Mafia Girls

Mafia Girls
EPS 79



Ruby menggeliat dari tidurnya, perutnya terasa begitu berat saat dirinya hendak bangun, dia menyipit mata seraya menyelaraskan penglihatan nya.


Ruby menangkap keberadaan Revan di sebelah kanan masih pulas dalam tidurnya, senyum Ruby mengembang kala melihatnya.


" Begitu tampan !". Batin Ruby.


Ruby hendak turun dari ranjang nya, tapi sekali lagi tangan kekar memeluk dirinya seolah mengunci tubuhnya. Cahaya remang tidak begitu memperjelas penglihatan nya, Ruby sontak kaget saat Revin tiba-tiba memeluk dirinya.


" Astaga kenapa kalian tidur di sini ?! ". Gumam Ruby.


Jam Menunjukkan pukul 8 malam, Ruby begitu terkesiap dengan lamanya dia tidur. Perutnya tiba-tiba merasa lapar, cacing di perutnya berdemo tidak henti.


" Kak bangun ". Ruby membangunkan kedua kaka nya dengan mengguncang bersamaan kedua bahu mereka


" Kak bangun, perutku sangat lapar !". Keluh nya. Ruby berulang kali membangunkan kaka nya tapi mereka seperti enggan untuk membuka kedua mata itu.


Ruby begitu kesal kenapa mereka susah sekali untuk bangun, Ruby memilih pergi keluar sendiri tapi ketika hendak beranjak turun, suara khas bangun tidur dari Revan menghentikan nya.


" Kenapa Al ? ". Tanya Revan langsung segera duduk sembari memegang tangan Ruby dengan lembut nya. Ruby menoleh kepada kaka nya dengan wajah yang cemberut.


" Aku lapar kak, aku ke dapur dulu ! Oh iya, apa kak Ronald ada di sini juga ? aku ingin makan masakan nya !". Tutur Ruby.


" Ada, pergilah jika begitu ! Kaka lanjut tidur dulu ". Seru Revan merebahkan tubuhnya kembali.


" Apa masih lelah ? Kau nampak begitu lesu ". Revan menganggukkan kepalan mengiyakan seruan Ruby karena memang dirinya sangat lelah.


" Satu jam lagi, kalian turun lah untuk makan !". Ujar Ruby meninggalkan kedua kakaknya di sana. Ruby merapihkan rambutnya dahulu sembari berjalan menuruni tangga dan mengikatnya secara asal tapi Ruby tetap cantik dengan penampilan seperti itu.


TOK,,,TOK,,TOK,,TOK


" Kak apa kau di dalam ? ". Ruby mengetuk pintu kamar Ronald yang berada di lantai satu. Pintu kamar langsung terbuka menampakkan Ronald yang begitu segar.


" Kau sudah bangun !". Ronald mengelus lembut pipi Ruby.


" kak aku lapar ". Keluh nya. Ronald menolah ke sana kemari melihat ruangan sekitar begitu sepi.


" Ayo ikut kakak ! kakak yang masak ". Ujar Ronald menarik tangan Ruby menuju dapur.


Di dapur seorang wanita paruh baya tengah berkutat dengan alat-alat dapur nya. Ya, siapa lagi jika bukan Nameera tengah berada di dapur untuk memasak makan malam, dia begitu berusaha memperbaiki dirinya saat ini. Ronald dan juga Ruby saling pandang kala melihat Nameera sedang serius dengan aktivitasnya.


" Bibi sedang apa ?". Ronald menghampiri Nameera.


" Ada yang bisa aku bantu ?! ". Seru nya sedikit mengagetkan Nameera yang sedang memotong bawang, untung saja tidak teriris. Nameera tersenyum kepada Ronald.


" Apa kau tidak melihat mommy sedang apa Eum ?!". Ucap Nameera dengan candanya tapi seruannya membuat hati Ronald begitu senang.


" Mommy ?". Ucap Ronald memastikan jika dirinya tidak salah dengar.


Nameera menautkan kedua alis dan tidak lama mengembangkan senyum nya.


" Iya mommy, panggil aku mommy mulai sekarang ! Apa kau keberatan ?". Tutur Nameera lembut. Ronald begitu terkesiap dengan pernyataan Nameera, dia reflek memeluknya dengan rasa yang begitu senang seakan lupa akan kesalahan nya kepada Ruby.


" Kakak ". Sentak Ruby di acuhkan sedari tadi. Ronald dan juga Nameera terperanjat dengan sentakan Ruby.


" Kenapa anda masih berada di dalam rumah ku nyonya Nameera ?! ". Kesal Ruby, bukan marah tapi Ruby benar-benar kesal.


" Sayang apa yang kau lakukan hei ? ". Tukas Ronald kembali mendekati Ruby.


Suara langkah kaki begitu terdengar sangat cepat. Edward, Revan, Revin dan juga Luis berlari penasaran dengan apa yang terjadi.


