
Edward berjalan menulusuri lorong yang begitu gelap, terus berjalan sampai akhirnya dia sampai di sana, ruangan yang begitu megah layaknya sebuah mansion, jika ada yang ke sana akan begitu tidak percaya bahwa panjang nya lorong gelap itu di akhiri dengan sebuah bangunan yang begitu indah dan juga terang.
" Selamat siang King ". Ucap setiap mafioso yang tengah berjaga di sana, Edward merespon nya dengan sedikit senyum dan juga kepala sedikit menunduk sebagai jawaban.
Langkah Edward terhenti di depan pintu berwarna silver dan segera membukanya.
" Selamat siang King ! Kenapa anda tidak memberitahu kami jika akan berkunjung ke sini ". Seru Key langsung berdiri dan memberi hormat kala Edward menampakkan dirinya dari balik pintu berukuran tinggi itu.
" Hanya berkunjung sebentar, tidak salah nya jika menyapa tamu kita di sini ". Tutur Edward menepuk sebelah bahu Key dan melewatinya.
" Apa yang akan dilakukan nya ". Batin key resah, karena dia tahu jika dirinya sudah berkunjung ke markas pasti akan ada badai yang besar tapi cepat surut nya dan itu membuat bulu kuduk nya merinding.
Cklek !!
Edward membuka pintu kamar berwarna coklat itu, setelah pintu terbuka lebar menampakan seorang wanita yang begitu berpenampilan acak-acakan layaknya orang gila, wajah nya tidak lagi mulus, banyak bekas sayatan di sana dan edward tahu siapa yang melakukan nya.
Edward berjalan terus mendekati Agatha yang sedang ketakutan dengan masih memakai piyama, tubuhnya terlihat gemetar, agatha benar-benar seperti orang tang setengah waras.
Argghhh
" Jangan mendekat, pergi !". Teriak Agatha begitu kerasnya, gelas yang berada di sampingnya kini tengah melayang ke arah Edward tapi dengan santainya menghindar tanpa terkena sedikit pun.
Edward dengan kasarnya mencengkram kedua pipi Agatha dengan tangan kekar sehingga dirinya begitu meringis kesakitan, sorotan mata Edward begitu tajam seperti elang yang siap menerkam mangsanya.
" Apa sakit ?!" Seru Edward mengencang kan cengkraman nya sehingga bekas luka di wajah agatha mulai sedikit demi sedikit mengeluarkan darah nya.
Air mata Agatha mulai membasahi pipi, siapapun tahu jika cengkram Edward begitu menyakitkan, kedua tangan Agatha memegang tangan Edward seolah berusaha melepaskan cengkraman itu tapi apalah daya tenaga Edward begitu besar di bandingkan dirinya.
" Ini tidak seberapa dengan sakit yang di alami kekasih ku, akan ku buat kau merasakan bagaimana rasanya hidup segan matipun tidak mau !". Tekan Edward seraya melepaskan cengkraman nya dengan kasar sehingga tubuh Agatha tersungkur jatuh ke lantai.
" Aaaaaargg,,,hiks,,hiks,,hiks pria kejam ". Tangis Agatha pecah, dia berteriak kemudian menangis dan tidak lupa umpatan yang keluar dari mulut nya untuk Edward.
" Kejam ? Ya, aku memang kejam untuk dia yang berani menyentuh milik ku dan kau benar-benar tidak beruntung untuk ini, percuma kau terus mengumpat tentang diriku aku tidak akan memperingan hukuman atas perbuatan mu ". Ujar Edward berdecak pinggang, ucapan nya sedikit mengandung ancaman untuk Agatha dan agatha mengerti.
BRAKKKKK
Edward menutup pintu kamar itu dengan keras, Key yang masih berjaga bersama beberapa mafioso di sana terkejut dengan kelakuan Edward.
" Siksa dia tapi jangan sampai mati, kau bermainlah perlahan dengan nya, aku ingin dia merasakan bagaimana siksaan yang sebenarnya ". Ucap Edward penuh penekanan, wajahnya dingin dan juga datar. Key dengan yang lain nya begitu terkesiap dengan perintah dari king nya, semua orang saling pandang mendengar itu.
