
Suara ketukan pintu sampai di pendengaran mereka yang sedang berada di dalam. David dan Edward berhenti dari obrolan mereka.
" Masuklah ". Ucap Revan dengan keras, pintu pun terbuka. Kenzi dan juga Zen masuk dengan izin nya.
" Lapor king, kawasan barat tempat penelitian di serang oleh kelompok mafia dari negara S ". Lapor Kenzi dan mamaparkan situasi saat sekarang.
" tch tch tch, apa mereka tidak tahu wilayah siapa yang sedang coba mereka rebut ?". Senyum smirk langsung terbit dari bibir Edward, mata tajam nya seolah membuat mereka harus waspada.
kreeek,, krreekkk, David melemaskan ototnya dan terdengar suara tulang yang sedang David lenturkan.
" Tunggu apa lagi !". Edward berjalan mendahului mereka diikuti oleh David, Kenzi dan juga Zen di belakang nya. Sebelum pergi Edward mengganti seragam nya terlebih dulu dan memilih beberapa senjata yang akan dia gunakan nanti.
Sebanyak tiga mobil saja yang pergi dan hanya berisi empat orang tiap mobilnya. Para monster dari Mafia Red Pheonix keluar dari kandang nya.
HAHAHAHAHA
" ini sangat cocok untuk membangun sebuah gudang, luas dan jauh dari jangkauan aparat". Mafioso yang berada di sana berhamburan keluar karena mendengar ledakan dari sebelah samping gedung.
Di sana banyak orang berdatangan sekitar 200 mafioso untuk membumi hanguskan gedung penelitian yang mereka incar belum lama ini, tanpa mencari tahu lebih dalam mengenai pemilik kawasan, mereka dengan tidak hati-hatinya langsung bersiap membumi hanguskan gedung itu.
" Ayo cepat hancurkan dan ratakan ". Perintah nya yang mungkin dia adalah pemimpin dari mereka karena sedari tadi dia yang mengarahkan dan terus berbicara tanpa henti.
BOOM,BOOM, Suara ledakan kedua terdengar di belakang gedung. Ada setidaknya sepuluh orang yang menempati gedung itu, mungkin mereka mendapat jadwal malam, baik itu yang meneliti atau juga yang berjaga.
Edward dan yang lain nya sudah datang tapi mereka memilih untuk melihat situasi terlebih dahulu ketimbang langsung menyerang. Kenzi dan juga Lucky bersiap dengan sniper nya, untuk yang lain bersiap memegang senjata di tangan mereka. Setelah selesai, Edward memerintahkan mereka bersiap dengan posisi masing-masing.
Samping dan belakang gedung sudah terlihat hancur dengan bom , Edward melihat beberapa mafioso yang bertugas malam telah keluar melalui jalan rahasia yang dibuat untuk keadaan darurat seperti ini. Matanya terus mengintai dengan tajam, tangan Edward melambai menandakan mereka boleh menyerang mereka.
syuuuttt drenggg trngtrng,, syuuttt jleeeppp,,jleeeep.
Kenzi dan Lucky beraksi, suara tembakan sniper begitu lembut menembus dada musuh, satu persatu dari mereka tumbang.
" Keluaaaar !". Marah ketua itu, sentak dengan suara garang nya, matanya mengedar ke setiap sudut.
" keluaar ". Sentak nya lagi mengepal, matanya terus menatap ke segala sudut dengan rahang yang mengeras tapi dia tidak menemukan siapapun. Suara itu tak menggentarkan mereka untuk terus menembak mafioso musuh yang matanya sibuk mencari keberadaan mereka.
Tak,,Tak,,Tak,,Tak
suara sepatu bersahutan, terdengar bukan hanya satu orang saja yang datang tapi di perkirakan ada sekitar empat orang yang berjalan menghampiri mereka dan sisanya berarti enam orang dari mereka menyebar. Dalam kegelapan langkah kaki mereka begitu merdu merubah suasana menjadi tegang.
" Berani-beraninya kalian mengganggu pekerjaan ku ". Geram ketua itu mengayun-ayunkan senjata api ditangan nya ke arah mereka.
" Pekerjaan ? Yaaak pekerjaan apa yang kau masud,,,! sreeetttt ". Suara rendah Edward sedikit mengeram merobek perut ketua itu dengan lincah padahal dari tadi tangan nya masih kosong sedang tidak memegang apapun.
" ini wilayah ku dan kau coba merusak nya ! jangan harap". bisik nya.
" King !". Ucap ketua itu bergetar, dia tahu siapa lagi yang memiliki kecepatan dan gairah membunuh yang begitu tinggi dengan tercampur aura mengerikan kalau bukan King Red Pheonix salah satu dari tiga petinggi mafia terkenal.
" tch ". Decih Edward, satu tangan ketua itu menutup luka robekan di perut seraya menekan nya, matanya menatap pada setiap sudut dan menangkap banyak mafioso tergeletak tak bernyawa. David dan yang lain nya bercucuran keringat sampai kaos hitam yang mereka pakai basah menyetak tubuh berotot.
Di mata ketua itu terpancar kegelisahan, bagaimana dia bisa terperangkap di sarang serigala, nyawanya benar-benar di ujung tanduk. Salah sendiri kenapa cari informasi setengah-setengah, tidak ada yang bisa dia salahkan, sekarang yang terpenting mencari cara bagaimana bisa terlepas dari sarang ini.
" tch, apa aku ini begitu pintar menyembunyikan identitas ku sampai kau tidak mengenalinya ?? ckckckcck, Mafia rendahan seperti kau tidak ada apa apanya !". Senyum smirk tersemat.
BRUGHHH, ketua itu menekuk kedua lutut nya memohon sembari menekan luka di perut, suaranya bergetar takut, terdengar nafas yang tersengal tak beraturan, kepalanya pun terus menunduk.
" maaf kebodohan saya ini king, tolong maafkan saya yang bodoh ini !". Sesal nya mencoba terus memohon.
" tidak semudah itu ". Edward meng kode anak buah nya dengan mata memberi isyarat.
" tidak,,,tidak,,tidak ". Dia di seret kasar dengan posisi tengkurap, luka nya semakin parah, darah teroles di sepanjang aspal. Teriak, dia teriak kesakitan, kedua kakinya di ikat agar tidak bisa melawan, tangan nya di tarik oleh dua orang mafioso Red Pheonix.
Ringisan nya bagai melodi indah yang terdengar di telinga para monster itu, sesekali David mengayun-ayunkan tangan nya menikmati teriakan dan ringisan nya. Sayatan tipis di setiap kulit yang ada di tubuhnya terus mengeluarkan darah terutama yang bergesekan dengan aspal langsung.
" siram dengan ini ". Tidak puas sampai di situ, Edward memberikan cairan asin dan memerintahkan mereka untuk menyiramkan nya pada tubuh ketua itu.
Wajah menyerah ketua itu seolah memohon bunuh saja aku.
BYURRRR
AKHHHHHH, jerit terus menjerit, luka yang masih basah langsung di siram cairan asin, sakit nya itu bagaikan tiada yang bisa menandingi AKKHHHHHHH, saking sakit nya dia terus mengeluarkan air mata betapa itu mewakili semua anggota tubuh yang sedang kesakitan.
tidak ada suara tak ada tawa dari Edward maupun yang ada wajah seringai kejam dari nya.
Jeritan perlahan meredup bersamaan dengan kematian nya yang begitu menyesakkan hati.
|