
" Baby ". Ucap Leo dalam lamunan nya, kedua telapak tangan nya menjadi bantal kepala yang tengah terbaring, matanya menatap kosong atap berwarna putih di atas sana.
Tidak habis pikir dengan keluarga nya kenapa hal sepele seperti ini membuat mereka tidak terima, itu hatinya dan dia menerima karena setiap keputusan tidak lah harus selalu tertuju untuk kebahagiaan nya tapi juga keputusan di ambil pasti juga berakhir tidak bahagia untuk nya.
Leo memang kecewa, gadis yang ia sukai dan ia cintai menolak nya tapi apa boleh buat seseorang sudah lebih dulu mengisi ruang hatinya sehingga tidak ada ruang sekecil pun di dalam hati Ruby untuk orang lain. Sedari awal semua nya baik dan akhir pun harus baik, Edward adalah teman nya dan akan seperti itu sampai ke depan nya.
" Apa aku akan lebih pantas di bandingkan dengan Edward ? ". Batin nya dengan posisi yang sama.
" Aku pun sama ingin di cintai seperti nya ". Racau batin Leo, seumur hidup Leo belum pernah merasakan cinta dari seorang gadis. Tidak bisa di pungkiri oleh dirinya, banyak gadis yang mendekatinya tapi hanya untuk kepuasan mereka masing-masing bukan karena rasa cinta dan Leo merasakan itu. Mengingat hal seperti itu Leo pun malas jika dekat dengan wanita dan dirinya menganggap semua gadis sama tapi pandangan itu mulai memudar kala pertemuan nya dengan Ruby.
hufffhhhhh
" Apa kata orang pemimpin mafia seperti ku lemah hanya karena cinta ". Hembusan nafas seperti orang yang sedang benar-benar lelah, Leo mengerjap-erjap seolah menyadarkan diri dari lamunan yang tak kunjung usai.
***
" Apa tidak ada yang ingin kau jelaskan Al ?". Seru Revin.
Semua keluarga sedang berkumpul, bertukar cerita dan tertawa bersama. Dari semua yang ada di sana di dominasi oleh pria hanya ada tiga perempuan saja di sana dan sisanya adalah pria-pria tampan beda usia. Obrolan mereka terhenti saat Revin dengan wajah dan suara serius nya melontarkan pertanyaan kepada Ruby.
Ruby menatap Revin dan setelah itu mata Ruby mengedar pada semua orang yang terdiam dan tatapan mereka hanya tertuju padanya. " Apa yang harus aku jelaskan ?". Ucap Ruby, matanya membesar dengan mimik wajah yang terlihat bingung.
Revin mengangkat satu alis nya dan membenarkan cara duduk nya, tangan nya menopang dagu dengan tubuh yang condong ke depan dan kedua sikut nya menumpu pada kedua pahanya. ". Semalam, jelaskan bagaimana kau bisa melakukan nya ?". Tanya Revin mengingatkan.
" Ada apa dengan semalam Vin ?". Tanya Kakek Han melipat sapu tangan yang selalu tersedia di dalam sakunya.
" Ada apa Dev ? apa terjadi sesuatu ?". Tanya Daddy Jakson yang duduk di sebelah David.
" Tidak ada Dad, tidak ada yang terjadi !". Jawab David langsung menoleh ke arah daddy nya dengan cepat membuat semua orang menjadi semakin bertanya.
" Al !". Seru Revin kembali.
" Itu, mmmm itu ka maaf !". Tutur Ruby menghela nafasnya dan melanjutkan ucapan nya " Aku sebenar nya bisa bela diri dan bisa menggunakan beberapa senjata jafi tadi malam aku hanya melatih diri saja karena sudah lama aku tidak melatih kemampuan ki ". Ucap Ruby membuat semua orang semakin bingung terutama Kaka dan juga kedua orang tuanya tapi tidak untuk keluarga Jakson karena mereka semua sudah mengetahui kemampuan Ruby hanya saja mereka tidak tahu jika dirinya seorang mafia. " Aku berguru pada kake, jika tidak percaya kau tanyakan saja kepadanya ". Ruby belum siap untuk mengatakan bahwa dirinya adalah pemimpin tertinggi dalam mafia yang terkenal di belahan dunia.
