
Ledakan masih terdengar tapi tidak sekeras tadi, hanya tersisa letupan kecil. " Baby, sedang dimana ? kenapa aku mendengar ledakan kecil di sana ?". Suara Edward masih bergetar layaknya orang ketakutan.
" Ledakan ? tidak, tidak ada ledakan sama sekali disini honey, mungkin kau salah dengar". Bohong Ruby tapi suara jeritan membuat Edward tidak percaya dengan perkataan Ruby.
" Aaaaaa ". Meilu menjerit kala dirinya sadar sedang berada di pangkuan Leo. Reina, Lexi dan juga Andrew terbahak dengan reaksi yang Meili tunjuk kan dan juga ekspresi Leo yang tengah malu.
" Suara apa itu, baby jangan bohong kepadaku !". Ucap Edward masih tetap lembut.
" Itu Mei,,, ". Saat Ruby mencoba menjelaskan apa yang terjadi tiba-tiba dari jauh terlihat banyak sekali mobil yang menuju ke arah mereka, Mata Ruby terus menatap tajam. Leo dan yang lain nya masih belum sadar akan keberadaan mobil yang menurut Ruby sangat aneh karena mereka masih berada di pinggir jalan penuh rumput.
" Itu apa baby ? katakan lah jangan buat aku khawatir, kau sedang dimana sekarang ?!". Edward langsung berdiri tegap dari tidur nya. " Baby,, baby " . Sambungan tiba-tiba terputus, Edward dengan langkah panjang nya keluar dari ruang kerja yang berada di mansion Jakson.
Ruby masih menajamkan penglihatan nya, saat salah satu dari mobil itu sudah mendekat, Ruby melihat ada beberapa orang yang keluar dari atap mobil sembari mengarahkan tembakan nya ke depan, lebih tepatnya ke arah Ruby dan juga yang lain nya.
" Cepat lari, cepat !". Teriak Ruby lari ke dalam hutan karena kebetulan jalan itu dekat dengan hutan jadi tidak banyak mobil yang melintasi jalanan itu.
" kenapa ?". Ujar Leo masih bingung, saat bertanya mata nya menangkap beberapa mobil serba hitam mendekatinya dari satu arah dan ini adalah masalah.
" Cepat lariiiiii ". Teriak Leo menarik tangan Meili tanpa sadar, mereka berenam langsung masuk ke dalam hutan dan suara tembakan semakin terdengar jelas di telinga mereka sampai-sampai Reina dan juga Meili tidak henti-henti nya kaget sesekali menjerit.
Tak,tak,,tak,tak
Langkah Edward begitu cepat setengah berlari menuruni anak tangga. Edward berusaha melacak keberadaan Ruby tapi hasilnya nihil, untuk itu Edward hendak meminta bantuan kepada yang lain.
" Ada apa Boy, kenapa kau berlari seperti itu ?". Tanya Jakson, kebetulan mereka semua sedang berkumpul di rumah sesaat setelah pekerjaan mereka selesai.
Edward tidak mengindahkan pertanyaan dari daddy nya. " Brayn, cepat lacak dimana keberadaan Ruby sekarang, Cepatt !! ". Resah Edward. Semua orang masih kebingungan tapi tidak dengan David yang langsung segera menyiapkan keperluan apapun yang menyangkut Ruby, David sibuk menelpon mereka yang berada di markas terutama Zen.
" Cepat, kenapa kau malah diam saja ?!". Teriakan Edward menggema di seisi ruangan sampai Savira pun terkejut.
Brayn dan juga Rayzen berlari hendak membawa laptop yang biasa mereka gunakan untuk keperluan seperti ini.
" Cepat, jika Ruby dalam bahaya aku tidak akan mengampuni kalian !". Ancam Edward karena keleletan mereka berdua yang tidak biasanya.
" Diam lah, kau bisa nya ngancam saja ". Geram Brayn tidak suka. Brayn dan juga yang lain nya belum mengerti apa yang sedang terjadi jadi reaksi mereka acuh tak acuh dengan itu, apalagi dengan sikap Edward yang seperti ini membuat mereka berdua semakin tidak suka jika sudah menyangkut Ruby tapi tidak dengan hal lain nya.
