
Para mafioso terus berdatangan ke dalam gedung, wajah lelah Ruby tidak nampak, yang ada pancaran semangat yang terbentuk, mungkin juga dia sudah lama tidak bermain seperti ini karena cegahan dari Edward.
Kane yang menyaksikan itu malah keheranan, apa dia kerasukan ?! Batin kane.
" Mau kemana ?". Tanya Agatha karena Kane tiba tiba berdiri dan berdecak pinggang.
" Diam lah, apa kau tidak melihat dia mengalahkan hampir semua mafioso ku ?! Kenapa kau tidak pernah mengatakan
jika dia sehebat itu !". Seru Kane tidak percaya dengan penampakan di depan nya.
" Kenapa jadi aku yang di salah kan, aku juga tidak tahu ". Kesal Agatha.
" Sebenarnya siapa gadis itu ". Batin kane
BRAAKKK !!
Tendangan meja begitu keras terdengar, kedatangan mereka menjadikan Kane begitu was-was dan terdiam di tempat. Dia tahu siapa mereka yang baru saja tiba itu.
Srekkkk !!
Ruby merobek perut musuh dan langsung menoleh ke arah kedatangan orang-orang itu, tatapan malas langsung terbit pada wajah Ruby.
Zen, Alex, Maxim dan juga Key berdiri sejajar di ambang pintu dengan senjata yang lengkap . Tidak menunggu lama, mereka berempat ikut bertarung dengan Lady nya. Mereka berempat begitu gesit mengalahkan musuh dan sekarang giliran Ruby bersenang senang dengan Kane.
Ruby langsung melancarkan aksinya sampai-sampai Kane pun kewalahan dengan gerakan cepat dari Ruby, setiap pukulan tidak ada celah sedikitpun untuk nya melawan balik.
BRAKKKKK
Kane menabrak meja yang berada di atas podium, tubuhnya tergeletak lemas di sana. Ruby mendekatinya dan menodongkan belati pada wajahnya seakan akan menyayat kulit nya.
" Apa kau belum menyadari semua ini tuan Kane ?". Tanya Ruby berjongkok tepat di depan matanya.
" Hahahaha memangnya siapa kau ? Aku tidak peduli sama sekali !". Ujarnya
" Ckckcapa kau begitu ingin berkorban demi perempuan murahan itu, pikirkan masa depan mu itu tuan ! apa kau pikir dia mencintaimu ? Jangan naif , dia bukan tipe wanita yang setia hanya dengan satu pria ! bodoh sekali kau ini tuan ". Ucap Ruby begitu mendayu sembari memainkan ujung belatinya.
" Ah aku baru ingat ! Kau seorang pedofil sekaligus pria hidung belang ". Lanjut Ruby tidak memberi celah dia menjawab nya.
" Sialan ! " Geram kane.
" Apa kau tidak lihat, bawahan mu sudah tidak bernyawa tuan ". Ucap Ruby mengedarkan pandangan nya.
Kane ikut mengedarkan pandangan nya, dan ternyata benar tidak ada yang tersisa di sana. Zen, Alex, Maxim dan juga Key melambaikan tangan ke arah Kane yang masih terkulai lemas.
Agatha semakin ketakutan dengan kalah nya Kane, ketika Agatha hendak melarikan diri, tangan kekar milik Key menahan nya. Agatha begitu terkejut, tapi bukan karena Key menahan nya, tapi dia terkejut dengan wajah Key yang begitu tidak asing dalam penglihatan.
" Pak Key !". Agatha terkejut dengan penampakan pengelola dari kampus berada di acara, terlebih dia tengah menahan tangan Agatha.
" Wah aku ketahuan ". Seringai licik terulas dari bibir Key.
" Ke,,ken,,napa bapak ada di sini ?". Tanya nya bergetar ketakutan.
" Bukan urusan mu ". Key memukul pundak belakang milik Agatha sehingga dia pingsan, Key segera membawa nya keluar bersama Zen. Alex dan juga Maxim masih menemani Lady nya saat ini.
