Mafia Girls

Mafia Girls
MG EP 60



"Pamela one, pamela mela one" Monika bersenandung dikoridor sekolah dengan kunci mobilnya yang ia mainkan disela sela jarinya.


"Pamela two, pamela mela two" sahut Eline dari belakang membuat Monika menoleh.


"PAMELA THREE, PAMELA MELA THREE" Aza dengan girangnya menyambung lagu tersebut dengan berlari kecil kearah mereka. Monika dan Eline tertawa kecil melihatnya.


"Aelah Kay, sambung napa" sungut Eline saat Kayla hanya diam seperti tidak ada jiwa didalam tubuh Kayla. Kayla hanya menoleh sebentar tak minat dan melanjutkan jalannya menuju kelas.


"Wajar kali Line, lagi galau" Monika memberi pengertian pada Eline. Eline hanya mengangguk dan mereka bertiga berjalan menuju kelas.


"MONIKA"


Suara yang sangat mereka bertiga kenal itu memberhentikan langkah ketiganya. Dari arah depan ada Refan dengan wajah sumringah menghampiri mereka. Mereka sudah bisa menebak siapa yang Refan cari.


Ingat Refan? sekretaris atau orang yang mengurus tentang balapan di mafia White Tiger itu selalu mengejar Monika enam bulan belakangan. Semenjak ia masuk kesekolah ini, ia selalu mendekati Monika membuat Monika gedeg sendiri.


"Enggak aman, gue cabut dulu" Monika langsung ngacir lari dengan kencang setelah membalikkan badannya kabur. Ini masih pagi dan ia malas berurusan dengan Refan. Refan tidak tinggal diam ia mengejar Monika membuat mereka berdua sudah seperti difilim india saja.


"SEMANGAT FAN, KATANYA MONIKA LAGI DIDEKETIN SAMA ANAK Xll IPA 1. COWO TERPINTAR FAN" Monika membelalakkan matanya saat Eline dengan gamblangnya mengucapkan itu pada Refan.


Refan yang mendengar itu sontak mencekal pergelangan tangan Monika saat ia berhasil meraihnya.


"Bener yang dibilang Eline?" tanya Refan masih berusaha mengatur nafasnya. Monika hanya mampu diam seribu bahasa membuat Refan dapat menyimpulkan bahwa itu benar.


"Lo tetep milih gue kan?" tanya Refan membuat Monika menatap matanya.


"Eh- hah? enggak" gugup Monika.


"Maksutnya bukan itu" ucap Monika saat ia sadar jika salah bicara. Aduh mulutnya ini belibet sekali.


"Terus?" tanya Refan yang makin memojokkan Monika.


"AELAH FAN, DISEKOLAH INI" Aza memandang kedua manusia yang hanya saling adu diam. "NANTI AJA KUISNYA, MONIKA NANTI ADA ULANGAN. NILAINYA JELEK GUE GOROK LEHERLO SAMPE UJUNG MATA LO"


Refan bergidik ngeri mendengar teriakkan Aza.


"Mati dong?"


...******...


Keadaan kelas Alletta benar benar sangat berantakan. Ada dua orang yang umurnya sama itu tengah menatap satu sama lain dengan pandangan sinisnya masing-masing. Keributan yang keduanya buat juga mengundang murid kelas lain kekelas mereka.


Keadaan yang menegang dan orang orang yang berdesakan untuk menonton membuat pasokan udara menipis. Aza memelototkan matanya melihat kelasnya yang sangat dipadati murid. Eline juga sama, ini masih pagi memangnya ada keributan apa?


"I-ini bener kelas kita? kok rame begini kayak kantin" beo Eline dengan menunjuk orang orang yang ada disana. Aza mencoba menerobos masuk diikuti Eline.


"Ya Allah Ya robbi" Aza menganga melihat meja kursi yang sudah amburadul tidak pada tempatnya. Ia melihat yang lain yang memusatkan atensinya pada kedua orang dengan nafas tersenggal senggal.


"WHAT THE ****??!" Eline refleks misuh melihat bangkunya yang sudah tidak ada ditempat. Kosong diisi oleh dua orang membuat Eline berkacak pinggang dan menatap mereka garang.


"GAVIN KIKI" Teriakkkan membahana Eline itu sukses menarik kesadaran semua orang. Gavin dan Kiki yang menjadi dalang dari keributan ini memandang Eline dan berganti pada sosok Aza disamping Eline.


"LO PADA GELUD PERKARA APA HAH?! HARUS BANGET NGANCURIN BANGKU GUE?!!" Eline menatap nyalang keduanya yang masih diam diposisi masih sam seperti tadi. "INI NIH, HARUS BANGET GUE ADUIN KE PAK KLATAK SAMA BU TATA BIAR KALIAN DIJEMUR AMPE KERING TINGGAL TULANG"


Azka menarik tangan Eline untuk tidak campur dengan keadaan ini. Eline yang ditarik pergi tidak terima dan menyentak tangan Azka.


"IHH, INI LAGI NGAPAIN?? GUE LAGI MARAH MENDING DIEM" Eline menatap Gavin dan Kiki bergantian. Sepertinya ia tau apa sebab keduanya bertengkar "CEWEK NIH! PASTI BENER KALIAN GELUD KARENA AZA!! BENER KAN??!" ucapnya tepat sasaran.


Pagi pagi sekali Malvin dkk dan Stepanie telah sampai di sekolahan. Dan Kiki datang langsung memukul telak Gavin karena ia menuduh jika keadaan diSma QN tidak d seperti dulu karena masalah yang ada di circle mereka. Lebih tepatnya ia marah karena perubahan Aza yang ketara sekali.


"Lo berdua ikut gue"


...………...


