
" Dimana Ruby ? ". Geram Edward menarik baju Leo yang tak berkerah.
" maaf, maafkan gue tidak berguna Ed ! dia memohon padaku untuk menyelematkan kedua teman nya dan juga Lexi juga Andrew yang sudah tidak kuat menghadapi pembunuh itu !". Sesal Leo sendu, matanya terlihat berlinang.
" lalu kau meninggal kan nya hah !". Teriak Edward. " Mereka mengincar mu tapi kenapa Ruby yang berurusan dengan mereka hah ?!". Edward mendorong tubuh Leo sampai tersungkur.
" Bagaimana kau tahu mereka mengincar gue Ed ?". Seru Leo terlihat bertanya-tanya.
" Mante ! gue dan Ruby tidak ada urusan dengannya lalu jika bukan dengan kau dengan siapa lagi hah ?! ". Edward terus menumpahkan amarahnya pada Leo entah kenapa.
" STOP ". Teriak Meily menutup telinga nya erat. " Kalian berhentilah, ku mohon jangan seperti ini hiks,,hiks,,hiks ". Tangis Meily dan Reina semakin pecah, Edward mengusap wajah nya kasar lalu mengulurkan tangan nya membantu Leo untuk bangun.
" Sorry ". Ucap Edward menarik tubuh Leo mencoba membantunya berdiri dan menepuk lengan kekar milik Leo.
Edward membalik kan badan nya menghadap para mafioso nya. " Dengar, sebagian dari kalian bantu mereka keluar dari sini dan langsung larikan ke dua teman ku ke rumah sakit, jaga mereka dengan baik ! Jika ada dari mereka yang terluka lagi kalian tanggung sendiri ". Tegas nya.
" Kalian berdua bantu mereka ". Tunjuk Edward pada Key dan juga Maxim. Mereka langsung mendekati Lexi dan juga Andrew.
" Kalian ?". Tunjuk Leo pada Kenzi dan juga Lucky selidik, dirinya selaku ketua mafia tahu, sangat tahu siapa mereka. " Tuan ken, tuan Luck ? salam dari saya !". Salam Leo hormat.
" Kau kenal dengan mereka ? ". Ujar Edward. Leo menganggukkan kepalanya.
" Siapa yang tidak tahu dengan mereka berdua Ed, mafia seperti ku pasti akan kenal pada mereka yang memiliki kedudukan tertinggi di dalam organisasinya dan salah satu nya adalah mereka berdua ". Ucapnya panjang lebar, Kenzi dan juga Lucky masih tak merubah ekspresi datar nya seakan bersikap acuh pada semua orang.
" owh, gue ngga tahu jika mereka seterkenal itu ". Ucap Edward dingin sembari matanya melirik Kenzi dan juga Lucky. Leo heran kenapa mereka berdua masih tidak bergeming dari posisinya saat Edward mengatakan hal seperti itu.
" Tidak mungkin ". Guman Leo dalam hati.
Markas pusat Red Phoenix
David sedang duduk di hadapan Brayn dan juga Rayzen seakan sedang di introgasi tapi tidak membuat David tertekan atau pun ketakutan tapi sebaliknya, wajah santainya masih tak lepas dari raut nya. Brayn dan Rayzen menatap tajam pada David yang masih saja tidak bersuara.
" Katakanlah !". Seru Rayzen menyilang kan kaki nya. David tanpa babibu langsung menceritakan semuanya sesuai yang di perintahkan Edward, reaksi dari Brayn dan juga Rayzen tertangkap oleh David yang dengan itu dapat menyimpulkan bahwa mereka sedang jantungan.
Lain hal nya dengan Revan, Ronald dan juga Revin yang masih duduk menunggu kedatangan yang sedari tadi mereka nantikan. Mata mereka sama sekali tidak merasakan kantuk, isi kepalanya masih penuh dengan nama adiknya yang sampai sekarang belum ada kabar sama sekali dan itu membuat mereka terus melek.
Sementara di hutan mereka bersiap mengamankan Reina dan juga yang lain nya.
" Ed, kau?". Seru Edward membulatkan matanya seolah bola matanya ingin meloncat keluar.
" Kita bicarakan nanti ". Lengos Edward melanjutkan langkah nya diikuti oleh Kenzi dan juga Lucky.
" Mari ". Ucap Maxim yang masih menunggu Leo agar tidak terpisah dengan rombongan.
