Mafia Girls

Mafia Girls
EPS 119



" Belum, ke mana lagi kita harus mencarinya dan siapa lagi yang harus kita hubungi ". Ujar Revan, otak nya tidak sekalipun mengingat Edward di situasi seperti ini ataupun kerabat Ruby yang berada di Irlandia.


" Kau mau kemana Vin ?!". Tanya Ronald mendapati Revin yang tengah berjalan cepat dengan jaket bomber yang melekat di tubuhnya dan juga kunci mobil yang siap untuk dia gunakan.


" Ke rumah itu, aku akan mencarinya ke sana ". Jawab nya tanpa memberitahu Ronald dan juga Revan rumah yang dia maksudkan.


" Rumah ? rumah mana yang kau maksud vin ?!". Selidik nya. Tanpa mengindahkan pertanyaan kaka nya, Revin langsung bergegas keluar.


" Vin !". Panggil nya dengan berteriak bersamaan sampai semua para pelayan berhamburan keluar dan juga kedua orang tuanya.


" Ada apa, apa yang terjadi ? kenapa kalian berteriak seperti itu ? apa ada kabar dari adik kalian ?". Pertanyaan beruntun dari Nameera membuat mereka terdiam enggan untuk menjawab.


" Aku pergi !". Seru Revin terburu-buru.


" Kami ikut, aku tidak akan membiarkan mu keluar seorang diri !". Tegasnya, Revin membalik kan badan nya malas.


" yaudah ayo kenapa masih berdiri di sana , tch tch ! Mom, Dad kami keluar dulu !". Revin tanpa menunggu kedua kakanya bergegas masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi kemudi.


" Sebenarnya kita akan kemana vin, rumah mana yang kau maksud ? apa Ruby ada di sana ?". Seru nya sedari tadi Revin hanya melajukan mobil nya tanpa memberi tahu mereka akan ke mana, mata Ronald dan juga Revan terus menyusuri jalanan gelap yang jaraknya pun bukan main-main, sangat jauh sekali.


Revin menghentikan laju mobil nya di depan gerbang tinggi dengan pos jaga yang lampunya masih terang. Revan dan juga Ronald di buat terkejut dengan keberadaan nya yang saat ini pandangan mereka menangkap bangunan kokoh terang dengan lampu-lampu kecil menerangi setiap kamar. Terlihat jendela masih tetap masih terbuka di malam hari seperti di sengaja seperti itu.


" Apa ini penginapan ? ". Ucap nya asal, karena banyak sekali jendela bersampingan dengan masing-masing balkon di setiap kamar nya. Revan masih mengamati nya seolah sedang menilai bangunan di depan nya.


" Apa kalian akan berdiri saja di sana ?!". Kesal Revin dengan kebodohan kedua kaka nya yang tiba-tiba.


" tapi vin !". Serunya, ucapan nya terjeda oleh seorang pria yang membuka gerbang dengan tegap nya.


" Selamat malam tuan !". Salam nya kepada Revin. Ronald dan juga Revan saling pandang menyaksikan pria itu menunduk kan kepalanya kepada Revin.


Mafioso itu tahu apa maksud kedatangan Revin kemari yang pastinya mencari Lady yang sekarang sedang dalam bahaya tapi dia pura-pura tidak tahu apapun toh nanti juga mereka akan tahu juga.


Revin terus berjalan diikuti oleh Revan dan juga Ronald melewati lorong gelap. Revan dan juga Ronald yang baru pertama kali ke sana pasti dibuat takut, resah dan segala macam nya tapi mereka bisa menyembunyikan nya pada wajah datar mereka yang pada akhirnya langkah mereka terhenti dengan pemandangan indah di hadapan nya sampai mata mereka di buat silau akan cahayanya.


" in,,,in,,ni, bagaimana bisa ?". Tanya nya terkagum-kagum, Revan dan juga Ronald begitu enggan untuk mengedipkan matanya menatap keindahan di sekitar nya.


" Kenapa sepi sekali, kemana mereka pergi ?". Tanya Revin pada salah satu mafioso yang mengantar nya.


