
Walaupun Ruby sudah dekat lagi dengan daddy nya tapi tetap saja Ruby jarang bertegur sapa.
" Maaf tuan, nona muda mengantarkan ini untuk mu ". Ucap salah satu mafioso yang Ruby tugaskan untuk mengantar baju yang akan di kenakan oleh Luis dan juga Nameera.
" Siapa Dad, kenapa kau tidak mempersilahkan nya masuk ". Ucap Nameera yang baru saja datang melihat suaminya yang masih mengobrol di depan pintu, pelayan di sana sibuk dengan pekerjaan nya jadi Luis sendiri yang membukanya.
" Kalau begitu saya permisi tuan ". Pamit nya langsung berlalu pergi.
" Apa itu dad, sini biar mommy yang bawa ". Nameera meraih paper bag di tangan Luis yang berwarna hitam pekat.
" Tidak tahu, ayo kita buka di dalam ". Ucap Luis berjalan mendahului istri nya.
Nameera dan juga Luis duduk di ruang keluarga, mereka langsung membuka isi dari paper bag itu, Nameera begitu terkejut sekaligus senang mendapat gaun yang begitu indah.
" Waw dad lihatlah ini begitu indah sekali ". Ucap nya kagum, gaun berwarna biru bercampur kan putih seperti menggambarkan lautan lepas, potongan sederhana tapi begitu indah.
" Ini cantik sekali mom, kau cobalah dulu pasti ini sangat cocok untuk mu !". Seru Luis.
" Baiklah ayo kita coba, kau juga harus mencoba pakaian mu ". Tutur Nameera menenteng baju dan paper bag itu ke dalam kamarnya.
Luis merogoh handphone nya dan segera mengirim pesan singkat kepada Ruby.
Ruby masih sibuk dengan pekerjaan nya, dia begitu serius memeriksa setiap berkas yang menumpuk di atas mejanya karena dia tidak ingin ada pekerjaan di saat pesta nanti malam tiba dan dia tidak ingin ada berkas yang tersisa sedikitpun.
Ruby meraih handphone genggamnya karena ada pesan masuk yang terdengar di telinganya, Ruby langsung saja mengecheck dan membuka sebuah pesan singkat dari Daddy nya.
" Terimakasih ". Pesan singkat itu membuatnya tersenyum dan bahagia karena pasti barang yang dia kirim sudah sampai, jika dari ucapan nya ini pasti gaun dan jas yang di berikan Ruby sangat cocok dengan kriterianya.
" Al, ini sudah jam berapa hmm ! kenapa kau masih saja bekerja, apa kau tidak lelah ? ". Revan ke kamar Ruby tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, Revan terlihat membawakan cemilan untuk Ruby karena sedari tadi dia tidak keluar.
Revan mengambil alih laptop di pangkuan Ruby dan dia membawanya ke atas meja sofa di sana.
" Makanlah dulu, ini biar kaka yang menyelesaikan nya !". Ujar Revan langsung bermode serius kala mengerjakan berkas-berkas itu.
" Thanks you !". Seru Ruby tersenyum manis, Revan pun membalasnya dengan senyuman juga.
" Apa kau sudah memiliki gaun untuk pesta nanti malam Al ?". Tanya Revan, tapi tatapan nya masih fokus ke layar laptop tanpa melirik ke arah Ruby.
" Sudah dong kak, aku sudah siapkan juga untuk kalian, Lihatlah !". Tutur Ruby menunjuk Ke arah nakas panjang yang berjejerkan paper bag di sana. ". Nanti malam kalian akan mengenakan pakaian dari ku ". Ucap nya lagi, membuat Revan langsung menoleh ke arah nya entah apa yang di pikirkan nya tapi Ruby segera mengatakan " Jika tidak mau tidak apa ". Karena dia tidak akan memaksa keinginan nya.
" Siapa yang tidak mau ? kita akan mengenakan nya nanti malam, apalagi semua itu pemberian adik kecil kaka bagaimana kaka bisa menolaknya !". Ujar Revan menutup laptop nya menandakan semua pekerjaan nya sudah selesai.
