Mafia Girls

Mafia Girls
EPS 98



" Tch tch apa perlu mereka berpelukan seperti itu ? tidak sopan sekali ". Saat bertemu pertama kali, dia baik-baik saja tidak mempermasalahkan. Namun Jeffrey tetaplah Jeffrey yang tidak menerima penolakan, mereka bisa diam-diam melakukan hal merugikan pada orang yang menolak nya.


" Sudahlah mom, itu urusan mereka ". Ucap Lio di saat emosi mommy nya akan meluap dan Lio tidak akan membiarkan itu terjadi. Alasan nya karena kesan awal adalah baik-baik saja dan Lio tidak ingin kedua orang tua nya memperburuk ke adaan.


" Jangan tersenyum seperti ini lagi di hadapan semua orang aku tidak suka ". Seru Edward mendapat tatapan jengah dari ketiga kaka Ruby.


" Mommy juga sangat berterimakasih kepadamu Ed telah menjaga nya sampai seperti ini ". Tutur Nameera mengusap lembut pipi Edward dan di balas dengan senyuman.


" Kau juga jangan tersenyum seperti itu ". Cubit Ruby di pinggang Edward.


" Kalian memang pasangan yang sangat cocok ". Ledek Revin karena mereka begitu saling posesif.


" Bilang aja sirik apa susahnya ". Timpal Ruby membuat Revin kesal.


" Siapa juga yang sirik, lihat saja nanti ". Bantah nya.


" Mom, selamat ulang tahun ! maaf aku tidak membawa hadiah untuk mu ". Ucap Ruby


" Tidak tidak, mommy sudah bahagia dengan kamu memaafkan mommy sayang, terimakasih ". Peluk Nameera singkat.


" Hitu dong, udah tua masa masih saja minta hadiah ! ingat umur mom ". Ujar Revin memecah haru suasana di sana.


" Mulutmu semakin kesini semakin pedas ya, kakek tidak habis pikir ". Ucap Kakek Han bergabung di sana.


Setelah drama selesai mereka semua turun dan Nameera sibuk menerima salam dan ucapan selamat dari para tamu undangan, mereka semua tidak lagi berkumpul bersama anggota keluarga.


Ruby dan juga Edward bergabung dengan teman-teman nya dan ketiga kakaknya bercengkrama dengan rekan bisnis mereka.


" Apa aku ketinggalan informasi ?". Tanya Ruby yang sedari tadi mendengar mereka mengobrol.


" Kemana saja kamu dari tadi by, kan jadi ketinggalan informasi penting ". Ujar Meili


" Tapi Mei, aku masih penasaran siapa sebenarnya presdir perusahaan ini !". Ucap Reina memasuk kan makanan nya kedalam mulut kecil nya itu.


" Apa kalian tidak sama dengan ku ?". Ucap Reina kembali menatap kepada keempat pria yang duduk bersama nya.


cek,,cek,,cek


Karena semua yang ada di dalam perayaan begitu penasaran siapa kah pimpinan misterius yang begitu susah untuk mereka temui dan tidak pernah sekalipun tampil di depan publik, Revan langsung kembali mengambil mic yang terletak di meja podium, sedari bertukar cakap dengan rekan bisnisnya yang selalu saja menanyakan hal sama. Untuk itu Revan tidak segan lagi memberitahu mereka semua itu pun dengan persetujuan dari Edward yang kebetulan pandangan nya tidak terhalang oleh orang lain. Revan yakin apapun keputusan Edward akan jadi keputusan Ruby juga.


Semua mata di sana tertuju kepada Revan. " RUBY ALDERIA SMITH ". Ucap Revan membuat semua orang penasaran dan menajamkan pendengaran dan juga penglihatan nya sesekali mengerutkan dahi mereka.


" By di panggil tuh ". Ucap Reina menyadarkan Ruby yang sedang menikmati acaranya, tidak terlihat lagi beban di wajahnya sekarang Ruby begitu terlihat lebih rileks yang tertangkap dari penglihatan Edward.


" Apa ?". Sadar Ruby.


" Baby, inilah saatnya ! perkenalkan lah dirimu, lagi pula sekarang hubungan mu dan keluargamu sudah membaik dan saat ini biarlah menjadi hadiah untuk mommy mu ". Ucap Edward memegang tangan Ruby yang berada di atas meja.


" Lagi pula kita sudah mengenal Ruby, lalu kenapa harus mengenalkan nya lagi ribet amat si kau Ed " . Sambungnya, Andrew benar-benar lola untuk berpikir.


