Mafia Girls

Mafia Girls
EPS 107



Seminggu berlalu, kini Edward masih berada di Irlandia menyelesaikan pekerjaan nya. Mansion Ruby yang biasanya ramai terlihat sangat sepi, semua orang sibuk dengan pekerjaan nya masing-masing. masa cuti David pun sudah habis dan hari ini adalah kepulangan nya bersama Zen karena dia masihlah asisten David.


" Dev, apa kau akan pergi juga !". Seru Ruby cemberut, mata nya mulai berkaca-kaca menahan sedih kenapa semua orang kini satu persatu pergi dari nya. " Tinggal lah di sini lebih lama ya ya ya ". Lanjutnya menggenggam tangan David seraya menggoyang-goyang kan nya.


David tidak tega melihat Ruby seperti ini, dia tersenyum dengan menghembuskan nafas nya perlahan. " Aku harus pulang sweetie, masa cuti ku sudah habis ! nanti aku berkunjung lagi ke sini kalau perlu aku pindah ke sini hmmm !". Ucapnya menghibur hati Ruby, David tahu jika Ruby ingin menangis matanya mulai terlihat berkabut.


David menarik Ruby ke dalam pelukan nya,


" Aku akan menghubungi mu jika sudah sampai, ssstt sudah jangan menangis ". David merasakan baju nya basah, tangan nya terus membelai rambut Ruby.


" Hikss,,hiks,,hikss,, mmm pergilah sudah waktunya". Ruby melepaskan pelukan nya, wajah nya basah dengan air mata,matanya begitu sembab. Baru kemarin dia di tinggal pergi oleh Edward dan kini David pun pergi, kedua pria tampan kesayangan nya pergi dari nya.


" Mari !". Suara Zen mengakhiri pelepasan rindu antara mereka, Zen kasihan melihat Lady nya yang masih menangis mengingat seminggu lalu baru di tinggal oleh King nya, tangan Zen menarik dua koper dan di salah satu genggaman tangan nya memegang paspor.


" Hati-hati ". Ucap Ruby sendu.


" baiklah, segera pulang jangan keluyuran ". Ujar David mengecup kening Ruby.


______________


FLASH BACK ON


Di taman belakang mansion, Ruby sedang bercengkrama dengan Brayn dan juga Savira tidak terlewat Rayzen pun ikut berkumpul di sana. Sesekali mereka melayangkan candaan, suasana seperti ini sangat membuat Ruby bahagia dan sesekali mereka mengobrol serius tentang pekerjaan nya.


Para orang tua pun sedang sibuk dengan permainan jaman dulu yang pernah mereka main kan. Revan, Revin dan juga Ronald pergi bekerja, bahkan hari ini Revin harus pergi keluar kota untuk menyelesaikan pekerjaan nya.


Edward dan David terlihat menghampiri Ruby di sana.


" Baby ". Ucap Edward, Ruby berdiri dan menoleh padanya. David duduk di antara Brayn dan juga Savira.


" Sempit ". Ucapnya nyengir, padahal di tempat lain masih luas tapi dia sengaja agar Savira kesal, Savira hanya mendengus kesal dan bergeser. Brayn mengacak-acak Rambut David dan Rayzen menggelengkan kepalanya.


Edward menggenggam tangan Ruby dan satu tangan nya menyelipkan Rambut Ruby yang berhamburan menutupi matanya .


" Ada yang ingin aku bicarakan ". Ruby menatap Mata Edward, kepalanya menengadah. Tinggi yang tak sama membuat Ruby harus mengangkat kepalanya.


" bicaralah !". Seru Ruby.


" Ayo ikut aku ". Edward menarik lembut tangan Ruby masuk ke dalam dan langkah nya terhenti di balkon.


" Apa yang ingin dia bicarakan ?". Ucap Rayzen melirik David, David yang merasa ada yang menatap nya langsung mendelik kan kedua bahunya tidak tahu.


