
Sofa mengerjabkan matanya pelan, Sofa perlahan membuka matanya dan melihat ruangan yang ia sendiri tak tau dimana.
Sofa mencoba bergerak tetapi sulit karna ia tengah dirantai diatas kursi. Sofa menghembuskan nafasnya berat saat mengingat hal yang menyebabkan ia berada disini.
Seseorang masuk kedalam ruangan yang ditempati Sofa dengan pisau ditangannya. ia langsung melempar pisau itu tepat dikaki kiri Sofa membuat darah segar mengalir disana.
"Akh" Pekik Sofa saat pisau itu tertancap tepat dikakinya. "******" Umpat Sofa menatap orang itu yang tak lain adalah Albert.
Albert tersenyum sinis melihat Sofa.
"Queen FOD kok lemah!" Ucap Albert mendekat kearah Sofa. Sofa tertawa mendengar ucappan Albert.
"Queen FOD?" Sofa menjeda ucappannya "Salah orang lo, gue bukan Queen FOD" Sambungnya menatap Albert dengan tatapan remehnya. ia sama sekali tak takut dengan Albert.
Plak
Satu tamparan Albert layangkan dipipi Sofa dengan keras. bukannya mengeluh, Sofa malah tersenyum sembari kembali menatap wajah Albert.
Bolehkah Sofa jujur? ia sangat ingin mencakar wajah Albert, memotong tubuhnya dan melemparkannya kekandang Gunma hewan peliharaan Alletta.
"Ck, Kan udah gue bilang dari awal kalo gue bukan Queen FOD, maaf anda salah orang" Ucap Sofa berdecih. Albert mengeraskan rahangnya mendengar ucappan Sofa.
"Ohh, rupanya Queen FOD ini sangat tidak takut mati rupanya" Albert berjalan mengambil katananya "Baiklah, mari kita percepat ajalmu" Sambungnya dengan cepat menggoreskan katananya dipipi Sofa.
Sofa memejamkan matanya sebentar, jujur ini sangat sakit tapi ia tak mau terlihat lemah. Sofa membuka matanya dan menatap Albert dengan kepala yang ia iringkan.
"Segini doang?!" Albert mendekat dan mencabut kasar pisau yang masih menancap dikaki kiri Sofa. pisau itu ia arahkan untuk menusuk perut Sofa.
Jlep
Sofa meringis saat pisau itu menancap diperut bagian bawahnya. Albert mencabut pisau itu dengan sekali tarikan. mulut Sofa mengeluarkan darah tapi Sofa tak berteriak kesakitan.
'Ken' Batin Sofa memanggil nama Kennath. 'Gue sayang sama lo' Batin Sofa tanpa sadar satu air mata lolos dari pelupuk matanya.
Albert yang mengira jika Sofa menangis karna kesakitan tersenyum lebar dan menusuk Sofa bertubi-tubi menggunakan pisau yang tadi menusuk kaki kiri Sofa dan perutnya.
Sofa sekali lagi hanya diam dengan fikiran yang berkecamuk.
'Ken gue pengen jelasin semuanya, gue nggak ada hubungan apapun sama Gema, gue cuma sayang sama lo yang udah bikin gue tau apa arti cinta yang tulus, lo selalu ada disaat gue butuh lo, kita selalu sama-sama. ijinin gue pergi Ken' Batin Sofa yang perlahan menutup kedua matanya.
Albert berhenti dan tersenyum penuh kemenangan saat melihat Sofa yang sudah tak bernyawa. ia menyuruh tangan kanannya untuk memberikan tubuh Sofa kemarkas FOD yang ia tau adalah markas utama FOD.
🍀🍀🍀🍀
Kennath hanya melamun sembari memainkan gelas yang berisi wine ditangannya. ia sekarang berada dimarkas milik Malvin untuk menenangkan fikirannya. Gvain, Malvin, Azka dan Arsha heran melihat sikap Kennath yang tidak seperti biasanya.
"Woy! ngapa lo?" Tanya Azka membunyarkan lamunan Kennath. Kennath menggelengkan kepalanya sembari menengguk winenya.
"Cerita aja Ken, siapa tau kita bisa kasih saran atau solusi" Ucap Arsha membuat Kennath menghembuskan nafasnya berat.
"Sofa selingkuh" Ucap Kennath membuat mereka terdiam sejenak. tak lama Arsha dan Azka tertawa keras karna mengira jika Kennath hanya bercanda.
"Bercanda lo Ken" Ucap Azka disela-sela tawanya.
"Gue nggak bercanda" Tawa Azka dan Arsha langsung berhenti saat mendengar ucappan Kennath yang serius.
"Nggak mungkin Ken, si Sofa itu suka banget sama lo" Bantah Arsha tak percaya, walaupun ia tak dekat dengan Sofa tapi ia cukup tau bagaimana sifat Sofa. Azka mengangguk menyetujui ucappan Arsha.
"Bener yang dibilang Arsha. Sofa nggak mungkin selingkuh Ken, emangnya lo tau dari mana kalo Sofa selingkuh?" Tanya Azka.
"Gue liat pake mata kepala gue sendiri, Sofa pelukan sama orang lain ditaman" Ucap Kennath.