" Apa si nyamber aja, ". Lexi menonyor kepala Andrew dengan dorongan keras dari tangan nya.


" Ya lalu apa Lex, otak gue benar benar pusing kalau dia mulai bicara kaya rumus matematika aja ". Ujarnya menepuk-nepuk kepalanya.


" Tch ". Decih Lexi.


" Apa jangan-jangan kamu orang nya ?". Kaget Reina yang cepat tanggap membuat Ruby salah tingkah, saat Reina ingin bicara panggilan Revan sekali lagi terdengar.


*


" Ruby Alderia, dialah sebenarnya presdir dari perusahaan besar ini, adik bungsu ku putri dari Luis Deandra Smith, pastinya kalian terkejut bukan ? aku pun sama dengan kalian saat pertama mengetahui jika dirinya telah mampu mendirikan sebuah perusahaan, begitu bangga nya saya kepada nya saat itu ". Tutur Revan.


" Saat lalu seorang pria datang ke apartemen saya, dia mengatakan jika dirinya adalah orang kepercayaan dari Ruby dan menyampaikan hal yang sama sekali di luar nalar kami, di luar dugaan kami dan apa kalian tahu yang pria itu katakan ? Dia berkata jika perusahaan Ra Company adalah milik Ruby, adik manja kami yang sangat kami cintai, saat itu saya beserta Revin tidak lagi bisa mengatakan apapun, kelu dan sendu, kami sangat kaget namun tercampur bangga dan bahagia. Dari saat itu pula saya di percaya mengelola perusahaan besar itu atas amanat dari adik manja kami sebelum menghilang belasan tahun lalu ". Jelas Revan kembali melanjutkan untaian kata-kata nya.


" Sshh mungkin itu saja yang bisa saya sampaikan agar tidak membuang waktu atas rasa penasaran kalian, untuk itu kita sambut presdir utama Ra Company, Ru... ".


" Lalu siapa yang sedari tadi anda sebut dia ? apa salah satu dari kalian ?". Pungkas salah satu tamu memotong penyambutan Revan sehingga


" Ronald Esten ! Dia ada di sana ". Tunjuk Revan seketika.


" Dia ?". Ucap nya diulang dan menatap Ronald, semua tatapan mereka mengikuti arah tatapan Revan dan terkunci pada Ronald yang sedang menyandarkan sebelah bahunya di sudut ruangan dengan Revin.


" Dia, Ronald Esten orang yang berharga untuk kami dan dia salah satu yang berkontribusi dalam pesat nya perusahaan kami ". Ronald membungkuk kan tubuhnya memberi hormat kepada mereka, Ronald pun termasuk orang yang sangat sulit untuk mereka temui.


Di sudut ruangan dekat pintu masuk, tiga pasang mata tidak bergeming dari tempatnya menyaksikan beberapa drama yang menurut mereka sangat menarik.


Mereka adalah Jakson, Rayzen dan juga Savira yang sedari tadi sudah tiba di sana tapi mengurungkan langkah nya yang asalnya akan langsung menghampiri Ruby dan mereka memutuskan untuk menunggu Brayn dan juga David yang belum sampai.


" Kenapa kita harus menunggu di sini ? ayo aku sudah lapar ". Keluh Rayzen yang mendapat teguran dari Savira karena dia tidak boleh masuk terlebih dahulu.


" Yang sabar napa Ray, emang kau aja yang lapar hah ? aku juga sama kali ". Seru Savira berdecak pinggang tapi tetap anggun karena dress nya.


" daddy pun pegal ra, apa tidak bisa masuk sulu dan duduk sembari menunggu mereka ? ". Ucap Daddy Jakson memelas kepada Savira.


" Ya sudah ayo kita masuk dulu ". Savira menggandeng tangan daddy Jakson dan menyiapkan tempat duduk untuk nya.


" Lapar ! kenapa mereka belum datang juga". Keluh Rayzen mengusap-usap perutnya.


" Ishh kau ini ". Savira memukul kecil dada Rayzen.


bisik-bisik terdengar di telinga Ruby, Edward berdiri dan sejenak mengulurkan tangan nya bermaksud membantu Ruby berdiri. Mereka berdua menjadi sorotan saat ini, langkah mereka terdengar di keheningan suasana yang tadi nya riuh dengan rasa penasaran, aura tegas dan bijak beradu dari karisma mereka berdua seakan seperti Raja dan juga ratu suatu kerajaan yang sedang berjalan di antara mereka.