***
sssssshhhhhh, ringis Ruby. Ruby berdiri berniat melanjutkan langkah nya, wajah nya semakin memucat.
" Dimana ini, kenapa kembali lagi ke sini ? ". Sadar Ruby mengenal tempat yang sudah dia lalui tadi dan kini kembali lagi ke tempat yang sama.
" huffhhhh ". Nafas berat terus menghembus dari mulut dan hidung nya tapi dia tetap menguatkan dirinya untuk keluar dari hutan lebat ini. Berjalan terus berjalan sesekali kembali lagi pada tempat yang sama sampai dia mendengar beberapa langkah kaki yang menginjak ranting kering di atas tanah, Ruby yang tahu batas kekuatan nya sudah habis dia memilih untuk bersembunyi di antara pohon-pohon pendek yang rindang dan saling berdekatan.
Suara itu semakin ke sini semakin jelas, Ruby terus waspada akan kemungkinan yang buruk menimpa dirinya. Mata Ruby melihat tiga pria berjaket hitam tengah mengedarkan pandangan nya entah apa yang mereka cari sampai akhirnya mata Ruby menangkap sosok yang begitu ia nantikan kedatangan nya.
Saat Edward dan yang lain nya akan melanjutkan pencarian nya, Ruby langsung keluar perlahan dari pohon itu masih dengan menekan lukanya sembari menyeret kaki nya yang penuh dengan luka.
" Honey, apa itu kau ? ". Ucap Ruby, matanya sudah tidak dapat lagi menahan untuk tertutup tapi Ruby terus membuat nya sadar.
Edward dengan kasar membalikkan tubuhnya ke belakang hendak melihat jika itu bukan hanya halusinasi nya saja.
" Ruby !". Ucap Kenzi dan juga Lucky bersamaan, mereka berlari pada nya dan memeluk Ruby.
Ruby masih menyematkan senyum nya pada Edward.
" Baby, maafkan aku maaf !". Edward terus memeluk tubuh Ruby dengan erat menumpahkan rasa gelisah nya di sana sesekali mendaratkan kecupan di pucuk kepala Ruby. Edward sedikit menjauhkan tubuhnya agar lebih leluasa memandang wajah Ruby dan matanya terkunci pada bagian perut yang terikat dengan kain.
" Baby ". Gemetar Edward, tangan nya segera menyentuh perut Ruby dan menekan luka nya karena masih terlihat darah yang keluar dari sana. " Tidak, tidak jangan memejamkan matamu aku mohon !". gelagat Edward akan membuat wanita iri pada Ruby yang di perlakukan lebih dari pada umumnya seorang pasangan. Edward terus menepuk-nepuk pipi Ruby agar tetap sadar.
" Ken bantu aku menaik kan Ruby ke atas punggungku cepat ". Resah Edward dengan kondisi Ruby yang semakin tidak sadarkan diri. Lucky dan juga Kenzi langsung membantu membenarkan posisi Ruby dalam gendongan Edward.
Edward terus berlari mencari arah ke luar hutan yang semakin kesini semakin hening, Kenzi dan juga Lucky membantu menerangi jalan Edward agar lebih mudah melangkah kan kakinya. Tubuh Ruby dalam gendongan Edward terus bergeser tidak bisa diam sampai akhirnya Edward menggendong Ruby seperti hal nya bayi pada umum nya.
" Mobil !". Seru Lucky melihat beberapa mobil di sana yang masih tertutup dengan dedaunan, Kenzi dan juga Lucky langsung memastikan bahwa penglihatan nya tidak salah.
" sungguh, ini benar-benar mobil ". Girang Lucky, benar itu adalah mobil yang di tinggalkan para mafia mante sore tadi, satu persatu Lucky memeriksa mobil itu karena pasti kunci mobil nya di amankan oleh mereka semua, rasa kecewa mulai terpancar dari wajah Kenzi dan juga Lucky, mereka mengira ini adalah keberuntungan nya tapi nyatanya tidak dan terakhir satu mobil lagi harapan mereka, senyum mereka mengembang kala melihat kunci mobil yang masih terpasang di sana.
Edward mengemudikan mobil nya karena hanya dia yang tahu tempat ini, Kenzi dan juga Lucky mengapit Ruby agar tetap aman di belakang.
" itu sepertinya jalan raya ". Tunjuk Lucky yang ternyata itu benar jika di sana adalah jalan raya yang begitu panjang nya.