
Jam menunjuk kan pukul 22.30, pesta berjalan dengan lancar sesuai harapan tapi itu tidak bertahan lama saat suara benturan terdengar sampai telinga.
Benturan keras membuat semua penghuni ruangan berhamburan keluar, sebagian tamu ada yang penasaran, tapi kebanyakan dari mereka memilih untuk pulang karena pesta pun telah usai.
" Ada apa ?". Seru Ruby di balik earphone nya, earphone kecil selalu terpakai di telinga Ruby yang sedari awal di gunakan nya guna mempermudah dirinya tersambung dengan bagian keamanan.
" Di depan gedung terlihat pria berpakaian gelap sekitar 20 orang, jika dilihat dengan seksama mereka bukan salah satu undangan pesta Lady. Kami siap menerima perintah !".Lapor kepala keamanan yang di tugaskan Ruby selama berlangsungnya pesta dan mereka adalah divisi ahli keamanan yang di datangkan langsung dari markas pusat dan di bantu oleh beberapa mafioso yang berada di Jerman.
Keahlian mereka tidak bisa di ragukan lagi, jangan harap keluar begitu mudah setelah berani masuk ke dalam kandang singa.
" Dengarkan semuanya, sebagian dari kalian pastikan para tamu undangan pulang dengan selamat jangan sampai ada yang terluka ! Aku tidak perlu lagi kan memberitahu siapa saja yang harus kalian selamatkan di antara mereka, jika masih bertanya maka latihlah kembali mata kalian. PAHAM !". Perintah Ruby bukan lah hal yang main-main, jika dirinya sudah berkata maka itu adalah hal yang mutlak dan ya, apapun yang dikatakan nya tepat sasaran.
" LAKSANAKAN LADY !". Seru mereka serempak.
" Dan satu lagi, kalian tetap lah hati-hati ! kalian tahu bukan apa hukuman untuk mereka yang terluka !". Sebenarnya mereka kadang bingung dengan ucapan dari Lady nya itu, awalnya dia begitu perhatian, semua orang pun akan tahu dengan ungkapan itu tapi kenapa perkataan itu selalu di akhiri dengan ancaman.
" SIAP !". Seru mereka kembali.
Sambungan mereka terputus setelah mendapat perintah, sebagian dari mereka melancarkan aksinya sesuai instruksi dari ketuanya nya.
HAHAHAHAHA
" Apa hah, kenapa kalian keluar ?! Ayo ayo masuk tidak usah kaget, mari kita lanjutkan pestanya !". Seorang pria tinggi kurus tapi berisi berjalan seperti orang yang sedang mabuk, berbicara pada sebagian tamu undangan yang keluar penasaran dengan benturan keras yang terdengar sampai dalam gedung, dia seolah menggiring mereka dan mengajak mereka masuk kembali ke dalam dengan gaya bicara nya yang sombong.
" Yaa ya ya, ayo kita berpesta dan bermain sebentar di dalam ". Seru salah satu di antara para pria berpakaian gelap, mereka dengan tidak sopan nya berjalan beriringan.
Di dalam sana terlihat keluarga Ruby dan juga mereka yang mungkin tergabung dalam sebuah organisasi yang sama dengan Ruby masih santai dengan hidangan di meja.
Pria-pria itu duduk secara acak sesuka nya, tamu undangan yang tadi keluar melihat apa yang terjadi telah diaman kan dan pulang secara bersamaan.
" Mom, dad ayo pulanglah ! kau juga kek, kalian pulang lah, pak Alan sudah berada di depan menunggu kalian". Ucap Ruby.
" Tidak, kita akan pulang bersama ". Tolak Nameera menatap Ruby. " Jika mommy pulang kalian juga akan ikut, lagian pesta nya sudah selesai !". Serunya menatap sekeliling masih banyak tamu yang sedang bercengkrama. " Lihatlah mereka pun belum pulang, jadi mommy akan tetap disini". Tolak nya tidak terbantahkan.
" Tapi mom lihatlah, di sini sudah tidak aman , aku tidak mau kalian kenapa-napa ! ayolah pulang, aku masih ada urusan disini, ia kan ka !". Bujuk Ruby sebisa mungkin sampai raut wajahnya berubah dingin, Ruby mengkode kepada Edward meminta bantuan.
