Magic War

Magic War
Ch 56 – Pelajaran Atau Pemberian?



Setelah berjalan selama beberapa menit, akhirnya mereka semua sampai di sebuah Desa tempat nya tinggal orang-orang itu.


Kaira, Tyhas dan Raven cukup terkejut ketika melihat tempat tinggal orang-orang itu berada di dekat pohon raksasa yang mereka lihat tadi.



Kalau di lihat dari jauh pohon raksasa itu memang hanya pohon, namun ketika di dekati ternyata ada Desa kecil di dekat nya.


Tidak hanya itu, di dekat Desa kecil tersebut juga ada sumber air nya, yang sangat besar dan membentuk sebuah air terjun.


Ditambah dengan Pegunungan yang mengelilingi nya, Desa tersebut jadi memiliki pemandangan yang sangat indah.


“Sky Tree.” Kaira membaca nama Desa tersebut, yang tercantum di gerbang masuk. “Hm... Dimana kepala Desa kalian?”


“Ka-kami akan segera memanggil beliau...” Mereka semua pun bergegas memasuki Desa, masih dengan perasaan takut dan was-was.


Setelah semua orang itu tidak terlihat lagi, Tyhas melirik ke arah Kaira. “Apa yang ingin kau lakukan?”


Tanpa menengok ke arah Tyhas, Kaira menjawab. “Memberi mereka semua pelajaran, dengan cara membantu.”


“Apa kita akan mendapatkan keuntungan dari niat mu itu?”


“Tentu, tapi keuntungan nya tidak bisa kita rasakan untuk saat ini.”


Tyhas menghela nafas panjang. “Ya ya, terserah. Aku tidak akan ikut campur, lakukan lah sesukamu.”


“Kaira! Aku sudah menyiapkan beberapa Sumber Daya di Dimension Ring bekas pemberian Clerick.” Raven menyerahkan sebuah Dimension Ring.


Tanpa basa-basi Kaira langsung mengambil nya. “Aa... Terima kasih.”


“Hei lihat, dia sudah datang.” Tyhas menunjuk seorang Pria tua yang sedang berlari dengan tergopoh-gopoh.


Tidak lama kemudian, dia sampai di hadapan Kaira, Tyhas dan Raven. “Maaf, apa yang bisa saya bantu?” Tubuh nya terlihat gemetaran, entah karena takut atau lelah setelah berlari.


“Siapkan ruangan khusus untuk aku dan diri mu berbicara dan pastikan tidak ada yang mendengar pembicaraan kita.”


“Baik! Akan segera saya siapkan!” Tanpa pikir panjang, Kepala Desa pun pergi untuk menyiapkan ruangan khusus yang Kaira minta.


“Aku pergi, kalian berdua tunggu disini dulu.” Setelah berkata demikian, Kaira langsung berjalan memasuki Desa.


“Dari pada menunggu, lebih baik aku mencari sesuatu yang bagus, jaga diri mu!”


WUSH!


“Aku ikut Tyhas! Tunggu aku!”


WUSH!!


<----<>---->


KRIIEET...! DAK! CEKLEK!


“Jadi, apa yang ingin anda bicarakan, Tuan Muda?” Setelah menutup rapat pintu ruangan, Kepala Desa pun memulai pembicaraan.


“Sebelum itu, saya ingin mengetahui beberapa hal. Pertama, kenapa orang-orang tadi malah bertarung dengan Gargantua? padahal terlihat jelas kekuatan mereka sangat berbanding terbalik dengan Mystical Beast itu.”


“Ah! Kebetulan saya baru saja bertanya kepada mereka dan mereka menjawab.” Kepala Desa menjelaskan bahwa semua itu terjadi karena tidak sengaja.


Awal nya orang-orang itu bertugas untuk berburu hewan liar, namun tanpa sengaja mereka membangunkan Gargantua yang sedang tertidur.


Alhasil Gargantua mengamuk, lantas menyerang mereka semua. Mereka beruntung karena masih bisa selamat, itu juga karena Kaira, Tyhas dan Raven.


“Emm... Baiklah, kalau begitu yang kedua. Apa yang kalian lakukan di tempat terpencil seperti ini?”


Mendengar pertanyaan itu, membuat Kepala Desa menghela nafas. “Ini semua berawal saat Desa kami di serang oleh Bandit.


Beruntung, mereka semua hanya merampas harta kami dan hanya membunuh beberapa orang saja, jujur aku sangat kasihan pada mereka yang harus mati.


