Mafia Girls

Mafia Girls
EPS 116



" Rupanya kalian di sini hahahaha !". Tawa menggema dari salah satu mafia itu yang sering dipanggil dengan sebutan Mante, yang mungkin nama samaran nya.


Suara tawa mengejutkan mereka yang masih istirahat di bawah pohon rindang. Meili dan juga Reina yang matanya mulai tertutup terlihat melotot kembali terkejut dengan keberadaan mereka.


Leo langsung waspada dan menyembunyikan Meili dan juga Reina di belakang nya, Andrew dan juga Lexi pun ikut siaga.


" ckckcck, tangkap mereka ". Perintah nya, Meili dan juga Reina menjerit ketika tangan nya terus saja di tarik, Leo sibuk melawa mereka semua dengan keahlian nya. Andrew dan Lexi pun ikut membantu.


Krakkk,, kraakkk, blugghhh.


Suara ranting terinjak bersahutan, tendangan melompat yang di lakukan Leo berputar di udara membuat mereka terkapar dan di ulang beruntun. Tanpa senjata dan tanpa apapun Leo menghadapi mereka.


" aaaaaaaa, berhenti ". Meily dan juga Reina terus saja berteriak dan menangis hinteris.


Mereka semua terus saja menyerang tanpa ampun, kekuatan mereka begitu kuat sampai Lexi dan Andrew sudah mencapai batas nya. Mereka berdua terlempar lumayan jauh.


BRUGHHHH, okhokhokho.


mereka berdua terbatuk, mulutnya tanpa henti mengeluarkan darah. Reina dan juga Meili ingin menghampirinya tadi kaki nya tidak bisa di ajak kerjasama seolah mereka tidak bisa berjalan.


" Ka Lexi, ka Andrew !". Teriak mereka berdua, karena hanya itu yang busa mereka lakukan saat ini.


" hiks,hiks,hikss, Mei, Ruby ! di mana dia, kenapa belum juga kembali ?!". Di sela tangisnya, Reina mencari tiap sudut hutan menunggu kedatangan Ruby yang sedari tadi belum kembali.


Bakbuk,,,Bakbuk, Drugghhh


Leo masih sibuk dengan mereka, wajah nya sudah berdarah dan juga mulutnya tapi dia masih tetap melanjutkan perkelahian nya. Tubuh mereka begitu kebal sampai yang sudah terkapar pun masih kuat untuk berkelahi.


DRUGHHHHHH,,Brakkk


Tubuh Leo menubruk Pohon kecil tapi tak membuat pohon itu tumbang, KREEEKKK. Suara tulang seolah hancur. Leo tidak bisa bangun seakan badan nya tidak lagi dapat si gerak kan.


HAHAHAHAHA


" Begini sajakah pemimpin yang di takuti itu hahahaha, tidak berguna !". Racau nya seolah sedang meledek, Mante mendekati Leo dengan senjata di tangan kanan nya. Langkah nya terhenti tepat di depan Leo yang masih terbaring lemah dengan kesadaran nya yang mulai redup.


Senjata nya mulai dia arahkan kepada Leo, saat dia akan mengucapkan sesuatu seseorang lebih dulu menjatuhkan senjatanya sampai senjata itu rusak tak terarah.


" Rubyyyyy " Teriak Meili dan Reina dengan ketakutan yang tersemat di antara wajah mereka. Ruby menangkap tubuh Lexi dan juga Andrew terkapar lemah tidak jauh dari tempat peristirahatan nya dan juga Leo yang sedang tengkurap lemah di hadapan pria itu.


Air yang susah payah Ruby dapatkan kini terbuang sia-sia. Sesampainya Ruby di tempat, matanya menatap tajam melihat mereka telah berani melukai teman nya.


" Yo, gadis cantik dari mana ini ?". Godanya.


" Dapat dua gratis satu hahahaha". Tawa puas para penjahat itu mengingat mereka telah mengamankan Reina dan juga Meili untuk di angkut pulang.


" DIAM, Apa yang kalian lakukan pada mereka hah ?!". Geram Ruby mengepalkan tangan nya sembari menatap selidik pada mereka. Senyum licik tersungging kembali dari bibirnya seakan tahu siapa mereka.


" kita ?, Tidak ada hanya sedang bermain saja hahaha !". Ucapan nya begitu menjengkelkan, Ruby dengan sigap menyerang mante dengan keahlian nya yang sidah di taraf atas dan siapapun tidak bisa menandinginya.