Di teras belakang para orang tua sedang serius memainkan catur jaman dulu, Nameera menghampiri mereka dengan membawa makanan dan juga minuman untuk mereka.


" Ayo minumlah dulu ?". Nameera menyimpan semuanya di meja yang satunya lagi dan duduk di sana.


" Papa kapan kau akan pulang ?". Tanya Nameera hati-hati takut Han tersinggung.


" Bukan itu maksud ku Pa, aku hanya bertanya saja ". Ujar Nameera.


" Besok, besok papa pulang ! ". Ucap Han pelan.


" Apa papa tidak ingin tinggal bersama kami ? tinggal lah di sini Pa ". Seru Luis seolah memohon, bukan nya apa tapi papa nya itu sudah tua untuk tinggal sendiri.


" Tidak tidak, papa akan pulang ke China ! di sana papa pun memiliki keluarga ". Tolak nya. ya, di China Han pun memiliki keluarga yang harus di urus oleh nya yang tidak lain adalah murid-murid di perguruan nya. Jakson hanya menyimak saja sesekali menatap kake Han secara teliti karena dia merasa pernah melihat nya.


" Baik lah terserah padamu pah ". Ucap Nameera pasrah dengan keras kepala Ayah nya itu.


Jakson memberanikan diri bertanya. " Maaf tuan apa kita pernah bertemu ?". Tanya Jakson kepada kakek Han, Jakson dan juga Luis memiliki perbedaan usia yang cukup tipis tapi entah kenapa pertama dia bertemu dengan Ruby dia memanggil nya dengan sebutan Kake dan itu tidak Jakson permasalah kan.


Luis dan juga Nameera menatap kakek Han menunggu jawaban atas pertanyaan dari Jakson.


" Tidak, kita tidak pernah bertemu ". Jawab nya.


" Tapi kenapa saya tidak asing dengan wajah mu !". Seru Jakson mengingat-ingat wajah itu, bisa di bilang wajah Han tidak berubah hanya saja sekarang ada keriput di wajah nya.


Jakson bergumam mengucapkan satu nama dan itu cukup terdengar oleh Han.


" Lucifer ?". Ucap Han mengulang.


" Lucifer ? bukan nya Edward memiliki marga itu ? tapi dia adalah putramu bukan ?". Timpal Luis mengarahkan tatapan nya kepada Jakson


" Tuan, apa kau mengenal keluarga Lucifer yang berada di Irlandia ?". Deg jantung Han berdegup, tangan nya meremas lembut dadanya seakan penyesalan itu terasa kembali.


Han menatap kosong ke depan. " Kenal, sangat kenal !". Jawab nya membuat Luis dan Nameera mendekat kan tempat duduk nya, Jakson terperangah mendengar jawaban dari Han.


" Han Yangze ". Jakson mengucapkan nama lengkap dari kakek Han. Kakek Han menautkan kedua alis nya bertanya dari mana dia tahu nama lengkap nya.


" Apa benar nama mu Han Yangze ?". Jakson memastikan bahwa dugaan nya benar jika dia adalah sahabat dari Ayah teman nya.


" Siapa kau, kenapa kau mengenal nama saya ?". Suara beray Han bertanya, kedua alis nya bertautan menjadikan kelopak mata pun membulat bersamaan.


" Jakson, Jakson Abraham ! Apa kau tidak mengingat ku ?". Jakson menegaskan nama nya seolah membantu kake Han untuk segera mengingat nya.


" Jakson ? Abraham ?". Kake Han dengan keras mengingat nya.


" Teman dari anak sahabat ku kah ? Arvano Lucifer ! ". Ucap nya.


" Ya, aku sahabatnya, sahabat dari Arvano Lucifer ! apa kau sudah mengingat ku paman ?". Seru Jakson bertanya, dirinya senang bisa bertemu kembali dengan nya.


|