
Revin tidak seperti Revan yang akan begitu sabar menghadapi seseorang, emosi kedua saudara itu bagaikan langit dan bumi.
Wajah dingin dan juga datar Revan banyak menyembunyikan berbagai rahasia. Jika di selidik pun tidak akan bisa terdeteksi apa yang tengah dia rasakan dan apa yang tengah dia rencanakan, itulah sifat Revan yang banyak berubah ketika adik nya menghilang.
Awalnya sifat Revin begitu pecicilan tapi semua itu pun berubah menjadi Revin yang begitu dingin dan serius dengan alasan yang sama. Dia tidak akan terima jika ada seseorang yang mencaci bahkan menghina adik kesayangan nya termasuk kedua orang tuanya.
" Sekali lagi kalian menghina adik ku maka kalian akan terima akibatnya ". Revin benar-benar di kuasai oleh amarah saat ini.
" Maaf tuan, anda ini siapa marah-marah tidak jelas ?". Ujar orang itu yang benar-benar tidak mengenal Revin sama sekali karena waktu itu Revin tidak ada dalam kejadian. Wajah Revan dan juga Revin sudah lama tak terlihat di publik dalam waktu yang lama, untuk itu mungkin mereka seolah samar dan tidak mengenal Revan dan juga Revin saat ini.
Revan dan juga Ronald pun sama marahnya dengan Revin, tapi mereka akan melihat sampai mana cacian itu . Wajah memerah, rahang mengeras bahkan telapak tangan pun mengepal menahan marah yang begitu sudah membuncah dalam kepala Revan dan juga Ronald.
" Saya ?". Tunjuk Revin menunjuk dirinya sendiri dengan tatapan yang begitu mematikan. Tamu undangan hanya bisa menahan takutnya dengan berdiam diri, karena mereka semua baru menemui seseorang dengan amarah yang begitu garang dan juga menakutkan.
Orang tua dari kedua teman Agatha pun yang ingin marah, namun masih tertahan karena menyaksikan Revin. Luis begitu tegang dan tubuhnya bergetar entah kenapa, begitupun dengan Nameera yang hanya bisa menangis kala menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana sikap dari Agatha.
" Saya seorang kaka yang adik nya kau hina, saya tidak peduli kau menghina gadis itu sama sekali, saya pun tidak akan marah, tapi anda jangan sekali kali menghina adik bungsuku dengan mulut kotor mu itu". Bentak Revin begitu marah sembari menunjuk ke arah Agatha dengan ketidak pedulian nya itu.
" Saya tidak mengada-ada, semua itu nyata dan benar ada nya tuan. Saya berada di sana saat kejadian dan menyaksikan bagaimana peristiwa itu ". Sergah orang itu tidak terima jika Revin bersikap seperti itu karena sesuatu hal yang benar adanya menurut nya.
" Tch tch, jika anda tidak bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah, sampai mati pun perusahaan anda tidak akan pernah maju jika pemimpin nya bodoh seperti ini ". Revin menghinanya begitu tidak kepalang, sesekali tatapan nya menyapu bersih seluruh ruangan seolah mengingatkan mereka semua bahwa dia sedang mengancamnya.
" Jika kau benar ada di sana, lalu kenapa anda tidak mengenal saya tuan ? ". Tajam Revin dengan seringai nya.
PROK,,PROK,,PROK. Revan tidak bergeser sekalipun dari tempat nya, dia menepuk tangan di sela ketegangan itu.
" Apa kalian di sini benar-benar tidak mengenal kami ini siapa ? Apa saya harus mengatakan jika itu mustahil ?!". Suara tegas mendayu itu sangat menyeramkan.
Suara garang milik Revan akhirnya keluar, tidak ada yang berani mengeluarkan suara di dalam ruangan. Walaupun masih ada tamu yang usianya sama dengan Revan tapi karena aura yang seperti akan membunuhnya mereka tidak berani menatapnya.
