.
“Menarik.” Instruktur yang tidak tau kenyataan di balik Elemen Api Viole, semakin tertarik pada Pemuda itu.
WEEEIUUS...! CEKRAKN!!
“Selesai!” Demi - Human itu langsung mengangkat Pil buatan nya ketika sudah selesai di buat. Aroma harum perlahan menyebar ke seluruh ruangan, sama persis dengan milik gadis berjubah itu.
Dia pun menengok ke arah gadis berjubah yang pertama kali menyelesaikan ujian masuk. Gadis itu sekarang sedang duduk di kursi, tepat di samping pintu masuk.
Entah kenapa dia tidak keluar ruangan, padahal di izinkan untuk keluar ruangan, juga melihat-lihat pohon Spirit Fruit dan Magic Plant yang ada di sini.
“Aku tidak akan kalah!” ucap Demi - Human itu saat memandangi gadis itu.
<----<>---->
Melihat ada yang kembali berhasil menyelesaikan ujian, membuat konsentrasi Viole sedikit goyah. “Ck! Entah kenapa rasa nya sedikit menjengkelkan!”
Tapi Viole segera mengembalikan fokus nya pada pembuatan Pil. Dia menggabungkan langsung seluruh bahan di dalam Naran.
Asap putih mengepul keluar dari kedua corong Naran nya. Tidak lama kemudian suara dentuman besi terdengar memenuhi ruangan, tanda bahwa Viole berhasil membuat Pil Zresein.
“Hah... Hah... Hah... Pengalaman pertama yang buruk.” Viole mengelap peluh yang ada di kening nya, kemudian mengambil Pil buatan nya dari dalam Naran.
Segera Viole mendekatkan Pil itu ke hidung nya, dan hasil nya... Tidak bagus. “Sial, sudah ku duga ini akan terjadi. Tidak ada aroma harum sedikit pun.”
PRAK!
Karena merasa kesal, Viole secara spontan melemparkan Pil pertama nya itu ke lantai, hingga pecah menjadi keping-kepingan kecil.
“Diam lah, muka hitam!” Viole tiba-tiba berbicara sendiri, tapi tidak ada yang memperdulikan nya. Bahkan Instruktur yang dari tadi memperhatikan nya.
Mereka hanya menganggap Viole merasa kesal, dengan pikiran yang di isi oleh seseorang. Dan itu benar.
‘Buahahaha! Tidak hanya tanpa aroma, tapi Pil mu dalam sekali banting saja sudah hancur. Hahahaha! Aduh perut ku sakit!’
‘Kheehk... Jangan membuat ku kesal, Pria aneh!’
“Eh?”
Tiba-tiba saja, gadis berjubah itu lewat di samping Viole. Dan entah kenapa, dia memberi tau Viole cara membuat Pil yang baik dan benar.
Gadis itu hanya melintas untuk berbisik pada Viole, kemudian dia melangkah keluar ruangan ini. Ada beberapa pasang mata yang memperhatikan nya, sampai benar-benar menghilang.
Tapi mereka tidak menyadari apa yang barusan gadis itu bisikan pada Viole, kecuali satu orang.
‘Bocah? Tunggu apa lagi?’
‘Lebih baik kau menenggelamkan wajah mu ke lautan api, pak tua.’
<----<>---->
WUUUURS...!
Viole langsung mengangkat Magic Plant yang tersedia, lantas membakar nya di udara menggunakan api yang sama, Hellblaze.
Sesudah bahan-bahan tersebut berubah menjadi cairan kental, Naran menjadi tempat selanjut nya yang akan Viole gunakan.
Sekarang dia tidak memasukan seluruh cairan yang ada, melainkan satu-persatu secara perlahan, agar tidak terjadi kerusakan.
Semua nya berjalan lancar, meskipun agak sedikit susah jika begini. Tapi setidak nya, cara ini akan memberikan hasil yang lebih bagus.
Ketika proses pertama selesai, dia lalu memulai proses pencetakan. Pertama-tama Viole membuat lingkaran kecil dari cairan kental yang mengandung Magi paling banyak, fungsi nya adalah sebagai inti.
Kemudian di lanjutkan dengan melapis' kan cairan dari Magic Plant yang memiliki Magi satu tingkat dibawah cairan sebelum nya. Dan begitu seterusnya, sampai membentuk sebuah Pil.
Proses itu dia lakukan dengan sangat hati-hati, karena Viole tidak mau melakukan kegagalan lagi. Sedikit aneh rasa nya cucu dari God of the Alchemist gagal dalam membuat Pil Level 2.
Meskipun hanya sedikit yang tau siapa itu cucu dari Izura Zhen.
Setelah bola kecil yang kental terbentuk, Viole segera mengeraskan nya. Di saat yang sama, suara dentuman besi terdengar memenuhi ruangan.
“Hesh... Tujuh menit, dua menit lebih lama dari yang sebelum nya.” Viole menghembuskan nafas, sambil memandangi Naran nya yang masih di selimuti oleh asap.
WUSH! WUSH!
Viole pun mengibaskan tangan ya untuk menyingkirkan seluruh asap putih itu. Sampai memperlihatkan Pil nya nampak lebih baik dari sebelum nya.
Saat itu juga, senyuman bahagia merekah di wajah Viole. “Haha! Ini bekerja.” Viole kemudian memungut Pil Zresein itu, aroma harum menyertai nya.
Rasa nya Viole ingin sekali melompat karena sangking senang nya. Pil ini bisa di bilang adalah Pil petama yang bisa dia buat dengan baik.
Dalam dua kali percobaan, dan hanya berbekal ilmu dari masa lalu. Apa yang Viole lakukan ini hanya bisa di tiru oleh para jenius.
Langsung saja Viole menuju meja Instruktur bersama Pil hasil karya nya. Instruktur yang dari tadi memperhatikan nya, meluluskan Viole begitu saja.
“Saran dari gadis itu ternyata sangat berguna bagi mu.”
“Ah! Anda menyadari nya?” tanya Viole.
Pertanyaan Viole membuat Instruktur menaikan sebelah alis nya. “Kau kira aku ini orang sembarangan?”
“O- ahaha, benar juga.” Setelah itu, Viole melangkah perlahan keluar dari ruangan ini.
Sampai Viole telah menyelesaikan ujian nya, masih banyak Murid lain yang sedang berusaha untuk menyusul. Bahkan ada yang malah gagal.
Will Continue In Chapter 80 >>>