" mereka sedang keluar tuan !". Jawab nya singkat.


" katakan lah, jangan kau sembunyikan di balik wajah mu itu ? ". Tegas Revin yang tidak bisa di bohongi oleh ekspresi seperti itu. Revan dan Ronald masih tidak membuka suaranya, mereka masih mencerna dan juga mencermati atas apa yang saat ini sedang terjadi bahkan mereka berdua menajamkan pendengaran nya.


Mafioso itu dibuat terkejut dengan keahlian Revin yang tidak mudah untuk dikelabui.


" maaf tuan, tuan Alex sedang berada di rumah sakit menemani saudara Lady dan tuan Maxim juga tuan Ken sedang mencari Lady ". Ucap nya hormat mengingat Revin adalah kaka dari sang Lady.


" Benar tuan ". Jawab nya membuat mereka bertiga terkejut bukan kepalang karena yang mereka tahu panggilan itu hanya di sematkan pada pemimpin tertinggi mafia terbesar dan terkuat yang selama ini masih berada di atas puncak kejayaan nya.


Revin yang kedua kali berkunjung kesini pun baru tahu jika adik nya seorang mafia. Benar-benar sangat lihai menyembunyikan semua itu dari mereka bahkan Revin yang notabenenya seseorang yang dapat dengan mudah mengetahui kebohongan dari wajah lawan nya tidak dapat mendeteksi dari perangai adik nya yang bersembunyi di balik wajah manjanya.


DEG,,DEG,,GEG


Jantung mereka benar -benar tak dapat di kondisikan saking terkejut nya sesekali mereka mengusap lembut dada.


" Ceritakan !". Seru Ronald tajam.


" Maaf tuan, saya tidak berani ! jika begitu saya permisi ". Mafioso itu tanpa jawaban ya dari mereka langsung bergegas pergi.


mereka bertiga heran dengan sikap mafioso itu yang tiba-tiba pergi.


" Bagaimana ini ". Revan Memijit kening nya.


" Berapa banyak yang dia sembunyikan !". Gumam Ronald terduduk di sofa yang ada di sana.


Malam semakin pekat, mereka semua masih mencari keberadaan Ruby dengan terus berteriak memanggil.


" Apa kalian mendengarnya ?". Ucap Reina berdiri seraya terus mendengarkan teriakan orang-orang dari hutan bagian barat.


" Ruby". Samar seseorang berteriak memanggil nama Ruby sampai perlahan teriakan itu tidak lagi samar bahkan Leo dan juga Meili pun ikut mendengar nya.


" Benar Rei, kau benar !". Seru Meili begitu bahagia. Air matanya kembali menetes saking bahagianya nya.


" Di sinii ". Teriak Leo dan juga Reina melambaikan kedua tangan mereka masing-masing memberi tanda bahwa di sini ada orang yang perlu bantuan.


Edward dan juga yang lain nya segera mendekati balasan teriakan yang jaraknya tidak jauh dari mereka.


Suara langkah cepat semakin terdengar, Edward berlari berharap gadis nya ada di sana.


" Rei, mei ". Seru Edward yang muncul dari kegelapan dan memanggil nama mereka.


" Ka Ed ". Ujar mereka bersamaan.


" Ed ". Panggil Leo tanpa menoleh pada yang lain nya. Edward langsung merespon panggilan itu karena suara yang begitu di kenal nya.


" Le, kau !". Seru Edward, matanya menangkap dua orang pria sedang terbaring kemah di atas ranting beralaskan daun.


Leo mengikuti arah pandang nya. " Lexi dan Andrew ". Ucap nya, Edward mengalihkan tatapan nya pada Leo dan kembali lagi menatap Lexi dan juga Andrew sesekali matanya berkeliaran pada setiap sudut mencari gadis nya.


" Lalu di mana Ruby ?". Pertanyaan yang Edward layangkan membuat sesal nya kembali menikam jantung , Reina dan Meili menangis kala mendengar nama Ruby yang keluar dari mulut Edward. Leo diam membisu tidak menjawab.