" Sedang apa dia di sana ?". Gumam Brayn.
" Di sini, mungkin Ruby sedang dalam perjalanan pulang !". Tunjuk Rayzen kerena berhasil menemukan keberadaan Ruby dari sinyal terakhir yang semakin kesini semakin redup karena sinyal di sana sedang keadaan buruk.
" Tidak kak, ini tidak benar !". Lirih Edward tidak sadar telah memanggil mereka berdua dengan sebutan kaka. " Dev ". Edward langsung menoleh ke arah David.
David dan juga Edward langsung melajukan mobil nya, Jakson yang sedari tadi terkejut tercampur khawatir memerintahkan Brayn dan juga Rayzen mengikuti mereka takut ada apa-apa. Savira menenangkan Jakson setelah ke empat anak nya tidak lagi terlihat.
" Tenanglah dad ". Savira mengusap-usap dada Jakson mencoba menenangkan nya.
Brayn dan juga Rayzen terus mengikuti kemana mereka pergi dengan kecepatan tinggi karena Mobil yang di kemudikan Edward begitu lebih cepat dari biasanya.
" Dev ". Ucap Edward sendu tanpa mengalihkan tatapan nya dari depan.
" tenanglah ka ".
Ckitttttttt
Suara mobil terhenti, Edward mengerem mendadak mobil nya di depan gerbang markas Red Pheonix. Semua orang sudah bersiap untuk keberangkatan Edward, semua orang menunduk hormat saat Edward keluar dari mobil nya di ikuti David.
Tidak lama mobil Brayn dan juga Rayzen terhenti. Mereka tidak langsung keluar dari mobil, mata mereka terus menatap keluar kaca mobil tanpa membuka sampai ketukan terdengar.
" siapa kalian dan sedang apa di sini ?". Ucap salah satu mafioso yang bertugas menjaga gerbang sesaat setelah Rayzen membuka kaca mobil nya
Brayn dan juga Rayzen langsung membuka pintu nya masing-masing.
" itu, kami mengikuti mobil ini ". Mafioso itu langsung siap siaga tapi di lihat dari wajah mereka tidak ada kesan jika mereka orang jahat.
" Lalu, apa yang kalian inginkan ?". Tanya mafioso yang lain dengan tangan yang sudah siap menarik pistol yang berada di pinggang nya. Melihat reaksi kedua orang di depan nya, Brayn dan juga Rayzen menjauhkan dirinya tapi masih dalam jangkauan nya.
" Kami kaka mereka dan kami mengikutinya karena khawatir ". Ujar Rayzen, Brayn hanya menatap dingin tanpa ingin berbicara sampai-sampai Rayzen kesal dengan sikap Brayn.
" Silahkan masuk, maafkan kami yang tidak sopan ini !". Mafioso itu langsung saja menunduk dan mengucapkan maaf. Insting mereka kuat terhadap orang yang mereka hadapi, itulah kenapa mereka tidak mudah di bohongi oleh siapapun.
Helikopter sudah siap, Edward menaiki tangga satu lantai menuju lapangan luas tempat landasan jet pribadi dan juga helikopter yang tidak sedikit.
" Ken, Luck kalian ikut dengan ku ! kau Dev tetap di sini, sepertinya kita kedatangan tamu, kau jelaskan sebisa mu kepada mereka.
" Baiklah, kalian berhati hati lah ".
Di dalam hutan, Ruby dan yang lain nya masih tengah berlari. Suara mobil masih terdengar mengikuti mereka tapi hanya Ruby yang mendengarnya, jika saja hanya ada Ruby seorang pasti dia tidak akan lari seperti ini, Ruby mengutamakan keselamatan teman-teman nya walaupun Ruby tahu jika Leo pun bisa menangani mereka tapi mungkin dia sama seperti dirinya yang peduli dengan teman-teman nya.
" Ada apa ? kita akan kemana ?". Tanya Meili yang sudah mulai mengeluarkan air matanya dan juga Reina tengah mengatur nafasnya nya yang tersengal efek lelah karena sedari tadi terus saja berlari.
Mereka sama sekali tidak membawa apapun karena barang dan semuanya nya tertinggal di mobil yang sudah tidak berbentuk sama sekali termasuk handphone mereka terkecuali Ruby.