BUUGGGHHH


Tendangan kuat mendarat pada perut mante sampai dirinya tersungkur dan darah segar keluar dari mulutnya hanya dengan satu kali tendangan dan itu pun oleh kaki mungil.


" Bangun, jangan pura-pura pingsan ". Tekan nya pada Leo, Leo langsung saja bangun dan mendudukkan tubuhnya.


" Mau kemana kalian ?". Aura Ruby seketika menghentikan langkah para pembunuh itu yang hendak menyerang Leo.


" Jangan sok, gadis kecil sepertimu yang ada akan menjadi mainan kami hahahaha !". Ledek nya membuat darah Ruby bergemuruh sampai ke ubun-ubun.


" oww, aku tidak takut !". Jawab nya enteng, sembari berjalan mendekati mereka. Langkah nya seakan menyurutkan semangat mereka.


" Apa yang kalian lihat hah ? cepat habisi bocah tengik itu !". Geram nya memegangi dada yang sakit setelah menerima tendangan dari Ruby.


" mmm, kemarilah lawan aku ! ". Sombong Ruby bersiap dengan kuda-kuda nya. " Lawan aku tanpa menggunakan senjata kalian !". Seru Ruby setelah melihat salah satu dari mereka menyembunyikan senjatanya di belakang punggung nya.


" ciiihhhhh ". Decih nya


sat,,set,,sat set


Ruby memukul keras melewati setiap mereka yang menyerang nya, tangan lincah dan juga kaki nya membuat mereka susah memukul Ruby karena kecepatan nya melangkah dan berganti posisi.


Brakk,,,Dugghh


Satu persatu dari mereka tersungkur menyisakan beberapa yang masih kokoh untuk berdiri. Ruby melompat di udara dan mendarat dengan posisi split seolah mengamati mangsanya.


Ruby terus maju dengan segenap kemampuan nya, BAK,,BUK,,BAK,,BUK,, BRAAKKK,,BRUGHHH.


Ruby terpelenting melayang dan mendarat kasar di atas tanah.


" Rubyy ". Teriak mereka, tangan Ruby melambai seolah memerintahkan mereka untuk pergi. Tatapan tajam nya menghunus mata Leo yang tidak setuju dengan perintah Ruby, dia tidak akan meninggalkan nya.


Eegghhhhh lenguh Ruby, Ukhuukhukhu


dan juga batuk tidak henti.


" Pergi ". Mulut Ruby terus mengkode di karenakan tiada lagi suara yang keluar dari mulut Ruby, Leo terus menggelengkan kepalanya sampai Ruby harus melotot dan menghunus tajam pada Leo. Reina dan Meili benar-benar tidak bisa membantu, dirinya begitu takut karena minim dalam hal perkelahian walaupun Ruby pernah mengajarkan nya.


" Pergiii, bawa mereka berdua dan tolong jaga kedua teman ku !". Tunjuk Ruby pada Lexi dan juga Andrew yang masih terbaring lemah.


HAHAHAHAH


" Kemarilah gadis manis !".


Brughhhhhh, Kreakkkkk.


Ruby dengan sisa tenaganya menyerang mereka. Kraakkkk geseran tulang leher terdengar merdu di telinga, lengan Ruby melingkar di leher penjahat itu dan tidak segan mematahkan nya.


" cihhh lemah ". Ledek Ruby, mereka semua sudah hampir tak tersisa, Ruby selalu menyerang titik vital dari mereka agar tidak bebas bergerak kembali.


Leo dan yang lain nya sudah tidak nampak di sana bahkan punggung mereka pun sudah tak terlihat.


" tch, siapa kau sebenarnya gadis kecil ?". Selidik mante seakan mengamati setiap perkelahian antara Ruby dan juga anak buah nya yang berjumlah tidak lah sedikit.


" Aku ? aku iblis, apa kau tidak lihat !". Ujar Ruby dengan suara menggema menunjukkan bahwa dirinya bukan lah apa-apa di mata Ruby, hanyalah sebutir debu kotor, berani-berani nya menyerang.


" Iblis ! tch jangan main-main dengan ku atau kau tahu akibat nya, lagi pula bukan kau yang menjadi incaran ku !". Laganya menunjuk-nunjuk kan jari lada wajah Ruby yang masih melangkah kan kakinya mendekati mante.