" Hay tuan ! Apa kau masih ingat kepada ku ?". Tanya Maxim memiringkan Kepalanya diiringi senyum seringai.
" Apa kau sudah mengingat nya ? Ya, saya manager bar yang selalu kau datangi ". Seru Maxim.
" Tidak mungkin, kenapa kau ada di sini ? siapa sebenarnya kalian ini ? dan kenapa Tuan Zen bersama kalian ?". Tanya nya beruntun.
" Tch tch banyak tanya sekali kau ini tuan ! ".
Dor ! Dor ! Dor !
Maxim dengan ganasnya menembak kepala Kane tepat di dahi, sehingga Kane yang belum siap pun membulatkan kelopak mata nya penuh.
**
Malam yang begitu panjang, semuanya kini telah selesai tinggal mengurus Agatha. Ruby menyerahkan Agatha kepada Key dan juga Zen, sementara Ruby pulang ke mansion di antar oleh Maxim dan juga Alex.
" Apa sekarang kau begitu tuli Lex ". Seru Ruby acuh. Alex hanya nyengir kuda dengan ucapan Ruby.
Setelah Alex mengamankan keluarga Lady nya itu, Alex menghubungi Zen, maxim dan juga Key. Tidak menunggu lama mereka semua datang dengan senjata lengkap. Ruby benar-benar datang sendirian tanpa pengawal bayangan nya yang biasa mengikuti dia kemana pun.
**
Bukan lemah karena ketidakmampuan nya, namun Edward lelah dengan hatinya yang tidak bisa membendung rasa untuk Ruby sampai dirinya saat ini enggan untuk membuka mata, namun setiap bisikan dari Ruby menyemangati dirinya untuk segera terbangun. Edward sangat yakin jika cinta nya tidak lah bertepuk sebelah tangan dan dia tidak ingin lagi menyerah untuk cinta nya.
" Honey bangunlah ". Bisik Ruby .
" Honey ". Ruby mengusap lembut wajah Edward sampai ada reaksi darinya, jemarinya mulai bergerak dan matanya pun mulai bergerak dan perlahan terbuka.
" Honey ". Ruby sangat bahagia karena Edward akhirnya membuka mata. Ruby terus mengecup setiap sudut pada wajah Edward sebelum dokter tiba di ruangan.
Tidak lama menunggu Dokter pun tiba dan segera memeriksa keadaan terbaru bari Edward dan hasilnya pun sangat memuaskan.
" Semua nya baik, dia akan segera pulih untuk itu jangan terlalu khawatir ! Sekarang makan lah, kau belum makan selama dia terbaring bukan ?!". Ucap Dokter itu yang tidak lain adalah Sasya yang langsung datang saat Ruby menghubunginya.
" Terimakasih ". Seru Ruby. " Kau boleh pergi ". Sasya menunduk kan kepalanya sejenak dan pamit. Edward masih menatap Ruby dan sesekali melemparkan senyum nya.
" Baby ". Suara Edward begitu prau terdengar.
" Honey, maaf hiks hiks hiks ! Apa aku begitu keterlaluan hmm ?". Ruby menangis sembari memegang erat telapak tangan Edward.
" Iya, kau begitu keterlaluan ! pergilah ". Perkataan Edward begitu menambah penyesalan di dalam hati Ruby.
" Tidak, aku tidak akan pergi ". Ruby kekeh dengan pendirian nya. Ruby ikut membaringkan tubuhnya di atas kasur yang cukup hanya untuk satu orang, tapi Ruby tidak peduli dengan itu. Ruby memeluk erat tubuh Edward seakan takut kehilangan nya.
" Jangan seperti ini, aku mohon hiks,,hiks,,hiks,, aku minta maaf karena sikap ku seperti anak kecil ". Ucap Ruby terus mengadu.
" Kau memang anak kecil baby ". Edward mencubit hidung mancung Ruby dengan gemas nya.
" Tidurlah ". Edward mendekap tubuh mungil milik kesayangan nya itu dan sesekali mengusap lembut rambut panjang milik ruby.
Ruby langsung tertidur dalam dekapan hangat milik Edward yang selama 2 hari ini dia rindukan.
|