" Iya mom, Ruby benar, kami masih ada urusan di sini ". Ujar Edward. Ruby keluar dari tempat duduk nya hendak menarik lengan Nameera tapi di urungkan nya karena suara burung bangau telah terdengar begitu tidak indahnya.
" Yaak, tidak ada yang boleh keluar dari sini tanpa izin dariku !". Bentak nya menendang keras kursi sampai terpental menabrak meja lain nya. Tatapan sangar nya terpatri dari mata dia.
BRUKKK,,BRAK,BRAK,,BRAK KREEKK.
pranggg,, suara gelas terjatuh
ukhukhu !!
Savira tersedak saat dirinya kebetulan sedang meminum air putih dalam gelas yang lumayan besar.
" Gila, bagaimana jika aku mati tersedak hah ?!". Sentak Savira, mulut lemes nya kini dalam mode on.
Pria itu dengan berani mendekati Savira, Brayn dan juga Rayzen pasang badan sebelum dia benar-benar mendekati Savira.
" Ka Esten kalian pulang lah ". Ucap Ruby lembut tapi tidak di indahkan nya, Revan hanya mengangkat bahunya acuh.
" Mereka keras kepala sekali ". Bisik Edward pada Ruby.
" Begitulah ". Jawab nya malas.
" Mafia tingkat bawah, nyalinya besar sekali ". Ujar David pelan tapi tetap terdengar oleh Ruby dan juga Edward, mereka bertiga saling seringai tajam.
" Ceehhh wajah jelek mu itu tidak pantas mendekati dia dan lihatlah tangan kotor mu itu sangat tidak pantas sekali menyentuhnya ". Ledek Rayzen, bisa dikatakan Savira dan juga Rayzen jagonya mengumpat seseorang seperti anak kembar tak seiras jika di satukan.
Mereka masih menyaksikan dengan santai nya termasuk Ketiga teman Edward dan juga Reina tidak lupa Meily pun masih berada di sana. Reina dan juga Meily tidak begitu takut ataupun tegang di hadapkan dengan hal semacam ini, tapi mereka malah bersemangat menyaksikan nya, alasan nya mungkin mereka sudah terbiasa dengan hal semacam ini karena mereka berdua tergabung dalam klub beladiri setelah dulu di ajarkan oleh Ruby yang akhirnya mereka memutuskan akan terus melanjutkan pelatihan nya di salah satu klub beladiri terkenal di kotanya.
Tidak ada yang bersuara dari mulut mereka.
" Jangan macam-macam kau, jika masih sayang dengan nyawamu maka menyingkir lah ". Ancam nya menunjuk-nunjuk wajah Brayn dan juga Rayzen.
" Siapa takut ". Seringai Brayn menatap tajam lawan nya.
" Rch, sombong !". Seru pria itu melayangkan pukulan nya tepat di pelipis keras milik Brayn.
BRUGHHH
Brayn tersungkur dengan pukulan tiba-tiba yang di terima nya.
" Lemah". Sombong nya.
" Yaaaaak ". Marah Rayzen menarik kerah bajunya kasar dan melemparnya cukup bertenaga.
BRAK, Pria itu terduduk di atas tumpukan kue dan sedikit keluar darah dari hidung nya.
" Kenapa kalian diam, cepat bunuh mereka ". Perintah nya, mereka langsung berlarian mendekati Brayn dan yang lain seolah mereka lah yang menjadi target nya.
" Dad !!". Teriak Nameera ketakutan, Ruby dan yang lain nya segera pasang badan untuk mereka.
" Kak cepat bawa mereka pergi, Rei Mei kemari lah kau pulang lah dengan mereka, cepat !". Ruby berucap dingin, wajah nya sudah tidak terbaca lagi tapi dilihat dari gerakan nya, dia masih santai sekali.
" Tapi Al ". Hendak protes tapi Ruby langsung melotot tajam kepada kaka nya.
" Tenanglah kak ada kami di sini, tidak usah khawatir ". David ikut bicara membantu Ruby meyakinkan kaka nya.
" Baiklah, kita duluan ya by !". Pamit mereka berdua. " bibi, paman, kake, tuan ayo kita pulang !". Ajak Reina dan meily membantu membawa tas milik Nameera. Revan sudah terlebih dahulu keluar dan menunggu mereka bersama pak Alan.
**