
Pada pagi hari nya Kaira terbangun, dirinya langsung menuju ke kamar mandi. Beberapa menit kemudian dia keluar dengan wajah yang lebih segar.
Di depan kaca cermin Kaira merapikan pakaian nya, sebelum berjalan ke halaman belakang yang ada di Penginapan.
Kaira pergi kesana dengan tujuan untuk berlatih, mumpung masih pagi tidak ada salahnya untuk berlatih sejenak.
“Ice - Elemental Magic - Jade Emperor Ring!”
DRUAK!! KREEEK...! BRAK!
Sebuah pohon besar menjadi sasaran serangan Kaira. Pohon tersebut pun tumbang dengan keadaan terbelah menjadi dua.
Suara pohon yang tumbang itu, membangunkan seluruh orang yang masih terlelap di Penginapan. Walaupun di bangunkan dengan paksa, mereka tidak marah sedikit pun.
“Ice - Elemental Magic - Needle of Life!”
Sekali lagi Kaira melancarkan sebuah serangan pada pohon yang sama. Puluhan jarum yang terbuat dari es, terbentuk secara perlahan di atas kepala Kaira.
CRATAK!! TAK! CRETAK!
Jarum-jarum tersebut sukses membuat pohon besar itu hancur menjadi kepingan-kepingan kecil.
“Metal - Elemental Magic - Iron Fist!”
Tanpa peringatan seorang Pemuda melancarkan sebuah pukulan dari arah belakang. Namun dengan mudah nya Kaira hindari, lantas dia membalas dengan tendangan.
TUNG!!
Kaira bisa merasakan kaki nya seperti menendang sebuah besi, dan saat dia melihat ke arah apa yang dia tendang, ternyata sebuah lengan yang berwarna silver.
“Tyhas?!”
Kaira langsung bisa mengenali siapa yang sedang dia lawan saat ini. Dia pun menurunkan kaki nya. “Apa yang kau lakukan di sini?”
“Aku yang seharusnya bertanya begitu,” kata Tyhas sambil menghilangkan Sihir yang ada di tangan nya.
Kaira tersenyum canggung. “Haha... Hanya latihan kecil.”
“Untuk apa?”
“Bukan apa-apa.”
Obrolan mereka berdua pun mengalir bak air sungai dan baru berhenti saat tiba jam Festival Adamantine Peak di mulai.
<----<>---->
“Semoga beruntung kawan!” Raven memberi Tyhas semangat.
“Kau harus menang.” Kaira melanjutkan.
Tyhas hanya tersenyum tipis. “Ice Lotus ku sedang rusak, membuat kemungkinan ku untuk menang berkurang... Jadi terima kasih atas dukungan nya.”
Setelah berkata demikian, Tyhas langsung melompat ke Arena, menghadap Divan yang sudah di situ terlebih dahulu.
Wajah Tyhas terlihat biasa saja, namun pikiran nya tidak demikian. Dia masih kepikiran tentang perdebatan nya dengan Raven kemarin malam
Raven yang terlihat normal-normal saja, menambah beban pikiran nya. Tapi Tyhas sadar, bukan saat nya memikirkan tentang hal itu.
Karena dia harus fokus untuk menghadapi lawan yang ada di hadapan nya sekarang ini, Divan.
“Babak final pertandingan pertama... Dimulai!!”
Pertandingan nya memang sudah di mulai, namun belum ada dari kedua nya yang maju untuk menyerang.
Mereka berdua masih saling menatap satu sama lain, berusaha memikirkan cara paling efektif untuk memenangkan pertandingan ini.
Saat ini kedua nya sedang tidak berada pada posisi yang menguntungkan. Divan sudah menggunakan strategi Racun nya di awal, jadi menggunakan strategi yang sama bukan lah pilihan yang tepat.
Sedangkan Tyhas kehilangan senjata andalan nya, yang memaksa diri nya untuk mengubah gaya bertarung nya.
Kedua Pemuda itu masih saling menatap untuk beberapa waktu, para Penonton yang mengasikkan hal tersebut dari tadi menjadi tegang.
Mengharapkan aksi gila yang akan mereka berdua lakukan untuk memenangkan pertandingan ini.
“Hei kau tau?” Divan membuka pembicaraan.
“Apa?”
“Sepertinya tidak ada cara lain selain kita bertarung dengan tangan kosong.”
“Hm... Kalau begitu kita mulai saja.” Tyhas memasang kuda-kuda.
“Fire Metal - Elemental Magic - Devil's Hand...”
KREEK...! WUUUR!!!
Besi keras menyelimuti tangan Tyhas secara perlahan, di ikuti oleh kobaran api yang cukup besar.
“Earth - Elemental Magic - Super Gloves!”
Sihir yang sama seperti yang Divan gunakan kemarin, kembali dia gunakan, namun kali ini dalam sekala yang lebih besar.
DUASH!!
Mereka berdua pun mulai beradu serangan, pukulan dan tendangan mereka berdua lancarkan dengan begitu cepat.
Dari sepuluh serangan yang Tyhas lontarkan, ada 4 - 6 serangan nya yang berhasil mengenai Divan. Sedangkan serangan Divan sangat sedikit sekali yang mengenai Tyhas.
