
Keadaan sekarang seperti sedang dalam ajang adu kekuatan, Brayn dan Rayzen melawan para mafia kelas bawah begitupun Savira ikut membantu mereka. Ruby, Edward dan juga david duduk menyamping menyaksikan perkelahian mereka seperti juri yang sedang menilai.
" Sudah lama mommy tidak menyaksikan adegan menyenangkan seperti ini ". Ucap Nyonya Jeffrey semangat.
" Ini masih permulaan mom ". Ujar Lio menggosok-gosokan jari telunjuk nya di dagu.
" Kau memang terbaik ". Seru nyonya Jeffrey memberikan dua acungan jempol. Lio kembali menatap mereka yang tidak jauh dari jangkauan matanya dan kembali menopang sebelah kakinya.
" Bagaimana ? tinggal sedikit mengasahnya lagi !". Ucap Ruby menggoyang-goyang kan gelas yang berisi jus mangga di tangan nya dan sesekali menyesapnya.
" Aku sih ok sweetie, mereka memang pantas jadi bagian dari kita ". Tutur David tidak mengalihkan tatapan nya dari setiap gerakan tubuh yang sedang berkelahi.
" Apa tidak membantu mereka ?". Ucap Edward kembali menatap kedua insan yang sedari tadi mengobrol tanpa berniat membantu mereka.
" Niar aku saja ". David bersiap melakukan aksinya tapi lagi-lagi tidak jadi karena mereka sudah tiba.
BRAK !!
BRUGH !!
Suara dobrakan pintu mengejutkan mereka, Zen, Alex, Maxim dan juga Key baru saja datang. Beberapa jam lalu mereka mendapat kabar jika sedang ada masalah tapi yang mereka heran kenapa King dan juga Lady nya tidak memberitahu mereka, tidak membutuhkan waktu lama mereka langsung bergegas.
" Itu pak pengelola kan !". Seru mereka serempak, Andrew Lexi dan juga Leo terkejut kenapa pak kepala sekolah berada di sini dengan pakaian lengkap dengan senjata di pinggang nya. Leo menatap selidik sembari berpikir akan kehadiran kepala sekolah saat ini.
" Apa yang sedang dia lakukan ?!". Ucap Lexi, tatapan nya beralih kepada Leo dan juga Andrew yang masih menatap selidik.
" ckckck pengecut ". Serang Alex melompat dan mendaratkan tendangan nya di lengan salah satu pria berpakaian gelap.
Bagh,,Bugh,bagh,,bugh. Alex melawan mereka membabi buta diikuti oleh yang lain nya.
klotak,,klotak,,klotak
Suara hak tinggi terdengar berirama, savira masih belum puas dengan mereka, semangat nya masih membara padahal wajahnya sudah terlihat memar.
DORR,,,DORR,,DORR
Tembakan terlepas, Ruby dan yang lain nya membalik kan badan nya karena suara tembakan itu berasal dari belakang punggung nya.
" Keluar juga ". Ucap David menyeringai, tatapan nya mengarah tajam kepada Lio yang masih saja tidak bergeming dari tempatnya, Leo berpindah posisi mendekati keluarga nya.
" Keluarga cendana yang mengagumkan ". Ucap Revin sedikit mengerti ekspresi dari mereka semua, sedari awal Revin memiliki filing kuat terhadap keluarga Jeffrey.
" Berhati-hatilah, mereka mafia yang ditakuti di wilayah ini ". Lanjutnya memperingati agar waspada terhadap mereka. Jika Revin tahu yang dia kasih tahu adalah para monster, bukan kah dia salah orang jika mengucapkan itu. Edward, Ruby dan juga David serempak menatap keluarga Jeffrey.
" Baiklah ". Ucap mereka serempak.
Tak,,tak,,tak,,tak
Suara langkah kaki bersahutan, Brayn, Rayzen dan juga Savira mengistirahatkan tubuh nya. Alex, Key, Maxim dan juga Zen masih sibuk baku hantam dengan mereka, tentunya tanpa senjata di tangan mereka sampai segerombolan mafioso bersenjata datang ke dalam ruangan.
Alex dan yang lain nya bersiap siaga dengan senjata di tangan nya.
" Menyingkir lah aku tidak ada urusan dengan kau ". Zen melangkah dan berhenti tepat di hadapan orang itu, hanya ada jarak 10cm kira-kira di antara mereka.