"Mungkin apa yang lo liat nggak sesuai dengan kenyataannya" Ucap Azka membuat mereka kompak mengernyitkan alisnya.
"Maksudnya?" Tanya Kennath.
"Gini belajar dari kandasnya hubungan Gavin" Azka menjeda ucapannya saat mendapat tatapan tajam dari Gavin "Gavin cemburu bukan saat melihat Aza yang jalan bareng sama abang nya yang Gavin kira itu selingkuhannya. saat itu Gavin nggak mau mendengar penjelasan Aza dulu bukan? dan malah bertindak gegabah yang bikin hubungan mereka berakhir"
"Mungkin itu juga yang lo alamin saat ngeliat seseorang peluk Sofa, lo pasti mikirnya Sofa selingkuh. dan kenyataan yang lo liat nggak seperti yang lagi Sofa alami saat itu. pertanyaannya lo ufah denger penjelasan dari Sofa belum?" Tanya Azka dijawab gelengan kepala oleh Kennath. Azka menatap jengkel Kennath.
"Aiss, gue kira lo itu punya pikiran yang lebih dewasa sari Gavin, ternyata sama aja" Ketus Azka.
"Terus gue harus gimana?" Tanya Kennath mengacak rambutnya frustasi. pertanyaan Kennath membuat darah Azka mendidih.
🍀🍀🍀🍀
Aza melihat ponselnya yang menyala, ia melirik sebentar dan mengabaikan pesan yang masuk kedalam ponselnya. Aza berdecak malas saat ponselnya berbunyi, Aza melihat dan langsung memencet tombol merah.
Aza menghela nafas kasar, sudah satu minggu ini ia didekati oleh Afgan, salah satu murid ips yang katanya menyukai dirinya. jujur Aza sama sekali tak menyukai Afgan, entah kenapa rasa tak suka tumbuh dihatinya. makanya ia tak menjawab pesan atau panggilan yang Afgan kirimkan padanya.
Aza menoleh saat ponselnya berbunyi, kali ini dari Soobin membuat Aza mengangkat panggilannya.
Aza : Halo
Soobin : Halo Queen
Aza : Ada apa bang?
Soobin : Queen bisa kemarkas saat ini juga nggak? ini soal yang sangat penting! urgent.
Aza : Ok bang, gue bisa. dimarkas yang mana bang?
Soobin : Yang ke 2 Queen
Aza : Ok bang, gue langsung otw
Selepas mengatakan itu Aza mematikan sambungannya dan mengambil kunci mobilnya. Aza keluar dari dalam kamr dan langsung menuju garasi.
Aza masuk dan melajukan mobilnya. dua puluh menit Aza sampai dan keluar dengan topeng diwajahnya. para mafioso menunduk hormat saat melihat Aza. Soobin langsung menghampiri Aza dan memberitau jika ada paket kiriman dari Albert.
Aza langsung berjalan mendekat kearah paket yang ditunjuk oleh Soobin. Aza bisa melihat jika ada logo dari mafia milik Albert membuat Aza semakin penadaran dengan isi paketnya.
Soobin memerintahkan Fahri untuk membuka paketnya diangguki oleh Fahri. Fahri membukanya dan,
Jlep
Aza menutup mulutnya tak percaya diikuti para mafiosonya. air mata Aza menetes begitu saja saat melihat isi dari paket yang Albert kirimkan. tubuh Aza luruh kelantai sembari menatap tak percaya dengan apa yang tengah ia lihat.
Betapa terkejutnya Aza melihat tubuh Sofa yang mengenaskan tergeletak ditengah kardus. tubuh Sofa dilumuri oleh darah membuat bau anyir terasa begitu menusuk disana.
Aza menggelengkan kepalanya tak percaya.
"Nggak" Aza bangkit dan mendekat kearah tubuh Sofa yang sudah tak bernyawa itu. Aza menyentuh pelan lengan Sofa dengan tangan yang bergetar hebat.
"Nggak" Lirih Aza mencoba menggoyangkan tubuh Sofa, tapi nihil! Sofa sama sekali tak merespon.
"NGGAK" Teriak Aza histeris membunyarkan lamunan para mafioso. Aza terus mengguncang tubuh Sofa dengan air matanya yang mengalir.
Soobin yang melihat itu menghampiri Aza dan memeluknya untuk menenangkan Aza. Aza memberontak dipelukan Soobin.
"Nggak mungkin Sofa pergi" Ucap Aza terus memberontak dipelukan Soobin.
"Nggak hikks" Aza memberontak sembari menatap nanar tubuh Sofa.
Soobin mengkode Yeonjun untuk membawa tubuh Sofa untuk diperiksa. Yeonjun mengangguk dan membawa tubuh Sofa. Aza yang melihat Sofa dibawa melepaskan pelukannya dan mengejar Yeonjun.
"SOFA NGGAK BAKAL PERGI" Teriak Aza berlari menyusul Yeonjun yang memasuki ruang medis. para mafioso hanya bisa terdiam melihat Aza menangis. mereka juga terkejut sekaligus terpukul karna kehilangan Sofa yang menjadi sosok receh saat berkumpul dimarkas.
.
.
.
.
Hayy!
Jangan lupa Like, Komen dan Vote.😘
Stay Healthy.
Happy Reading.