Waktu itu kami benar-benar hancur, tidak memiliki harta sedikitpun. Saya sebagai Kepala Desa segera membuat keputusan, karena sudah tidak tahan dengan semua nya.


Saya membuat keputusan untuk para warga Desa yang selamat mengungsi ke tempat yang aman tanpa terikat oleh Pemerintah dan tempat inilah yang kami temukan.”


Ketika mengakiri cerita nya, terlihat kesedihan di raut wajah sang Kepala Desa. Sebagai seorang yang lahir dan tumbuh di Desa tersebut, dia jelas tidak rela jika harus pergi begitu saja.


“Baiklah, terima kasih atas penjelasan nya. Ketiga, apakah anda merasa membutuhkan kekuatan?” Ekspresi Kaira terlihat datar.


“Heeh...?” Kepala Desa yang tadi menundukkan kepala nya, kini mengangkat nya sambil menatap mata biru Kaira.


“Ya, kekuatan, apa anda membutuhkan nya? Jika iya, saya bisa memberikan nya, walaupun hanya kekuatan kecil.”


Setelah itu, Kaira langsung mengeluarkan sepuluh Gulungan yang merupakan Jurus dan Teknik. Serta beberapa Senjata, seperti Pedang dan Busur.


Jelas Kepala Desa sangat terkejut dengan pemberian Kaira, semua itu memang hanya barang biasa, namun tidak bagi Kepala Desa.


“Anda bisa memiliki semua ini tanpa perlu membayar, anda hanya perlu memegang sebuah janji yang tidak akan pernah anda ingkari.”


“A-apa itu?”


“Bantulah saya saat saya membutuhkan bantuan di masa depan nanti, apa anda bisa berjanji?” Kaira bertanya dengan nada serius.


Pertanyaan itu membuat Kepala Desa dilema, dia sempat berpikir selama beberapa waktu agar tidak salah mengambil keputusan, sebelum menjawab. “Baik, kapanpun anda membutuhkan kami, kami pasti akan membantu.”


Kaira tersenyum mendengar jawaban tersebut. ‘Kekuatan mereka memang akan kecil dengan semua barang ini, tapi aku percaya di masa depan, mereka akan memiliki kekuatan yang besar. Ini kulakukan hanya untuk memberi dorongan saja.’


“Kepala Desa, anda bisa segera memberikan semua ini kepada Penduduk Desa agar mereka dapat segera berlatih.”


“Tentu, saya akan memberikan nya segera... Oh ya, anda mau makan dulu, Tuan Muda? Kami punya masakan daging yang lumayan enak.” Kepala Desa menawarkan.


“Ah, tidak perlu repot-repot. Lagi pula daya harus segera melanjutkan perjalanan saya.”


“Kalau begitu, mau saya antar 'kan sampai ke gerbang Desa?” Pria itu jelas merasa tidak enak jika tidak memberikan apapun pada Kaira, setelah apa yang Pemuda itu berikan pada nya.


<----<>---->


“Fokus lah pada pelatihan yang akan anda lakukan.” Setelah berkata demikian, Kaira langsung terbang menggunakan Sword Misery, meninggal kan Kepala Desa yang sedang melambaikan tangan nya.


“Oh ya, Terima kasih atas pemberian anda, Tuan Muda!!” Kepala Desa berteriak, namun tidak di dengar oleh Kaira, karena dia sudah terbang terlalu jauh.


“Sekarang saat nya mencari mereka.”


Dari atas langit, mata Kaira bergerak kesana-kemari mencari Tyhas dan Raven yang tadi sedang mengelilingi hutan untuk mencari sesuatu yang unik.


Namun setelah mencari selama beberapa menit, Kaira tidak menemukan apa-apa, merasakan keberadaan mereka saja tidak bisa Kaira lakukan.


Seketika Kaira menjadi panik, hingga tanpa sadar dia menambah kecepatan terbang nya sampai yang tercepat.


“Sial! Apa yang terj-”


DANG!!! WUNG! BRUK!!


“Aduuuh...! Apa itu?!”


Karena terbang terlalu cepat, membuat Kaira tidak sadar telah menabrak sesuatu.


“Kaira, coba lihat ke arah sana.” Suara Raven terdengar, entah itu benar dia atau bukan.


“Huh? Apa-?! itu...” Kaira yang sempat bingung, kini menjadi tercengang karena melihat pemandangan mengerikan di hadapan nya itu.


Mata nya melebar, seketika itu juga rasa sakit nya akibat menabrak sesuatu tadi menjadi menghilang. Sekarang digantikan dengan rasa tidak percaya.


Will Continue In Chapter 57 >>>