
" Baby !". Panggil Edward karena sedari tadi tidak ada jawaban dari nya. Ruby seakan tidak peduli dengan pertanyaan yang di lontarkan oleh Edward, dia hanya memandangi layar bening di atas pangkuan nya.
" Apa kau begitu bahagia jika aku bersama dengan Leo ? ah sepertinya begiitu ". Tidak ingin kalah, Ruby menjawab pertanyaan Edward dengan pertanyaan kembali.
" Tidak, bukan nya seperti itu baby, aku hanya bertanya saja. Tapi jika itu benar, aku sungguh baik-baik saja asal kan kau bahagia, maka aku pun akan ikut bahagia ". Tutur Edward.
" Aku tidak bisa memaksakan apa yang benar-benar bukan milik ku dan aku tidak ingin kau bersama dengan ku hanya karena terpaksa atau pun hanya merasa kasihan saja ". Ucap Edward kembali.
" Aku tidak hanya ingin dirimu, tapi aku juga ingin hati mu pun menjadi milik ku Ruby, tapi jika kamu benar-benar tidak memiliki ketertarikan kepada Leo itu malah bagus karena dengan itu aku akan lebih leluasa memiliki mu ! Aku tidak ingin menjadi pria egois !".
Jelas Edward mencurahkan segalanya, tidak ingin kesayangan nya itu salah paham dengan pertanyaan nya makanya Edward langsung saja menjelaskan. Sudah menjadi kebiasaan untuk Edward menatap dalam mata Ruby yang begitu meneduhkan hati, apapun menjadi topik pembicaraan antara mereka pastilah mereka berdua saling tatap.
" Apa kau tau honey, aku begitu beruntung bertemu dengan mu dan itu tidak bisa aku ungkapkan dengan kata-kata, aku begitu bahagia memilikimu ". Ruby memeluk Edward dari samping.
" Lalu Untuk apa aku mencari pria lain disaat pria yang lebih sempurna berada di hadapan ku sekarang hmm ? Aku merasa akulah yang begitu tidak sempurna untuk mu, sifat dan perilaku yang mendarah daging di tubuhku semuanya belum sempurna aku rubah tapi lihatlah, kau begitu dewasa menyikapi semua hal walaupun usiamu masih sangat muda, kau begitu terlihat dewasa dan juga gagah ! Lalu bagaimana aku bisa berpaling pada pria lain jika seperti ini ?!". Seru Ruby mengusap lembut pipi kanan Edward dengan tatapan yang begitu menyentuh.
Edward menarik Ruby semakin dalam ke dalam pelukan nya, hatinya sungguh bahagia dengan penjelasan Ruby. Hati yang resah kini kembali riang, harapan nya dan juga doa nya mungkin sudah terkabulkan.
" Terima kasih baby ". Ucap nya lirih.
" Kenapa kau berterima kasih, harus nya aku yang mengucapkan itu ! Terima kasih telah setia berada di sisiku, maaf aku sudah menyakitimu ". Ujar Ruby mengeratkan pelukan nya.
TING NONG !! TING NONG !!
Suara bel mansion berbunyi mengganggu mereka yang tengah melepas rindunya.
" Tunggulah, aku yang akan membuka pintu nya ". Ruby beranjak berdiri, namun sebelum melangkah kan kaki dengan cepat Ruby mengecup bibir sexi milik Edward.
Cupp !!
" Masih manis hahahaha ". Ruby berlari menjauh dari hadapan Edward. Senyum pun terulas dari sudut bibir Edward kala Ruby mengecup singkat bibir nya.
Klikk ! Krekk !!
Ruby membuka pintu dengan lumayan keras, terlihat di sana kedua teman nya dan juga teman Edward tengah berdiri menunggu pintu terbuka.
" Ruby ". Teriak Reina dan juga Meily berhamburan memeluk Ruby secara bersamaan sampai tubuh Ruby sedikit terguncang.
" Apa kau baik-baik saja, apa ada yang sakit, katakan kepada kami, ayo ?! Maaf malam itu kami tidak ada di sana jadi kami benar-benar tidak tahu ". Cerocos Meily dengan rasa khawatir kepada teman tercintanya itu.
" Iya By, maaf kami tidak ada di samping mu saat kejadian itu dan kenapa kamu tidak memberi tahu kami sebelum nya ? ". Seru Tania.
