Mafia Girls

Mafia Girls
EPS 71



" Hiks,,hikss,hikss dad ". Nameera masih menangis dalam pelukan sang suami, dia benar-benar merasa telah gagal menjadi seorang ibu untuk anak-anak nya.


Luis hanya mendekap erat sang istri, Revan dan juga Revin tidak tega melihat ibunya yang terus saja menangis tiada henti,


" Mom !". Seru Revan berjongkok di depan Nameera sembari memegang tangan hangat mommy nya. Revan mengelus lembut tangan yang mulai mengerut itu tapi tetap nampak segar.


" Hikss ! Hiks ! Revan maafkan mommy hiks,,hiks maaf ". Nameera menatap mata anak pertamanya itu dengan air mata yang terus berlinang, Revan langsung menarik mommy nya ke dalam pelukan Revan. Revan mengusap-usap punggung mommy nya dengan sangat lembut.


" Tidak mom, jangan menangis seperti ini, Revan tidak suka melihat mommy seperti ini ! Revan tidak marah sama sekali kepada mommy and daddy, tapi Revan hanya kecewa dengan sikap kalian pada Ruby". Tutur Revan menahan tangis nya, mata yang sudah memerah menandakan air mata yang terbendung di sana akan keluar. Luis yang melihat itu hanya mencengkram erat bahu Revan dengan kepala yang tidak berani menatap putra nya itu.


Di banding menghampiri kedua orang tua dan kaka nya, Revin lebih memilih pergi ke kamarnya. Langkah kaki dan juga pijakan kian terdengar oleh mereka bertiga, Nameera dan juga Luis menoleh ke asal suara.


" Van, apa Revin begitu membenci kami ? ". Ujar Nameera.


" Tidak mom,dia sama sepertiku, dia tidak akan mungkin membenci kalian berdua. Tenanglah nanti Revan yang akan bicara dengan dia ! Tapi mom maaf untuk masalah Ruby kalian harus menyelesaikan nya sendiri. Sekarang istirahat lah ". Revan berdiri dan berlalu dari sana meninggalkan kedua orang tuanya yang masih memancarkan rasa menyesal.


Tok !!


Tok !!


Tok !!


Revan berdiri tepat di depan pintu kamar Revin sembari mengetuk pintu dengan lembut berirama.


" Masuklah !". Ucap Revin dari dalam kamarnya.


Revan membuka pintu dan perlahan melangkah masuk. Revan dengan cepat membaringkan tubuhnya di atas kasur, kedua telapak tangan nya di simpan sebagai bantalan di belakang kepala.


" Apa yang harus kita lakukan kak ?". Tanya Revin sembari selonjoran di atas kasur.


" Entahlah, terkadang aku merasa tidak berguna sebagai kakak kalian dan terkadang aku pun merasa tidak berguna untuk melindungi keluarga kecil kita ini Vin ". Revan benar-benar terdengar bersalah.


" Dari awal kakak memang sangat tidak setuju jika Agatha masuk ke dalam keluarga kita, karena kakak takut akan terjadi hal yang tidak di inginkan ". Tutur Revan sembari menatap langit-langit kamar.


" Dan pada akhirnya apa yang tidak diinginkan terjadi juga. Huffh, tapi meski bagaimanapun daddy and mommy tidak sepenuhnya bersalah ! kita pun tahu bagaimana mereka mendidik Agatha dan juga Ruby, tidak ada yang di bedakan di antara mereka dan itu cukup membuat kakak tahu juga mengerti apa yang seharusnya kakak lakukan. Tapi apa ini ? Kakak seolah seperti pria bodoh Vin ". Cakap Revan.


" Entahlah, sekarang pergilah aku ingin istirahat. Besok kita bicarakan lagi tentang ini ". Revin langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur dan memejamkan matanya seketika. Begitu banyak kejadian hari ini yang mengganggu otak nya sehingga otak pintar itu tak dapat mencerna dan berpikir sehat.


***


" Baby bangunlah tanganku keram ". Keluh Edward menahan tangan kanan nya begitu pegal karena menjadi bantalan kepala Ruby.


" Eum kenapa ? ". Ruby segera bangun dan menoleh pada Edward yang tengah menahan tangan kanannya yang keram . " maaf ". Ucapnya.


Ruby beranjak turun dari brangkar dan melangkahkan kakinya ke kamar mandi yang berada di sebelah kanan. Setelah kegiatan nya selesai, Ruby kembali duduk di sofa dekat jendela.


" Aku lapar. Kalian belilah makanan ke luar ". Ruby memerintahkan anak buah nya melalui earphone.


Edward menatap halus mata Ruby, dia tahu jika Ruby tengah kelelahan tapi Ruby tidak pernah menunjukkan nya kepada siapapun termasuk kepada dirinya.


Cklek !


Suara pintu terbuka, terlihat seseorang membawakan berbagai makanan ke sana termasuk buah-buahan segar.


" Masuklah ". Perintah Ruby.


" Apa kau dan lain nya sudah makan ? ". Tanya Ruby kepada Alex yang baru saja datang membawa makanan yang di minta oleh Ruby.


" Sudah lady, kami semua sudah makan ". Jawab Alex.


Edward menyipitkan matanya melihat kedatangan Alex, karena memang Edward belum mengenalnya. Seolah mengerti dengan isi pikiran Edward, Ruby segera memperkenal kan Alex.


" Jika begitu saya permisi ". Pamit Alex membungkukkan sedikit badan nya sebagai tanda hormat dan melangkah mundur. Namun ketika dia hendak membuka pintu, Ruby menghentikan dengan pertanyaan nya.


