
Alletta saat ini tengah berada didalam kamarnya. bukan dimansion tempat tinggalnya dan Aza, melainkan aparttemennya yang ia punya. tak terlalu besar dan kecil. ini aparttemen terkecil milik Alletta.
Alletta masih berduka dengan kepergian Sofa. makanya ia selalu pergi untuk mengurus rencana balas dendamnya. tak ada yang tau selain kelima pengawal pribadinya. ingat bukan? Soobin, Yeonjun, Beomgyu, Taehyun dan Huningkai.
Bukan tanpa alasan Alletta tak memberitau yang lain. ia hanya tak ingin orang-orang terdekatnya meninggal karna aksi balas dendamnya. bilang aja jika Alletta parno, tapi mau bagaimana?. Alletta benar-benar tak mau kehilangan lagi.
"Queen" Alletta menoleh menatap Soobin yang berada ditengah pintunya.
"Napa bang?" Tanya Alletta.
"Gue mau keluar sebentar, mau ketemu sama Miki. lo nggak papa gue tinggal?" Jawab Soobin sembari bertanya pada Alletta.
"Cie yang udah deket, nggak papa bang santai" Jawab Alletta yang senang dengan kedekatan Soobin dan Miki. Soobin mengulas senyumnya melihat Alletta yang perlahan mulai mencair. es batu kali ah!
"Doain aja Queen, gue pamit" Pamit Soobin diacungi jempol oleh Alletta. Alletta tersenyum dan membuka ponselnya.
Dua panggilan tak terjawab dari Aza, lima panggillan tak terjawab oleh Malvin dan masih banyak lagi. jari lentik Alletta menekan tombol untuk menghubungi Aza.
Aktif tapi Aza tak mengangkat telfon darinya. ia hendak menghubungi Aza lagi tapi Malvin lebih dulu menelfonnya. Alletta mengangkatnya dan menempelkannya pada telinganya.
Malvin : Hallo Al
Alletta : Hmm
Malvin : Lo bisa kesini sekarang? Kennath makin parah, dia teriak-teriak dan memukuli kepalanya sendiri.
Alletta : Sharelock
Alletta mematikan sambungannya dan menerima pesan dari Malvin. ia beranjak dan mengambil kunci mobilnya.
Alletta memikirkan keadaan Kennath yang makin hari makin menjadi. Kennath sering berteriak dan menyalahkan dirinya sendiri atas kepergian Sofa. ia juga menyakiti dirinya sendiri membuat orang tuanya dan para sahabat Kennath khawatir.
Jika dibilang Alletta khawatir atau tidak, jawabban nya Alletta khawatir. ia khawatir dengan mental Kennath yang akan terganggu jika Kennath terus seperti ini. apalagi Sofa pergi bukan karna kesalahannya.
Alletta sampai dan masuk kedalam mansion Kennath. ia sudah melihat Stepanie, Lily dan Najwa yang menangis melihat kondisi Kennath.
Malvin, Gavin, Azka, Arsha, Devan dan Derya sedang mencoba menenangkan Kennath yang terus memukulkan kepalanya kedinding.
Alletta menarik nafas dalam-dalam dan mengambil alih Kennath. mereka yang ada disana menghela nafas lega dan sedetik kemudian mereka terkejut karna Alletta menampar Kennath.
Plak!
Alletta menampar pipi Kennath membuat Kennath terdiam.
"Udah Gilanya?" Tanya Alletta membuat Kennath menatapnya.
"Gue tau lo kehilangan Sofa, nggak cuma lo! tapi kita para sahabat Sofa, orang tuanya dan para orang tua kita juga kehilangan. tapi nggak gini caranya Ken!!" Ucap Alletta. "Nggak gini caranya, Sofa bakal sedih ngeliat lo kayak gini. lo mau bikin Sofa sedih? kontrol emosi lo! lo nggak pengen tau kenapa Sofa bisa meninggal? lo mau tau nggak!?" Bentak Alletta, dipikirannya hanya ini cara untuk menyadarkan Kennath.
Semua cara sudah ia lakukan tapi Kennath tak kunjung membaik. mungkin dengan cara ini bisa menyadarkannya walau sedikit kejam.
Ucappan Alletta membuat Kennath tersadar, betul! seharusnya ia tak begini. ia juga tak tau apa penyebab Sofa pergi meninggalkannya. Kennath menghapus kasar air matanya dan menatap Alletta penuh rasa keingin tahuannya.
"Siapa yang udah ngebunuh Sofa?" Tanya Kennath, Alletta terdiam sejenak. yang lain juga ikut penasaran dengan jawabban Alletta.
"Leader mafia ke tiga" Jawab Alletta sembari berjalan mendekat kearah kotak P3K. Kennath mengeraskan rahangnya mendengar penuturan Alletta. disatu sisi ia juga bingung mengapa Sofa bisa terlibat dengan dunia bawah. tapi rasa bingungnya kalah dengan amarahnya.
