Mafia Girls

Mafia Girls
EPS 113



Agatha terbaring lemah di atas kasur rawat, Ruby berjalan menghampirinya. Wajahnya begitu pucat, untung saja Alex langsung membawa nya ke Rumah Sakit kalau tidak, itu akan merenggut nyawanya.


" Haihhh kenapa aku ini ? menangis segala !". Gumam Ruby menyeka air matanya, ada rasa iba yang timbul dari dirinya. Inilah kelemahan nya, dia tidak bisa bertahan dalam membenci yang sudah Ruby anggap sebagai keluarga dan itu termasuk Agatha, entah kenapa seiring berjalan nya waktu, rasa benci dan dendam nya kepada Agatha memudar.


Siksaan demi siksaan yang Ruby berikan menyurutkan semua rasa marahnya dan kini dirinya berpikir apakah dengan semua ini akan cepat selesai ? tidak, tidak selamanya Ruby harus menyiksa dan mengurung Agatha di sana. Ruby dengan sikap monster nya tidak mengizinkan Agatha mati sebelum dia tersiksa lebih dalam lagi, darahnya mendidih kala dirinya teringat bagaimana perlakuan Agatha dulu dan fitnahan demi fitnahan yang dia tujukan kepada Ruby membuat nya menyesal kenapa dulu dia bersikap acuh terhadap semua yang dilakukan Agatha yang berakhir dengan pengusiran oleh kedua orang tuanya, mungkin jika Ruby melawan nya tidak akan seperti ini, tapi entahlah.


Tidak lama mengunjungi Agatha, Ruby pun keluar kembali dari ruang rawat.


" Lex jaga dia, kalau ada apa-apa langsung hubungi aku ". Seru Ruby menutup pintu dan berlalu dari sana.


Ahh, aku tidak tahu harus bagaimana menceritakan situasi dari Ruby saat ini yang dari sisi dia begitu merindukan Edward di sisi lain dia juga harus mengurus pekerjaan nya di sini, perusahaan RA COMPANY sekarang di kelola penuh oleh Revan di bantu oleh Ronald di sana tidak lupa Jasmine pun berperan penting di sana.


Bicara tentang Jasmine, kedekatan nya dengan Revan dan juga Ronald semakin dekat kala dirinya mengerti harus bagaimana menghadapi mereka yang begitu dingin dan kadang cerewet.


Tiap hari pastilah ada adu jotos antara Jasmine dan juga Ronald tentang penyampaian pendapat yang tidak pernah sejalan, tapi jika pemikiran mereka sama pekerjaan pun akan cepat selesai dan waktu luang pun lebih banyak, kadang Revan jengah melihat mereka jika sudah melempar umpatan dan juga cacian tapi itu tidak bertahan lama jika pekerjaan selesai maka mereka akan bersikap layak nya tidak ada apa-apa.


Selama tiga bulan Jasmine dan juga Ronald pun akhirnya dekat tapi masih saja tidak berubah jika sudah masalah pekerjaan, mungkin mereka bersikap profesional dan Revan pun mengerti akan hal itu. Kedekatan mereka selalu saja membuat Revan tidak henti-henti nya mengejek mereka mengingat sebelum nya, Revan pernah mengingatkan mereka akan sesuatu di saat mereka terus saja bertengkar. Sehingga di saat itu lah Nameera dan juga Luis pun dekat dengan Jasmine.


" kak, mereka ?". Selidik Revin seolah bertanya apa mereka sekarang menjadi sepasang kekasih.


" ssshh begitulah, ke makan ucapan nya sendiri ya gitu !". Seru Revan.


" terus kau kapan ? ". Senyum jail tersemat dari bibir Revin seakan senyum itu tengah meledek nya.


" Kau ! ". Tatapan nyalang terbit dari mata Revan yang akhirnya kepala Revin kena timpukan majalah yang berada di atas meja.


***


" Rei , Mei !". Sapa seseorang yang baru saja melintas. " Kenapa dengan mobil kalian ?".