Itu karena Jurus Heavenly Luck yang dia gunakan, membuat keberuntungan nya meningkat. Divan yang merasa akan segera terpojok, mulai memutar otak.
Memikirkan rencana sambil bertarung bukanlah hal yang mudah, jadi perlu waktu selama beberapa menit bagi Divan untuk memikirkan sebuah solusi.
“Fire Wolf Punch!”
DUAKH!!
“Eg!”
Mata Tyhas melebar saat pukulan nya mengenai wajah Divan dengan begitu mudah nya, seakan-akan Divan sengaja tidak menghindar.
Memang saat ini dia sedang menggunakan Heavenly Luck, namun kejadian ini tidak mungkin akan terjadi semudah itu.
Divan tersenyum tipis ketika menyadari keterkejutan Tyhas. Menyadari hal tersebut Tyhas langsung berniat untuk mundur, namun sudah terlambat.
Memanfaatkan kelengahan Tyhas, Divan pun menahan gerakan lawan nya itu menggunakan Sihir nya.
Di bawah kaki Tyhas ada semacam tanah yang menahan gerakan kaki nya. “Ugh... Sialan...” Tangan Tyhas memang masih bisa di gerakan, namun tanpa kaki, tangannya tidak akan berguna.
Sedangkan menghancurkan Sihir itu menggunakan lengan nya akan percuma saja, karena Divan bisa dengan bebas memperbaiki nya, bahkan menambah sekala nya.
Divan mengusap bekas pukulan Tyhas tadi. “Membuat mu lengah dan memanfaatkan nya, itulah rencana ku.”
“Untuk apa kau memberitahukan nya?” tanya Tyhas.
Jarak antara Divan dan Tyhas tidak cukup dekat, karena itulah Divan berani berbicara dengan musuh nya itu.
“Tidak ada yang khusus, hanya untuk memberi tau mu.”
“Kalau begitu terima kasih, oh ya, sebagai tanda terima kasih ku, akan ku beri tau bahwa RENCANA KITA SAMA!”
BRAK!!
“Apa-?!”
Langsung saja Divan bergerak mundur, karena Tyhas tiba-tiba bisa terbebas dari kekangan Sihir milik nya. Lalu bergerak menjauh.
“Apa-apaan ini?! Seharusnya kau sudah tidak punya Magi untuk melepaskan diri!”
“Ya, seharusnya memang begitu, tapi aku punya sedikit trik untuk mengakali nya.” Tyhas menjelaskan sambil terengah-engah.
Bagi orang setingkat Tyhas, menggunakan gabungan dua Elemen akan memakan banyak Magi nya, di tambah Jurus setingkat Heavenly Luck, sudah pasti Magi Tyhas akan terkuras habis.
Karena sudah memperkirakan itu semua sejak awal, Tyhas pun mengakali nya dengan menyimpan cadangan Magi di lengan nya yang saat ini sedang di selimuti oleh api. Untuk di gunakan di saat-saat darurat.
“Ck! Ini diluar perkiraan ku...” Divan berdecak kesal.
“Kenapa kau begitu marah? Tidak ada yang di untung kan di antara kita. Kau babak belur, sedangkan aku kehabisan Magi... Kita sama-sama menyedihkan sekarang ini.”
Divan tidak merespon, melainkan langsung melesat ke arah Tyhas, menyadari hal tersebut Tyhas segera memasang kuda-kuda siap tempur.
Pertarungan antara mereka berdua pun kembali di mulai, namun kini terlihat lebih seimbang, tidak ada yang di atas angin di antara keduanya.
Divan menggunakan Magi yang dia miliki saat ini untuk menambah kekuatan fisik nya, mengingat tubuh nya saat ini di penuhi oleh luka bakar dan lebam.
Di sisi lain Tyhas yang fisik nya masih cukup baik, bisa mengimbangi Divan hanya dengan Tenaga Murni saja. Namun perlu usaha yang lumayan besar.
Aksi baku hantam tersebut berlangsung selama beberapa menit kemudian, sampai pada akhirnya berhenti saat mereka berdua mendaratkan pukulan di masing-masing lawan nya.
BUAKH! BAKH!
Para Penonton menahan nafas mereka, penasaran dengan siapa yang akan menang di pertandingan ini.
Tyhas dan Divan masih belum bergerak sedikit pun setelah serangan terakhir itu, dan Sihir mereka berdua masih ada. Karena setelah beberapa menit mereka masih belum bergerak, Daryl pun memutuskan untuk memeriksa keduanya.
Daryl hanya menghela nafas setelah memeriksa kondisi mereka berdua. “Tidak ada yang menang! Mereka berdua pingsan di saat yang bersamaan!!”
Seluruh Penonton bahkan Raja Elc pun terkejut dengan jawaban tersebut, sebab mereka tau bahwa yang bisa pingsan atau mati dalam keadaan berdiri hanyalah orang yang memiliki tekad yang kuat.
Will Continue In Chapter 31 >>>
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Nanti malam bakal ada satu Chapter lagi...