"Albert?" Tanya Kennath mengepalkan kepalanya. ia tau sebab Bianca yang sering mengakui jika ia anak mafia ketiga. yang mana semua orang tau jika itu Albert.
Alletta menganggukkan kepalanya, ia melangkah mendekat kearah Kennath dengan kotak P3K ditangannya. Alletta menyentuh tangan Kennath yang mengeluarkan darah, dengan cekatan ia membersihkannya dan memperban luka Kennath.
"Udah tau kan sekarang? jadi pikirin cara agar Alebrt mendapat gancarannya" Ucap Alletta pergi meninggalkan semua orang yang termenung dikamar Kennath.
Najwa tersadar dan memeluk Kennath. hatinya sakit melihat Kennath seperti ini. ia mengelus lembut punggung Kennath untuk memberinya kekuatan.
🍀🍀🍀🍀
"YAAA BANG HAYKAL"
Haykal menjauhkan ponselnya saat mendengar lengkingan suara dari Aza. kupingnya nging mendengar Aza berteriak.
Haykal : Apaan Za
Aza : Dari mana aja hah! tau nggak kalo gue lagi nyariin. mana nggak bisa dilacak lagi.
Haykal : Ada urusan Za, ada apa lo nyari gue?
Haykal menghela nafasnya berat, ia kira ada hal penting apa sampai-sampai Aza berteriak saat menelfonnya.
Haykal : Tau, dia lagi sama gue
Ucap Haykal menatap Eline yang baru saja kembali dari toilet. Eline bertanya siapa yang menghubungi Haykal dan Haykal menjawab jika Aza yang menghubunginya.
Aza : Syukurlah, jangan lupa dibalikin Elinenya. awas aja lecet, kepala bang Haykal jadi gantinya.
Selepas mengatakan itu Aza memutuskan sambungannya sepihak. Haykal bergidik ngeri mendengar ancaman Aza.
"Aza kenapa?" Tanya Eline menyuruput minumannya.
"Posesifnya keluar saat tau sahabatnya nggak ada" Jawab Haykal membuat Eline tertawa.
"Diancam apa sama Aza?" Tanya Eline yang tau jika Aza akan khawatir dan panik jika salah satu sahabatnya hilang.
"Gue bakalan kehilangan kepala gue kalo lo lecet" Jawab Haykal dengan wajah lesuhnya. refleks Eline mengacak gemas rambut Haykal sembari tertawa.
Haykal yang diperlakukan seperti itu terdiam menatap Eline yang terlihat sangat bahagia.
...*******...
Alletta membawa kakinya menuju kearah ke lima pengawalnya yang sedang bersiap.
"Udah semuanya?" Tanya Alletta diangguki Soobin. Alletta menarik nafasnya dalam-dalam. malam ini! malam yang sedari dulu ia tunggu. malam kehancuran dan kematian Albert.
Ya! Alletta memutuskan untuk membunuh Albert malam ini juga beserta Bianca. ia tak memberi tau Aza soal rencananya karna tak mau jika Aza terluka. ia sudah janji pada Awan akan menjaga Aza dan tidak membuat Aza terluka.
"Alletta" Panggil Aza membuat Alletta menoleh diikuti kelima pengawal pribadi Alletta. Alletta terdiam saat melihat Aza yang sedang mengarah kearahnya dengan pakaian serba hitam.
Dapat dilihat jika raut wajah Aza menahan emosi membuat Alletta menelan susah payah salivanya. dari raut wajahnya saja sudah dapat Alletta pastikan jika Aza sudah tau tentang rencananya.
"Gue ikut" Ucap Aza tak mau dibantah. Alletta menatap kedua manik mata Aza dalam.
"Gue nggak izinin" Bantah Alletta membuat Aza geram.
"Gue pengen ikut" Tekan Aza menatap balik Alletta.
"Gue nggak mau terluka Za" Ucap Alletta memberi penjelasan.
"Lo lupa dengan janji kita dulu? lo taukan kalo gue paling benci ngingkarin janji gue" Ucap Aza dengan mata memerah. ucappan Aza membuat Alletta kembali mengingat janjinya dengan Aza tujuh tahun yang lalu.
Flasback
Aza menghampiri Alletta yang terlihat murung. Aza menepuk bahu Alletta membuat Alletta menatapnya.
"Kamu nggak papa?" Tanya Aza dijawab anggukan kepala oleh Alletta.
"Kami masih mikirin keluarga kamu ya?" Tanya Aza.
"Iya" Jawab Alletta dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Kalo kita udah besar dan udah bisa ngehasilin uang sendiri, aku bakal bantu kamu buat balas dendam sama pembunuh keluarga kamu" Ucap Aza dengan jari kelingkingnya yang ia tunjukkan untuk Alletta.
"Janji?" Tanya Alletta diangguki Aza.
"Janji" Jawab Aza, Alletta tersenyum dan mengalungkan jari kelingkingnya.
Flasback off
.
.
.
.
Hayy!
Jangan lupa Like, Komen dan Vote.😘
Stay Healthy.
Happy Reading.