Revan memeluk Ruby penuh kasih dan sayang. "Apapun untuk mu sayang, selama itu membuat mu bahagia, kaka akan melakukan nya tapi masih dalam batasnya ". Ucap Revan mencubit hidung mancung Ruby sampai terlihat memerah.
" Aku menyayangimu kak !" Seru Ruby memeluknya kembali.
" dan kaka lebih dari itu, jadi tetaplah seperti ini, tetap menjadi adik kaka yang manis dan manja karena itu membuat kaka semangat menjalani hidup ". Serunya begitu melow.
" kau terlalu berlebihan kak hahaha ". Tawa Ruby tapi tidak keras dan juga tidak juga pelan, Ruby menepuk kedua bahu Revan dengan lembut.
" oh iya, kapan kaka akan memberiku kaka ipar yang cantik dan juga baik hmmm ?". Tanya Ruby menggoda kaka nya yang sampai saat ini memilih untuk tidak dulu mencari pasangan hidup.
" Ah, sudahlah kaka jadi malas mengobrol dengan mu ". Revan memang tidak suka jika Ruby terus membahas hal ini, karena menurutnya tidak perlu terburu-buru untuk menikah toh usianya masih sangat muda.
" Dih ngambek ". Kilah Ruby terus saja menggoda kaka nya.
" Semuanya sudah beres, kau bersiaplah untuk nanti malam ". Ucap Revan keluar dari kamar Ruby.
Revan dan juga yang lain nya hanya tahu jika nanti malam hanya pesta perayaan perusahaan saja jadi mereka sedikit bersantai.
Jam menunjuk kan pukul 7 malam, semua orang tengah berdatangan, terlihat mereka begitu antusias memenuhi undangan dari perusahaan terbesar itu dan sebagian dari mereka begitu penasaran dengan bagaimana rupa pemimpin yang selama ini terus saja bersembunyi di balik gedung yang begitu megah nya karena mungkin sebagian dari mereka pernah bertukar cakap dengan Revan dan juga Ronald.
Terlihat keluarga Meily dan juga Reina datang bersamaan, para tamu undangan tidak surut berdatangan entah berapa banyak undangan yang Ruby sebarkan sampai para tamu undangan tidak terhitung jumlah nya.
" Kak !". Panggil Meili melambaikan tangan nya, terlihat Lexi andrew dan juga Leo sudah ada di sana. Meily dan Reina langsung menghampirinya, orang tua mereka pun mengikuti langkah mereka.
" Kalian cantik sekali malam ini ". Puji Lexi dan juga Andrew bergantian.
" Iya dong, pesta seperti ini aku harus menjadi yang tercantik hahahaha ". Seru Meili.
Meily dan juga Reina menyapa orang tua Lexi, Andrew dan Juga Leo dengan sopan begitupun sebalik nya.
" Kau sangat cocok sekali dengan gaun ini nyonya ". Ujar mommy nya Reina karena bagaimanapun dia adalah seorang desainer yang pandai dalam menilai sebuah pakaian, Nyonya Jeffrey langsung bersemu di puji oleh nya.
" Kau bisa saja nyonya, kau juga cantik dengan gaun itu ". Balasnya dengan memuji, mereka semua mengobrol sembari menunggu acara di mulai.
Mobil keluaran terbaru berjejer di depan gedung, Luis dan juga Nameera menjadi sorotan para wartawan dan juga para tamu undangan di sana, Nameera sangat cocok dan cantik sekali dengan gaun yang melekat di tubuh nya. Luis menggandeng tangan begitu agresif, mereka berjalan membelah pasang mata yang masih menatap penuh dengan rasa kagum nya.
Setelah mereka, Revan, Revin dan juga Roland yang selanjut nya keluar dari mobil kedua setelah mobil daddy nya di ambil alih oleh sang supir.
Mereka benar-benar tidak bosan untuk di pandang, bagaimana tidak wajah mereka begitu sangat tampan.