Mafia Girls

Mafia Girls
EPS 96



" Cepatlah, jalan kalian lambat sekali !". Ujar Revin kesal dengan kedua kaka nya yang begitu lambat, padahal mereka adalah tuan rumah disini tapi kenapa datang nya begitu seenaknya.


" Kenapa jadi kau yang sibuk !". Revin seketika menoleh kasar ke arah kaka nya itu, dia berpikir bagaimana bisa mereka setenang ini padahal pesta perayaan ini begitu penting. Revin benar-benar tidak habis pikir.


" Dimana kakek kalian ? kenapa tidak datang bersama kalian ?". Tanya Luis.


" kakek berangkat bersama Al dan Edward juga dad !". Seru Revan.


" Dekorasi nya benar-benar menakjubkan ". Ucap Ronald mengedarkan pandangan nya.


" Kau benar nak, ini benar-benar indah sekali ! Perayaan ini sangat tepat sekali dengan hari bertambahnya usia mommy !". Timpal nya, Nameera tersenyum mengingat hari bahagia nya yang setiap tahun pasti akan ada perayaan tapi tidak dengan hari ini mengingat adanya Ruby yang masih tidak bisa memaafkan nya.


" Tapi kenapa daddy bisa lupa hahaha ". Canda Luis dan mendapat cubitan kecil di pinggang Luis.


" Jangan lupa hadiah untuk mommy". Ucap Nameera menatap para pria kesayangan nya secara bergantian.


" ceh masih minta hadiah, ingat umur mom !". Ledek Revin tidak tanggung-tanggung.


Karyawan RA COMPANY telah bersiap untuk melangsungkan pesta, beberapa dari mereka memiliki tugas nya masing-masing. Malam mulai semakin pekat dan acara pun di mulai, semua tamu undangan terlihat menikmati pestanya.


Revan menaiki podium dan menyampaikan sambutan nya, sebagian para tamu undangan yang sebelumnya penasaran bagaimana rupa seorang pemimpin dari perusahaan terbesar yang merajai dunia bisnis kini rasa penasaran mereka terpecahkan.


Mereka semua sependapat bahwa Revan benar-benar pantas menjadi pembisnis muda yang sangat sukses karena mereka melihat aura kepemimpinan begitu kuat darinya. Di sela perbincangan mereka, perkataan Revan membuat mereka terdiam.


" Perlu kalian semua tahu, saya memanglah pimpinan dari perusahaan ini tapi hanya sebatas wakil presdir nya saja, untuk pemilik dan pemimpin asli dari perusahaan mempercayakan kepada saya pribadi ! Beberapa masalah yang harus di selesaikan membuat beliau mengambil keputusan secara terbuka ".


Ucap Revan, pandangan nya menyapu bersih setiap sudut gedung, mencari adik kecilnya yang sedari tadi belum kelihatan batang hidung nya. Revan tidak menyematkan nama Ronald yang salah satu pengelola di perusahaan ini tapi Revan lebih memilih mengenalkan nya sebagai kepercayaan dari pimpinan.


" Saya ucapkan terimakasih atas kedatangan kalian semua dan saya merasa terhormat untuk itu ". Tutur Revan men jeda perkataan nya dan sesekali mengatur nafas. " Nikmatilah Pestanya !". Seru Revan mengakhiri sambutan, ketika hendak turun dari podium salah satu undangan bertanya mengenai sosok presdir misterius dari RA COMPANY.


" Kalau boleh tahu siapa gerangan pimpinan dari perusahaan ini ? jika saja para pekerja nya sudah begitu hebat lalu bagaimana dengan presdir nya, tidak kah anda memperkenalkan beliau kepada kami !". Pertanyaan salah satu undangan benar-benar mewakili hati semuanya yang begitu penasaran dengan sosok panutan mereka.


Revan menghentikan langkah kakinya, dia terdiam menatap Ronald seakan meminta saran apa boleh dirinya mengatakan kebenaran, sesekali matanya mencari seseorang yang sedari tadi belum terlihat.


Di antara daddy dan mommy nya sudah terlihat sang kakek yang duduk melingkar di sana berarti Ruby pun sudah tiba, tapi di mana dia ? Batin Revan.


**


" Pastikan semuanya aman ". Ucap Edward yang sekarang berada di ruang bagian keamanan, para mafioso yang bertugas di sana tidak kuat untuk memandang wajah dingin Edward dan juga Ruby.