" Yaak kalian ini kebiasaan , ayo masuk dulu ! Lihatlah mereka di belakang kalian sudah ketus semua ". Seru Ruby sangat pusing jika kedua teman nya sudah datang bersamaan.
" Dasar tidak tahu apa di luar sangat panas !". Keluh Andrew nerobos masuk lebih dahulu ke dalam tanpa permisi dan di ikuti oleh Lexi dan juga Leo.
" Siapa suruh menunggu di luar ". Sentak Meily tidak terima.
" Sudah-sudah ayo masuk dulu ". Sela Ruby menggandeng kedua teman nya untuk masuk.
" Halo kak apa sudah membaik ?". Tanya David namun suara nya terdengar tengah meledek.
" Tch tch tch kau ini mana ada aku sakit, pasti aku baik dan akan baik ! Ada apa ? Apa ada masalah di Irland ? Bagaimana dengan pekerjaan mu apa membaik ?". Tanya Edward begitu beruntun.
" Yak yak yak, pertanyaan apa itu ? Apa kau menganggap aku ini pemalas ?! Tch tenanglah semuanya sudah berada di bawah kendaliku. Perusahaan pun baik !". Ucap David.
" Oh iya, apa kau tidak pernah menghubungi daddy ? Telpon lah, aku bingung harus menjawab apa jika daddy bertanya tentang kakak ". Kesal David
" Kak mafia yang berada di negara J memesan senjata dari kita, apa itu baik ? ". Bangga David sesekali mengeluh akan kelakuan kakak nya yang sudah lumayan lama tidak menghubungi dady Jakson.
" Baiklah nanti kakak hubungi lagi, kakak juga perlu meminta saran dari Ruby untuk urusan seperti ini ". Ucap Edward mengakhiri panggilan nya karena mendengar suara langkah kaki menuju kepadanya.
" Hai Ed, apa sekarang lebih baik ? Tadi kami semua ke rumah sakit untuk berkunjung tapi dari pihak rumah sakit jika kau sudah pulang !". Sapa Andrew yang lebih dahulu menampakkan diri diikuti oleh Lexi dan juga Leo di belakang nya.
" Sudah membaik Drew, apa kau sekarang buta ?!". Canda Edward di respon gelak tawa oleh Lexi dan juga Leo.
" Begitu sekali kau ini Ed, punya dendam apa sebenarnya kepadaku yang malang ini ?!". Seru Andrew mendaratkan tubuhnya di samping Edward.
" Ed maaf, aku benar-benar merasa bersalah dengan amarah ku waktu itu dan menyebabkan kau masuk rumah sakit ". Lirih Leo.
" Tidak perlu meminta maaf Le ". Ucap Edward tidak masalah dengan apapun itu.
" Selama Edward santai dan juga baik-baik saja maka jangan terlalu merasa bersalah. Benar bukan Ed ?!". Timpal Lexi dengan muka **** boy nya .
" Pintar ". Seru Andrew.
" Kalian duduklah, aku akan mengambil minum untuk kalian dahulu ". Ucap Ruby membiarkan kedua teman nya bergabung dengan para pria di sana.
Tidak lama, Ruby datang dengan cemilan dan juga minuman di tangan dan langsung menyimpan semuanya di hadapan mereka.
" By, sebaiknya kamu mencari asisten rumah tangga dan beberapa pelayan rumah untuk mengatasi masalah rumah ". Saran Tania sembari membantu Ruby menata minuman di atas meja.
" Kau salah bertanya Tan, seharusnya kau mengatakan ini pada Edward. Jika dia setuju maka aku akan setuju juga !". Seru ruby menoleh ke arah Edward yang tidak henti hentinya menatap Ruby.
" Oke, biar urusan itu kaka urus nanti ". Ucap Edward.
" Apa kalian sudah makan ?". Tanya Edward karena ini sudah sangat siang dan mereka semua menggelengkan kepalanya bersamaan.
Ketika Edward hendak memesan makanan, suara bel rumah kembali berbunyi. Biasanya Edward yang masak tapi dengan keadaan yang seperti itu Ruby pun mencegahnya, jadi terpaksa harus memesan makanan dari luar.
" Baby, aku saja yang membuka nya ". Ucap Edward menahan tangan Ruby yang hendak melangkahkan kakinya. Edward segera berlalu dari sana.
" Ed ".
|