"Kedengeran Line?" tanya Azka pada Eline yang tengah menantau tiga manusia dengan jarak agak jauh. Sebenarnya ia bisa langsung duduk dikursi samping, tapi melihat Malvin dkk yang ramai ditambah Stepanie membuat urung niatnya.


"Menurut lo?! Ya kagak lah" ngegas Eline, memang ia tidak bisa mendengar apa yang tengah ketiganya bicarakan dengan amat sangat serius itu.


"Santai kalik, kalo didenger mereka gimana?" Azka menatap sebal Eline. Tidak tau apa jika mereka ini tengah bersembunyi, tapi Eline berbicara seperti dihutan saja. Kerasnya minta ampun.


"Ya paling ujungnya digorok kalo enggak dijadiin bahan santet" sahut Eline enteng. mereka sama sama bergidik ngeri membanyangkannya. Tanpa disadari mereka bersama setelah enam bulan menjauh memberi pilar pembatas yang besar.


"Udah lah, percuma. Ntar juga tau kalo mereka cerita" kata Malvin karena ia juga tidak mendengar sama sekali percakapan antara Aza, Gavin dan Kiki.


"Ck, pasrah aja udah" Stepanie berujar sebal seraya duduk lesehen karena capek terus berjongkok. Mereka kompak mengikuti Stepanie lesehan dan keheningan pun melanda.


"Kalian nggak kangen apa sama kita?" Azka mengamati Eline dan Kayla bergantian. Terdengar jelas bahwa laki laki itu rindu dengan mereka. Bukan hanya Azka, patri rindu dari sorot mata mereka menunjukkan kerinduan yang besar.


"Halah, bilang aja kalian yang kangen. Gengsi digedein" suntuk Eline, Kayla sedari tadi hanya diam, tak tau harus apa dan ngomong apa sebab ia kan dulu bukan bagian dari Malvin dkk.


"Lo kenapa dah Kay? diem mulu, kebelet apa gimana?" Stepanie menatap Kayla dibalas gelengan kepala olehnya.


"Lagi galau dia, ada tante girang yang deketin si mas pacarnya" ucap Eline memberitau kenapa wajah Kayla tertekuk mirip kertas yang diucel ucel. Mereka tertawa mendengar ucapan "Tante girang" yang melesat dari mulut Eline.


"Tinggal lo kurung aja pacar lo, jangan kasih ijin dia keluar rumah" ucap Azka memberi saran, Kayla mengerucutkan bibirnya.


"Yang ada tuh tante girang makin gencar deketin Nathan. Dia tau apartement Nathan, dia juga sering kesana dengan alasan mampir"


"Itu artinya dia udah nabuh genderang perang sama lo. Dia mau ngajak lo perang dan lo harus ada dimedan perang biar menang, emang lo mau pacar lo diambil sama dia" Kayla meringis membanyangkan hal itu, benar yang dikatakan oleh Arsha. Ia harus ada selalu disamping Nathan sekalipun ada gempa bumi yang lagi guncang bumi.


"Lo bener, gue harus bisa ngalahin tuh tante girang dan ngebuktiin kalo Nathan cuma punya gue"


...………...


"Aduh bego banget sih lo Kay, kan gue bilang ini tinggal dikali. Malah lo kurangin" sungut Monika berapi api saat melihat tugas Kayla. Padahal ia sudah membuatkan orat oretnya tinggal Kayla isi saja apa susahnya. Dan itu tinggal dikali dan udah ketemu hasilnya.


Mereka sekarang ada dirumah Alletta, belajar kelompok bareng tapi Alletta tak ikut. Sebab ia harus mengurus sesuatu.


"Lah? gue kira yang nomor tiga Mon yang kali" kata Kayla bingung, ia kira nomor tiga yang dikali, bukan nomor dua.


"Ya lo kira aja sendiri Kay, ya kali gue ngerjainnya loncat loncat gitu" kata Monika pasrah, terdengar dari nafasnya yang sudah lelah.


"Mana gue tau Mon, terus itu yang nomor empat sama lima gimana Mon? dikali juga?" tanya Kayla sembari melihat lihat soal tersebut.


"Bodo! bodo amat. lo pikirin aja biar bisa kebagi bagi tuh soal"


"Jangan gitu dong Mon, iya ini gue dengerin serius!"


"Enggak, dari tadi gitu mulu ngomong lo"


"Udah ngapa sih, ini gue ngitungnya jadi salah gara gara lo pada berisik" protes Eline merasa terganggu. ia juga sedang belajar diajari oleh Aza.


"Lo belajar apa dangdutan? berisik amat"


"Main keplek Za" ucap Monika ngawur.


"Udah gue ajarin sekali lagi, awas kagak lo perhatiin baik baik gue buang lo kegunung everest"


"Iya iya" pasrah Kayla dan mulai mendengarkan Monika menerangkan kenapa bisa mendapat hasil dan memakai rumus mana.


"Cita-cita lo pada apa?" tanya Aza tiba tiba setelah membereskan peralatan tulisnya.


"Nikah sama Nathan" Kayla menjawab dengan cepat dan semangat, seolah olah memang itu cita cita Kayla.


"Cita citanya orang sinting" ledek Eline.


"Gue mau jadi sekretaris kantor" ucap Monika percaya diri, sejak dulu ia mengidam idamkan pekerjaan itu.


"Asik tuh, sekalian yang punya perusahaan Refan terus kalian cinlok. Beuh gosip news dikantor deh" kata Aza membayangkan.


"Ya enggak Refan juga bosnya"


"Kalo gue pengin jadi nahkoda" itu adalah mimpi yang Eline inginkan dari kecil.


"Gue pilot"


.


.


.


...Happy Reading...