Revan terus berbicara tanpa henti sembari kakinya melangkah maju ke hadapan orang tuanya, tapi tidak dengan tatapan tajamnya masih tidak lepas dari para tamu undangan dan sesekali menatap tajam ke arah Agatha yang begitu tegang dan juga gemetar. Amarah yang tertahan selama ini akhirnya lepas tidak terkontrol, langkah Revan berhenti tepat di hadapan sang ayah.
RUBY ALDERIA SMITH
" Ya itulah nama nya waktu itu, tapi tidak untuk sekarang, apa kalian masih ingat alasan nya ?". Revan terus mengingatkan kejadian waktu itu, Revan tau jelas karena bantuan dari cctv rumah nya yang kebetulan menampilkan keadaan yang begitu jelasnya di sana, hatinya begitu perih dan juga sakit seperti tersayat.
" Ruby, adik perempuan ku satu-satunya yang telah kalian hina sebegitu kejamnya ! apa kalian masih tidak sadar ". Tatapan mereka berubah menjadi begitu tegang kala Revan mengucapkan sesuatu yang membuat mereka kelabakan. Ronald dan juga Revin hanya berdecak pinggang dengan perubahan dari mereka semua.
" REVAN DELINDRA SMITH putra sulung dari tuan SMITH yang begitu terhormat ! Aku yakin sebagian dari kalian ada yang sudah mengenal siapa kami sedari awal aku yakin itu ".
Revan yang awal nya begitu santai dan juga tenang, tiba-tiba meledak memuntahkan amarah yang terasa sudah lama terpupuk.
" Revan, maafkan mommy hiks ! hiks ! hiks !". Tangis Nameera pecah.
" Maaf ? sudah terlambat, aku sudah memperingatkan kalian tidak semua orang mempunyai kesempatan kedua, apa kau masih mengingat ucapan ku waktu itu mommy ? ". Giliran Revin yang berucap dengan pedasnya.
" Nikmatilah masa tua kalian dengan beribu penyesalan". Timpal Ronald yang sedari tadi mulutnya gatal ingin berbicara. Semua orang mengerutkan dahinya termasuk kedua orang tua Ruby bahkan Agatha. Mengerti akan tatapan mereka maka Ronald memperkenal kan dirinya.
" Ronald, Kaka angkat dari Ruby Alderia sekaligus kepercayaan dari perusahaan Ra Company ". Senyum misteri terulas dari sudut bibir Ronald. Semua orang terkejut dengan pernyataan nya. Apa dia orang nya ? Batin mereka di sana.
Ronald, namanya di kenal oleh semua orang di beberapa negara khusus nya dalam ruang lingkup bisnis. Dirinya di kenal dengan Tangan kanan Ra Company yang begitu kejam, akhirnya mereka menyaksikan sendiri bagaimana rupa dari Ronald yang selama ini mereka nantikan dan akhirnya hari ini mereka semua menyaksikan bagaimana tampan dan juga gagah nya seorang tangan kanan dari Ra Company yang begitu misterius itu.
" Dan kau !". Tunjuk Ronald kasar kepada Agatha.
" Ini untuk air mata adik ku ". Sarkas Ronald
Pllaak !!. Ronald kembali menampar Agatha
" Ini untuk fitnah kejam yang kau tujukan kepada adik ku ". Ronald masih geram mengingat curhatan dari Ruby mengenai keadaan nya saat itu.
Pllaakk !! Pllaaakk !!
Ronald begitu marah semakin marah jika terus melihat wajah Agatha
" ini untuk semua yang terjadi kepada adik ku, cihh bahkan tamparan ini tidak sebanding dengan sakit yang selama ini adik ku terima". Ronald begitu jijik tangan nya menyentuh kulit kotor milik agatha. Tangan nya dia sengaja bersihkan oleh tisu basah.
" Saya tidak pernah memukul apalagi melukai wanita, tapi jika urusan nya dengan adik saya maka saya tidak segan. Bukan memukul atau melukai tapi saya tidak segan membunuh nya ". Tajam Ronald
Salam Hangat dari author
LIKE
KOMEN
SHARE
VOTE
😍🙏😘💕🥰