" Ada apa ini ?".Suara bariton milik Luis menggema kala bertanya dengan keadaan yang begitu membuat nya terkejut.


Edward langsung mendekati Ruby karena dia tahu apa alasan Ruby begitu marah. " Baby tenanglah ! kau ini kenapa hmm ? ". Ujar Edward memegang bahu Ruby


" Mengapa mereka masih berada di rumah ku ". Ucap dingin Ruby menatap kedua orang tuanya bergantian tanpa ekspresi sedikitpun.


" Kakak yang meminta mereka bermalam di sini ". Tegas Edward melepaskan pegangan nya dari Ruby.


" Kenapa !". Seru Ruby masih dengan suara dingin dan juga tatapan nya yang begitu tajam menatap kedua bola mata Edward. Semua yang ada di sana hanya menyaksikan saja.


" Tidak ada ! Apa kau benar-benar begitu membenci mereka hmm ? ". Suara Edward melembut, membenarkan rambut surai Ruby yang di ikat acak-acakan.


" Hiks.. Hiks..Hiks. Aku lapar !". Ruby malah menangis seperti anak kecil. Padahal baru saja dia membentak orang-orang di sana dan sekarang lain lagi, benar-benar aneh.


" Bocah nakal ". Bisik Edward selesai membenarkan ikatan rambut Ruby.


" Hayeehh ! Ayo mom aku bantu masak ". Ucap Ronald menyadarkan Nameera yang masih terbengong.


Ruby menunggu di ruang keluarga bersama Edward, daddy dan juga kedua kaka nya. Luis masih saja tidak mengalihkan tatapan nya dari Ruby seakan banyak pertanyaan yang ingin dia lontarkan kepada anak gadisnya itu.


" Apa ada yang salah dad ?". Tanya Revan kepada daddy nya karena dirinya sedari tadi melihat dia terus saja menatap lekat Ruby. Luis menggelengkan kepalnya, Revin sedikit menyunggingkan senyum tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.


Acara makan malam pun usai beberapa jam lalu, Edward sedang berada di ruangan kerjanya bersama dengan Ruby. Aura kepemimpinan begitu terpancar dari mereka.


Ya, sekarang mereka tengah mengadakan rapat untuk membahas masalah dan juga beberapa kerjasama waktu lalu yang di ajukan oleh para perusahaan dari berbagai negara di luar sana.


" Bagaimana keadaan kalian, apa kalian semuanya baik-baik saja ? ". Secarik perhatian dari Ruby membuat mereka begitu senang, bagaikan mendapatkan hadiah yang begitu berharga.


" Kami semua baik Lady ". Jawab mereka serempak dalam layar.


" Jelaskan semuanya ". Perintah Ruby. David menjelaskan semua tanpa celah sedikit pun, seluruh nya begitu Rinci dan juga tersusun rapih dalam katanya.


" Oke, pantau semuanya selama proses ! Aku tidak ingin ada kesalahan sedikitpun dan oh iya, bagaimana dengan DARK BLUE DRAGON ?". Ucap Ruby seperti seorang peramal yang akan tahu sesuatu yang sedang mereka pertimbangkan.


" Bagaimana kau tahu baby, jika mafia itu menginginkan kerjasama dengan kita ? ". Tanya Edward bingung dengan kepandaian kekasih nya itu, padahal Edward sama sekali belum memberitahu nya.


" Apa kau meragukan kemampuan ku honey ? ". Balas semirk dari Ruby membuat mereka menegang.


" Apapun itu aku tahu semuanya, untuk itu jangan pernah macam-macam dengan ku !". Perubahan intonasi dari Ruby benar-benar membuat nafas mereka tersekat, mereka semua mengingat-ingat apakah mereka pernah melakukan kesalahan selama Ruby tidak berada di sisi mereka.


" Tch tch tch ". Decih Ruby.


" Baby ". Seru Edward dengan wajah bingung nya.


" Haihhh kalian ini kenapa jadi loading ! Untuk masalah Mafia itu aku serahkan kepadamu Dev, selesaikan dengan sempurna jangan mengecewakan aku ". Ujar Ruby menutup rapat nya seketika.


" Baby ". Panggil Edward kedua kalinya.


" Apa ". Jawab Ruby . " Kenapa kau berubah seperti seekor kelinci yang begitu menggemaskan hmm ". Ruby mencubit kedua pipi Edward yang begitu terukir tegas.


" Apa aku boleh memakan nya ". Tanya ambigu dari Ruby membuat kening Edward mengerut. " Sshh kenapa hari ini kau begitu loading honey ". Kesal Ruby yang langsung berjalan keluar dari ruangan itu.


" Ada apa dengan dia ". Bingung Edward setelah tidak melihat bayangan tubuh dari kekasih tercintanya itu.