" ini ngga tahu kenapa mobil kita tiba-tiba mogok ". Seru Reina mencoba memeriksa, tapi dia dan Meili masih saja kebingungan karena memang mereka tidak mengerti masalah mesin.


" Bagaimana ?". Ruby terlihat keluar dari mobil karena penasaran mereka belum juga selesai, Jalanan jauh dari mana-mana jadi mereka bingung harus apa begitupun dengan Ruby tidak mengerti masalah mesin.


Saat Ruby keluar, kedua mata seseorang menatap sendu dirinya, sudah beberapa bulan ini dia tidak melihat wajah nya.


" By ?". Sapa nya. Ruby sedikit mengulas senyum nya dan langsung mendekati kedua teman nya.


" Ini biar kaka yang periksa !". Ucap Lexi. Ya, mereka berdua adalah Lexi dan juga Andrew yang kebetulan melewati jalan itu, mereka hendak mengantar Leo yang baru saja pulang dari Irlandia setelah menyelesaikan bisnisnya di sana.


" Coba nyalakan ". Titah nya, Meily langsung menghidupkan mobil itu dan ternyata sudah kembali normal.


" Sudah kak ". Teriak Meili girang.


" Kalau begitu terimakasih kak atas bantuan nya, oh ia bagaimana kabar kalian ? kenapa kalian tiba-tiba menghilang !". Tutur Reina, Ruby lebih dulu masuk ke dalam mobil tanpa menyapa lebih lanjut Lexi dan juga Andrew tapi saat Ruby hendak masuk suara Leo mengehentikan nya.


" Ruby !". Seru nya. Ruby langsung menoleh ke arah nya dan menutup pintu kembali. Reina dan juga yang lain nya menatap tegang ke arah mereka terutama kepada Ruby yang matanya sudah terlihat memerah, bukan ingin menangis melainkan seperti akan marah dan geram.


Ruby bungkam tanpa ingin membuka suaranya. " Maaf ". Lirih Leo, matanya menatap sendu menyiratkan rasa sesal di dalam hatinya.


" Menjauhlah !". Perintah Ruby. Leo masih enggan menggeser tubuh nya, dia tak melepaskan tatapan nya seakan dia tidak mau melewatkan mata indah milik Ruby yang beberapa bulan ini tidak ia temui.


" Menjauhlah, apa kau tuli hah ! ". Mata Ruby terus menatap Leo sengit dan juga penuh selidik tapi nyatanya bukan Leo yang jadi titik fokus tatapan nya tapi pada alat pasang di bawah mobil yang begitu jelas dapat Ruby lihat.


" Awaassss ". Ruby menarik tangan Leo kasar dan menjauh dari mobil miliknya dan juga mobil Meili, mereka spontan ikut lari menjauh dari sana.


BOOOOMM,,BOOMMM,,BOOMMMM


Suara ledakan mobil begitu mengerikan, semua hancur termasuk mobil meili yang menjadi imbas nya. Jalanan masih saja terlihat sepi tidak ada orang lewat sama sekali, Ruby dan yang lain nya langsung menunduk.


" Ap,,,ppa yang terjadi ?". Gugup Meili yang tidak sadar berada di pelukan Leo dan Reina berada di antara Andrew dan juga Lexi seolah mereka mengapitnya.


Ruby lebih dulu bangun dan mendekati ledakan itu.


Callinggg


Handphone Ruby berdering dalam saku celana jeans nya, tanpa melihat siapa yang menghubungi nya, Ruby langsung menerimanya.


" Baby, aa,,ppa kau baik-baik saja hmm ?". Ya, dia adalah Edward, dirinya baru saja menutup matanya karena lelah dengan pekerjaan nya tapi mata nya kembali terbuka dengan paksa, keringat nya terus becucuran mengingat dia baru saja bermimpi jika Ruby meninggalkan nya.


Ruby mengerutkan kening nya, dia langsung menjauhkan handphone nya mengecek siapa yang menghubunginya di siang bolong seperti ini takut dia salah dengar dengan suara lembut yang sangat dia rindukan.


" Honey ". Ruby memanggilnya dengan lembut. Senyumnya kembali tersemat mengabaikan yang sedang terjadi di depan nya.