" Bagaimana ke adaan dia ? ". Tanya Ruby tanpa menoleh pada Alex. Alex kembali menghadap tegap ke arah Ruby


" Zen tengah mengurus nya bersama key ". Ucap Alex.


" Oke ! kau boleh pergi ". Seru Ruby mengibaskan tangan nya.


" Apa yang akan kau lakukan selanjutnya baby ?". Tanya Edward. Ruby berdiri menghampiri Edward dengan buah yang sudah di kupas dan juga di potong. Ruby duduk di samping nya dan menyuapi Edward sesekali.


" Tenanglah waktu masih panjang ! aku ingin mereka merasakan bagaimana menjadi orang yang begitu rendahan. Untuk Agatha Zen dan juga Key yang akan mengurus nya ". Jelas nya begitu dingin.


" Bagaimana dengan orang tuamu ? Apa kau tidak akan menemui mereka ?". Tanya Edward membuat hati Ruby terus berdebar.


" Entahlah, aku masih tidak ingin bertemu mereka ". Ucap Ruby. Ada kebimbangan tersendiri di dalam hatinya, seolah dirinya bukan lah anak yang pantas untuk dimiliki kedua orang tuanya.


" Pikirkanlah baik-baik, jangan terus berlarut dalam kebencian. Aku takut nanti kau akan menyesal di kemudian hari, mereka orang tuamu sampai kapan pun walaupun mereka berbuat salah tapi tetap saja kita harus memikirkan kedepannya ". Ucap Edward sembari memegang tangan Ruby dalam baring nya.


" Terkadang tidak hanya anak-anak saja yang berbuat salah, tapi orang tua pun terkadang berbuat salah, adi jangan terlalu menekan dirimu sendiri, karena itu tidak baik untuk hatimu maupun pun untuk kehidupan mu ! Apa kau mengerti ucapan ku sayang ? Berdamai lah dengan orang tuamu eum ". Ucap Edward mengusap lembut tangan Ruby. Itulah salah satu yang Ruby suka dari Edward yang selalu bersikap dewasa dikala dirinya bersikap seperti hal nya anak kecil.


Setiap masalah yang datang, Edward akan menghadapinya dengan santai tanpa membesar besarkan. Tindakan nya begitu mulus, dengan otak yang tenang dan berbagai rencana yang telah dia susun akan membuahkan hasil yang memuaskan. Menurut Edward, jika masih bisa di perbaiki kenapa tidak.


***


" Tch tch tch masuk rumah sakit juga ". Ujar David mengingat Edward-sang kakak yang akhirnya terbaring lemah dan itu hanya karena ketidak inginannya diketahui oleh wanita tercintanya.


" Sshh pura-pura lemah, apa dia sangat ahli dalam bidang ini juga ? ". Ledek Kenzi geleng kepala dengan sikap Edward yang menurutnya terlalu berlebihan.


" Tch ternyata King kita terlalu melankolis hahahaha ". Tawa Lucky.


" Apapun untuk wanitanya ". Seru David senyum-senyum sendiri mengingat pandangan kakak nya terhadap Ruby.


" Maksudmu apa Dev, kita tidak mengerti !". Tanya Kenzi belum konek dengan ucapan David.


" Astaga, apa kalian benar-benar tidak tahu ? ". Tanya David benar benar bingung dengan kedua pria dewasa di depan nya itu.


" Apa kalian tidak menyadari hubungan Lady dan juga kakak ku ? Tch jika kalian tidak sadar maka kalian harus belajar membaca interaksi mata mereka lebih dahulu ". Ledek David.


Lucky dan juga Kenzi membulatkan mata seolah telah mengerti apa yang David maksud, ingatan mereka tentang Ruby dan Edward berputar di dalam kepala tiba-tiba.


" Apa kalian sekarang sudah ingat bagaimana hubungan yang tidak biasa di antara mereka ?!". Ucap David dan mereka berdua pun mengangguk-angguk kepalanya.


" Apa yang sekarang ini tengah terjadi kalian berdua yang merencanakan nya ?". Tanya Lucky penasaran dan David pun mengiyakan nya.


" Oh ya ampun ini benar benar mengejutkan ". Kenzi mengusap dadanya dan menatap tidak percaya kepada David.


" Astaga Dev jika malam tadi Ruby tidak bisa menahan amarahnya maka semua tamu undangan yang ada di sana akan habis semua, ditambah King kita masuk rumah sakit, pastilah amarah Ruby akan terus memuncak. Untung saja di sana ada Alex dkk, jika tidak aku bahkan tidak bisa membayang kan bagaimana nasib para tamu khusus nya Agatha dan keluarga ". Lanjutnya begitu risau.


" Dia sang Lady tidak akan mengambil keputusan dengan sembarangan Kenzi, kau juga mengerti hal itu !". Ucap David


" Kau benar ". Tutur Lucky.


" Tapi sejak dari kapan kalian merencanakan ini ?". Tanya Lucky sembari membuka minuman kaleng di hadapan nya.


" Beberapa hari yang lalu saat aku menghubungi kaka ku, karena aku tahu dia baru selesai membersihkan lalat pengganggu yang ujung nya membuat dia harus di rawat, tapi Edward menolak nya dan langsung pergi ke mansion ".


" Dia begitu tangguh namun hatinya rapuh karena satu wanita, aku bisa merasakan nya saat ini. Kami memanglah terhalang oleh jarak namun tidak bisa di sangkal juka kami akan saling merasakan rasa sakit dan bahagia ". Jelasnya sesekali menghela nafas halus dan menjeda ucapan nya.


|