Ya, sesampainya mereka di sana, Edward dan juga Ruby tidak langsung bergabung dan berbaur dengan para tamu undangan, mereka berdua memastikan terlebih dahulu jika keamanan di sana benar-benar aman karena bagaimanapun tidak sedikit orang dari mereka menginginkan perusahaan nya jatuh.


Hati orang siapa yang tahu, di depan baik tapi di belakang begitu membencinya. Sadar akan kehidupan yang menurut Ruby dan Edward begitu abnormal, jika dia sendiri yang tidak mengatasinya lalu siapa lagi.


Tangan kiri Edward enggan untuk melepaskan rangkulan di pinggang Ruby, dia begitu posesif padanya apalagi malam ini Ruby begitu cantik.


" Honey, apa kau bisa melepaskan tangan mu ? lihatlah mereka begitu canggung melihat kita yang seperti ini !". Seru Ruby dengan suara lembutnya, mereka yang di sana begitu terdiam kala mendengar suara Lady nya yang lembut dan terdengar sexi di telinga mereka.


" Tidak, aku tidak peduli ". Tolak nya semakin mengeratkan rangkulan nya. Nafas mereka tertahan, ingin sekali menghembuskan nya tapi mereka terlalu tegang dan juga canggung. Jika di hadapkan langsung dengan King dan Lady nya, mereka hanya untuk bernafas pun begitu sangat sulit.


" Kalian ini kenapa ! ". Tutur Ruby geli melihat wajah mereka yang begitu membuat ruby ingin sekali tertawa. " Lanjutkan tugas kalian ". Ucap Ruby dan berbalik hendak keluar dari sana.


Di lain tempat di dalam gedung masih riuh para undangan ingin mengetahui pimpinan perusahaan ini tapi tidak kunjung ada jawaban, Revan dan juga Ronald mencoba menghubungi Ruby tapi tidak tersambung.


" ada apa kak ?". Tanya Reina dan Meily hendak menyapa mereka diikuti oleh ketiga teman Edward.


" Apa kalian melihat Ruby ?". Tanya Revan resah.


" Tidak Kak, sedari tadi kami belum melihat nya begitupun dengan kak Edward ! dia bilang akan datang ke sini tapi sampai sekarang kita belum bertemu dengan nya, apa dia tidak jadi ikut ? ". Seru Reina sesekali mengedarkan pandangan mencari keberadaan Ruby.


" Dia ikut Rei, dia kesini bersama Edward dan juga Kakek tapi mereka berdua mendadak hilang ". Ucap Ronald, melihat jam tangan nya. Sudah hampir 2jam mereka hilang entah kemana.


" Apa Edward juga belum bergabung dengan kalian? ". Tanya Revin yang baru saja menghampiri mereka.


" Belum kak, dari tadi kami sudah menghubunginya tapi tidak tersambung !". Jawab Andrew memeriksa handphone nya berharap ada pesan dari Edward.


Nameera, Luis dan Kakek Han yang sedang bertukar cakap dengan rekan bisnisnya langsung menghampiri anak-anak nya karena sedari tadi Nameera dan Luis melihat mereka begitu resah.


" Ada apa van, apa ada masalah ?". Tanya Nameera memegang lengan Revan, Revan seketika menoleh ke arah nya.


" Kenapa ?". Timpal Kakek Han.


" Ke, apa kakek tahu kemana Ruby dan Edward ? ini sudah hampir 2jam mereka pergi !". Revan bukan nya menjawab tapi balik bertanya kepada kake nya.


" Apa ? mereka belum kembali, apa kalian sudah menghubungi mereka ?". Kaget Nameera memegang dadanya dengan satu tangan.


" Sudah mom, kami semua sudah menghubunginya tapi tidak ada jawaban". Jawab Revin mencoba menghubungi mereka kembali.


Luis tidak kaget karena mungkin Ruby sedang menyiapkan rencana nya.


" Dad, kenapa kau tenang sekali ? apa kau tidak khawatir dengan Ruby ? Lihatlah ini sudah jam berapa, mereka masih belum kembali !". Nameera kesal dengan suaminya itu, kenapa dia terlihat tidak resah sedikitpun.


Masih dengan keresahan nya, mereka semua masih berkumpul sibuk memeriksa handphone nya berharap Ruby dan Edward bisa di hubungi. Lampu yang terang perlahan meredup dan tiba-tiba padam secara bersamaan.