Tangan Zen menggapai pakaian orang itu tepat di dada sebelah kanan nya dan mengibaskan nya seolah membersihkan kotoran di baju pria itu. " Lalu ?". Ucap Zen menyematkan senyum nya sembari mengangkat satu alis nya.
" Apa kau mencari ku tuan ?". Tanya Ruby melenggang kan kaki nya anggun.
" Al ". Teriak Revin terkejut karena Ruby tidak lagi berada di samping sampai mata Revin menangkap sang adik sedang mendekati mafia itu.
" Apa maksud mu hah menyuruhku diam ??". Marah Revin tidak terima.
" tenanglah, malam ini kita menjadi penonton di sini ". Ucap Edward membuat Revin terdiam karena perubahan di wajah nya.
" Waw berani sekali dia ! tapi sayang gagal jadi mantu ". Ucap nyonya Jeffrey. Lio, Leo dan juga tuan Jeffrey saling pandang dan menatap mommy nya bergantian.
" Menyingkir lah, apa kau tuli Zen ?". Ucap Ruby sarkas, Zen menunduk seraya melangkah mundur.
" ckckckckc benar-benar sombong ". Ujar pria di hadapan nya.
" Terrserah kau !". Seru Ruby.
" ciiiiiiihhh ". Decih pria itu kesal dengan sikap santainya Ruby, tidak ada takut-takutnya.
" Lalu apa yang kau ingin kan ?". Delik Ruby menyilang kan tangan nya sedikit mundur.
" Myawamu !". Pria itu langsung menyerang Ruby dengan tenaga dalam nya secara acak, kaki nya ikut menendang. Ruby terus menepis sesekali mengelak dari pukulan nya.
SREET,,SREET,,SRETT
Pisau tajam terus mengayun ke wajah Ruby tapi tidak sedikitpun mengenai nya, hal seperti ini bagaikan sepotong benang tidak ada apa-apanya.
" Apa hanya ini kemampuan mu ?". Ledek Ruby membuat pria itu semakin marah.
Ruby menyobek dress nya, ternyata di Ruby sudah bersiap dengan baju tempurnya. David dan Edward menyunggingkan senyum nya.
" Baby kau benar-benar nakal ". Gumam Edward.
" Xkhhh bisa-bisa nya dia melapisi baju nya dengan itu ". Seru David.
Pistol kembar dan juga belati kembar menemani Ruby saat ini, dia meregangkan otot nya saat ini mungkin dia sudah lama tidak bermain seperti ini.
Pria itu menatap heran kenapa dia sudah lengkap dengan alat nya, apa dia sebenarnya pandai menggunakan itu ? Batin pria itu.
srek,,srek,,srek Dor,,dor,,dor.
Ruby melewati tubuh Pria di hadapan nya dan membabat habis mafioso yang masih baku hantam dengan Zen dan yang lain nya, gerakan nya begitu cepat sampai-sampai tidak terlihat satu tangan menggenggam belati dan satunya lagi memegang pistol.
srasshhh,, srasshhh
darah segar menggenang di atas lantai putih, hanya beberapa detik tidak ada yang tersisa di antara mereka. Wajah dingin dan juga datar nya begitu menyeramkan meluruhkan semangat membara di antara mereka.
" Aaaaaaaaa ini begitu mengasyikan ". Teriak Ruby, sekarang dirinya seperti seorang psikopat yang sedang bernafsu membunuh seseorang, Pria sombong tadi menelan ludah nya tapi dia berusaha menyembunyikan ketakutan nya.
" Ba,,bag,,gaimana bisa ". Bengong Keluarga Jeffrey shock dengan kemampuan Ruby dan semua orang di sana yang menyaksikan itu bergidik ngeri.
" Siapa dia sebenarnya ". Gumam Leo dan juga Lio terbengong.
" Monster ". Gumam Revin sedikit rasa takut di matanya bercampur resah dan juga khawatir. Gumaman Revin terdengar di telinga tajam Edward dan Edward melirik kan ekor matanya.
" Ini belum seberapa ". Ucap Edward pelan di telinga Revin, Revin terperanjat oleh bisikan Edward yang membuat bulu kuduk nya merinding.
" Ayo kita lanjutkan paman !". Semangat Ruby begitu membara, Pria itu melirik Lio di seberang sana dan itu tidak lepas dari perhatian Ruby.
|