Edward berjalan memunggungi mereka, ketika hendak keluar, Edward berpapasan dengan Alex yang berjalan cepat masuk ke dalama ruangan itu.
" Selamat siang King ". Alex menunduk kan kepalanya, Edward masih dengan tatapan datarnya dia membalas sapaan dari Alex dan langsung berlalu pergi.
" Ada apa ?". Tanya Alex kepada Key yang masih dengan keterkejutan nya.
" King memang orang yang begitu kejam, sangat cocok dengan Lady kita Tch tch tch mereka sepertinya berjodoh ". Ucap Key.
Key menceritakan semua kejadian yang tidak lama ini berlalu, Alex begitu senang karena perintah yang harua dilakukan kepada Agatha, dia benar-benar antusias sampai key menggeleng-geleng kan kepalanya.
" Baiklah, aku yang akan mengurus nya " Ucap Alex melangkahkan kakinya mendekati kamar yang di tempati Agatha.
***
" Rei, kita main ke rumah Ruby yuk ! kangen nih aku ". Ujar Meili begitu bosan dengan aktifitasnya, sudah lumayan lama Ruby tidak masuk sekolah, Edward pun sama halnya dengan Ruby.
" Ayo nanti kita main ke sana, aku- juga sama kangen sama anak itu ". Ucap Reina menyedot Jus mangga.
" Rei, mei !". Sapa Lexi dan juga Andrew diikuti Leo tanpa bicara dan langsung saja duduk bersama dengan mereka.
" kenapa ?".Tanya Reina pelan kepada Lexi dan juga Andrew, Lexi dan juga Andrew menyeru tidak tahu karena memang ya dari pagi itu anak menekuk terus wajahnya.
" Lesan makanan dulu sana ". Ujar Andrew kepada Lexi seperti biasanya, Lexi pun berdiri dan menuju pantry di sana.
" Kamu kenapa Le ? ". Tanya Andrew menyilang kan kaki nya dan menyandarkan punggungnya di kursi serta tangan melipat di depan perutnya.
" iya kak kamu kenapa ? kenapa terus menekuk wajah tampan mu itu, apa ada masalah ? ". Timpal Meily bertanya. Leo orang yang begitu dingin dan juga datar tapi tidak pernah menekuk wajah nya sama sekali.
" Tidak ada ". Jawab singkat Leo dan kembali ke mode diam nya.
" Jika tidak ada kenapa kau terus menekuk wajahmu itu, tidak biasanya !". Seru Reina seolah mencari kebenaran dari Leo.
" Apa kau di tolak cewek Le ?". Celutuk Lexi yang sudah tiba dengan makanan di tangan nya.
" Ngaco, mana ada dia seperti itu, tidak percaya aku jika itu benar hahahaha ". Bantah Andrew karena memang itu tidak mungkin terjadi pada Leo dengan kesempurnaan nya tidak akan ada wanita yang berani menolak nya.
" ceehhh kali aja benar Drew, soal hati siapa yang tahu ! Iya kan Rei, Mei !". Seru Lexi dengan tengilnya.
" Haih kalian ini, sudah makanlah dulu ! ". Tutur Reina pusing jika mereka berdua mulai berdebat.
Di tengah obrolan, Meily mengatakan kalau akan berkunjung ke rumah Ruby.
" Apa kalian akan ikut, biar nanti ke sana rame-rame ! sudah lama juga kan kita tidak ke sana ". Ucap nya lagi.
Leo yang mendengar itu seketika bersuara.
" Aku tidak ikut, kalian pergilah tanpa aku ". Ucap Leo seperti malas mengikuti obrolan di antara mereka. Semua di meja itu terbengong dengan ucapan Leo.
" Lah, biasanya kau paling semangat jika main ke rumah Ruby Le ". Ucap Andrew sedikit nada mengejek. Lexi menyunggingkan senyumnya seperti tahu apa yang tengah terjadi pada Leo.
|