
" Ed ". Sapa Revan.
Edward pikir yang datang adalah grab food, namun dia juga akan begitu heran jika grab food yang datang karena dari pemesanan terlaku cepat, tapi ternyata bukan grab food yang datang tapi Revan dan juga dua orang lain nya yang telah memiliki umur namun nampak masih segar.
" Dimana kak Revin dan kak Ronald kenapa tidak ikut ?". Tanya Edward yang memang tidak melihat mereka berdua.
" Ayo kita masuk dulu ! Nanti pertanyaan nya kaka jawab di dalam ". Sergah Revan langsung masuk di ikuti dua orang lain nya.
Revan terus berjalan mendekati suara gelak tawa, langkah kaki Revan pun terhenti kala mendapati Ruby yang tengah tertawa manis, begitupun dengan kedua orang lain nya di belakang.
" Van ". Ucap Luis sekilas menatap putri bungsunya yang begitu ceria dan juga tertawa tanpa beban. Dalam hati Luis seketika muncul rasa takut, dia tidak ingin kehadiran nya membuat senyum indah dari bibir Ruby pudar perlahan.
" Dad apa sebaik nya kita pulang lagi ? Mommy takut mengganggu kesenangan Ruby. Lihatlah senyumnya itu !". Ucap Nameera yang sedari tadi melihat anak nya terus tertawa lepas. Mereka yang di sana masih belum menyadari keberadaan Revan dan juga orang tuanya.
" Masuk lah kenapa kalian masih berdiri di sini ? Ayo ! ". Seru Edward mendahului mereka yang masih saja enggan untuk melangkah kan kaki, namun tidak untuk Revan.
" Sayang ! ". Revan memanggil Ruby. Revan mendekat dan mengusap lembut kepala Ruby dan Ruby dengan reflek mendongak kan kepala nya.
Senyuman terbit dari kedua sudut bibir Ruby dan perlahan mengembang. Ruby berdiri dan segera memeluk kaka tersayang nya itu.
" Di mana yang terluka nya, perlihatkan kepada kakak. Maaf kaka membuat mu kecewa karena tidak bisa membantumu ". Ujar Revan tatkala mengingat kejadian waktu lalu yang membuatnya begitu shock dan tertegun dengan otak yang mulai tidak sejalan lagi.
Ruby kembali menengadahkan kepalanya dengan masih melingkarkan tangan di pinggang kekar milik sang kaka. Ruby menggeleng pelan sebagai jawaban bahwa dirinya baik-baik saja.
" Kenapa Kak Ronald dan juga Kak Revin tidak pulang ? apa mereka marah kepada ku kak ? ". Tanya Ruby tidak mendapati kedua kaka nya yang lain pulang ke mansion.
Ruby mengedarkan pandangan nya melihat sekeliling, namun benar saja tidak mendapati Revin maupun Ronald berada di sekitar.
Saat pandangan itu menyapu bersih, bola mata indah Ruby terkunci pada sosok yang begitu dia kenal dan juga dia rindukan. Ruby reflek mencengkram erat pinggang Revan dengan sedikit tubuh bergetar.
Revan yang merasakan perubahan pada Ruby segera mengikuti arah pandang nya dan langsung memeluk erat tubuh adik nya itu.
" Tenang lah sayang ada kaka di sini ". Bisik nya pelan membuat tubuh Ruby sedikit melemas.
" Mom dad duduk lah ! ". Seru Edward tidak tahu harus memanggil orang tua Ruby dengan sebutan apa. Ruby yang mendengar panggilan dari Edward membuat Ruby sedikit menajamkan matanya. Edward menuntun Luis dan juga Nameera duduk di atas sofa.
" Selamat siang paman, bibi ! ". Sapa Reina dan juga Meily di ikuti oleh Andrew, Lexi dan juga Leo.
" Selamat siang juga untuk semuanya ". Senyum Nameera menyapa kembali mereka semua nya.
" Apa kalian semua sudah makan ?". Tanya Nameera antusias dan terlihat menyesuaikan diri.
" Sudah bibi , kami sudah makan ". Jawan cepat Reina mendahului Lexi yang hendak berbicara.
" Tidak, dia bohong bibi, kami belum makan sedari tadi. Benar kan Drew ?! ". Keluh Lexi mengusap perutnya sembari menoleh ke arah Andrew meminta dukungan dan Andrew pun mengangguki.
" Iya bibi, kami sangat kelaparan ! ". Cebik Andrew puas menyudutkan mereka tanpa rasa malu nya. Leo dan juga Edward menggeleng kan kepalanya dengan sikap tidak malu kedua teman nya itu.
" Baiklah bibi akan masak untuk kalian. Apa di sini ada bahan-bahan untuk bisa mommy masak.... ". Tanya Nameera kepada Edward, namun ucapan nya tidak usai karena dia bingung harus memanggil Edward dengan sebutan apa.
" Panggil aku Ed saja mom ". Senyum lembut Edward.
" Di dapur semuanya telah lengkap mom, maaf merepotkan mu ! ". Ucap Edward. Nameera tersenyum dengan sikap Edward yang begitu lembut, semua yang berada di sana tidak percaya dengan perubahan Edward yang begitu lembut kepada Nameera.
" Jangan coba-coba kau sentuh barang-barang ku ! ". Bentak Ruby dengan ucapan nya yang begitu penuh penekanan.
Wajah Ruby memerah dengan pandangan matanya yang begitu dingin. Luis yang menyaksikan itu seketika tertegun. Ruby yang begitu lembut kini Luis tidak melihat nya lagi, ingin marah tapi untuk apa toh ini juga mungkin karena kesalahan.
Luis menoleh ke arah Nameera sang istri yang begitu dia cintai sepenuh hatinya. Ruby melepaskan pelukan dari sang kaka dan sedikit menjauhkan tubuh nya.
" Al ". Ucap Revan meraih pundak nya. Ruby menggelengkan kepalanya melarang Revan mengucapkan sesuatu kepadanya.
Revan menghela napas, karena merasa tidak dapat berbuat apa-apa, bukan nya lemah tapi Revan mengerti bagaimana keadaan adik nya itu.
" Mom masak lah, tidak apa ". Seru Edward kepada Nameera.
Nameera hanya berdiam diri takut melangkah kan kakinya karena Ruby masih menatap tajam ke arahnya. Suasana benar-benar hening kala mereka menyaksikan yang seharusnya tidak mereka lihat saat ini.
" Mom pergilah, tidak apa dia hanya sedikit marah, tenanglah aku akan mengurus nya ! Semuanya sudah lengkap di dapur. Rei, Mei bantulah mommy di dapur, cepat !". Tutur Edward, Reina dan Meily langsung menggandeng tangan Nameera menjauh dari suasana itu.
" Dad duduk lah apa kau tidak pegal ". Ujar Revan menghampiri Luis. Ruby tidak tahan dengan suasana seperti ini, Ruby berlari ke kamar milik nya.
Luis begitu bersalah karena mungkin kedatangan nya menjadi mood Ruby seketika memburuk.
" Tidak apa dad, biar aku yang membujuk Ruby ". Ucap Edward melihat Luis terus mengikuti arah kepergian Ruby.
" Terimakasih ". Ucap Luis
" Bersantai lah di sini jangan canggung, anggap saja rumah sendiri dad ". Ujar Edward pamit.
|