*********
" Apa ?!!". Kaget Nameera dan juga Luis, mereka berdua benar-benar terkejut akan kenyataan dari Ruby. Apa lagi yang aku tidak tahu ?. Lirih Luis dan Nameera dalam hatinya.
" Bagaimana bisa !". Ucap Revan yang akhirnya membuka mulutnya.
Kake Han menceritakan semua apa yang di lakukan Ruby di saat dia berlibur di tempatnya dari saat kecil hingga menginjak remaja.
Ruby melirik pada Edward dan juga David, wajah datarnya terpatri di sana dengan sedikit senyum terulas dari sudut bibirnya.
" Tidak mungkin, apa kau ?". Ujar Luis dengan semua pemikiran nya mengenai kejadian semalam, dia seolah bertanya melalui matanya kepada anak perempuan nya apa dia menghabisi mereka ? Mata Luis mencari jawaban dari mata Ruby, Ruby memperlihatkan sederet giginya seakan itu adalah jawaban yang di berikan Ruby. Luis mengusap dada nya seraya tidak percaya bagaimana anak perempuan nya yang begitu manja melakukan hal yang mengerikan.
*******
" Van, kemarilah ada yang ingin aku tunjuk kan kepada mu !". Seru Ronald yang baru saja tiba di hadapan mereka yang sebelum nya masih di dalam kamarnya yang lebih tepat nya Ruang kerja milik nya.
" ad apa ?". Tanya nya di sela perbincangan mereka, Revan akhirnya mengikuti Ronald.
" lihatlah !". Ronald menunjukkan sebuah video dari laptop miliknya dimana di sana Ruby sedang melancarkan aksinya di malam pesta, Revan terbungkam sekaligus terkejut, jantungnya berdegup dengan kencang menyaksikan adegan demi adegan.
" Kejam ". Gumam nya.
" benar-benar penuh kejutan ". Seru Ronald, Revan menoleh pada Ronald yang berdiri di sampingnya sedangkan dia duduk di kursi.
****
" Boy bagaimana pekerjaan mu, apa semuanya lancar ?". Tanya Jakson setelah mereka kembali pada pekerjaan mereka masing-masing, sekarang Jakson berada di ruangan pribadi milik Edward bersama dengan David.
" semuanya lancar Dad, tapi ada sedikit kendala yang harus aku urus dan itu membutuhkan pemeriksaan di bagian pusat nya ! kapan kalian akan pulang ? dua hari lagi aku harus berangkat ke Irlandia untuk sekalian mengadakan pertemuan !". Tuturnya. Jakson dan David menyimak perkataan Edward.
" yaah ka, aku cuti kerja masih lama ! lalu jika kaka pulang ke sana aku di sini sama siapa ?". Keluh David karena dari awal dia sudah mempersiapkan beberapa hari ke depan meluangkan waktunya untuk bertemu dengan Ruby dan juga kaka nya tapi apa ini ? kaka nya malah akan pulang ke Irlandia.
" Kalau begitu habiskan masa cuti mu itu dan nikmatilah, masih ada banyak orang di sini anggap saja keluargamu Dev ". Edward membereskan dokumen yang tadi berserakan di atas meja pada tempat semula, Edward belum merasa harus memiliki asisten untuk saat ini karena dia masih bisa menanganinya sendiri.
" Berapa lama kau akan tinggal di sana Ed , apa akan lama ?". Tanya Daddy Jakson.
" Belum tahu Dad, jika memungkinkan aku akan secepatnya menyelesaikan semuanya !". Ujar nya.
|